Terbitnya Matahari Pencerahan 
 
Gede Prama  
Seorang sahabat yang kerap disebut-sebut di dunia sufi adalah Nasrudin. Bagi 
sebagian orang, Nasrudin adalah simbolik dari hal-hal lucu, menghibur. Bagi 
sebagian yang lain, Nasrudin adalah simbol hidup yang genius. Karena dari dia 
sering lahir kearifan kehidupan mengagumkan.

 
Suatu hari, Nasrudin lari terbirit-birit menemui gurunya. Begitu berjumpa, ia 
langsung minta tolong: "Tolong guru, rumah saya jadi neraka. Istri cerewet, 
mertua yang banyak maunya, putra-putri beserta sepupu-sepupu mereka yang ribut 
lari ke sana ke mari. Apa pun yang guru sarankan akan saya lakukan, asal 
nerakanya hilang surganya datang."

 
Yakin Nasrudin akan memenuhi janji, gurunya bertanya, "Apakah kamu punya 
binatang peliharaan?" Nasrudin menyebut ada empat angsa, enam ayam, tujuh 
kambing, delapan kelinci, serta sejumlah burung. Karena itu, sang guru menyuruh 
Nasrudin memasukkan semua manusia dan binatang peliharaan ke dalam rumah, pintu 
dan jendela ditutup rapat-rapat. Selama sebelas hari tidak satu pun manusia 
atau binatang keluar rumah.

 
"Tapi, tapi...," sahut Nasrudin dengan nada gugup. Dengan sigap gurunya 
menjawab, "Jangan lupa kamu sudah janji!" Nasrudin terpaksa kembali ke rumah, 
melaksanakan perintah gurunya.

 
Sebelas hari kemudian, Nasrudin datang dengan langkah lebih kacau dari 
sebelumnya. "Tolong guru, tolong. Jangankan manusia, kambing pun sudah mau gila 
sebelas hari di dalam rumah." Dengan tersenyum bijaksana gurunya berucap, 
"Sekarang keluarkan semua binatang. Bergotong royong penuh gembiralah, 
bersihkan rumah."

 
Beberapa waktu kemudian, Nasrudin mendatangi rumah gurunya dengan wajah ceria, 
"Terima kasih guru, rumahnya sudah jadi surga!"

  
Inilah cerita manusia dari dulu hingga kini. Banyak rumah kehidupan yang 
berubah menjadi neraka karena saling benci dan memarahi. Saat diakhiri, rumah 
dengan manusia dan binatang yang sama pun jadi surga.

 
Ternyata menemukan surga hanya masalah memilih pembanding. Bila pembandingnya 
tepat (dalam kisah Nasrudin pembandingnya adalah rumahnya yang penuh binatang), 
surga terbuka. Jika pembandingnya yang serba lebih (lebih kaya, lebih cantik, 
lebih terkenal, lebih bijaksana), surga tidak pernah terbuka.

 
Akhirnya, hidup ternyata persoalan sikap. Surga maupun neraka ternyata hasil 
ikutan dari sikap. Bila sikapnya keluhan dan kekurangan, neraka yang terlihat. 
Jika sikapnya bersabar dan bersyukur, surga yang tampak.

 
Matahari pencerahan

  
Mungkin karena persoalan sikap inilah, kemudian sejumlah guru menyempurnakan 
hidup dengan sikap penuh keindahan. Awalnya memang terpaksa. Apa indahnya 
dihina dan dicerca? Di mana letak keindahan bencana?

 
Seperti menggosok gigi, awalnya terpaksa. Begitu melihat gigi putih, sehat, 
menggosok gigi menjadi kebiasaan yang membadan. Keindahan juga serupa.

 
Chogyal Namkhai Norbu (Dzogchen: The Self Perfected State) adalah salah satu 
contoh guru yang sudah sampai di dunia keindahan. Menurut guru asli Tibet ini, 
tidak ada yang perlu diubah, tidak juga memerlukan pelepasan. Tugas murid 
Dzogchen hanya satu, melihat! Persisnya, melihat dengan kesadaran, bukan 
melihat dengan pengetahuan.

 
Kebahagiaan datang, lihatlah. Kesedihan berkunjung, lihatlah. Kesuksesan 
menjelang, lihatlah. Kegagalan bertamu, lihatlah. Siapa saja yang tekun 
berlatih melihat akan mengalami hidup diterangi cahaya kesadaran.

 
Deepak Chopra (How to know God: The soul's journey into the mystery of 
mysteries), menulis, the only clear path to God is a path of constant 
awareness. Kesadaran adalah jalan terang menuju Tuhan. Lex Hixon (Coming home: 
the experience of enlightenment in sacred traditions) adalah contoh guru lain 
yang juga menemukan keindahan. Kebanyakan orang mudah tergoda, begitu bercerita 
tradisi sendiri, maka ceritanya jadi indah berlebihan. Begitu bercerita tradisi 
orang lain, cerita pun jadi miring berlebihan. Hixon bercerita sama indahnya 
baik ketika bercerita soal Heidegger, Krishnamurti, Ramakrishna, Ramana 
Maharshi, Zen, I Ching, advaita vedanta, sampai dengan guru sufi Bawa 
Muhaiyaddeen.

 
Seperti semua sungai yang mengalir ke samudra. Sebelum sampai di samudra, 
sungai-sungai berbeda. Namun begitu sampai, semuanya berwajah sama: warnanya 
biru, bergelombang, rasanya asin, begitu ombak menyentuh pantai ia berwarna 
putih. Sulit untuk menyebutkan bahwa agama-agama dunia sama, sama sulitnya 
dengan memaksakan semua sungai harus sama.

 
Namun, begitu tercerahkan (Hixon menyebutnya coming home), ada hal yang sama 
yaitu keindahan!

  
Meminjam pengalaman pencerahan Zen, Hixon menulis, "enlightenment is simply the 
blue lake and the green mountain". Pencerahan sesederhana danau biru dan bukit 
hijau. Sederhana, murah, meriah, indah!

 
Cerita yang sama ditemukan Stephen Mitchell (The enlightened heart: an 
anthology of sacred poetry). Kendati bercerita dalam spektrum tradisi yang 
demikian luas (dari Upanishad, Lao-tzu, Izumi Shikibu, Santo Franciscus, Rumi, 
Kabir, William Shakespeare, Bibi Hayati sampai dengan Robinson Jeffers), semua 
terangkum ke dalam sebuah cerita dari keindahan untuk keindahan.

 
Ini sebabnya, setiap kali murid-murid kritis, skeptis, apatis sampai dengan 
yang suka menyerang orang lain, bertemu guru-guru tercerahkan, mereka 
senantiasa dinasehati untuk melanjutkan pertumbuhan, melanjutkan perjalanan. 
Seperti air sungai yang sedang mengalir, terus mengalir, temukan samudra yang 
berwajah, bergelombang, berasa, berwarna sama.

 
Seperti para pendaki ke puncak gunung di pagi hari. Ketika ditanya matahari 
terbit di sebelah mana, yang mendaki dari barat menyebut di depan. Pendaki dari 
timur menyebut di belakang. Keduanya memiliki jawaban bertentangan. Meski 
demikian, ketika sampai di puncak, mereka akan tertawa dengan pertentangan yang 
pernah dialami.

 
Dalam tawa penuh persahabatan inilah terlihat keindahan yang menawan. Dan hidup 
pun memasuki wilayah dari keindahan untuk keindahan. Dalam bahasa Lex Hixon, 
"once enlightenment has dawned, we are at home every where".

 
Gede Prama Penulis buku, bekerja di Jakarta, tinggal di Desa Tajun, Bali Utara 


Nyana Bhadra
Tibetan Language & Buddhist Philosophy

Library of Tibetan Works & Archives
Centre for Tibetan Studies & Researches
Gangchen Kyishong Dharamsala - 176215
Himachal Pradesh - I n d i a

"May I become at all times, both now and forever; a protector for those without 
protection; a guide for those who have lost their way; a ship for those with 
oceans to cross; a bridge for those with rivers to cross; a sanctuary for those 
in danger; a lamp for those without light; a place of refuge for those who lack 
of shelter; and a servant to all in need"-- H.H. The 14th Dalai Lama, Tenzin 
Gyatso -- Bodhicharyavatara [Tib. 
J'ang.chub.sem.pa'i.c'od.pa.nyid.jug.pa.zhug.so; Ing. Guide to the 
Bodhisattva's Way of Life, Chapter III, Verse 18-19]~ Shantideva
 
---------------------------------
Want to start your own business? Learn how on Yahoo! Small Business.

Kirim email ke