Dapatkan 2 web replika, hanya sekali pembayaran di www.gmc88.com dari TEAM WORK 
KAMI.
Dgn single product "NUTRIblend" yg banyak kesaksian PENYEMBUHAN.
 
1. http://gmc88.net/?id=jono566 ---  Website Indonesia terbaru. 
2.http://www.gmc88-indonesia.com/?x=jono566  -- Indo


Dapatkan 2 web replika, hanya sekali pembayaran di  www.gmc88.com  dgn 
fasilitas sbb :

   e-wallet 
   Pohon Binary    -- Paln "A" 
   Pohon Unilevel -- Plan "B" 
   Bonus harian di Plan "A" & Statemant Bonus. 
   Bonus bulanan di Plan "B" & Statemant Bonus. Unilevel / MLM. 
   Go Global dari Indonesia ke Asia dgn sistim Binary nya.
Muljono 08161406483 sms 


Ragil <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
ternyata masih ada juga ya....yang bersih dari korupsi
...

--- Ragil <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Date: Sun, 21 Aug 2005 12:17:42 -0700 (PDT)
> Subject: Kisah Seorang Pemeriksa Pajak Melawan
> Korupsi
> To: [EMAIL PROTECTED]

> 
> 
> 
> --- In [EMAIL PROTECTED],
> "M.
> AlFatih" 
> <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Kisah Seorang Pemeriksa Pajak Melawan Korupsi
>  
> 
> Sebagai pegawai Departemen Keuangan, saya tidak
> gelisah dan tidak kalang kabut akibat prinsip hidup
> korupsi. Ketika misalnya, tim Inspektorat Jenderal
> datang, BPKP datang, BPK datang, teman-teman di 
> kantor gelisah dan belingsatan, kami tenang saja.
> Jadi
> sebenarnya hidup tanpa korupsi itu menyenangkan
> sekali. Hidup tidak korupsi itu sebenarnya lebih
> menyenangkan. Meski orang melihat kita sepertinya 
> sengsara, tapi sebetulnya lebih menyenangkan.
> Keadaan
> itu paling tidak yang saya rasakan langsung.
> 
> Saya AS (maaf, belum minta ijin untuk menulis
> namanya
> secara lengkap-alf.), lahir di Jawa Timur tahun
> 1970,
> sampai dengan SMA di  Mojokerto, kemudian kuliah di
> Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN)  dan selesai
> pada 1992. Pada 17 Oktober 1992 saya menikah dan 
> kemudian  saya ditugaskan di Medan.
> 
> Saya ketika itu mungkin termasuk generasi pertama
> yang
> mencoba  menghilangkan dan melawan arus korupsi yang
> sudah sangat lazim. 
> Waktu  itu pertentangan memang sangat keras. Saya
> punya prinsip satu saja,  karena takut pada Allah,
> jangan sampai ada rezeki haram menjadi  daging dalam
> diri dan keturunan. Itu saja yang selalu ada dalam
> hati  saya.
> 
> Kalau ingat prinsip itu, saya selalu menegaskan lagi
> untuk mengambil  arak yang jelas an tidak menikmati
> sedikitpun harta yang haram. 
> Syukurlah, prinsip itu bisa didukung keluarga,
> karena
> isteri juga  aktif dalam pengajian keislaman. Sejak
> awal ketika menikah, saya  sampaikan kepada isteri
> bahwa saya pegawai negeri di Departemen  Keuangan,
> meski imej banyak orang, pegawai Departemen Keuangan
> kaya,  tapi sebenarnya tidak begitu. Gaji saya hanya
> sekian, kalau mau    diajak hidup sederhana dan
> tanpa
> korupsi, ayo. Kalau tidak mau, ya  sudah tidak jadi.
> 
> Dari awal saya sudah berusaha menanamkan komitmen
> kami
> seperti itu.  Saya juga sering ingatkan kepada
> isteri,
> bahwa kalau kita konsisten  dengan jalan yang kita
> pilih ini, pada saat kita membutuhkan maka  Allah
> akan
> selesaikan kebutuhan itu. Jadi yg penting usaha dan 
> konsistensi kita. Saya juga suka mengulang beberapa
> kejadian yg kami alami selama menjalankan prinsip
> hidup seperti ini kepada istri.  Bahwa yg penting
> bagi
> kita adalah cukup dan berkahnya, bahwa kita bisa
> menjalani hidup layak. Bukan berlebih seperti
> memiliki
> rumah dan mobil mewah.
> 
> Menjalani prinsip seperti ini jelas banyak ujiannya.
> Di mata  keluarga  besar misalnya, orang tua saya
> juga
> sebenarnya mengikuti logika umum  bahwa orang pajak
> pasti kaya. Sehingga mereka biasa meminta kami 
> membantu adik-adik dan keluarga. Tapi kami berusaha
> menjelaskan  bahwa  kondisi kami berbeda dengan imej
> dan anggapan orang. Proses memberi pemahaman seperti
> ini pada keluarga sulit dan membutuhkan waktu 
> bertahun-tahun. Sampai akhirnya pernah mereka
> berkunjung ke rumah  saya di Medan, saat itulah
> mereka
> baru mengetahui dan melihat  bagaimana kondisi
> keluarga saya, barulah perlahan-lahan mereka bisa
> memahami.
> 
> Jabatan saya sampai sekarang adalah petugas
> verifikasi
> lapangan atau  pemeriksa pajak. Kalau dibandingkan
> teman-teman seangkatan sebenarnya  karir saya bisa
> dikatakan terhambat antara empat sampai lima tahun.
> Seharusnya paling tidak sudah menjabat Kepala Seksi,
> Eselon IV. Tapi sekarang baru Eselon V. Apalagi
> dahulu
> di masa Orde Baru, penentangan untuk tidak menerima
> uang korupsi sama saja dengan karir terhambat. 
> Karena
> saya dianggap tidak cocok dengan atasan,  maka
> kondite
> saya di mata mereka buruk. Terutama poin
> ketaatannya,
> dianggap tidak baik dan jatuh.
> 
> Banyak pelajaran yang bisa saya petik dari semua
> pengalaman itu. Antara lain, orang orang yang
> berbuat
> jahat akan selalu berusaha  mencari kawan apa pun
> caranya. Cara keras, pelan, lewat bujukan atau  apa
> pun akan mereka lakukan agar mereka mendapat
> dukungan.
> Mereka  pada dasarnya tidak ingin ada orang yang
> bersih. Mereka tidak ingin 
> ada orang yang tidak seperti mereka.
> 
> Pengalaman di kantor yang paling berkesan ketika
> mereka menggunakan  cara paling halus, pura-pura
> berteman dan bersahabat. Tapi  belakangan, setelah
> sekian tahun barulah ketahuan, kita sudah 
> dikhianati.
> Cara seperti ini seperti sudah direkayasa. Misalnya,
> 
> pegawai-pegawai baru didekati. Mereka dikenalkan
> dengan gaya hidup  dan cara bekerja pegawai lama,
> bahwa seperti inilah gaya hidup  pegawai Departemen
> Keuangan. Bila tidak berhasil, mereka akan pakai 
> cara
> lain lagi, begitu seterusnya. Pola-pola apa saja
> dipakai,  sampai mereka bisa merangkul orang itu
> menjadi teman.
> 
> Saya pernah punya atasan. Dari awal ketika
> memperkenalkan diri, dia  sangat simpatik di, mata
> saya. Dia juga satu-satunya atasan yang mau  bermain
> ke rumah bawahan. Saya dengan atasan itu kemudian
> menjadi  seperti sahabat, bahkan seperti keluarga
> sendiri. Di akhir pekan,  kami biasa memancing
> sama-sama atau jalan-jalan bersama keluarga.   
> Dan ketika pulang, dia biasa juga menitipkan uang
> dalam amplop pada  anak-anak saya. Saya sendiri
> menganggap pemberian itu hanya hadiah  saja,
> berapalah
> hadiah yang diberikan kepada anak-anak. Tidak
> terlalu 
> saya perhatikan. Apalagi dalam proses pertemanan itu
> kami sedikit  saja berbicara tentang pekerjaan. Dan
> dia juga sering datang    menjemput ke rumah,
> mangajak
> mancing atau ke toko buku sambil  membawa 
> anak-anak.
> 
> Hingga satu saat saya mendapat surat perintah
> pemeriksaan sebuah perusahaan besar. Dari hasil
> pemeriksaan itu saya menemukan  penyimpangan sangat
> besar dan luar biasa jumlahnya. Pada waktu itu, 
> atasan melakukan pendekatan pada saya dengan cara
> paling halus. Dia  mengatakan, kalau semua
> penyimpangan ini kita ungkapkan, maka  perusahaan
> itu
> bangkrut dan banyak pegawai yang di-PHK. Karena itu,
> 
> dia menganggap efek pembuktian penyimpangan itu
> justru
> menyebabkan   masyarakat rugi. Sementara dari sisi
> pandang saya, betapa tidak  adilnya kalau tidak
> mengungkap temuan itu. Karena sebelumnya ada yang 
> melakukan penyimpangan dan kami ungkapkan. Berarti
> ada
> pembedaan.  Jadwal penagihannya pun sama seperti
> perusahaan lain.
> 
> Karena dirasa sulit mempengaruhi sikap saya,
> kemudian
> dia memakai  logika lain lagi. Apakah tidak
> sebaiknya
> kalau temuan itu diturunkan  dan dirundingkan dengan
> klien, agar bisa membayar pajak dan negara  untung,
> karena ada uang yang masuk negara. Logika seperti
> ini
> juga tidak bisa saya terima. Waktu itu, saya
> satu-satunya anggota tim 
> yang  menolak dan meminta agar temuan itu tetap
> diungkap apa adanya. Meski  saya juga sadar, kalau
> saya tidak menanda tangani hasil laporan itu  pun,
> laporan itu akan tetap sah. Tapi saya merasa
> teman-teman itu  sangat tidak ingin semua tidak
> sepakat dan sama seperti mereka. Mereka ingin semua
> sepakat dan sama seperti mereka. Paling tidak
> menerima. Ketika sudah mentok semuanya, saya
> dipanggil
> oleh atasan  dan disidang di depan kepala kantor.
> Dan
> ini yang amat berkesan  sampai sekarang, bahwa upaya
> mereka untuk menjadikan orang lain tidak bersih
> memang
> direncanakan.
> 
> Di forum itu, secara terang-terangan atasan yang
> sudah
> lama bersahabat dan seperti keluarga sendiri dengan
> saya itu   mengatakan, " Sudahlah, Dik Arif tidak
> usah
> munafik." Saya katakan, "Tidak munafik bagaimana
> Pak?
> Selama ini saya insya Allah konsisten untuk tidak
> melakukan korupsi." Kemudian ia sampaikan terus
> terang
> bahwa uang yang selama kurang lebih dua tahun ia
> berikan pada anak saya adalah uang dari klien.
> Ketika
> mendengar itu, saya sangat terpukul, apalagi
> merasakan
> sahabat itu ternyata berkhianat. Karena terus terang
> saya belum pernah mempunyai teman sangat dekat
> seperti
> itu, kecuali yang memang sudah sama-sama punya
> prinsip
> untuk menolak uang suap. Bukan karena saya tidak mau
> bergaul, tapi karena kami tahu persis bahwa mereka
> perlahan lahan menggiring ke arah yang mereka mau.
> 
> Ketika merasa terpukul dan tidak bisa membalas
> dengan
> kata-kata apapun, saya pulang. Saya menangis dan
> menceritakan masalah itu pada  isteri saya di rumah.
> Ketika mendengar cerita saya itu, isteri  langsung
> sujud syukur. Ia lalu mengatakan, "Alhamdulillah.
> Selama ini  uang itu tidak pernah saya pakai,"
> katanya. Ternyata di luar pengatahuan saya,
> alhamdulillah, amplop-amplop itu tidak digunakan
> sedikit pun oleh isteri saya untuk keperluan apapun.
> Jadi amplop-amplop itu disimpan di sebuah tempat,
> meski ia sama sekali  tidak tahu apa status uang
> itu.
> Amplop-amplop itu semuanya masih 
> utuh. Termasuk tulisannya masih utuh, tidak ada yang
> dibuka.  Jumlahnya berapa saya juga tidak tahu. Yang
> jelas, bukan lagi puluhan juta. Karena sudah masuk
> hitungan dua tahun dan diberikan hampir setiap
> pekan.
> 
> Saya menjadi bersemangat kembali. Saya ambil semua
> amplop itu dan saya bawa ke kantor. Saya minta
> bertemu
> dengan kepala kantor dan  kepala seksi. Dalam forum
> itu, saya lempar semua amplop itu di hadapan atasan
> saya hingga bertaburan di lantai. Saya 
> katakan, "Makan  uang itu, satu rupiah pun saya
> tidak
> pernah gunakan uang itu. Mulai saat ini, saya tidak
> pernah percaya satu pun perkataan kalian." Mereka
> tidak bisa bicara apapun karena fakta obyektif, saya
> tidak pernah memakai uang yang mereka tuduhkan. Tapi
> esok harinya, saya langsung dimutasi antar seksi.
> Awalnyasaya di auditor, lantas saya diletakkan di
> arsip, meski tetap menjadi petugas lapangan
> pemeriksa
> pajak. Itu berjalan sampai sekarang.
> 
> Ketika melawan arus yang kuat, tentu saja da saat
> tarik-menarik dalam hati dan konflik batin. Apalagi
> keluarga saya hidup dalam kondisi terbatas. Tapi
> alhamdulillah, sampai sekarang saya tidak tergoda
> untuk menggunakan uang yang tidak jelas. Ada
> pengalaman lain yang masih saya ingat sampai
> sekarang.
> Ketika saya mengalami kondisi yang begitu mendesak.
> Misalnya, ketika anak kedua lahir. Saat itu persis
> ketika saya membayar kontrak rumah dan tabungan saya
> habis. Sampai detik-detik terakhir harus membayar
> uang
> rumah sakit untuk membawa isteri dan bayi kami ke
> rumah, saya tidak punya uang serupiah pun.
> 
> Saya mau bicara dengan pihak rumah sakit dan terus
> terang bahwa insya Allah pekan depan akan saya
> bayar,
> tapi saya tidak bisa ngomong juga. Akhirnya saya
> keluar sebentar ke masjid untuk sholat dhuha. Begitu
> pulang dari sholat dhuha, tiba-tiba saja saya
> ketemuteman lama di rumah sakit itu. Sebelumnya kami
> lama sekali tidak pernah jumpa. Dia dapat cerita
> dari
> teman bahwa isteri saya melahirkan, maka dia
> sempatkan
> datang ke umah sakit. Wallahu alam apakah dia sudah 
> iceritakan kondisi saya atau bagaimana, tetapi
> ketika
> ingin  enyampaikan kondisi saya pada pihak rumah
> sakit, saya malah  itunjukkan kwitansi seluruh biaya
> perawatan isteri yang sudah lunas. Alhamdulillah.
> 
> Ada lagi peristiwa hampir sama, ketika anak saya
> operasi mata karena ada lipoma yang arus diangkat.
> Awalnya, saya pakai jasa askes. Tapi  karena
> pelayanan
> pengguna Askes tampaknya apa adanya, dan saya
> kasihan
> karena anak saya baru berumur empat tahun, saya
> tidak
> pakai  Askes lagi. Saya ke Rumah Sakit yang agak
> bagus
> sehingga  pelayanannya juga agak bagus. Itu saya
> lakukan sambil tetap berfikir, nanti  uangnya pinjam
> dari mana?
> 
> Ketika anak harus pulang, saya belum juga punya
> uang.
> Dan saya paling  susah sekali menyampaikan ingin
> pinjam uang. Alhamdulillah, ternyata Allah cukupkan
> kebutuhan itu pada detik terakhir. Ketika sedang
> membereskan pakaian di rumah sakit, tiba-tiba Allah
> pertemukan saya dengan seseorang yang sudah lama
> tidak
> bertemu. Ia bertanya mbagaimana kabar, dan saya
> ceritakan anak saya sedang dioperasi. Dia  katakan,
> "Kenapa tidak bilang-bilang?" Saya sampaikan karena
> tidak sempat saja. Setelah teman itu pulang, ketika
> ingin menyampaikan penundaan pembayaran, ternyata
> kwitansinya juga sudah dilunasi oleh teman itu.
> Alhamdulillah.
> 
> Saya berusaha tidak terjatuh ke dalam korupsi, meski
> masih ada tekanan keluarga besar, di luar keluarga
> inti saya. Karena ada teman yang tadinya baik tidak
> memakan korupsi, tapi jatuh karena tekanan keluarga.
> Keluarganya minta bantuan, karena takut dibilang
> pelit, mereka terpaksa pinjam sana sini. Ketika
> harus
> bayar, akhirnya mereka terjerat korupsi juga. Karena
> banyak yang seperti itu, dan saya tidak  mau
> terjebak
> begitu, saya berusaha dari awal tidak  demikian.
> Saya
> berusaha cari usaha lain, dengan mengajar dan
> sebagainya. Isteri saya juga bekerja sebagai guru.
> 
> Di lingkungan kerja, pendekatan yang saya lakukan
> biasanya lebih banyak dengan bercanda. Sedangkan
> pendekatan serius, sebenarnya  mereka sudah puas
> dengan pendekatan itu, tapi tidak berubah. Dengan
> pendekatan bercanda, misalnya ketika datang tim
> pemeriksa dari BPK,  BPKP, atau Irjen. Mereka
> gelisah
> sana-sini kumpulkan uang untuk menyuap pemeriksa.
> Jadi
> mereka dapat suap lalu menyuap lagi. Seperti  rantai
> makanan. Siapa memakan siapa. Uang yang mereka
> kumpulkan juga habis untuk dipakai menyuap lagi.
> Mereka selalu takut ini takut itu.  Paling sering
> saya
> hanya mengatakan dengan bercanda, "Uang setan ya
> dimakan hantu."
> 
> Dari percakapan seperti itu ada juga yang mulai
> berubah, kemudian  berdialog dan akhirnya berhenti
> sama sekali. Harta mereka jual dan diberikan kepada
> masyarakat. Tapi yang seperti itu tidak banyak.
> Sedikit sekali orang yang bisa merubah gaya hidup
> yang
> semula mewah lalu tiba-tiba miskin. Itu sulit
> sekali.
> 
> Ada juga diantara teman-teman yang beranggapan,
> dirinya tidak pernah  emeras dan tidak memakan uang
> korupsi secara langsung. Tapi hanya menerima uang
> dari
> atasan. Mereka beralasan toh tidak meminta dan
> atasan
> itu hanya memberi. Mereka mengatakan tidak perlu
> bertanya uang itu dari mana. Padahal sebenarnya,
> dari
> ukuran gaji kami tahu persis bahwa atasan kami tidak
> akan pernah bisa memberikan uang sebesar itu.
> 
> Atasan yang memberikan itu berlapis-lapis. Kalau
> atasan langsung  biasanya memberi uang hari Jumat
> atau
> akhir pekan. Istilahnya kurang lebih uang Jumatan.
> Atasan yang berikutnya lagi pada momen berikutnya
> memberi juga. Kalau atasan yang lebih tinggi lagi
> biasanya memberi menjelang lebaran dan sebagainya.
> Kalau dihitung-hitung sebenarnya lebih besar uang
> dari
> atasan dibanding gaji bulanan.
> 
> Orang-orang yang menerima uang seperti ini yang
> sulit
> berubah. Mereka  termasuk rajin sholat, puasa sunnah
> dan membaca Al-Qur'an. Tetapi mereka sulit berubah.
> Ternyata hidup dengan korupsi memang membuat
> sengsara.
> Di antara teman-teman yang korupsi, ada juga yang
> akhirnya dipecat, ada yang melarikan diri karena
> dikejar-kejar polisi, ada 
> yang isterinya selingkuh dan lain-lain. Meski secara
> ekonomi mereka sangat mapan, bukan hanya sekadar
> mapan.
> 
> Yang sangat dramatis, saya ingat teman sebangku saya
> saat kuliah di STAN. Awalnya dia sama-sama ikut
> kajian
> keislaman di kampus. Tapi ketika keluarganya mulai
> sering minta bantuan, adiknya kuliah, pengobatan
> keluarga dan lainnya, dia tidak bisa berterus terang
> 
> tidak punya uang. Akhirnya ia mencoba hutang
> sana-sini. Diapun terjebak dan merasa sudah
> terlanjur
> jatuh, akhirnya dia betul-betul sama dengan
> teman-teman di kantor. Bahkan sampai sholat
> ditinggalkan. Terakhir, dia ditangkap polisi ketika
> sedang mengkonsumsi narkoba. Isterinya pun
> selingkuh.
> Teman itu sekarang dipecat dan dipenjara.
> 
> Saya berharap akan makin banyak orang yang melakukan
> jihad untuk hidup yang bersih. Kita harus bisa
> menjadi
> pelopordan teladan dimana saja. Kiatnya hanya satu,
> terus menerus menumbuhkan rasa takut menggunakan dan
> memakan uang haram. Jangan sampai daging kita ini
> tumbuh dari hasil rejeki yang haram. Saya berharap,
> mudah-mudahan Allah tetap memberikan pada kami
> keistiqomahan (matanya berkaca-kaca).
> --- End forwarded message ---
> 
> 
> __________________________________________________
> Do You Yahoo!?
> Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam
> protection around 
> http://mail.yahoo.com 
> 



            
____________________________________________________
Start your day with Yahoo! - make it your home page 
http://www.yahoo.com/r/hs 



Dapatkan informasi kesehatan gratis
Mailing List Dokter Indonesia
http://www.mldi.or.id 



SPONSORED LINKS 
Article health wellness Center for health and wellness Health and wellness 
Health and wellness program Health wellness product Professional 

---------------------------------
YAHOO! GROUPS LINKS 


    Visit your group "dokter" on the web.
  
    To unsubscribe from this group, send an email to:
 [EMAIL PROTECTED]
  
    Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service. 


---------------------------------




                
---------------------------------
 Start your day with Yahoo! - make it your home page 

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
<font face=arial size=-1><a 
href="http://us.ard.yahoo.com/SIG=12kvbaj8u/M=320369.6903863.7846592.1589681/D=grphealth/S=1705061146:TM/Y=YAHOO/EXP=1124791689/A=2896112/R=0/SIG=1107idj9u/*http://www.thanksandgiving.com
">Give the gift of life to a sick child. Support St. Jude Children¿s Research 
Hospital</a>.</font>
--------------------------------------------------------------------~-> 

Dapatkan informasi kesehatan gratis
Mailing List Dokter Indonesia
http://www.mldi.or.id 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/dokter/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke