At 07:08 PM 3/2/99 -0600, Ihsan wrote:
>Hello sasis,
>Monday, Monday, March 01, 1999, you wrote:
>
>>>    Bahwa ayat-ayat al-Qur'an itu sendiri menerima bahwa sesuatunya
>>>    itu berubah, bahwa tidak ada yang tetap dalam aturan itu!
>>>
>>>    Termasuk aturan di al-Qur'an itu sendiri!
>>>
>>>    Kiblat sembahyang, misalnya, mula-mula kiblat itu Darussalam.
>>>
>>>    Lalu dialihkan ke Makkah.
>
>s> (......)
>
>>>
>>>    Ambil contoh lain, aturan tentang khamar misalnya!
>>>
>>>    Mula-mula ayat al-Quran berkata bahwa alkohol itu, seperti juga
>>>    daging babi, perlu dihindarkan, tapi kalau tidak bisa dihindarkan
>>>    juga tidak apa-apa
>>>
>>>    Tapi ketika nabi melihat salah seorang sahabatnya datang ketempat
>>>    sembahyang sempoyongan karena mabuk, maka turunlah ayat yang
>>>    berbunyi bahwa khamar itu adalah minuman setan.
>>>
>>>    Sekali lagi: al-Qur'an itu menerima bahwa larangan dan suruhan itu
>>>    bisa berubah.
>>>
>s> (.....)
>
>
>s> Sasis:
>s> Inilah yang sering meragukan saya. Apa betul ayat-2 Qur'an itu memang dari
>s> tuhan. Kalau betul dari tuhan, tidak akan terjadi suruhan dan larangan yang
>s> plin-plan. Kayaknya yang bernama "tuhan" itu nggak tahu subtansi yang
>s> diomongkannya. Kalau tuhan itu begitu "bego", bagaimana dengan manusia yang
>s> katanya adalah "ciptaannya"..?
>
>Yang bego itu sopo Mas!
>Kalau sekiranya al-Qur'an diturunkan sekaligus dan tentang khamr
>misalnya langsung, "HARAM!".
>Tentunya si Mas juga akan mengatakan bego amat Tuhan ini, emangnya
>manusia bisa berubah secepat kilat.
>
>Mas...Mas.... yang bego itu sopo?
>
>Menurut saya mah, tidak ada aturan dalam al-Qur'an itu yang plin-plan,
>yang ada hanyalah pentahapan, penyesuaian dengan fitrah manusia.
>
>
>Ihsan
>
>

Sasis:

Oke, marilah kita belajar asbabun nuzul bersama-sama. Tentu dengan versi
yang lebih manusiawi, instead of ilahiah. Dan saya malas menayak hadits-2
yang berkaitan dengannya. Saya katakan, hadits-2 yang mendukung alur analisa
saya di bawah ini ada. Dapat dicari di buku-2 hadis standar.

Kita mulai dari Muhammad yang melihat Umar bin Khattab yang minum khamr,
nampak bahwa Umar tetap sehat malahan gagah dengan kebiasaannya minum khamr
tersebut. Muhammad masih yakin bahwa khamr itu mengandung kebaikan. Khamr
tidak dilarang oleh muhammad, meski ia menyangsikan bahwa ada keburukan di
dalam khamr. Ia berpendapat bahwa minum khamr itu makruh. Namun setelah
Muhammad melihat sahabatnya yang lain sempoyongan masuk masjid, ia berubah
pendapat. Khamr adalah minuman setan.

Saya kutip pernyataan anda bahwa Qur'an diturunkan secara bertahap. (Dan
selalu mengacu pada larangan khamr ini)

>Kalau sekiranya al-Qur'an diturunkan sekaligus dan tentang khamr
>misalnya langsung, "HARAM!".
>Tentunya si Mas juga akan mengatakan bego amat Tuhan ini, emangnya
>manusia bisa berubah secepat kilat.

Pentahapan ini adalah hanya dikhususkan bagi sahabatnya, Umar bin Khattab.
Yang mengerti ada pentahapan larangan minum khamr ini hanya orang-2 di
sekitar Muhammad. Diantaranya: Umar bin Khattab dan Khalid bin Walid dan
beberapa jago perang lainnya. Muhammad menjaga perasaan jago-jago perangnya
yang pada kuat minum khamr tersebut.

Benar bahwa ada pentahapan bagi orang-2 sekitar Muhammad. Saya perturutkan
logika mayoritas orang Islam dan para kiai yang mengajari saya. Akan tetapi,
marilah kita lihat konteks manusia yang lebih luas.

Dengan turunnya ayat AlMaidah 90:
Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (
berkorban untuk ) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan
keji termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar
kamu mendapat keberuntungan. (QS. 5:90)

maka larangan itu berlaku bagi semua umat manusia. Artinya tidak ada
pentahapan bagi manusia lain di luar lingkungan para sahabat Muhammad.

Saya pertanyakan: Mana pentahapan bagi orang-2 di luar Madinah..? (Di
seluruh dunia, karena dikatakan bahwa Islam adalah diperuntukkan bagi semua
umat manusia)

Jawabnya: tentu tidak ada. 

Pentahapan itu hanya sebuah mitos atau apologi untuk mengatakan bahwa Qur'an
itu sempurna.

Saya masih tetap mengatakan bahwa kadang tuhan itu begitu bego kalau saya
perturutkan logika alQur'an.

Dan sampean perlu belajar Asbabun Nuzul yang lebih manusiawi, bukan yang
apologi.

Salam,
Sasis
==================

Kirim email ke