SUCIKAN HATI dan PIKIRAN ?


Entah sejak kapan dan bagaimana awal ceritanya sampai kosa kata HATI menjadi 
kata yg sedemikian sering dipergunakan dalam berkomunikasi. Kosa kata tersebut 
dipakai dalam frase yg menjadi baku dan dipahami secara umum. Bahkan sering 
dipakai dalam mengungkapkan "bahasa cinta" dan tidak jarang dipakai juga untuk 
mengungkapkan suatu pesan yang mengandung "misteri" dan berbau "mistis". 
Terkadang saya menjadi terheran-heran karena kurang mengerti apa hubungannya 
kosa kata HATI dengan pesan yg ingin disampaikan. Mengapa kita mengungkapkannya 
melalui kata ini. Mungkin ada teman yg nanti bisa berbagi pengetahuannya 
sehingga menambah wawasan dan pemahaman saya.

 

Hati, sebagaimana kita semua tau adalah organ tubuh yg letaknya kira-kira 
dibawah iga sebelah kanan yang salah satu fungsinya adalah untuk menawarkan 
racun. Hati tidak memiliki mulut untuk berbicara, namun kita sering bilang : 
"Ikutilah kata HATI mu". Hati juga tidak memiliki mata, tetapi kita mengatakan 
"Lihatlah dengan mata HATI mu jangan dengan mata dagingmu". Manusia setau saya 
hanya memiliki satu hati selama hidupnya, namun sering kita menganggap ada hati 
lainnya yg disebut HATI kecil ataupun Hati nurani.  Dan terkadang kita menyebut 
seseorang tidak punya HATI kepada orang yang dianggap jahat. 

 

AA Gym pernah membuat sebuah lagu yg berjudul : "Jagalah HATI". Lagu yg saya 
senangi dan sering saya nyanyikan. Syairnya kira-kira berbunyi : "Jagalah hati, 
jangan kau nodai, Jagalah hati, lentera hidup ini / cahaya illahi. Dalam syair 
ini, kosa kata HATI mengandung pesan spiritual. Apabila HATI tidak dijaga, maka 
kita akan menjadi salah arah karena kurangnya cahaya penerang jalan. Tentu 
caranya bukan seperti yg dilakukan oleh teman kantor saya yang menjaga hatinya 
dengan Sari Temulawak. Kalau itu juga yang anda lakukan utk memahami syair lagu 
tadi, maka anda akan jadi "tersesat".

 

Kosa kata HATI juga amat sering dipakai dalam dunia percintaan antara pria 
dengan wanita. Seperti pengalaman teman-teman yg sedang jatuh cinta, mereka 
merasa tiba-tiba berubah menjadi penyair. Mereka sering mengungkapkan kata hati 
dengan puisi-puisi indah yang tidak pernah terlintas dalam pikiran apalagi 
pernah mempelajarinya sebelum mereka jatuh cinta.

 

Saat bercerita bahwa semuanya berawal dari : "Dari mata turun ke HATI". Padahal 
dia pernah memeriksa sendiri bahwa tidak ada saluran yg menghubungkan mata 
dengan hati nya. Yang dia maksud tentu adalah perasaan cinta yang timbul karena 
pandangan mata. Begitulah kalau sedang jatuh HATI katanya. Lagi-lagi maksudnya 
bukanlah hatinya benar-benar jatuh ke lantai. Karena kalau demikian yg terjadi, 
maka dia tentu bukan orang lagi, tetapi mungkin disebut mantan orang alias 
mayat.  

 

Kemudian, apabila cerita cinta kita menghadapi masalah, lalu kita berkata 
kepada orang lain bahwa kita sedang "Sakit HATI".  Bukan sakit liver atau 
hepatitis, tetapi mungkin karena suka dengan lagu Betharia Sonata, maka kita 
ikut-ikut mengatakan "HATI Yang Luka". Ada lagi yg memutuskan cintanya dan 
berkata bahwa pacarnya "Dikasih HATI Minta Kacang".

 

Saya bukanlah ahli bahasa ataupun seorang dokter yang ahli mengenai HATI dan 
fungsinya. Saya hanya ingin meyakinkan kembali bahwa kosa kata hati sering kita 
pakai adalah frase atau ungkapan saja. Bukan arti harafiah, bukan seperti yang 
tersurat / tertulis.  Oleh karenanya, adalah keliru sekali apabila 
mengartikannya sebagai fakta atau menganggapnya sebagai kalimat yg nyata. HATI 
pada kenyataannya tidak bisa berbicara, tidak mampu melihat apalagi berpikir. 
Hati tidak pernah berpengaruh terhadap pola tingkah laku kita. Dan hati tidak 
berfungsi sebagai media penghubung atau alat komunikasi antara manusia dengan 
subjek lainnya, baik yang tingkatnya sejajar ataupun lebih tinggi dari kita. 
Ini juga berarti bahwa HATI tidak dapat disucikan. 

 

Menurut pemahaman dan pengamatan saya pribadi, sebenarnya semua yang kita 
maksud adalah PIKIRAN, bukan HATI. Hanya PIKIRAN yang mampu mengelompokan mana 
yang disukai dan mana yang tidak disukai, bukan HATI. Hanya pikiran yang dapat 
dijaga. Pikiran yang dapat menyadari apa yg dilihat. Semua kata-kata jahat atau 
baik, kalimat pembicaraan, dsb hanya bisa terlintas dalam PIKIRAN, bukan dalam 
HATI. Dan tentunya hanya PIKIRAN yang dapat disucikan, bukan HATI. 

 

Mungkin saya salah. Apalagi saya saya bukanlah seorang kelirumolog ala Jaya 
Suprana. Tetapi seandainya anda setuju bahwa pemahaman saya benar, mungkin kita 
harus mulai membiasakan diri menggunakan ungkapan yang benar, terutama dalam 
pembahasan filsafat. Kalau dalam urusan puisi-puisi cinta atau komunikasi umum, 
bolehlah. Tapi kalau itu adalah pembahasan filsafat atau komunikasi dalam dunia 
science dan ilmiah, maka sangat mungkin terjadi distorsi dan kesalahpahaman. 
Apalagi kalau sampai penerima pesan mengira itu bukanlah ungkapan atau frase. 

 

Barangkali lebih tepatnya kita mengatakan Sucikan Pikiran, bukan Sucikan Hati 
dan bukan pula Sucikan Hati dan Pikiran.  Karena apabila pada saat seseorang 
yang kritis bertekad utk mensucikan hati, mungkin dia akan bingung untuk 
mempraktekannya. Hati yang mana dan bagaimana yang dimaksud ? Apa bedanya hati 
dengan pikiran yang dimaksud ? 

 

Bagaimana pemahaman anda ? Apakah anda punya masukan yang lebih tepat agar kita 
bisa membahasnya "Dari Hati ke Hati" ? . 

 

 

 

 





Salam Hangat dari "Lubuk Hati Yang Terdalam"

 

  

Wi Tjong

Kirim email ke