Date sent:              Sun, 28 Feb 1999 10:24:48 -0800
From:                   Agus & Nina <[EMAIL PROTECTED]>
Organization:           Bumi Cendrawasih
To:                     jusfiq <[EMAIL PROTECTED]>
Copies to:              [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],
        [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],
        [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],
        Reformasi Indonesia <[EMAIL PROTECTED]>
Subject:                [Minangkabau] Re: [PEMBEBASAN] (Fwd) Saya dukung posisi PRD 
terhadap Megawati
Send reply to:          Agus & Nina <[EMAIL PROTECTED]>

> [EMAIL PROTECTED] wrote:
> 
> >     (Komentar ini saya tulis untuk mengulas berita pernyataan PRD yagn
> >     saya baca hari ini di berbagai milis).
> >
> >     Saya kira orang yang pakai neuron sekarang ini sudah banyak yang
> >     sampai kepada kesimpulan bahwa Megawati adalah cabo politik yang
> >     geblek, tidak becus dan tidak bermoral.
> >
> >     Saya ulangi: cabo politik yang tidak bermoral.
> >
> >     Orang geblek dan tidak becus itu sedang dicaboi oleh beberapa
> >     avonturir politik Nasrani seperti Sabam Siagian atau Frans Seda
> >     serta serdadu tukang bunuh dan tukang suruh bunuh.
> >
> >     Ketika PRD berdiri secara politik dibelakang Megawati sebelum
> >     peristiw 27 Juli saya telah mengingatkan (kalau saya tidak salah
> >     ingat melalui Indonesia-l) akan kesalah PRD ketika itu.
> >
> >     Ketika itu saya belum tahu kegoblokan dan ketidak becusan
> >     Megawati, saya juga tidak tahu ketika itu akan amoralitas Megawati,
> >     makanya saya mendasarkan argumen saya ketika itu kepada alasan
> >     ideologis dan mengingatkan kesalahan PKI dibawah Aidit yang buka
> >     celana dalam dan nungging dihadapan nasionalis anjing fascsit Jepang
> >     Soekarno.
> >
> >     Argumen saya itu saya anggap tepat dan, sebenarnya memadai.
> >
> >     Tapi tambahkanlah ke argumen ideologis saya itu argumen moral dan
> >     argumen kecerdasan.
> >
> >     Maka sungguh tid&k ada, sungguh tidak ada alasan untuk mendukung PDI
> >     atau Megawati.
> >
> >     Mari kita ingat, sekali lagi,  berbeda dengan Soekarno, yang
> >     walaupun anjing fascsit dan nasionalis biadab, dia sekurangnya
> >     masih tetap hingga saat terakhir hidupnya untuk tidak mengkhianati
> >     PKI, maka Megawati  lonte politik yang paling tidak    bermoral dan
> >     geblek lagi tidak becus itu telah melupakan begitu saja PRD yang
> >     mendukungnya sebelumnya.
> >
> >     Dan bukan hanya pengikut PRD saja yang ditinggalkannya, juga
> >     orang-orang abangan pengikutnya yang ada di jalan Diponoegoro
> >     ketika dibantai oleh preman bayaran tentara juga dilupakan oleh
> >     manusia geblek ini begitu saja.
> >
> >     Mengingat kegobolokan dan terutama amoralitas Megawati ini maka
> >     adalah kewajiban moral tiap demokrat Indonesia untuk menjegal secara
> >     demokratik Megawati agar lonte politik ini tidak bisa menjadi salah
> >     seorang yang akan ikut menentukan politik Indonesia dimasa yang akan
> >     datang.
> >
> >     Dan jangan kita lupa, yang mendukung Megawati sekarang ini,
> >     disamping separoh penduduk Bali adalah terutama orang-orang
> >     abangan di Jawa Timur dan Jawa Tengah.
> >
> >     Dan orang-orang abangan itu adalah juga elektorat PRD.
> >
> >     Agar jelas, adalah salah, bila PRD membiarkan orang-orang abangan
> >     elektorat potential PRD itu untuk mendukung Megawati bila  PRD tidak
> >     mengusulkan alternatif.
> >
> >     Dengan kata lain, adalah tepat bila PRD memberikan alternatif
> >     kepada elektorat abangan.
> >
> >     Agar jelas, saya tandaskan: saya dukung posisi PRD dihadapan
> >     Megawati ini.
> >
> >     Dan saya ulangi argumen ideologis saya: adalah salah bagi seorang
> >     marxis untuk menyandarkan dirinya kepada nasionalisme.
> >
> >     Kesalahan ini dimulai di Kongres Baku tahun 1924 dan diteruskan oleh
> >     Stalin, Mao dan Aidit dulu.
> >
> >     Seorang marxis per definisi kudu anti nasionalis.
> >
> >     Jangan kita lupa: pusat dari segala analisa Karl Marx adalah
> >     manusia dan bukan bangsa.
> >
> > Jusfiq Hadjar gelar Sutan Maradjo Lelo                                  
> >   = ======================================
> 
> ---------------------------------------
> Bung Jusfiq, sebagai seorang yang menjunjung tinggi moralitas anda
> tampaknya sudah kehabisan perbendaharaan kata-kata yang lebih baik. 
> Maksud saya alangkah lebih terhormat dan bijaksana apabila ungkapan
> emosi anda itu diungkapkan melaluikata-kata yang lebihsantun.
> 
> O ya, sebelumnya perlu saya sampaikan bahwa saya juga bukan termasuk
> pendukung Megawati.
> 
> Jadi pimpinan itu memang susah, selain IQ nggak boleh jongkok juga perlu
> EQ (EmotionalQuotion).
> 
> Jangan sampai yang tadinya simpati jadi antipati karena kata-kata anda
> yang cenderung kebablasan.
> 
> --
> Agus P
> 

    Anda rupanya termasuk kedalam kelompok New Webbies, orang yang
    baru berada di alam cyber, orang yang baru masuk alam bebas
    sehingga tidak tahu apa yang namanya kebebasan menyatakan pendapat
    di cyberspace. 

    Saya anjurkan kepada anda untuk mengikuti diskusi tentang kebebasan
    menyatakan pendapat di cyberspace ini di arsip apakabar, atau
    demi-demokrasi. 


Jusfiq Hadjar gelar Sutan Maradjo Lelo                                             =
======================================

Kirim email ke