Saya bknnya ngebelain lucu-lucu an tersebut. Kalau yg disebut "monkey' itu 
memang bhikkhu yg menyimpang dari Vinaya berat atau Parajika , secara otomatis 
ybs bukan seorang Bhikkhu lagi. 

Zhuge Liang <[EMAIL PROTECTED]> wrote:          Nah loe .. nah loe ...
Serem 'kan ceritanya?
Ih ... takuuut ...

Makanya kita kudu ati-ati tuh, Pak.
Gara-gara melucu, nanti bisa terlahir kembali jadi ini lah ... jadi itu lah ...

Wah ... wah ... wah ...

Zhuge Liang

From: nyana bhadra
Sent: Wednesday, February 14, 2007 7:08 PM
To: [email protected]
Subject: [Dharmajala] Re: Bhikhu Gadungan

Dear all,
"Ketidak-tahuan" memang sangat mengerikan, Buddha pernah bersabda, ketika 
ditempat keramaian,
jagalah ucapanmu; ketika sedang sendirian jagalah pikiran batinmu.

Nge-joke memang boleh-boleh saja, dan itu hak semua orang, namun kalau nge-joke 
dengan cara
demikian sangat2 lah ber-efek buruk, apalagi terhadap sangha.

Berikut ini adalah salah satu kutipan cerita yg diterjemahkan dari "Sutra of 
the Wise & the
Foolish; Ocean of Narrative [Uliger un-dalai ]" yang diterbitkan oleh Library 
of Tibetan Work &
Archives, Dharamsala, India; Kisah ke 41, judulnya "Madu Sempurna"

Semoga menjadi pelajaran berharga bagi kita semua, dan jangan memindahkan semua 
label 'kebun
binatang' ke mulut kita, karena sungguh-sungguh berbahaya.

Salam dari Dharamsala, India

Madu Sempurna
Demikian yang telah saya dengar pada suatu ketika: Buddha sedang berdiam di 
Kota Sravasti di Biara
Jetavana, Taman Anathapindika. Pada saat itu di negeri itu hiduplah seorang 
brahmin yang kaya raya
bernama Sincir. Tanpa anak, dia pergi ke enam guru yang berbeda dan bertanya 
apakah dia akan
memiliki seorang putra atau tidak. Para guru memberitahu dia: "Ini bukanlah 
takdirmu di hidup ini
untuk memiliki seorang putra. "Brahmin kembali ke rumah, meletakkan jubahnya 
yang tua dan berdebu
itu, duduk dalam kesedihan berpikir: "Saya tidak ditakdirkan memiliki seorang 
putra. Jika saya
meninggal, raja akan menyita kekayaanku."
Istri brahmin telah membuat pertemuan dengan biksuni Buddhis yang sehari datang 
ke rumah brahmin
untuk berkunjung. Melihat brahmin begitu sedih, dia bertanya kepada istrinya 
ada permasalahan apa.
Istrinya menjawab: "Kami tidak memiliki anak dan keenam guru itu memberitahu 
suamiku bahwa ini
adalah takdir kami. Inilah alasan suamiku merasa sangat sial. "biksuni itu 
berkata: "Guru-guru itu
tidak mengetahui apa-apa. Bagaimana mungkin mereka mengetahui hal semacam itu? 
Tetapi Buddha,
Tathagata, sekarang ada di dunia, karena dia mengetahui masa lalu dan masa 
depan dengan sempurna,
mengapa engkau tidak pergi kepadaNya dan bertanya apakah engkau akan memiliki 
seorang putra atau
tidak?"
Ketika biksuni ini telah pergi, istri brahmin memberitahunya apa yang dia 
katakan. Mengenakan
jubah yang baru, sang suami pergi menghadap Buddha dan bertanya: "Bhagava, 
apakah takdir dalam
hidupku ini memiliki seorang putra atau tidak?" Buddha berkata: "Brahmin, 
engkau akan memiliki
seorang putra, dan putra itu akan diberkahi dengan kebajikan. Ketika dia 
dewasa, dia akan
menginginkan untuk menjadi biksu. "Mendengar hal ini, brahmin sangat bergembira 
dan berkata: "Jika
saya memiliki seorang putra, tentu dia boleh menjadi seorang biksu? Kesedihanku 
sekarang telah
berakhir. "Dia kemudian mengundang Buddha dan Sangha ke rumahnya. Bhagava 
menyetujuinya dengan
diam.
Hari berikutnya pada saat makan, Buddha dan Sangha datang dan duduk di tempat 
duduk yang telah
dipersiapkan untuk mereka. Brahmin dan istrinya menghormati mereka dan melayani 
mereka dengan
berbagai macam makanan. Ketika mereka selesai makan, mereka kembali, dan 
sepanjang perjalanan tiba
di sebuah padang rumput dengan mata air yang bersinar dan bersih. Buddha dan 
para biksu duduk
disampingnya dan mengambil air dengan patta mereka, ketika seekor kera muncul 
dan meminta pattanya
Ananda, karena takut kera itu akan merusak pattanya, Ananda menolak untuk 
memberikan pattanya.
Buddha berkata: "Ananda, berikanlah pattamu kepada kera itu. "Ketika Ananda 
memberikan itu
kepadanya, kera itu memanjat sebuah pohon dan kembali dengan mangkuk yang penuh 
berisi madu, yang
dia persembahkan kepada Buddha. Ketika Buddha berkata: "Pisahkan kotoran dari 
madu itu," kera itu
memindahkan serangga-serangga mati yang ada di madu itu dan kembali 
memberikannya kepada Bhagava.
Buddha berkata: "Campurkan air dengan madu itu dan saya akan meminumnya. "Kera 
itu kemudian
mencampurkan air dengan madu itu dan kembali memberikannya kepada Buddha, 
beliau mencicipinya dan
membaginya juga kepada para biksu. Kera itu melompat naik dan turun dengan 
senang, berlari ke
sebuah jurang, melompat ke bawah, dan meninggal. Ketika kera mati, dia memasuki 
kandungan istri
brahmin yang tak memiliki anak itu dan ketika bulan telah terpenuhi, seorang 
putra yang tampan dan
menarik lahir. Pada saat anak itu muncul di dunia, semua tempayan di rumah 
brahmin itu dipenuhi
oleh madu. Brahmin dan istrinya bersukacita dan membawa seorang peramal untuk 
mengamati anak itu.
Ketika peramal itu bertanya tanda-tanda apa yang muncul ketika bayi ini 
dilahirkan dan diberitahu
bahwa semua wadah di dalam rumah itu dipenuhi oleh madu, anak itu diberi nama 
'Madu Sempurna.'
Ketika anak itu tumbuh dewasa, dia memohon izin untuk menjadi seorang biksu. 
Orang tuanya menolak
dan anak itu memberitahu mereka: "Saya tidak dapat hidup di tempat ini yang 
tidak memiliki
kedamaian. Saya pasti mati." Brahmin dan istrinya kemudian merundingkan hal 
ini. Mereka mengingat
Buddha telah meramalkan bahwa ketika seorang putra telah lahir, dia akan 
menjadi biksu. Mereka
setuju bahwa jika mereka tidak memberinya izin dia pastilah mati, dan 
memberikan izin mereka
kepada sang anak. Dalam keyakinan dan kebahagiaan anak laki-laki ini pergi 
kepada Buddha,
menundukkan kepalanya di kakiNya dan memohon untuk menjadi biksu. Ketika Buddha 
berkata: "Selamat
Datang, anakku," rambut dan jambangnya rontok dan dia menjadi seorang biksu. 
Ketika Bhagava
mengajarkannya Empat Kebenaran mulia, batinnya menjadi terbebaskan dengan 
sempurna, hawa nafsunya
terhenti, dan dia menjadi murni. Ketika para biksu pergi kesana kemari untuk 
menolong makhluk
hidup, mereka memperhatikan bahwa kapanpun biksu baru ini lelah dan haus, dia 
akan melempar
pattanya ke atas udara dan itu akan kembali kepadanya penuh dengan madu. Oleh 
karena itu Ananda
berkata kepada Buddha: "Bhagava, karena kebajikan masa lalu apa sehingga biksu 
'Madu Sempurna'
bergabung dengan Sangha dan dengan cepat menjadi arahat? Apa alasan untuk hal 
ini?"
Buddha berkata:"Ananda, apakah engkau masih ingat dengan brahmin yang bernama 
Sincir yang kita
kunjungi lalu?" Ananda berkata: "Ya, Bhagava, saya mengingat dia." Buddha 
berkata: "Ananda, apakah
engkau ingat bagaimana setelah kita memakan makanan persembahan dan kembali, 
kita beristirahat
disamping mata air di sebuah padang rumput dan seekor kera mengambil pattamu? 
Kera itu memenuhinya
dengan madu dan mempersembahkannya kepadaku dan saya minum madu itu dan 
membagikannya kepada para
biksu. Kemudian kera itu menari dengan senang dan melompat ke sebuah jurang dan 
meninggal. "Ananda
berkata: "Ya, Bhagava, saya ingat." Buddha berkata: "Ananda, kera yang 
mempersembahkan madu adalah
biksu itu, 'Madu Sempurna'. Karena, ketika dia bertemu Buddha, dia bersukacita 
dan mempersembahkan
madu dengan pikiran bahagia, dia terlahir sebagai putra seorang perumah tangga, 
tampan dan
menarik, sekarang menjadi seorang biksu, dan telah menghentikan hawa nafsu."
Kemudian Ananda berlutut dengan lutut kanannya di atas tanah, beranjali, dan 
berkata: "Bhagava,
perbuatan jahat apa yang telah dilakukan sebelumnya sehingga dia terlahir 
sebagai seekor kera?"
Buddha berkata: "Ananda, di masa lampau, ketika Buddha Kasyapa datang ke dunia 
ini, seorang biksu
muda yang baru ditahbiskan melihat biksu lainnya melompat menyeberangi sebuah 
saluran air dan
berkata kepadanya: 'biksu, engkau melompat seperti seekor kera!' biksu yang 
lain berkata: 'Engkau
tidak mengenalku.' biksu muda itu berkata: 'Apa maksudmu, saya tidak 
mengenalmu! Engkau adalah
salah satu biksu Buddha Kasyapa.' biksu kedua menjawab: 'Jangan membuatku 
tertawa. Saya bukan
seorang biksu dalam nama saja. Saya telah mencapai empat buah seorang biksu.' 
biksu muda itu
menjadi takut dan rambutnya berdiri. Dia berlutut, beranjali, dan berkata: 'Oh 
biksu, saya
mengakui kesalahan telah menertawakanmu. Maafkan saya, saya mohon padamu. 
'Karena dia mengakui
kesalahannya, dia tidak terlahir ke neraka. Tapi karena dia menertawakan biksu 
itu, dia terlahir
500 kali sebagai seekor kera. Dengan mempertahankan sumpah sebelumnya, dia 
sekarang bertemu
denganKu, menjadi biksu dan semua penderitaannya telah berakhir. Ananda, biksu 
Madu Sempurna
adalah biksu muda yang menertawakan yang lain."
Ketika Buddha telah berkata demikian, Ananda berkata: "Dengan mengabaikan 
perbuatan tubuh, ucapan,
dan pikiran, biksu ini gagal menjaga ucapannya dan harus menderita karena 
alasan itu." Buddha
berkata: "Ya, Ananda, itu seperti yang baru engkau katakan." Kemudian, ketika 
Bhagava telah
mengajarkan Empat Kebenaran dan menjelaskan bahwa ketika perbuatan badan 
jasmani, ucapan, dan
pikiran dipurifikasi ketidakmurnian pikiran dibersihkan, beberapa menjadi 
Pemenang Arus, beberapa
menjadi Sekali Kembali Lagi, beberapa menjadi Tidak Pernah Kembali, beberapa 
arahat, dan beberapa
mencapai pikiran awal pencerahan sempurna. Semua berkeyakinan dan bersukacita.

--- In [email protected], "Tirta D. Arief" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Bhikku yang taat pada vinaya, dalam bahasa Inggeris disebut MONK....
> Bhikku yang menyimpang dari vinaya, dalam bahasa Inggeris disebut 
> MONKEY.......:-)
> 
> salam,
> tda
> 
> On Mon, 12 Feb 2007, Vera wrote:
> 
> > Dear all,
> > kalo memang menemukan hal seperti ini, dapat membawanya ke wihara yang 
> > terdekat (harus yang
ada biku/biksu seniornya) atau paling tidak dapat membawa ke kantor KASI Plasa 
Sentral Lt. 2.
Disana setiap hari ada staf sekretariat yang bertugas.
> >
> > Dan saya juga mendapat informasi bahwa di sekitar kampus Binus juga sudah 
> > didatangi oleh biksu
gadungan ini. beberapa kali ada yang menelepon saya, bahwa mereka menemukan 
biksu gadungan ini di
sekitar batu sari, rawa belong dan kampus anggrek.
> >
> >
> > Thanks.
> >
> > Regards,
> > V e r a
> >
> > Be Happy, Be Mindfull

Nyana Bhadra
Tibetan Language & Buddhist Philosophy

Library of Tibetan Works & Archives
Centre for Tibetan Studies & Researches
Gangchen Kyishong Dharamsala - 176215
Himachal Pradesh - I n d i a

"May I become at all times, both now and forever; a protector for those without 
protection; a
guide for those who have lost their way; a ship for those with oceans to cross; 
a bridge for those
with rivers to cross; a sanctuary for those in danger; a lamp for those without 
light; a place of
refuge for those who lack of shelter; and a servant to all in need"-- H.H. The 
14th Dalai Lama,
Tenzin Gyatso -- Bodhicharyavatara [Tib. 
J'ang.chub.sem.pa'i.c'od.pa.nyid.jug.pa.zhug.so; Ing.
Guide to the Bodhisattva's Way of Life, Chapter III, Verse 18-19]~ Shantideva. 


__________________________________________________________
Expecting? Get great news right away with email Auto-Check. 
Try the Yahoo! Mail Beta.
http://advision.webevents.yahoo.com/mailbeta/newmail_tools.html 


         

 
---------------------------------
Bored stiff? Loosen up...
Download and play hundreds of games for free on Yahoo! Games.

Kirim email ke