Date sent: Sat, 27 Feb 1999 08:57:13 -0600 (CST)
Send reply to: [EMAIL PROTECTED]
From: "King JoJon" <[EMAIL PROTECTED]>
To: Multiple recipients of list <diskusi-
[EMAIL PROTECTED]>
Subject: Re: (Fwd) KKG yang tidak punya harga diri - Part 1
>
> Posting saya kali ini agak panjang. Oleh karena itu saya buat terpisah.
>
> Saya akan memberi komentar bagian yang ini dulu.
>
> ----------
> > From: [EMAIL PROTECTED]
> > Date: 26 Februari 1999 16:56
> >
> >
> > Saya fwd posting saya ini khusus untuk King Jojon dan pendukung PDI
> > perjuangan yang lain.
> >
> > Ingin saya tambahkan: bila memberikan dukungan kepada salah satu
> > partai 'oposisi' bisa saya anggap sebagai salah satu cara untuk
> > menunjukkan penolakan terhadap pendukung Orde Baru, maka
> > mempercayakan nasib Indonesia kepada PDI Megawati juga berarti
> > menyerahkan nasib Indonesia kepada amatir geblek dan tidak becus.
> >
> > Dan sikap ini, menurut pendapat saya adalah sikap yang tidak
> > bertanggung jawab!
> >
> > Jusfiq
> >
>
>
> KJJ:
> Pertama, saya ingin jelaskan dulu posisi saya bahwa bukanlah pendukung PDI
> Perjuangan seperti kebanyakan orang lain. Sampai saat ini saya baru pada
> tahap cenderung memilih PDI Perjuangan (Megawati) untuk pemilu nanti
> dibanding dengan partai yang lain. Alasannya sudah saya kemukakan pada
> posting sebelumnya.
>
> Tapi ingat, hari pemilu belum tiba dan saya belum mencoblos. Perubahan
> bisa datang kapan saja ditengah perkembangan situasi yang cepat dan kian
> memanas di Indonesia ini. Saya akan ikuti terus. Saya bukanlah tipe
> fanatics. Saya bertindak berdasarkan analisa pribadi. Pilihan saya adalah
> pilihan pribadi bukan kelompok.
>
> Sangat mungkin orang berbeda pendapat, analisa dan argumen dengan saya
> tentang PDI Mega atau tentang pribadi Megawati. Tapi kalau toh memilih
> PDI Mega juga, itu bukan urusan saya. Pilihan orang lain saya tetap
> hormati meskipun berbeda. Dan tidak seperti angku Jusfiq, saya tidak
> merasa perlu untuk mempropagandakan PDI Mega kepada orang lain. Pun saya
> tidak berniat mengadakan black propaganda terhadap partai lain.
>
>
> Yang kedua, kalimat "mempercayakan nasib Indonesia kepada PDI Megawati
> ...dst " terlalu absurd buat saya.
>
> Yang mempercayakan nasib bangsa Indonesia kepada Megawati itu siapa?
>
> Saya? Pendukung Mega atau anggota MPR? Dan Megawati sebagai apa? Presiden
> atau Ketua DPR atau Ketua MPR atau sebatas anggota DPR/MPR?
>
> Saya coba jelaskan dulu proses ketatanegaraan di Indonesia.
> Mungkin semua orang sudah tahu, termasuk angku Jusfiq.
> Pemilu di Ina bukan memilih Presiden, tapi anggota DPR/MPR.
> Merekalah nanti yang akan memilih siapa yang akan jadi Presiden.
> Bisa Mega bisa Amien bisa orang lain. Tergantung nanti apa kata suara
> mayoritas atau mufakat yang terjadi di dalam Sidang Umum MPR 1999.
>
> Katakanlah PDI Mega dalam pemilu nanti tampil sebagai pemenang dalam arti
> pengumpul suara terbanyak (yang menurut perkiraan maksimum 35%). Dengan
> suara maksimum 35% ini saja di DPR, PDI Mega bukanlah suara mayoritas
> untuk menggolkan Megawati untuk menjadi Presiden.
>
> Mari kita coba berhitung lagi berdasarkan UU Pemilu 1999 yang baru.
>
> DPR = 500 orang ---> 462 dipilih lewat pemilu + 38 jatah ABRI
> MPR = 700 orang ---> 500 anggota DPR + 200 Utusan Daerah dan Golongan.
>
> Rincian Utusan Daerah dan Golongan adalah sbb:
> a. 135 orang Utusan Daerah berasal dari 27 propinsi masing-masing 5 orang
> yang dipilih berdasarkan proporsi suara partai pemenang pemilu di propinsi
> masing-masing.
>
> b. 65 orang Utusan Golongan, yang akan direkomendasikan oleh Komite
> Pemilihan Umum (KPU) dan disetujui oleh Presiden.
>
> Dari data-data di atas, dapat kita hitung bahwa untuk memperoleh suara
> mayoritas di MPR butuh 351 kursi (setengah tambah satu). Ini berarti
> sebuah partai harus memperoleh suara sedikitnya : 351 dibagi jumlah kursi
> DPR yang diperebutkan : 462, atau 75,97% untuk menjamin kemenangan.
>
> Jika PDI Mega cuma bisa memperoleh sesuai dengan yang diprediksi yaitu 35%
> saja, maka berarti masih jauh dari suara mayoritas.
>
> Kecuali terjadi koalisi dimana partai lain dan utusan daerah + golongan
> ikut memberikan suaranya kepada Mega hingga mencapai jumlah mayoritas.
> Maka bolehlah Mega menjadi Presiden. Itu berarti Megawati perlu untuk
> mencari dukungan sejumlah 40,97% kursi tambahan -- yang lebih besar dari
> perolehan kursi partainya sendiri. Mampukah dia ?
>
> Dengan perhitungan dan uraian itu, maka jika saya - King JoJon - memilih
> PDI Mega dalam Pemilu nanti, janganlah lalu dianggap sebagai
> "mempercayakan bangsa Indonesia kepada Megawati ....dst".
>
> Para anggota MPR hasil pemilu itulah yang boleh dijadikan sasaran hujatan
> angku Jusfiq.
>
> Dengan logika yang lain saya bisa katakan sbb.
>
> Katakanlah saya memilih Partai Keadilan, atau PAN Amien Rais atau PKB
> Matori/Gus Dur atau apa saja yang bukan PDI Mega. Lalu para anggota MPR
> dari partai ini berkoalisi untuk memperoleh suara mayoritas dengan memilih
> Mega sebagai Presiden. Apakah suara saya di Partai Keadilan, PAN atau
> PKB tidak dianggap sebagai "mempercayakan bangsa Indonesia kepada
> Megawati...dst" ?
>
> Jadi ringkasnya, ke partai manapun suara saya diberikan, selama bukan
> partai orba (Golkar, PPP dan PDI Budi Hardjono), akan sama saja hasilnya.
>
> Bukankah yang penting dan prioritas adalah kalahkan dulu rezim orba. Soal
> lain bisa menyusul. Sebab musang-musang dan para srigala masih
> berkeliaran nih. Sebagian malah keliatan semakin lapar saja :-(
>
>
Saya setuju: "....yang penting dan prioritas adalah kalahkan dulu
rezim orba".
Dan rezim orba itu apa?
Bukan (terutama) orangnya, tapi
1. dwi-fungsi
2. UUD45
3. Pancasila sebagai azas negara atau (setali tiga uang) azas
tunggal.
4. feodalisme abangan dan feodalisme santri .
Dan PDI Perjuangan atau partai yang didukung Abdurchman Wahid
adalah pendukung orba.
Saya berpendapat bahwa adalah kewajiban moral demokrat Indonesia
untuk menjegal, secara demokratik anak-anak raja Jawa dan akolitnya
(artinya Megawati dan Abdurrachman Wahid) untuk menentukan jalan
sejarah Indonesia.
Oleh karena itu saya senang mendengar bahwa PRD berusaha untuk
memberikan alternatif bagi elektorat abangan untuk TIDAK mendukung
PDI perjuangan.
PRD, terlepas dari kritik saya akan jargon kerakyatan tahun
limapuluhan yang masih dipakainya, adalah partai anti-orba.
Dari kalangan Islam, saya tidak melihat adanya alternatif
demokratik bagi elektoral putihan (santri), yang ada hanyalah
partai yang didukung oleh Abdurrachman Wahid, anak raja Jawa
(putihan) dan orang yang tidak punya moral dalam politik.
Dan ini menggelisahkan saya.
> Salam,
>
> King JoJon
>
Jusfiq Hadjar gelar Sutan Maradjo Lelo =
======================================