Salam Pramuka,
Bagi Kakak-kakak yang tidak sempat membaca Suara Pembaruan Minggu kemaren,
saya forward-kan sebuah artikel menarik, sekaligus saya ucapkan selamat HUT
Pramuka ke 40.

Kak Idam, Bekasi

Ulang Janji

Pada setiap Hari Pramuka, 14 Agustus, para pramuka melakukan satu upacara
yang disebut ulang janji. Dengan tangan kanan di dada kiri, agar bisa
merasakan degup jantung, para pramuka mengucapkan kembali Tri Satya � sebuah
sumpah atau janji suci untuk menjalankan kewajiban terhadap Tuhan dan Negara
Kesatuan Republik Indonesia, menjalankan Pancasila, serta menolong sesama
hidup.

Mengapa janji itu harus diulangi? Pertama, karena seorang pandu akan
selamanya menjadi pandu. Sekali Pramuka tetap Pramuka. Once a scout, always
a scout. Karena itu, seorang pandu atau pramuka terikat dengan janji untuk
selalu mematuhi janjinya.

Kedua, karena seperti jamaknya manusia, pandu pun bisa lupa dan bisa pula
melupakan. Atas dasar sifat manusia itulah ditegakkan tradisi agar
setidaknya setiap tahun seorang pandu mengulangi janjinya satu kali. Di masa
lalu, khususnya sebelum pembentukan Gerakan Pramuka pada 1963, para pandu di
Indonesia menjalankan tradisi BP-Day (Baden Powell Day) yang dirayakan pada
setiap 22 Februari, ulang tahun Lord Baden Powell.

Sebagai seorang pandu, saya termasuk orang yang berbahagia karena sempat
melakukan ulang janji di depan makam Baden Powell di Nyeri, hampir 200
kilometer di luar Kota Nairobi, Kenya. Saya juga pernah mendapat kehormatan
menjadi honor guard bagi Lady Olave, istri mendiang Baden Powell, ketika
menghadiri Jambore Dunia di Farragut State Park, Idaho, AS, pada 1967. Pada
kesempatan yang sama, saya juga berhasil memperoleh Baden Powell Adventure
Award. Tiga hal istimewa itu tidak membuat saya mendewakan Baden Powell,
melainkan membuat saya tidak bisa melepaskan janji sebagai seorang pandu.

Kebetulan Hari Pramuka hanya tiga hari menjelang Hari Proklamasi
Kemerdekaan. Dapatkah tradisi ulang janji yang dilakukan di kalangan pramuka
juga dijadikan tradisi bagi seluruh warga bangsa? Dapatkah kita merumuskan
janji yang bersifat generik bagi setiap rakyat kita? Sebagai penganut agama,
kita mempunyai dogma yang harus dipatuhi. Pramuka mempunyai Tri Satya dan
Dasa Dharma. Tentara mempunyai Sapta Marga. Begitu juga masing-masing
lembaga dan korps mempunyai kode atau sistem kredonya sendiri. Tetapi,
mengapa sebagai bangsa kita tidak diikat dalam sebuah sistem moral yang
dirumuskan sebagai janji?

Dapatkah Bhinneka Tunggal Ika, Indonesia Raya dan Pancasila di-�oplos�
menjadi rumusan sederhana yang tiap tahun diucapkan � di dalam hati maupun
diteriakkan pada upacara � menjelang Detik-detik Proklamasi? Atau,
jangan-jangan ini hanya merupakan upacara tambahan yang sia-sia? Buktinya,
sumpah para pejabat pada awal masa jabatan mereka ternyata tidak pernah
menjadi faktor pencegah (deterrent factor) untuk berlangsungnya korupsi?

Tetapi, mungkin saja memang kita perlukan. Agar sebagai warga bangsa, kita
terpupus dari keinginan untuk mendirikan Republik Riau, Jawa Timur, atau
Cimanggis. Agar sebagai warga bangsa, kita bisa tuntas membasmi korupsi
dengan diri sendiri sebagai awal langkah. Corruption begins at home.

Kita sering melupakan kekuatan simbolisme dalam kehidupan kita. Padahal,
hidup kita selalu penuh simbol dan ikon. Coba lihat satu bagian upacara yang
dilakukan para atlet ketika akan meninggalkan Tanah Air untuk berlaga di
medan lomba internasional. Satu per satu mereka maju untuk mencium ujung
bendera Merah Putih. Dan kita melihat bahwa mereka yang paling tegar pun
tidak dapat mengelakkan hadirnya butir basah di sudut mata mereka. Entah apa
yang mereka masing-masing janjikan ketika mencium ujung Sang Saka, tetapi
jelas semuanya tersedak akan janji itu. Di hadapan Sang Merah Putih, mereka
tiba-tiba menjadi makhluk yang kecil. Mengapa hal seperti itu tidak terjadi
ketika mereka mencium kain wol mahal yang akan dibeli untuk menjadi setelan
jas? Atau ketika mencium bau soga dari kain batik baru yang akan dipakai
untuk hajatan?

Esensi dari setiap acara ulang tahun atau anniversary juga merupakan
pengulangan janji atau pengukuhan tekad. Mereka yang berulang tahun juga
didoakan agar tahun-tahun berikut dalam kehidupannya akan beroleh berkah
yang melimpah, kebahagiaan, serta kesehatan - singkatnya: menjadi pribadi
yang lebih baik. Pada ulang tahun pernikahan, sepasang suami-istri
meneguhkan janjinya untuk saling setia dan saling kasih.

Di negara-negara Barat, juga ada tradisi untuk membuat resolusi pribadi
setiap menghadapi tahun baru. Pada detik-detik pergantian tahun, seluruh
anggota keluarga berkumpul. Mereka melakukan review terhadap hal-hal yang
sudah terjadi pada tahun sebelumnya. Lalu mereka berjanji untuk tidak lagi
melakukan hal-hal negatif yang masih mereka lakukan, sekaligus berjanji
untuk melakukan hal-hal positif pada tahun berikutnya. Target resolusi
seperti tentu saja sangat pribadi sifatnya. Misalnya, berhenti merokok,
menurunkan berat badan lima kilogram, berada di rumah selambat-lambatnya
pukul enam sore, dan sebagainya. Tetapi, tanpa langkah-langkah kecil seperti
itu, sasaran besar dalam hidup tidak akan dapat dicapai.

Karena itu sangat tepat mengutip Pidato Kenegaraan Presiden Megawati yang
mengatakan: �Langkah kecil tersebut merupakan awal dari perubahan sosial
yang amat besar, yang harus kita lakukan sejak sekarang ini juga. Kita mulai
dari diri dan dari keluarga kita masing-masing.�

Sekalipun kecil langkah itu, ia harus didasarkan pada sebuah janji dan
dibarengi dengan determinasi. Dengan membuat janji pada setiap Hari
Proklamasi Kemerdekaan, maka bukan gebyar yang menjadi titik berat acara
itu, melainkan resolusi internal yang mengawali sebuah langkah perubahan.

Bondan Winarno


---------------------------------------------------------------------
Pramuka Net DKI Jakarta --> [EMAIL PROTECTED]
berlangganan --> email kosong ke [EMAIL PROTECTED]
berhenti langganan --> email kosong ke [EMAIL PROTECTED]
arisp --> http://www.mail-archive.com/[email protected]

Kirim email ke