Ketika Dokter belum mengamalkan ETIKA Kedokteran dalam decision making --> malpraktek ? BELAKANGAN begitu sering kasus-kasus malapraktik dilaporkan sejumlah pasien atau keluarga pasien. Kasus malapraktik biasanya muncul saat pihak pasien atau keluarga pasien tidak puas karena pihak dokter yang menanganinya dinilai bekerja tidak benar sehingga mengakibatkan cacat atau kematian pasien.
Kasus terakhir adalah ketidakpuasan keluarga Misbach Yusa Biran yang menengarai adanya �ketidakberesan� penanganan oleh tim dokter RS Medistra Jakarta terhadap putri bungsunya, Sukma Ayu. Sehingga bintang sinetron itu harus koma selama lima bulan lebih dan berakhir dengan kematian. Misbach pun berencana membawa persoalan tersebut ke jalur hukum. Pertanyaannya, mengapa kasus malapraktik begitu banyak terjadi di negeri ini? Banyaknya kasus malapraktik di negara ini merupakan salah satu bentuk dari kurang demokratisnya dokter dalam melayani pasien. Tidak dapat disangkal bahwa di negara ini masih banyak rumah sakit yang menerapkan doctor-oriented. Padahal, seharusnya manajemen rumah sakit menetapkan patient-oriented. Akibat manajemen rumah sakit yang kerap kali �menganakemaskan� para dokternya, dalam artian mengelola rumah sakit berdasarkan keinginan para dokter, telah menjadi bumerang bagi perkembangan rumah sakit di negara ini. Contoh kecil berkembangnya sikap doctor-oriented dapat dilihat dari perekrutan dokter oleh pihak pengelola rumah sakit. Dalam hal ini, pihak manajemen akan mempekerjakan dokter-dokter yang sudah terkenal dan mempunyai pasien tetap. Secara ekonomis, praktik seperti ini memang menguntungan. Pasien-pasien dokter yang direkrut tersebut akan berpindah ke rumah sakit di mana si dokter berpraktik, selain berpraktik secara pribadi. Padahal, hal seperti ini tidak boleh dilakukan karena dokter dengan kemampuannya yang terbatas, tidak mungkin bisa menangani begitu banyak pasien. Otak dan tubuh kita perlu istirahat setelah digunakan dalam jangka waktu tertentu. Tapi, hal ini sering diabaikan karena sejumlah dokter lebih mementingkan nilai material yang dapat diraihnya. Hal ini diakui oleh Siti Hawa, seorang pasien Indonesia yang ditemui �PR� di Singapura belum lama ini. Siti mengatakan bahwa dirinya trauma dengan pelayanan dokter di Indonesia. Dikisahkannya, kekecewaannya berawal dari kurang profesionalnya dokter dalam melayani pasien akibat dokter lebih mementingkan uang. Suatu hari, kata Siti, dirinya hendak konsultasi masalah fertilitas dengan seorang dokter spesialis di salah satu klinik di Jakarta. Dokter ini, menurut pengakuan Siti, sangat dikenal oleh banyak orang, sehingga tidak heran, Siti harus membuat appointment dulu beberapa hari sebelumnya. Selanjutnya, saat tiba waktunya Siti untuk berkonsultasi, dengan ditemani suaminya, Siti pun pergi ke klinik tempat si dokter spesialis tersebut berpraktik. Dia dan suaminya datang ke tempat itu sekira pukul 20.00 WIB malam dan di sana sudah banyak pasien yang menunggu. Meski Siti sudah membuat appointment, ternyata dia tidak bisa langsung diperiksa saat itu juga. Dia harus menunggu. Karena dia ingin mengetahui lebih jauh mengenai masalah kesuburan yang menyangkut diri dan suaminya, Siti pun rela menunggu sampai larut malam. Ternyata, dia baru dipanggil pukul 1.00 WIB dini hari dan si dokter, menurut pengakuan Siti, memeriksanya sambil terkantuk-kantuk. Hal ini wajar saja sebab si dokter sudah memulai pekerjaannya sejak jam 19.00 WIB malam. Melihat pelayanan dokter yang demikian, wajar saja bila ada hasil pemeriksaan pasien pun menjadi tidak akurat. Karena itu, dari diri dokter sendiri harus ada kesadaran bahwa keselamatan pasien di atas segala-galanya. Pasien adalah raja, sedangkan dokter adalah pembantu. Jadi, sudah selayaknya pasien diperlakukan dengan istimewa. Dokter jangan hanya berpikiran bagaimana mendapatkan materi yang banyak. Tidak dapat disangkal, budaya hedonistik telah merambah begitu banyak kaum profesional, termasuk dokter di negara ini. �Dokter juga kan harus kaya,� begitu komentar salah seorang dokter yang kerja di salah satu rumah sakit umum di kota ini. Ironis sekali, uang kini menjadi abdi pelayanan. Padahal, pekerjaan dokter erat kaitannya dengan nilai-nilai kemanusiaan. Karena itu, kasih kepada manusia seharusnya menjadi landasan utama dokter dalam mengerjakan tugas-tugasnya. Kembali kepada kasus Siti di atas. Akibat pelayanan dokter yang sembrono demikian, menyebabkan wanita berusia 39 tahun itu pergi ke Singapura. Dipilihnya �Negara Singa� tersebut karena letak negara berpenduduk 4 juta itu dekat dengan Indonesia. Dan yang lebih penting lagi, karena pelayanan kesehatan di negara itu sudah teruji secara internasional. Bahkan saat ini, Singapura pun tengah gencar melancarkan program medical tourism dengan pangsa pasarnya para pasien dari seluruh dunia. Pada saat ini, sasaran pasien yang dituju adalah dari Indonesia, Malaysia, dan Brunei. Pasien dari ketiga negara ini, berdasarkan data statistik yang ada di negara itu, merupakan kontributor pasien internasional yang cukup signifikan bagi Negara Singa tersebut. Mengapa para pasien internasional datang ke Singapura? Ada sejumlah alasan yang bisa menjelaskan mengenai cukup banyaknya pasien asing di Singapura termasuk pasien yang berasal dari Indonesia. Pertama, Singapura memiliki pusat-pusat kesehatan terbaik. Rumah sakit-rumah sakit dan pusat-pusat kesehatan khusus di Singapura menyediakan pusat gabungan berbagai bidang seperti kardiologi (jantung), opthalmology (mata), oncology (kanker), obstetrics dan gynaecology (kandungan), otolaryngology (telinga, hidung, tenggorokan), gastroenterology (sistem pencernaan dan hati) dan neurology (syaraf). Di tempat ini para pasien menerima perawatan kesehatan bermutu dan mutakhir yang diberikan oleh para profesional medis terkemuka. Kedua, Singapura adalah pusat biomedis pertama di Asia. Dengan kemampuan riset bertaraf dunia di bidang genomics, biologi molekul, bioengineering dan nanoteknologi, bioinformatika serta pendirian biopolis untuk aktivitas riset biomedis. Singapura mengembangkan kemampuannya dari riset dasar hingga pengujian klinis dan pelayanan kesehatan. Hal ini memungkinkan para petugas medis profesional untuk melakukan perawatan dan terapi inovatif terkini. Ketiga, Singapura adalah tempat penyegaran untuk para profesional medis. Berkaitan dengan ketersediaan infrastruktur pelayanan kesehatan kelas satu, kelompok ahli medis Singapura telah menarik perhatian sejumlah profesional medis internasional. Mereka datang ke Singapura untuk berlatih, belajar, berbagi, dan menjalin koneksi. Selain itu, sebagai kota konvensi paling terkemuka di Asia, Singapura telah berperan sebagai tuan rumah berbagai konferensi, simposium, seminar, dan training setiap tahun yang dihadiri oleh sejumlah profesional medis internasional. Keempat, Singapura mempromosikan suatu lingkungan yang menetapkan dan menjalankan standar untuk melindungi kesehatan masyarakat secara efisien, bahkan terus melakukan inovasi dalam bidang teknologi medis. Health Science Authority (HAS) misalnya, lembaga ini membuat standar pengaturan evaluasi obat-obatan, administrasi farmasi, peralatan medis, obat-obatan transfusi dan sebagainya. Dengan demikian, para pasien memiliki akses yang lebih cepat untuk memperoleh pelayanan dan produk-produk perawatan kesehatan yang terbaru. Kelima, Singapura adalah kota yang aman. Hal ini tentunya memberikan ketenangan batin bagi para masyarakatnya. Tingkat kejahatan yang rendah dan lingkungan yang bersih menjadikan Singapura sebagai negara yang paling diminati dan tempat yang aman untuk dikunjungi, sehingga membuat pasien internasional merasa nyaman. Transportasi umum dan swasta yang efisien memudahkan pengunjung untuk melakukan perjalanan keliling kota. Selain itu, masyarakat Singapura yang multibudaya dan multirasial akan membuat para pasien internasional mudah beradaptasi baik terhadap lingkungan maupun hal-hal lainnya, seperti masalah makanan halal. Karena itu, jika Indonesia tidak mau para pasiennya kabur ke luar negeri, maka sudah seharusnya pihak rumah sakit memperbaiki manajemennya secara radikal. Apa yang terjadi di Singapura sebenarnya bisa pula terjadi di negara ini. Kita kaya dengan sumber daya. Sayangnya, kemampuan bangsa ini baru sampai tingkat retorika belum kepada implementasinya. Bagaimanapun, untuk menampilkan kehebatan bangsa ini, dibutuhkan kerja keras yang serius dan tekun dari semua pihak. Semoga dalam jangka waktu yang tidak lama Indonesia pun bisa menjadi medical hub. Tidak ada yang mustahil kan selama masih ada niat dan kerja keras untuk mencapainya (christ-entgmu) dr. Anton Christanto Bag/SMF THT RSUP Dr Sardjito-FK UGM Jl. Kesehatan no 1 Yogyakarta - Indonesia 55284 Phone/Fax : +62274 7474230 Mobile +62(0)8122658495 Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Help save the life of a child. Support St. Jude Children's Research Hospital's 'Thanks & Giving.' http://us.click.yahoo.com/0iazvD/5WnJAA/xGEGAA/asSolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> Dapatkan informasi kesehatan gratis Mailing List Dokter Indonesia http://www.mldi.or.id Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/dokter/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
