Kompas, Jumat, 09 Maret 2007
Pemiskinan Terus Terjadi
Biaya Sosial-Kultural Tinggi, Bisa Picu Tumbuhnya Kekerasan
Jakarta, Kompas - Hingga hari ini, kemiskinan dan proses pemiskinan terus
terjadi, ditandai dengan makin menurunnya kualitas hidup. Untuk menghadapi
berbagai gempuran kebutuhan hidup, masyarakat harus bergulat dengan menggunakan
beragam strategi.
"Menghadapi kenyataan ini, fenomena kemiskinan dan proses pemiskinan harus
dilihat secara riil. Tidak cukup hanya mengandalkan data statistik," kata
Achmad Fedyani Saifuddin, guru besar antropologi sosial dari Universitas
Indonesia, Kamis (8/3).
Gejala pemiskinan itu bisa dilihat dari kenyataan sehari-hari. Contoh paling
kasat mata adalah kian banyak anak-anak yang berkeliaran atau bekerja di
jalanan, masih tingginya angka putus sekolah, serta semakin banyak kendaraan
roda dua di jalan yang biasanya dimiliki penarik ojek.
"Para penarik ojek itu umumnya punya pekerjaan lain alias kerja rangkap.
Bahkan, tak jarang kita temui ada yang berstatus guru atau pegawai negeri,"
ujarnya.
Saat kemiskinan meningkat di masyarakat, kata Fedyani, golongan miskin selalu
mengembangkan kiat-kiat untuk menanggulangi kebutuhan dasar guna mendapatkan
penghasilan tambahan. Kemampuan beradaptasi itu, misalnya, dengan sejumlah
strategi seperti melakukan aneka pekerjaan pada waktu bersamaan, sebanyak
mungkin anggota rumah tangga dikerahkan untuk memperoleh penghasilan tambahan
dan memperluas akses untuk meminjam dan mencicil.
"Persentase warga miskin yang sampai kelaparan memang terkesan kecil. Namun,
ketika penghasilan yang merupakan hasil adaptasi tadi dikeluarkan, jumlah warga
miskin jauh lebih besar. Strategi yang digunakan warga miskin membuat mereka
terangkat dari garis statistik penentu kemiskinan," katanya.
Biaya sosial-kultural
Tak kalah mengkhawatirkan, kemiskinan tersebut menimbulkan tinginya biaya
sosial-kultural yang harus ditanggung. Untuk menambah penghasilan, misalnya,
masyarakat harus menjalani beberapa pekerjaan sekaligus, sehingga tugas atau
pekerjaan utamanya menjadi telantar.
Akan tetapi, kata Fedyani, dengan adanya proses kemampuan beradaptasi tersebut,
maka konflik tidak secara langsung mengancam. Dengan berbagai tantangan untuk
menghadapi kehidupan, seperti harga-harga naik atau gaji yang tidak memadai,
biasanya warga cenderung sibuk dan terkonsentrasi untuk memikirkan cara
mendapatkan penghasilan tambahan. Mereka juga menjadi apatis, termasuk tidak
terlalu peduli pada isu korupsi, misalnya.
Imam B Prasodjo, sosiolog dari UI yang juga pimpinan Yayasan Nurani Dunia,
melihat bahwa kemiskinan dapat menjadi lahan empuk untuk terjadinya kekerasan.
Itu dimungkinkan karena adanya perebutan sumber daya, seperti terjadi
penjarahan, pencurian, atau konflik antarindividu yang bersifat sporadis.
Hanya saja, belum tentu kemiskinan menyebabkan kekerasan yang terorganisasi
sehingga muncul konflik meluas atau komunal. "Kekerasan yang terorganisasi dan
meluas menjadi konflik biasanya disertai adanya mobilisasi, ideologisasi, dan
adanya pemimpin," kata dia. (INE)
---------------------------------
Be a PS3 game guru.
Get your game face on with the latest PS3 news and previews at Yahoo! Games.