Date sent:              Sun, 28 Feb 1999 19:07:16 -0600 (CST)
Send reply to:          [EMAIL PROTECTED]
From:                   Gede Ngurah Ambara <[EMAIL PROTECTED]>
To:                     Multiple recipients of list <[EMAIL PROTECTED]>
Subject:                RE: Al-Qur'an itu bukan KUHAP

> This message is in MIME format. Since your mail reader does not understand
> this format, some or all of this message may not be legible.
> 
> ------_=_NextPart_000_01BE637F.5AA99220
> Content-Type: text/plain;             charset="iso-8859-1"
> 
> 
>  Wak Nadri menulis:
> 
>  Persamaan itu tidak bisa diwujudkan selama kewajiban dan kondisi
> mereka
>  tidak sama. Persamaan itu memang tidak bisa diwujudkan sementara
> kodrat
>  mereka memang berbeda. Lelaki dijadikan pemimpin bagi wanita,
> sebagaimana
>  dikatakan Al-Qur'an disebabkan mereka (laki-laki) itu telah
> membelanjakan
>  (menafkahkan)  sebagaian hartanya buat wanita. Itulah sebabnya maka
> laki
>  dituntut sebagai pemimpin bagi wanita. Dan ini adalah suatu contoh
> pimpinan
>  dalam rumah tangga dan hubungan suami isteri. 
> 
>  Pada dasarnya kodrat wanita dan pria memang tidak sama, dengan
> sendirinya
>  hak dan kewajiban yang ada padanya juga tidak bisa disamakan.
> Bagaimana
>  mungkin seorang wanita dalam rumah tangga dijadikan seorang pemimpin
>  sementara nafkahnya dan kebutuhannya tergantung dari suaminya.
> Bagaimana
>  mungkin seorang laki-laki dijadikan sebagai seorang yang dipimpin
> oleh
>  seorang wanita, sementara dia telah mengorbankan sebagian hartanya
> untuk
>  wanita itu? 
> 
>  Komentar 
> 
>  Apakah Wak Nadri bisa membuktikan ucapan Wak Nadri tersebut dari
> sumber Al-Quran sendiri?
>  Yaitu bahwa salah satu alasan utama kenapa Pria yagn harus jadi
> pemimpin adalah karena Pria yang mengorbankan harta dan memberi nafkah
> kepada wanita?? 
>  Kok kesannya "matre (materialistis)" skalee???  
>  Kalau Wak Nadri tidak bisa memberikan penjelasan dari ayat Al-quran
> sendiri maka pendapat itu murni dari pemikiran Wak Nadri bukan..?? Kalau
> begitu apa artinya?? Artinya umat Islam di abad ke dua puluh ini mesti
> mencari tahu jawabannya kenapa?? Dan kalau memang tidak ketemu dan tidak
> masuk akal kenapa tidak dicari alternatif yang lebih rasional, manusiawi
> dan adil untuk semua gender (pria dan wanita)..
>  Agama mestinya tidak membuat orang susah..tapi untuk mempermudah
> orang untuk melakukan tugas-tugasnya di dunia..
> 
>  Kalau menurut saya masalah dipimpin dan memimpin dalam rumah tangga
> sebaiknya diserahkan kepada pasangan itu sendiri..bagaimana kesepakatan
> mereka dalam pembagian tugas di rumah tangga. Tentunya kesepakatan ini
> didasari oleh rasa cinta dan saling menghormati diantara suami dan istri.
> Ada seorang suami misalnya yang tidak keberatan untuk memasak didapur dan
> mengurus anak karena kebetulan sang suami sebagai pegawai negeri yang
> lebih luang waktunya, sementara sang istri adalah karyawan swasta yang
> berangkatnya pagi dan pulangnya malam. Tapi sang istri tetap hormat pada
> sang suami dan sangat menghargai suaminya, demikian juga sang suami
> melakukan tugas-tugasnya dengan baik, dan keputusan-keputusan selalu
> dimusyawarahkan..tidak ada dominasi..
>

    Argumen Angku Nadri ini bukan argumen islamiyah, tapi argumen
    sosiologis dan ...... tidak salah! 

    Persisnya, perempuan itu selama ini ditindas oleh laki-laki,
    diperlakukan seperti budak belian, cuma bisa bertugas didapur
    untuk memasak, cuci piring, menyapu rumah, cuma bagus untuk
    disetubuhi tiap kali laki-laki ngaceng dan tanpa memikirkan betul
    apakah perempuan itu akan sama-sama mendapat orgasme atau tidak,
    cuma bagus untuk mengandung anak dll. karena selama ini perempuan
    tergantung nasibnya dari laki-laki. 

    Cuma di Eropa, terutama sejak perang dunia pertama, perempuan
    juga mencari nafkah dan - suka gedean gajinya dari suaminya - . 

    Karuan saja mereka menuntut persamaan hak! 

    Jadi sekarang ini, kami laki-laki di Eropa, bukan hanya masak kudu
    gantian (dirumah kami malah saya yang masak, karena urang rumah
    cuma bisa bikin telor mata sapi, tapi karena bapaknya insinyur
    demen ngutak ngatik kabel listrik yang tidak saya sukai), cuci
    piring kudu gantian tapi bersetubuh juga nggak bisa semau
    laki-laki. 

    It takes two to tango! 

    Tentang alasan kodrat perempuan yang berbeda dengan laki-laki itu
    sebagai justifikasi penindasan perempuan oleh laki-laki saya anggap
    sebagai argumen taik kucing. 

    Persinya argumen yang mengerikan, karena tidak manusiawi. 

    Buat saya, atau persisnya inilah pegangan orang Eropa sekarang,
    bila ada perbedaan badaniah antara manusia maka perbedaan itu
    seyogiyanya dijadikan alasan untuk mencari jalan agar perbedaan
    itu tidak menimbulkan perbedaan hak, atau perbedaan kesempatan
    untuk menikmati apa yang bisa dinikmati didunia ini. 

    Demikianlah untuk orang buta dipasang ubin spesial ditiap jalan,
    agar orang buta itu bisa menurutkan garis lurus, atau membelok
    menurutkan ubin itu agar tidak ketubruk tiang tanda lalu lintas.
    Suara di trem yang memberi tahu nama perhentian trem atau metro
    berikutnya juga dibikin sedemikian rupa sehingga orang yang
    pendengarannya tidak sempurna juga bisa mendengarnya. 

    Dan sistem asuransi kesehatan dibikin sedemikian rupa sehingga
    orang yang berbeda gaji bisa memperolah perawatan dan pengobatan
    basic yang sama. 

    Dst. 

    Dst. 

    Semua ini  berbeda dengan pepatah Minangkabau (biadab) yang
    berkata orang buta hanya bagus untuk penghembus lasung... 

    Semua ini berbeda dengan bunyi ayat-ayat al-Quran yang dibaca
    secara harafiah. 

>  Gede Ngurah Ambara
>  KALTIM


Jusfiq Hadjar gelar Sutan Maradjo Lelo                                             =
======================================

Kirim email ke