'Hati' yang dimaksud itu 'perasaan' kaleee.
Saya pernah baca, kalo nggak salah, 'perasaan' merupakan salah satu unsur 
panca-khanda.
CMIIW

Zhuge Liang


From: Wi Tjong
Sent: Wednesday, March 07, 2007 2:26 PM
To: Samaggiphala; Dharmajala; Alwie; Rudy Kartolo
Subject: [Dharmajala] Sucikan Hati dan Pikiran ?


SUCIKAN HATI dan PIKIRAN ?

Entah sejak kapan dan bagaimana awal ceritanya sampai kosa kata HATI menjadi 
kata yg sedemikian
sering dipergunakan dalam berkomunikasi. Kosa kata tersebut dipakai dalam frase 
yg menjadi baku
dan dipahami secara umum. Bahkan sering dipakai dalam mengungkapkan “bahasa 
cinta” dan tidak
jarang dipakai juga untuk mengungkapkan suatu pesan yang mengandung “misteri” 
dan berbau “mistis”.
Terkadang saya menjadi terheran-heran karena kurang mengerti apa hubungannya 
kosa kata HATI dengan
pesan yg ingin disampaikan. Mengapa kita mengungkapkannya melalui kata ini. 
Mungkin ada teman yg
nanti bisa berbagi pengetahuannya sehingga menambah wawasan dan pemahaman saya.

Hati, sebagaimana kita semua tau adalah organ tubuh yg letaknya kira-kira 
dibawah iga sebelah
kanan yang salah satu fungsinya adalah untuk menawarkan racun. Hati tidak 
memiliki mulut untuk
berbicara, namun kita sering bilang : “Ikutilah kata HATI mu”. Hati juga tidak 
memiliki mata,
tetapi kita mengatakan “Lihatlah dengan mata HATI mu jangan dengan mata 
dagingmu”. Manusia setau
saya hanya memiliki satu hati selama hidupnya, namun sering kita menganggap ada 
hati lainnya yg
disebut HATI kecil ataupun Hati nurani.  Dan terkadang kita menyebut seseorang 
tidak punya HATI
kepada orang yang dianggap jahat. 

AA Gym pernah membuat sebuah lagu yg berjudul : “Jagalah HATI”. Lagu yg saya 
senangi dan sering
saya nyanyikan. Syairnya kira-kira berbunyi : “Jagalah hati, jangan kau nodai, 
Jagalah hati,
lentera hidup ini / cahaya illahi. Dalam syair ini, kosa kata HATI mengandung 
pesan spiritual.
Apabila HATI tidak dijaga, maka kita akan menjadi salah arah karena kurangnya 
cahaya penerang
jalan. Tentu caranya bukan seperti yg dilakukan oleh teman kantor saya yang 
menjaga hatinya dengan
Sari Temulawak. Kalau itu juga yang anda lakukan utk memahami syair lagu tadi, 
maka anda akan jadi
"tersesat".

Kosa kata HATI juga amat sering dipakai dalam dunia percintaan antara pria 
dengan wanita. Seperti
pengalaman teman-teman yg sedang jatuh cinta, mereka merasa tiba-tiba berubah 
menjadi penyair.
Mereka sering mengungkapkan kata hati dengan puisi-puisi indah yang tidak 
pernah terlintas dalam
pikiran apalagi pernah mempelajarinya sebelum mereka jatuh cinta.

Saat bercerita bahwa semuanya berawal dari : “Dari mata turun ke HATI". Padahal 
dia pernah
memeriksa sendiri bahwa tidak ada saluran yg menghubungkan mata dengan hati 
nya. Yang dia maksud
tentu adalah perasaan cinta yang timbul karena pandangan mata. Begitulah kalau 
sedang jatuh HATI
katanya. Lagi-lagi maksudnya bukanlah hatinya benar-benar jatuh ke lantai. 
Karena kalau demikian
yg terjadi, maka dia tentu bukan orang lagi, tetapi mungkin disebut mantan 
orang alias mayat.  

Kemudian, apabila cerita cinta kita menghadapi masalah, lalu kita berkata 
kepada orang lain bahwa
kita sedang “Sakit HATI”.  Bukan sakit liver atau hepatitis, tetapi mungkin 
karena suka dengan
lagu Betharia Sonata, maka kita ikut-ikut mengatakan “HATI Yang Luka”. Ada lagi 
yg memutuskan
cintanya dan berkata bahwa pacarnya “Dikasih HATI Minta Kacang”.

Saya bukanlah ahli bahasa ataupun seorang dokter yang ahli mengenai HATI dan 
fungsinya. Saya hanya
ingin meyakinkan kembali bahwa kosa kata hati sering kita pakai adalah frase 
atau ungkapan saja.
Bukan arti harafiah, bukan seperti yang tersurat / tertulis.  Oleh karenanya, 
adalah keliru sekali
apabila mengartikannya sebagai fakta atau menganggapnya sebagai kalimat yg 
nyata. HATI pada
kenyataannya tidak bisa berbicara, tidak mampu melihat apalagi berpikir. Hati 
tidak pernah
berpengaruh terhadap pola tingkah laku kita. Dan hati tidak berfungsi sebagai 
media penghubung
atau alat komunikasi antara manusia dengan subjek lainnya, baik yang tingkatnya 
sejajar ataupun
lebih tinggi dari kita. Ini juga berarti bahwa HATI tidak dapat disucikan. 

Menurut pemahaman dan pengamatan saya pribadi, sebenarnya semua yang kita 
maksud adalah PIKIRAN,
bukan HATI. Hanya PIKIRAN yang mampu mengelompokan mana yang disukai dan mana 
yang tidak disukai,
bukan HATI. Hanya pikiran yang dapat dijaga. Pikiran yang dapat menyadari apa 
yg dilihat. Semua
kata-kata jahat atau baik, kalimat pembicaraan, dsb hanya bisa terlintas dalam 
PIKIRAN, bukan
dalam HATI. Dan tentunya hanya PIKIRAN yang dapat disucikan, bukan HATI. 

Mungkin saya salah. Apalagi saya saya bukanlah seorang kelirumolog ala Jaya 
Suprana. Tetapi
seandainya anda setuju bahwa pemahaman saya benar, mungkin kita harus mulai 
membiasakan diri
menggunakan ungkapan yang benar, terutama dalam pembahasan filsafat. Kalau 
dalam urusan
puisi-puisi cinta atau komunikasi umum, bolehlah. Tapi kalau itu adalah 
pembahasan filsafat atau
komunikasi dalam dunia science dan ilmiah, maka sangat mungkin terjadi distorsi 
dan
kesalahpahaman. Apalagi kalau sampai penerima pesan mengira itu bukanlah 
ungkapan atau frase. 

Barangkali lebih tepatnya kita mengatakan Sucikan Pikiran, bukan Sucikan Hati 
dan bukan pula
Sucikan Hati dan Pikiran.  Karena apabila pada saat seseorang yang kritis 
bertekad utk mensucikan
hati, mungkin dia akan bingung untuk mempraktekannya. Hati yang mana dan 
bagaimana yang dimaksud ?
Apa bedanya hati dengan pikiran yang dimaksud ? 

Bagaimana pemahaman anda ? Apakah anda punya masukan yang lebih tepat agar kita 
bisa membahasnya
“Dari Hati ke Hati” ? . 

Salam Hangat dari “Lubuk Hati Yang Terdalam”
Wi Tjong 


 
____________________________________________________________________________________
TV dinner still cooling? 
Check out "Tonight's Picks" on Yahoo! TV.
http://tv.yahoo.com/

Kirim email ke