Sejak Awal, Pramuka DKI Banyak Berperan
http://www.suarapembaruan.com/News/2001/04/14/Jabotabe/Ja05/Ja05.html


SELAMA tiga hari, 13 sampai 15 April 2001, Gedung Pramuka yang terletak di
Jalan Diponegoro 26, Jakarta Pusat, akan menjadi ajang Musyawarah Daerah
(Musda) Gerakan Pramuka DKI Jakarta. Melalui Musda, selain mengevaluasi
program yang telah dijalankan, juga akan menetapkan rencana dan program
kerja serta memilih pengurus baru Kwartir Daerah (Kwarda) DKI Jakarta masa
bakti 2001-2005.

Penyelenggaraan Musda tersebut menambah catatan sejarah acara-acara penting
yang dilaksanakan di Gedung Pramuka itu. Bagi masyarakat Ibukota tahun
1970-an, mungkin lebih mengenal gedung tersebut dengan nama Gedung Wanita.
Namun belakangan, Gedung Wanita pindah ke tempat baru di Jalan H Rasuna
Said, Kuningan, Jakarta Selatan.

Sementara itu, karena bertambahnya jumlah anggota serta peningkatan
frekuensi kegiatan kepramukaan di DKI, maka pada tahun 1982 atas bantuan
Gubernur DKI saat itu, R Soeprapto, selaku Ketua Majelis Pembimbing Daerah
Gerakan Pramuka DKI, gedung di Jalan Diponegoro itu diberikan kepada Kwarda
DKI. Peresmian penggunaannya dilakukan pada 20 Agustus 1983 oleh R
Soeprapto.

Sebelumnya, ketika Gerakan Pramuka pertama kali didirikan tahun 1961 sampai
sekitar 1966, Kwarda DKI berkantor di bagian belakang gedung lama, sebelum
diubah bentuknya, Kwartir Nasional di Jalan Medan Merdeka Timur 6, Jakarta
Pusat. Lalu antara 1966-1976 atas bantuan Kasdam V/Jaya, Kwarda DKI
menempati kantor di Jalan Medan Merdeka Selatan 14.

Selanjutnya, antara 1976 sampai 1982, Kwarda DKI menempati sebuah flat di
Jalan Cimandiri 6, Cikini, Jakarta Pusat. Tempat itu digunakan sebagai
sekretariat Kwarda, sedangkan Kedai Pramuka berlokasi di Proyek Senen Blok I
Lantai 3.


Panji Pramuka

Dari catatan sejarah diketahui bahwa ketika pertama kali Gerakan Pramuka
berdiri, Kwarda DKI berkantor menjadi satu dengan gedung Kwartir Nasional
(Kwarnas). Menurut informasi yang diterima dari Sekretariat Kwarda DKI,
Phillips W Supit, dan beberapa pembina pramuka DKI lainnya, anggota pramuka
DKI memang cukup banyak berperan membantu Kwartir Nasional pada awal
kelahiran organisasi pendidikan luar sekolah bagi anak-anak dan remaja itu.

Ketika pada 14 Agustus 1961 Gerakan Pramuka secara resmi diperkenalkan
kepada masyarakat, tercatat sekitar 10.000 pramuka mulai dari golongan Siaga
sampai Pembina Pramuka, berdefile di depan Presiden Soekarno. Hampir
sebagian besar para peserta defile adalah anggota pramuka dari Kwarda
Djakarta Raya (Djaya), namanya saat itu.

Ketika Gerakan Pramuka diperkenalkan secara resmi itu, untuk pertama kalinya
pula Panji Gerakan Pramuka diarak di depan umum. Pasukan kawal panji
tersebut bisa dikatakan para pramuka Jakarta juga. Selanjutnya, panji itu
disimpan di Istana Negara.

Setahun kemudian, 20 Mei 1962, Panji Gerakan Pramuka dipindahkan dari istana
untuk disimpan di gedung Kwarnas sampai saat ini. Saat itu pun pasukan kawal
panji merupakan anggota pramuka Jakarta, tepatnya dari Gugus Depan Kresna,
Kwartir Cabang (Kwarcab) Kebayoran Baru. Saat itu, Kebayoran Baru memang
merupakan sebuah Kwarcab. Belakangan, dengan perubahan struktur
pemerintahan, Kebayoran Baru menjadi Kwartir Ranting, yang berada di
struktur pemerintahan kecamatan.

Anggota pramuka Jakarta juga berperan dalam Pasukan Pengibar Bendera Pusaka
(Paskibraka). Menurut Sutomo, salah satu staf Kwarda DKI, tahun 1962
Paskibraka semuanya anggota pramuka. Belakangan baru dipilih pelajar teladan
yang juga anggota pramuka.

Saat berlangsungnya dua pesta olahraga internasional, Asian Games IV tahun
1962 dan Ganefo 1963, para anggota pramuka Kwarda Djaya berperan di semua
unit. Mulai dari unit protokol, kegiatan, lalu lintas, dan sebagainya.
Bahkan, ada yang disebut Kopram (Komandan Pramuka) DKI.

Malam muda-mudi yang pernah amat terkenal dilaksanakan setiap HUT Kota
Jakarta 22 Juni di Jalan Thamrin dan Sudirman, Jakarta Pusat, awalnya juga
dilakukan para pramuka dengan mengadakan pawai lampion pada tahun 1968.

Kini, menjelang 40 tahun usia Gerakan Pramuka, peran pramuka DKI Jakarta
tetap diharapkan warga. Bila pada masa awalnya, pramuka aktif membantu
korban bencana alam di berbagai tempat, seperti ketika banjir di Cilacap
tahun 1962, sekarang pun hal tersebut tetap perlu. Kini memang telah ada
Pramuka Peduli dan Brigade Penolong. Peran mereka diminta lebih ditingkatkan
lagi, sehingga kode kehormatan pramuka, "menolong sesama hidup" dan "ikut
serta membangun masyarakat", dapat benar-benar terwujud.


PEMBARUAN/BERTHOLD DHS




---------------------------------------------------------------------
Pramuka Net DKI Jakarta --> [EMAIL PROTECTED]
berlangganan --> email kosong ke [EMAIL PROTECTED]
berhenti langganan --> email kosong ke [EMAIL PROTECTED]
arisp --> http://www.mail-archive.com/[email protected]

Kirim email ke