Dalam sejarah karir saya, pernah saya bekerja di suatu tempat yang memberikan 
kesempatan bagi saya untuk mengantarkan dua orang sahabat, mentor, dan 
sekaligus atasan saya-paling tidak secara hierarki- untuk kembali ke 
hadiratnya, dan tempat yang sama juga memberikan saya kesempatan untuk mengatar 
staff saya yang paling saya percaya, kasihi dan juga hormat (mungkin ndak 
banyak yang tahu hehehe), untuk kembali ke hadiratNya juga.
   
  Tidak ada yang berkesan dan menarik dari kehilangan orang-orang yang anda 
kasihi, hormati dalam keseharian anda bekerja, yang ada mungkin sebentuk 
kesedihan yang mendalam, demikian dalam sampai sering tidak ada yang tahu bahwa 
apakah saya itu sedih atau malah tidak punya perasaaan sama sekali. 
   
  Istri saya sendiri sering bertanya, apakah saya sayang kepada dia dan juga 
kepada anak-anak dan bahkan salah satu teman kuliah saya itu menganggap saya 
itu sangat matematis dan penuh dengan perhitungan untung rugi, dan tidak akan 
mungkin orang seperti itu untuk bisa mengasihani orang lain apa lagi sampai 
menulis puisi dan berbagai artikel. Katanya, saya itu tidak bakal  mau 
melakukan sesuatu tanpa ada imbalan atau keuntungan ganda bagi diri saya 
sendiri.
   
  Waktu jaman SMA dulu, saya terkenal sangat serius dan tidak pernah mau 
bercanda dan siapa pun yang saya tatap pasti entah itu minggir atau 
gugup-paling tidak begitu dan saya terkenal sangat pemarah dan tidak mau 
bertoleransi dengan orang lain.
   
  Salah seorang staff saya yang sekarang sudah menjadi mantan staff bilang 
bahwa saya itu selalu akan marah dengan alasan yang jelas dan tanpa alasan, 
tidak mungkin saya akan marah. Dan memang begitulah kenyataannya.
   
  Seseorang menjadi pemarah itu tentu ada alasannya dan beberapa alasan utama 
itu bisa kita jadikan bahan obrolan hari ini. Salah satu alasan orang itu 
menjadi marah adalah untuk menutupi kekurangannya, kebodohannya dan percayalah, 
atasan semacam ini sangat sulit untuk dihadapi dan dilayani, pertama karena 
ketidakmampuan dirinya itu ditutupi dengan marah dan mencari-cari kesalahan 
orang lain dan kedua, apa pun yang anda lakukan itu pasti ada saja yang salah 
menurut dia. Padahal, kalau ybs itu diminta melakukan sendiri belum tentu dia 
akan sanggup melakukan apa lagi melakukan dengan baik.
   
  Anda tidak perlu menanyakan ke saya bagaimana cara untuk menghadapi orang 
semacam itu, karena tentu sudah banyak buku yang membahas itu dan tentunya juga 
anda sudah lebih tahu teorinya daripada saya. Tapi yang pasti, salah satu 
pilihan utama untuk mengatasi masalah ini adalah anda rileks saja dan lakukan 
yang bisa anda lakukan lalu pasrah saja dan jangan pernah menutupi kesalahan 
anda. Terus terang dan jaga diri baik-baik, mungkin itu yang paling baik, yang 
lebih baik lagi, carilah tempat kerja yang lain-jika mungkin. :) 
   
  Alasan kedua seseorang itu menjadi pemarah, karena dia tidak bisa beradaptasi 
dengan lingkungannya dan tidak ingin di dekati oleh siapapun, ingin sendiri dan 
menikmati hari-harinya. Ini tipe orang aneh, tapi memang bisa saja ada, saya 
sendiri pernah mengalami periode ini, terutama sekali kalau saya lagi patah 
hati, hahahaha.
   
  Alasan ketiga yang paling umum seseorang itu marah karena dia tidak pernah 
mau percaya akan orang lain dan selalu menganggap dirinya paling benar, ya 
entah apa istilah psikologisnya orang semacam ini, tapi ini juga salah satu 
pribadi yang sulit untuk dihadapi, super ego atau megalomania-mungkin itu, saya 
lupa. Sering kali orang seperti ini itu (sangat) cerdas di satu bidang, namun 
tidak untuk bidang yang lain, dan dengan bekal kecerdasan di bidangnya ini 
egonya itu mendorong dia untuk unjuk gigi di bidang lainnya. Mungkin ybs ini 
lupa bahwa orang dengan talenta multi dimensi itu tidak banyak, mungkin dari 
sejuta itu tidak lebih dari sepuluh sampai seratus orang yang punya talenta 
multi dimensi, dan enam puluh dari orang-orang ini entah menjadi seniman 
terkenal, mungkin sudah menjadi pengusaha kaya yang tidak terkenal, tapi kaya 
betul hehehe.
   
  Lalu, yang empat puluh lainnya ke mana? yaa, mungkin itu masih ada di antara 
anda dan saya dan masih merangkak di bangku kuliah, sma, di sawah, dll. Masih 
berjuang.
   
  Ada banyak alasan marah lainnya yang mungkin bisa anda tambahkan dan tentu 
sampai di sini, anda akan bertanya, lalu marahnya saya waktu di masa-masa 
sekolah itu kenapa dan lalu di lain waktu itu kenapa... yaa, mungkin karena 
alasan kedua, mungkin karena alasan ketiga dan keempat, hehehee. Sebetulnya 
saya itu tidak marah, cuma, saya sering mengungkapkan apa yang saya pahami 
sebagai sesuatu yang tidak wajar dan tidak proporsional itu dengan cara 
terbuka, frontal dan tanpa basa-basi, istilah bule nya frankly speaking 
gituloh! Dan tidak banyak orang yang senang untuk diajak berbicara terbuka, 
terutama sekali orang yang mengatakan bahwa dirinya itu terbuka.... , loh, 
kok???
   
  Ya,, itulah fakta hidup. Ketika seseorang itu berkata bahwa dia itu terbuka 
dan mau membuka diri. Itu suatu tanda atau pernyataan bahwa sesungguhnya dia 
itu BARU mau terbuka dan mau membuka diri, belum lagi terbuka dan membuka diri.
   
  Untuk bisa menjadi orang yang terbuka dan membuka diri itu membutuhkan modal 
yang mahal sekali. Paling tidak, seseorang yang mau membuka diri itu musti 
punya nyali segedhe nyali singa atau harimau, mungkin juga beruang - kali, tapi 
bukan ber uang. 
   
  Kenapa, kok butuh nyali segedhe itu? Ya Nanti dulu dong.
   
  Selain nyali segedhe itu, masih dibutuhkan hati sebening kaca tapi sekuat 
Titanium alloy, itu loh yang buat badan pesawat antariksa. Trus butuh juga 
telinga yang setebal gadjah. Oh ya, masih ada satu, mesti punya mata yang 
setajam mikroskop elektron juga, plus punya cermin yang guedhenya segedhe , hmm 
apa yah... segedhe badan aja deh, biar kelihatan semua, gitu.
   
  Nah apa gunanya nyali, kuping, hati dan mata itu? 
   
  Nyali yang kuat itu membantu kita untuk menerima kenyataan bahwa kita itu 
memang jelek, dan kedua hati yang bening itu membuat kita bisa melihat dengan 
jernih bahwa kita, anda maksud saya dan saya juga, itu jelek. lalu kuping 
gadjah itu di buat snack, ups sori , maksud saya kuping gadjah itu supaya kita 
kuat untuk mendengar omongan pedas dan tajam, dan telinga kita nggak sobek dan 
terus kita masih bisa meneruskan upacara mendengar dengan baik. Gitu, loh. Oh 
ketinggalan satu, hati yang sekuat Titanium alloy itu perlu untuk memastikan 
bahwa hati anda tidak remuk redam dalam menerima kenyataan pahit bahwa anda itu 
jelek. wah sori , saya jelek maksud saya.
   
  Nah, kesemuanya itu tidak bisa anda beli di toko sembarangan dan kalau pun 
ada, harganya mungkin sekilo kuping gadjah tulen itu bisa seratus juta 
harganya. Kok mahal? yaa kan itu harga gadjahnya, iya kalau ada... hehehehe. 
   
  Kesemuanya itu bisa anda beli di toko swalayan kehidupan dan caranya 
sederhana saja, anda musti menjalani hidup ini dengan baik, dan melatih diri 
untuk bisa menerima kenyataan hidup ini dengan baik. Kenyataan bahwa kita itu 
jelek, supek, apek dll-dll itu dengan baik, sering-sering bercermin, supaya 
makin sadar dan tahu diri gitu loh. Itu gunanya cermin tadi. Tips lain, ya anda 
jangan suka mau menang, belajarlah untuk kalah, karena dari kalah anda akan 
bisa mengamati banyak hal.
   
  Pertama, bagaimana menangis yang foto genit, kedua anda bisa belajar gi mana 
berpidato sambil nangis yang ketiga anda bisa belajar jadi sabar, biar si sabar 
juga nggak sabar, tapi sabarlah....  , buat Sabar, sori yah..sudah di 
promosikan dalam bentuk tulisan.
   
  Sampai di mana ini, muternya sudah jauh begini, sambil ngobrol dengan istri 
dan pacar pula.. hehehehe. Ok 
   
  Saya berbicara tentang kematian sedikit dan lalu soal kemarahan sedikit, lalu 
soal keterbukaan dan bagaimana menjadi orang yang benar-benar terbuka dan 
membuka diri dengan bijak. 
   
  Mari saya balik urutannya karena saya tadinya ingin menjelaskan bahwa 
pandangan kita akan seseorang yang kelihatannya secara tampak luar itu dingin, 
tidak berperasaan atau terlalu perhitungan itu bisa jadi salah dan sangat 
mungkin bahwa yang bersangkutan itu sedang mencoba mencari bentuk yang paling 
tepat untuk memberikan reaksi atas orang lain dan sekitarnya. Terutama sekali 
atas apa yang dia terima, pahami dan lalu bandingkan dengan nilai dan standard 
ukuran perilaku yang dia miliki dalam dirinya. Seringkali respon yang muncul 
dalam bentuk marah itu bisa diinterpretasikan sebagai sifat dan pribadi dari 
ybs, padahal sesungguhnya, bentukan marah itu tidak lebih dari respon emosi 
yang sangat mungin hanyalah bagian dari respon atas kejadian yang muncul 
dihadapannya alias akibat dari aksi yang memancing amarah dan kekesalannya akan 
kesalahan yang dipertontonkan oleh orang lain disekitarnya.
   
  Kalau kita menilai seseorang itu atas dasar emosinya yang meledak saja, tentu 
akan sangat tidak adil kepada yang bersangkutan, karena bisa jadi yang memicu 
ledakan emosinya itu sesungguhnya salah dan tentu saja kemarahannya itu wajar 
sekali. Entah karena tersinggung, entah juga agar yang bersalah itu tidak 
mengulang lagi kesalahnya, atau sekedar melampiaskan kekesalannya saja. 
   
  Mentor saya yang sudah almarhum, beliau atasan saya juga dan juga teman 
diskusi soal filsafat yang sangat piawai, ahli strategi politik kantor juga 
bilang bahwa pada akhirnya yang sabar dan benar itu akan menang. Lalu apa 
hubungannya dengan soal marah?
   
  Hubungannya sederhana saja, dari awal saya berbicara soal dunia kerja dan 
tempat kerja dan seringkali ketika kita mengetahui ketidak benaran terjadi 
disekitar kita, kita akan dengan sangat mudah menjadi marah dan hiper sensitif, 
dan sebetulnya dengan memberikan reaksi semacam itu, kita itu berada dalam 
posisi yang tidak menguntungkan. Kemarahan membuat kita mudah diserang dan 
seringkali salah mengambil tindakan.
   
  Orang yang gampang marah atas suatu kesalahan yang memang sesungguhnya salah, 
biasanya adalah orang yang terbuka dan mau membuka diri, hanya memang lalu ybs 
itu mesti mempelajari kembali bagaimana menjadi orang yang terbuka dan membuka 
diri dengan baik dan benar, lihat bagian di atas soal ini dan lalu kemampuan 
untuk terbuka dan membuka diri ini mesti dikombinasikan dengan kesabaran yang 
tinggi, melihat moment yang tepat untuk menerkam dan memberikan kemarah dengan 
manis. Saya yakin, banyak diantara anda yang akan bisa memberikan perbaikan 
bagi kehidupan di negara ini dan banyak di antara anda yang sedang sibuk 
melatih diri untuk terbuka dan sabar, jadi, memang Indonesia itu masih punya 
harapan besar.....
   
  Besar gitu loh!!!!! 
  Jadi, marilah kita sama - sama mengheningkan cipta untuk sabar dan 
perjuangan.....!! :) ;) 
   
   
  070307


Diskusi dan pertanyaan mohon di kirim ke japri;[EMAIL PROTECTED]
http://www.friendster.com/isutjipto 
http://groups.yahoo.com/group/irwan_sutjipto/
http://www.friendster.com/group/tabmain.php?statpos=gdis&fid=303848
 
---------------------------------
Access over 1 million songs - Yahoo! Music Unlimited.

Kirim email ke