Tanpa sengaja aku membuka the book of Golden Wisdom dan muncul suatu pertanyaan yang sepertinya sangat pas untuk saya (dan mungkin kebanyakan pemuda saat sekarang) :
Are you a Scholar or Warrior ? The scholar�s pen is mighty, but is it more or less potent than the warrior�s mighty sword ? Jujur aku sendiri tercengang saat membaca tulisan itu, dan seterusnya tulisan itu menyatakan : The more civilized the society in which you live, the more powerful the written and spoken word becomes, while the less civilized your society is, the more powerful the sword or the bullet becomes. Buku itu pun menganjurkan pembacanya untuk : The ideal is for you to be the warrior whose wisdom arises through scholarship; your mind is your key weapon rather than sheer strength or physical prowess. Melihat fenomena yang terjadi dimasyarakat, apalagi saat pemilu semakin dekat sangat nyata bahwa banyak diantara kita mengatakan bahwa suara adalah prioritas utama. Maksudnya tidak bisa kita pungkiri bahwa banyak sekali dari pemimpin kita mencoba mencari captive marketnya sebagai salah satu bukti bahwa dia memiliki banyak pengikut yang otomatis akan menjadi alat ampuh untuk memenangkan pemilu mendatang. Tidak ada yang saya salahkan dengan pernyataan diatas. Memang dalam pemilu suara itu adalah hal penentu, dan tidak ada salahnya kalau setiap partai politik mencoba merekrut suara sebanyak�banyaknya. Hanya saja, yang perlu diperhatikan dengan lebih khususnya bagi para pemuda bahwa kekuatan bangsa kita tidak hanya tergantung dari kuantitas orang yang bisa menjadi pengikut kita tapi kualitas orang yang bisa membawa perubahan bagi bangsa kita. Tentunya saya tidak pada tempat untuk menilai kualitas dari setiap orang yang berpolitik tapi paling tidak kita harus membawa suatu "image" baru dalam pergaulan muda�mudi kita. Bahwa sudah saatnya kita mengadakan suatu perubahan terhadap cara pandang pemuda kita terhadap kegiatan berpolitik. Dan sudah saatnya aktifitas politik dikalangan pemuda diwarnai dengan menjadi "pejuang" dimana wisdom melalui tulisan dan kata�kata yang berakhlak menjadi "pedang" untuk memenangkan perjuangan kita. Berperang dialam intelektual, dimana ada keseimbangan emosi yang ditandai dengan verbalisasi yang dewasa politik akan membawa "citra" tersendiri dalam politik anak muda. Dan disinilah diperlukan suatu wadah yang bisa memberikan pendidikan awal terhadap pemuda tentang pelajaran berpolitik dengan "baik dan sehat". Pasti ada kerinduan disetiap anak muda untuk membuang jauh�jauh politik yang kotor yang dipenuhi dengan manipulasi dan konspirasi yang menyesatkan. Besarnya massa dan banyaknya gerbong sudah menjadi suatu kekuatan yang hendaknya kita gesar pada seberapa besar daya ledak dari massa tersebut. Banyaknya pemuda diIndonesia, hendaknya bisa menjadi dinamit dengan daya ledak yang dashyat, dimana kekuatan otot tidak lagi menjadi alat untuk menjatuhkan suatu resim atau kuatnya suara dijalan�jalan dengan ujud demonstrasi, tapi nilai intelektualitas yang terwujud dengan tulisan, speech dan etika politik yang dewasa, itulah yang menjadi kekuatan dinamit dengan daya ledak yang luar biasa. Tanpa mendiskreditkan kekuatan massa, namun apabila kekuatan massa digabung dengan kekuatan intelektual maka pasti Indonesia akan menjadi negara yang besar. Kekuatan penulisan ini sudah dibuktikan oleh Amerika, dimana kekuatan PR mereka serta marketing mereka membuat mereka menjadi negara adikuasa dengan kekuatan yang mematikan. Amerika bermain dialam pikiran kita, bagaimana daya mempengaruhi nya telah mampu menghipnotis kita untuk mengikuti cara pemikirannya. Bagaimana amerika membombadir kita dengan segala macam apa yang dikatakan IT, yang secara significant membawa perubahan dalam alam pemikiran kita. Itulah yang harusnya sudah mulai dilirik oleh pemuda kita. Bermain lewat tulisan, bermain lewat pidato bukan lewat kekuatan masssa yang menunjukan kekuatan otot atau kekuasaan. Kita sejenak lupakan garis komando yang sudah didoktirinkan pada kita sejak dahulu, tapi bagaimana kalau kita mulai dengan pencerahan yang memberi warna dalam aktivitas berpolitik kita. Justru ditangan pemudalah arti politik yang selama ini dianggap kotor dan tidak layak untuk diminati, harus kita rubah menjadi politik adalah bagian dari kehidupan berbangsa dan bernegara. Politik itu hendaknya bisa dilihat sebagai akumulasi kekuasaan yang nantinya harus didistribusikan untuk kesejahteraan banyank orang. Jangan sampai pemuda kita apatis dengan politik yang nantinya akan membawa kita pada sikap tidak peduli terhadap negara kita. Kalau pemuda sudah tidak peduli lagi dengan politik, siapa yang akan berpolitik di 10 tahun kemudian ? siapa yang akan mengurusi negara ini ? dikala banyak sekali pemuda kita yang bangga menjadi warga negara asing dan semakin banyak orang asing yang menjadi warga negara Indonesia ? apakah ini bukannya tantangan dari pemuda kita sekarang ? dikala ketertarikan pemuda tidak lagi untuk menjadi pegawai negeri, siapa nantinya yang akan masuk pada bagian birokrasi, departemen negara kita ? Dan ini semua merupakan pertanyaan yang harus dijawab oleh pemuda kita ? apakah kita hanya akan membiarkan keadaan ini menjadi batu kristal atau kita mau memulai dengan memberi warna. Mungkin kita merasa bahwa apa yang kita lakukan sekarang mungkin hanyalah seperti membuang garam dilautan. Artinya agak sulit diterima kalau dijaman sekarang kita berbicara sok idealis mengenai mengadakan perubahan lewat tulisan, sedangkan kita tahu diluar sana massa atau yang disebut sebut sebagai grass root adalah penentu kemajuan Indonesia. Karena suara merekalah yang akan mengadakan perubahaan. Dan seperti kita ketahui bahwa masyarakat tradisional dengan pemikiran yang kurang lebih tradisional akan sulit untuk menerima perubahan2 tertulis. Kenapa ? percaya tidak percaya, pada saat kita mengunjngi daerah pedesaan kita akan menemui realita bahwa masyarakat grasss root tidaklah terlalu peduli akan kualitas, visi, misi dari suatu partai atau pemimpin partai. Yang lebih dilihat adalah bagaimana partai tersebut bisa membawa perubahaan jangka pendek (yang didefinisikan saat ini mengadakan peningkatan dibidang ekonomi, dan tidak membiarkan masyarakat miskin). Bahkan menghadapi masyarakat pedalaman yang mungkin sedikit informasi dan pemahanan tentang dunia politik dan manfaat memilih pemimpin bangsa ini akan sedikit sulit ketimbang menghadapi masyarakat dengan pemahaman dan informasi yang cukup. Sedih melihat cara pemikiran sesama teman masyarakat kita, ketika mereka memaparkan alasan-alasan memilih pemimpin bangsa ini. Bahkan keterkaitan emosional sangat kentara dalam alas an memilih pemimpin bangsa kita. Adapun hubungan "sebab akibat" yang kental, seperti terungkap dalam kalimat � kalimat : kamu makan dari duit partai..., masa kamu mau berkhianat. Ini membuktikan bahwa ada suatu pembusukan dengan mengedepankan sifat "membalas budi", sehingga masyarakat didoktrin secara tidak langsung untuk memilih partai yang telah selama ini berkontribusi untuk melanjutkan hidup mereka. Sementara kebanyankan masyarakat tidak begitu memahami apa yang telah dilakukan oleh partai tersebut, yang diketahuinya adalah bahwa partai ini telah menjaga dan memberikan dia makan. Dan yang sangat menyedihkan adalah bahwa pemudapun ikut terseret dalam pemahaman yang sempit ini. Dimana pemuda hanya melihat dalam frame waktu yang sangat pendek, dan ini tidak bisa disalahkan karna selama ini tidak ada pendidikan politik anak muda yang mampu memberikan suatu arahan bahwa masa depan bangsa ini ada ditangan anak muda, utk itu pemuda jugalah yang bertugas dan bertanggung jawab untuk memberikan pencerahan dan pemahaman yang jelas akan situasi berbangsa dan bernegara. Bukan justru pemuda ikut terkontaminasi dengan pemahaman�pemahaman lama yang merupakan akar dari segala persoalan yang dihadapi bangsa ini. masyarakat kita telah dibawa pada suatu kondisi hanya untuk melihat apa yang didepan mata dan dalam jangkauan yang tidak panjang. Andai saja pemuda mampu memperlihatkan dan berargumentasi bahwa harus ada kelompok masyarakat yang juga memikirkan jangka panjang, maka akan tercipta sinergi yang luar biasa. Tapi kalau kita terus menerus digiring hanya pada pemahaman yang terlalu sempit memikirkan apa yang akan terjadi saat pemilu, maka kita sebagai generasi muda akan terjebak dengan situasi dimana kita hanya dipush untuk memikirkan konsekuensi logis yang akan terjadi pasca dan pra pemilu. Saya tidak menyebutkan untuk tidak memikirkan pasca dan pra pemilu, tetapi yang ingin saya utarakan adalah sudah merupakan tanggung jawab pemuda untuk memikirkan hal yang bersifat jangka panjang, sehingga pemuda tertantang utnuk berpikir antisipatif dalam kerangka mempertahankan Indonesia ini. Pemuda ditantang untuk mampu memikirkan nasib bangsa ini dikala kondisi A terjadi, atau kondisi B terjadi. Dan pemikiran pemikiran tersebut haruslah merambah dimasyarakat dan dijadikan katalisator berpikir dari segenap masyarakat Indonesia. pemuda Indonesia mempunyai sikap politik yang pesimis terhadap pemilu. Dan sedihnya sikap untuk menjadi golput menjadi pilihan atas pesimistis tersebut. Padahala apabila mereka menyadari bahwa seharusnya mereka tertantang untuk menyalurkan suara mereka pada partai dan pemimpin yang tepat. Artinya, jangan sampai pemuda kita terjebak dalam situasi yang tidak peduli terhadap bangsa ini, padahal nantinya kitalah para pemuda yang akan punya andil untuk memajukan negara kita. Negara kita cukup dan sangat kaya untuk dikembangkan dan dinikmati hasilnya. Jangan sampai hanya karna kita kurang dibekali dengan informasi dan pemahaman yang benar, akhirnya kita memilih untuk cuek dan akhirnya orang lainlah yang akan menikmati Indonesia ini. Bukankah gejala itu sudah terlihat, dimana pada pucuk pimpinan diberbagai perusahaan, banyak sekali expertise yang bukan dari Indonesia. Dan pemuda hendaklah jernih melihat permasalahan bangsa ini dan secara jernih pula menganalisa. Kadang-kadang the power of silence diperlukan untuk memecahkan permasalahan bangsa ini, maksudnya berbicara dalam kapasitas yang tepat dan dalam komposisi yang tepat pula. Wisdom haruslah menjadi pedoman pemuda kita untuk bisa keluar dari situasi yang telah dikondisikan oleh para pendahulu kita. Pemuda haruslah mengeluarkan warna yang berbeda dalam menyikapi permasalah berbangsa dan bernegara. Untuk itu, memperjuangkan kemajuan bangsa lewat komunikasi tertulis dan verbal adalah sangat penting bagi pergerakan kepemudaan kita. Sudah saatnya pemuda peduli dengan kompas negara kita. Jangan sampai kita semua yang menangggung akibat dari ketidakpedulian kita. Sikap pesimis dan apatis terhadap kemajuan bangsa haruslah dibuang jauh�jauh. Biarlah kita menjadi lilin yang terus memberikan cahaya dimanapun kita berada. Memang kita berada dalam situasi yang kurang mengenakan tapi apakah ini bukannya suatu perlakuan yang spesial yang akan membuat kita semakin kuat menghadapi tantangan global yang ada ? Justru dalam kondisi yang seperti ini, kita harus bersyukur bahwa kita diberikan kesempatan seperti ini. Laut yang tenang tidak akan menghasilkan pelaut yang handal. Dan dalam gelombang politik seperti saat ini, pemuda di tantang untuk menjadi surfer yang tangguh, yang bisa bertahan diatas gelombang yang tinggi. Dan sekarang adalah saat yang tepat bagi kita untuk latihan, melatih otot politik kita. Kondisi seperti ini hendaknya kita balik menjadi peluang bagi tiap�tiap kita untuk melihat apa yang harus saya perbuat untuk negara ini. Bukannya lari dari kenyataan, karna dimanapun anda berada, tetap ibu pertiwi akan menjadi pilihan kita untuk menghabiskan masa tua kita. Pilihan ada dikita, memperjuangkan ibu pertiwi kita dan menikmatinya nanti, atau menyerah dan membiarkan orang lain saja yang memperjuangkan dan akhirnya menikmatinya ? Ingat pikiran kita adalah senjata yang paling ampuh dibandingkan dengan muscle. Pilihan ada dikita, memanfaatkan senjata terampuh kita atau bersembunyi dibalik kekuatan otot kita. Apakah kita mau menjadi kelinci atau wolf ? kelinci akan hop around, run and burrow deep into the earth when confronted with obstacles and danger atau kita mau jadi wolf who hunts far and wide, playing the role of the aggressor ? semua itu tergantung kita... kalau kita mau terus sembunyi silahkan menjadi kelinci, tapi kalau kita mau jadi pemenang jadilah wolf, tapi ingat bahwa senjata kita adalah pikiran kita. Ingat kata Pluto : tidak ada yang abstrak selain ide.. (seperti yang dipikirkan dan dikatakan oleh putri indonesia 2001) dr. Anton Christanto Bag/SMF THT RSUP Dr Sardjito-FK UGM Jl. Kesehatan no 1 Yogyakarta - Indonesia 55284 Phone/Fax : +62274 7474230 Mobile +62(0)8122658495 Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Does he tell you he loves you when he's hitting you? Abuse. Narrated by Halle Berry. http://us.click.yahoo.com/AoisKB/isnJAA/xGEGAA/asSolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> Dapatkan informasi kesehatan gratis Mailing List Dokter Indonesia http://www.mldi.or.id Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/dokter/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
