Posting ini bagian kedua dari komentar saya atas tulisan Jusfiq.
Yang saya komentari adalah komentar Jusfiq atas Kwik Kian Gie (KKG).
----------
> From: [EMAIL PROTECTED]
> Date: 26 Februari 1999 16:56
>
>
> >
> > February 24, 1999
> >
> > Rethinking the E. Timor solution
> >
> (....)
>
> > How should one react to this kind of condition? We are a political
> > party which has no access to any of the multitude of information that
> > exists about East Timor. We have no information to the substance of
the
> > discussions that have been carried out for 20 years. Our only access
to
> > the situation in East Timor is through the branches of our party
within
> > East Timor. From Leandro Elvas' article, I fully realize that the East
> > Timorese who have joined our party probably cannot give us an accurate
> > picture of the real situation existing there.
> >
>
Jusfiq commented:
(...)
> Taik anjing!
>
>
(...)
>
> PDI "has no access to any of the multitude of information that
> exists about East Timor. We have no information to the substance
> of the discussions that have been carried out for 20 years"?
>
> Nggak pernah dengar Operasi Komodo?
>
> Nggak pernah dengar Operasi Seroja?
>
> Nggak pernah dengar mayat yang bergelimpangan selama ini?
>
> Nggak pernah dengan nama Santa Cruz?
>
> Ya ampun, ni orang baru datang dari mana?
>
KJJ:
Yang saya tangkap adalah bahwa KKG qq PDI tidak mempunyai informasi cukup
mengenai substansi dari diskusi soal TIMTIM selama 20 tahun ini.
Saya garis bawahi kata-2: substansi dari diskusi soal TIMTIM.
Detil diskusi soal TIMTIM yang dimaksud memang menjadi benda misterius
bagi banyak orang di Indonesia termasuk saya, KKG dll. Cuma Ali Alatas
dan Soeharto dan Nana Sutresna (dubes RI di PBB) yang tahu persis apa yang
digunjingkan di meja perundingan antara Portugal, RI, PBB dan negara lain.
Berita yang sampai di Indonesia, selama 20 tahun itu, cuma menyangkut
"kemenangan politis RI di PBB soal Timtim". Dan inilah yang dijejali ke
publik Indonesia semasa Soeharto berkuasa. Hampir semua mass media
memberitakan apa yang Soeharto ingin sampaikan. Jika ada media asing yang
memberitakan sebaliknya, jangan harap bisa beredar di Indonesia. Pasti
kena sensor petugas berupa black-out pada halaman "berita baik" tsb.
Jadi harap maklum saja, bahwa kami disini memang hidup dalam tempurung
soal Timtim.
Baru belakangan, kira-2 sejak medio 1994 dimana internet mulai masuk ke
Indonesia sampai sekarang ini, berita tentang TimTim makin jelas dan
transparan.
Operasi Seroja ? Operasi Komodo ?
Saya rasa buku bacaan umum yang paling banyak menyebut kedua operasi ini
adalah biografi Jendral Benny Murdani. Dan sebatas itu pula pengetahuan
pembacanya tentang TimTim. Kompas, Suara Pembaruan atau Tempo dll.
cuma sedikit sekali mengungkap apa yang sebenarnya terjadi disana.
Pokoknya: Gelap !!
Selama 20 tahun Timtim adalah daerah gelap yang oleh penguasa dibuat tidak
menarik perhatian dan tidak mengundang minat orang Indonesia untuk
berkunjung.
Anda yang berada di Luar Indonesia lebih beruntung karena dapat memperoleh
gambar yang jelas dan lebih baik.
Saya sendiri pernah dinas dan tinggal 2 tahun di Pulau Timor pada thn
1987-1989. Saya bolak balik Dili - Kupang. Waktu itu yang saya lihat di
kota Dili ada banyak tentara. Kotanya sendiri aman-aman saja. Saya cuma
denger-denger kata orang Dili bahwa di Baucau dan kota lain sebelah timur
belum aman.
Peristiwa Santa Cruz, sedikit berbeda. Ketika peristiwa itu terjadi ada
wartawan asing yang merekamnya dan menyelundupkannya ke luar Timtim dan
jadi berita dunia. Video yang beredar luas di dunia saat itu kebetulan
disaksikan sendiri oleh Soeharto dalam perlawatannya keliling dunia (salah
satunya saat ia menghadiri KTT Bumi di Brazilia - kalau tidak salah - pls
correct me). Dan juga si bajingan ini - keruan saja ditanyai bertubi-tubi
oleh para wartawan asing di negara yang ia hampiri. Walhasil, beritanya
sampai juga ke Indonesia dan diberitakan di media massa lokal.
Selanjutnya semua orang tahu. Beberapa petinggi ABRI dicopot: Sintong
Panjaitan, Warow, Sepang, Dolfie dll. Dan pencopotan ini kan cuma sekedar
untuk menyenangkan publik, wartawan dan dunia. Nice strategy, wasn't it?
Jadi dalam hal ini, KKG tidak keliru mengatakan bahwa PDI dan/atau ia
tidak mempunyai pengetahuan yang cukup mengenai Timtim. Karena itu tadi.
Semua pemberitaan selama 20 tahun memang diatur oleh penguasa.
Dan semua pembicaraan Timtim memang di monopoli Ali Alatas dan penguasa
Orba.
Salam,
King JoJon