--- In [EMAIL PROTECTED], victor
alexander <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

Dear All

Ini tambahan dikit.
Saya termasuk yg kaget dgn A Agym yg tiba2
membicarakan bahwa dirinya Poligami.
Ada hal yang menarik ketika beliau ditanyai apakah
tidak takut kehilangan pamor atau pengikut.

A Agym menjawab kurang lebih seperti ini.
"Nanti akan terlihat, seseorang mendengarkan saya
karena Allah, atau karena Islam"

Dan terbukti, siaran TV sudah jarang menampilkan A
Agym.  Buku2 A Agym juga jadi kurang laku karena
masalah poligami-nya.




Salam

Victor Alexander Liem


--- victor alexander <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Dear All,
> 
> Dari beberapa postingan rekan2 tentang tercemarnya
> lineage, Guru Devotional, dll, yang semuanya itu
> berangkat dari Kasus Geshe Michael Roach, terutama
> dari postingan Bro Agus dan Bro ANdy, membuat saya
> jadi sempat berpikir: 
> "Jangan2 selama ini kita ini orang Hedonis yang
> mengaku2 nggak Hedonis".
> 
> Apa yang kita alami itu adalah semacam HEDONISME
> SPRIRITUAL.
> 
> Berikut sedikit sharing, maybe bisa memberikan hal2
> baru dan semakin membuat kita waspada dlm menempuh
> jalan spiritual kita.
> 
> APA ITU HEDONISME SPIRITUAL?
> ------------------------
> Image kita ttg spiritual biasanya adalah sesuatu yg
> ultimit, Dharma tingkat tinggi. Suatu praktek yg
> nggak
> "lazim" karena berbeda dgn orang awam yg tidak
> mengenal Dharma. Spiritual terlanjur dianggap
> sebagai
> sesuatu yg bebas dari hasrat indriawi.
> 
> Sedangkan istilah "Hedonisme" adalah paham yang
> mengajarkan bahwa  yang benar itu ya yang enak2
> saja.
> Hedonisme oleh "Budayawan" post modern sering
> mengacu
> pada sikap2 konsumtif orang2 dewasa ini karena imbas
> modernitas yang turut melanggengkan kapitalisme
> Barat.
> Kebudayaan kita saat ini adalah perputaran hasrat
> hedonisme, mencari2 kepuasan, yang enak2 dgn
> mengkonsumsi produk2 tertentu. Istilah kerennya,
> kita
> ini semacam "mesin hasrat". Lihat saja iklan TV dan
> cara berpikir dan budaya urban masyarakat kita pada
> umumnya. Kita dikondisikan menjadi seorang "mesin
> hasrat", mesin yang berjuang untuk memiliki sesuatu.
> 
> Kita menggunakan Dharma untuk pada upaya pencerahan
> dgn metode2 yang ditawarkan oleh sekte yg kita anut.
> Tapi, Benarkah kita belajar dan berpraktek Dharma,
> semua itu demi tujuan untuk tidak menjadi "mesin
> hasrat"? 
> 
> Kita maybe tidak memperhatikan bahwa "hedonisme" itu
> juga bisa masuk pd area spiritualitas kita.
> Antara "mesin hasrat" dan spiritualitas, saya
> melihatnya, masih memiliki kesamaan pola yg sama.
> Keduanya berakar pada prinsip hedonisme. 
> Yang enak, itu yang benar.
> 
> Sebagai contoh, ini berikut beberapa alasan
> seseorang
> memilih sekte.
> Saya Theravada, ya karena saya terbiasa, merasa
> lebih
> nyaman dengan skeptisisme. Kebetulan literatur2
> Theravada lebih banyak sehingga sejak awal saya
> dikondisikan untuk mengikuti tradisi Theravada
> [alias
> wis kadung Theravada]. Saya ikut Buddhayana, ya enak
> sih, mau belajar apa2 sudah tersedia. Ada Theravada,
> Mahayana, dan Vajrayana. Saya belajar Zen, karena
> gak
> ribet-- lebih praktis, langsung pada sasaran. Saya
> ikut Gelukpa, karena saya suka dengan kompleksitas
> filsafatnya. Studi dan praktek adalah ibarat 2 sisi
> pada sebuah mata uang yg sama. Saya mempraktekkan
> Nian-Fo, karena gak neko2 dlm kerumitan meditasinya.
> Saya ini.... karena itu... 
> Semua itu didasari, ya karena enak. Sesuatu yang
> lebih
> nyaman (yg tentu relatif bagi setiap individu),
> itulah
> jalan yang kita tempuh.
> 
> Singkat kata, spiritualitas kita juga berangkat pada
> prinsip hedonisme.
> 
> LEVEL2 HEDONISME 
> -----------------
> Lalu, apakah Hedonisme itu salah? Sesuatu yg patut
> kita hindari? Menurut, kesimpulan saya koq tidak
> mesti
> salah.
> Hedonisme itupun memiliki level2 sesuai dengan
> kebijaksanaan hidup seseorang.
> Prinsip hidup seseorang tidak bisa dihakimi dgn itu
> benar, ini salah. Kebijaksanaan adalah proses
> belajar
> yang semakin berkembang dan terus.Hitam putih hanya
> cocok dalam dunia digital, tapi kehidupan ini tdk
> bisa
> disarikan dari hal2 yg terlampau sederhana seperti
> itu.
> 
> Kita bisa melihat perkembangan prinsip hedonisme
> dalam
> hidup kita.
> Misalkan:
> Prinsip Hedonis Bayi Kecil: Lapar, maka menangis.
> Sumuk (panas hawanya), ya nangis.
> Prinsip Hedonis Anak Remaja yang mulai berkembang:
> Maybe tidak terlalu mempermasalahkan kebutuhan fisik
> seperti itu. Anak SMP tidak akan menangis teriak2
> hanya karena lapar. Tapi prinsip hedonis-nya sudah
> berkembang pada taraf keinginan yg lebih kompleks.
> Ingin ini, ingin itu. Kalo gak begini, tidak kerean,
> nanti malu dilihat teman ....
> Ketika kita dewasa dan sudah bekerja, maybe kita
> gengsi jika pulang kampung dilihat koq gak sukses2.
> Kita menciptakan konsep2 kebahagiaan dalam
> parameter2
> tertentu.
> Dan demikian seterusnya, Hedonisme dapat semakin
> kompleks dan memabukkan. Tapi hedonisme juga bisa 
> mencari bentuk yg lebih halus. Ini yang disebut
> sebagai hedonisme spiritual. Orang yang matang dalam
> praktek Dharma tentu tidak akan ribut soal ketidak
> kekalan. Orang bijak akan lebih "nerimo" dan bisa
> mengambil hikmah yang lebih positif. Dia tidak akan
> terlalu menderita karena 8 kondisi duniawi. Bahkan
> penderitaan yg dialaminya bisa ditembus dengan
> kesadaran ultimit-nya (yaitu: merealisasikan
> sunyata).
> 
> Jika kita perhatikan, perkembangan spiritual
> seseorang
> berurusan dgn level2 hedonisme. Level2 ini tidak
> lain
> adalah pengertian yang benar tentang kebahagiaan dan
> penderitaan. Kita selalu menuju pada kebahagiaan
> dalam
> definisi kita masing2. Jadi, intinya: hal itu juga
> termasuk prinsip hedonisme. Kita sekarang sedang
> belajar dari taraf Hedonisme Kasar ke Hedonisme yang
> sangat2 Spiritual sekali. Se-spiritual-spiritual
> mungkin, puncaknya adalah pencerahan --apapun metode
> dan sekte kita.
> 
> Pencerahan puncak itu, tidak lain adalah totalitas
> dalam melepas, totalitas dalam non-dualisme,
> totalitas
> dalam segala hal. Masing2 sekte kita memiliki
> diskripsi yg macam2 ttg realitas ultimit ini, tapi
> cita rasanya satu, yaitu kebebasan.
> 
> 
> HIKMAH TTG JATUHNYA GURU DEVOTIONAL
> ----------------------------------
> Kita tentu sempat kecewa dgn Guru2 Dharma yg sempat
> kita kagumi. Jika kita kecewa, tentu harus diakui
> bahwa itu menandakan bahwa ada penderitaan karena
> melekat dgn Guru itu. Hedonisme spiritual kita maybe
> waktu itu dalam taraf hedonis terhadap Sang Master.
> Ketika ada kekecewaan terhadap master itu, maka kita
> tersentak "kaget" dan tersadar: 
> "Lho, ternyata saya melekat dgn master tho?" 
> Kalo gitu next, ya gak boleh. Kita harus tarik ke
> diri
> kita sendiri. 
> 
> Kasus Geshe Michael Roach sangat mengejutkan saya
> waktu itu, karena itu saya langsung konfirmasi dgn
> Bro
> Agus lewat sms. Dari Bro Irwan, saya diposting
> bebera
> tulisan ttg Chogyam Trungpa Rinpoche yg juga sama
> kontroversi-nya. Bro AGus belakangan juga
> menjelaskan
> bahwa kontroversi Guru Devotional itu ada banyak.
> Gak
> cuman Vajrayana, dalam Zen, Theravada, dll, juga
> ada.
> 
> Kita terlanjur dibuai oleh nama baik Guru2 Dharma.
> Padahal Guru Dharma yg sehebat apapun tidak akan
> membuat kita maju dalam spiritual. Karena
> sesungguhnya
> kemajuan spiritual  itu adalah apa yang kita
> praktekkan, bukan apa yang dipraktekkan Guru kita
> itu.
> 
> 
> PROBLEMATIK GURU DEVOTIONAL
> ---------------------------
> Kadang saya perhatikan, Fanatisme terhadap Guru2
> Dharma tertentu juga menjadi trend di Indonesia.
> Dalam Komunitas Theravada di Indonesia sendiri, saya
> perhatikan,masih ada saja seseorang yg ingin
> ditasbihkan menjadi Bhikkhu di luar negeri dari pada
> di Indonesia. Padahal Theravada di Indonesia sudah
> ada. ALasannya, tentu orang tersebut lebih merasa
> enak, nyaman, srek, karena ditasbihkan di Bangkok
> -misalnya, daripada di Indonesia.


 
____________________________________________________________________________________
8:00? 8:25? 8:40? Find a flick in no time 
with the Yahoo! Search movie showtime shortcut.
http://tools.search.yahoo.com/shortcuts/#news

Kirim email ke