Mas Heru dan sejawat Christ.
Kadang hidup itu lebih dramatik dari khayalan kita
sendiri, maaf menurut saya apapun skenario sudah jadi
maka bagi sebagian suku * jawa. termasuk saya hanya
menjalanin saja dengan peran yang baik.
Banyak mengatakan dengan perpisahan kita akan lebih
memakna arti pertemuan, lahir dewasa, tua dan kemudian
meninggal itu semua lakon yang sering lewat dari
pengamatan kita, karena hati tidak terbiasa diajak
bicara, ada sebagian daging di tubuh kita bila rusak
rusaklah semuanya, bila sakit sakitlah seluruh
tubuhnya, apa itu, jantung, otak, kaki, tangan atau
lidah, ternyata HATI masih menurut pendapat saya.
Semua harus ada ujian sebagai makhluk sebelum Manusia,
jadi jalanin saja Perannya etah sebagai Ibu, anak,
cucu karena TUHAN tidak akan mencobai melebihi
kemampuan kita, hanya standard saja yang kita ciptakan
sendiri dengan output KEKECEWAAN bila tidak terpenuhi.
Entahlah, bencana alam, BBM naik, anak durhaka
semuanya itu bukti cinta Tuhan kepada makhluknya, agar
kita menemukan diri kita sendiri, merubahnya dan
hijrah kepadaNYA tanpa reserves.
Maaf hanya Tuhan yang benar
Salam
Belum kenal dirinya sendiri.
--- HERU WINANTO <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Pepatah mengatakan " Surga dibawah telapak kaki Ibu
> "
> Perlu kita renungkan bagaimana sakitnya seorang Ibu
> melahirkan anak2nya? Antara hidup dan mati demi
> seorang anak yang kelak berbakti kepadanya. Semoga
> anda tidak termasuk didalam golongan anak2 yang
> durhaka.. Amien ..
>
>
>
>
=======================================================
> Satu per satu anakku, setelah
> menikah,
> pergi meninggalkanku.
> Sementara aku, sejak suamiku meninggal tiga bulan
> lalu, tetap tinggal di rumah besar kami di Tebet
> bersama dua orang perempuan yang sudah 22 tahun
> bekerja padaku, seorang sopir sekaligus tukang
> kebun,
> serta seorang keponakan suamiku yang kedua
> orangtuanya
> meninggal dalam sebuah kecelakaan pesawat terbang.
>
> Suamiku sudah menyiapkan rumah untuk anak-anak kami,
> yang disewakannya kepada orang-orang. Setelah mereka
> menikah barulah ia memberikan kunci rumah-rumah itu.
> Ia membelinya saat memiliki jabatan tinggi di sebuah
> departemen dan memperoleh 'uang lain-lain' dari
> orang-orang yang mengharapkan langkahnya tidak
> terhalang sebutir kerikil pun.
>
> Ia melakukannya karena ingin anak-anaknya mengenang
> dia sebagai ayah yang bertanggung jawab.
> Suamiku meninggal akibat gagal jantung setelah 12
> tahun pensiun. Sehari sebelumnya ia sempat berbicara
> kepadaku, telah merasa lengkap menjadi ayah karena
> melihat semua kejadian terhadap anak-anaknya: lahir,
> besar, bersekolah, menyelesaikan pendidikan hingga
> perguruan tinggi, bekerja, menikah, tinggal di
> rumah-rumah yang diberikannya, dan memiliki anak.
>
> Ia dimakamkan di sebuah pemakaman luas sesuai yang
> pernah ia pesankan.
> Hingga kini aku merasa ia masih ada di dalam rumah
> kami. Menjelang jam tujuh
> pagi, lima sore, sembilan malam, aku masih selalu
> pergi ke dapur, membuatkan
> secangkir teh manis untuknya. Anakku yang nomor satu
> rupanya mendapat cerita
> ini dari keponakan suamiku yang tinggal bersamaku.
> Maka tadi sore ia datang dan meminta aku tinggal di
> rumah besarnya di Ciputat.
>
> Berkali-kali aku menolak, tentu karena aku merasa
> kasihan pada mendiang suamiku, tapi ia tetap
> berkeras
> seperti ayahnya. Ia mengatakan akan lebih mudah
> baginya untuk memantau dan mengurusku jika aku
> tinggal
> bersamanya.
>
> "Di kamar besar yang lain Mama bisa meletakkan semua
> buku milik Mama. Kalau tetap di sini Mama akan terus
> bersedih. Biarlah rumah ini Suci yang menjaga dan
> mengurusnya bersama Mbak Tar, Mbak Mi, dan Bang
> Ali."
> Akhirnya aku menyetujui saja.
>
> Malam hari aku sering menangis mengingat suamiku.
> Sementara anak-anakku,
> selama dua bulan aku di sini, tidak pernah ada yang
> datang. Dan anakku yang nomor satu
> jarang sekali bertemu denganku. Ia pergi pagi ketika
> aku masih mengaji di kamar, dan pulang begitu malam
> ketika aku sudah tertidur.
>
> Dalam seminggu mungkin aku hanya bertemu dengannya
> dua
> atau tiga kali. Bahkan bisa tidak sama sekali. Aku
> sering mengingat masa ketika mereka kecil. Waktu itu
> setiap hari aku bisa bertemu mereka. Lalu ketika
> mereka masuk perguruan tinggi dan bekerja, aku pun
> mulai jarang bertemu. Lalu ketika mereka menikah dan
> tinggal di rumah-rumah yang diberikan suamiku,
> memiliki anak dan sibuk dengan istri atau suaminya,
> aku sudah tidak banyak berharap mereka akan mudah
> kutemui.
>
> Sekarang apa yang aku dapat? Sebuah senyuman dan
> sapaan setiap pagi hari pun tidak.
> Terlebih kata terima kasih atas jerih-payahku
> melahirkan, mendidik, membesarkan, dan menyenangkan
> mereka. Aku tidak bermaksud meminta balasan. Tetapi
> bagaimanapun menurutku mereka seharusnya tahu diri
> dan
> tahu berterimakasih. Padahal sejak mereka kecil aku
> dan suamiku selalu mengajarkan untuk tidak melupakan
> kebaikan seseorang.
>
> Anakku yang nomor satu, hari ini memutuskan
> mengirimku
> ke sebuah panti jompo, setelah istri dan ketiga
> anaknya sering mengeluhkan aku yang selalu menangis
> tengah malam ketika aku teringat suamiku, karena
> katanya mengganggu tidur mereka. Dua minggu lalu ia
> mengundang adik-adiknya datang. Ketika semua
> berkumpul, kecuali anakku yang nomor empat yang
> tinggal di Australia, ia memberitahukan
> keinginannya.
>
> "Lagipula Mama tidak mungkin kita biarkan kembali ke
> Tebet. Terlalu banyak kenangan tentang Papa di sana
> yang bisa membuat Mama sedih." Dua bulan lagi umurku
> 68 tahun.
> Setelah satu tahun aku di tinggal sini, hanya
> Lebaran
> lalu saja anak-anakku datang.
> Sementara si Tar, si Mi, si Ali, serta keponakan
> suamiku yang pernah delapan tahun tinggal bersamaku,
> hampir setiap akhir pekan menjengukku.
>
> Hari itu semua anakku datang bersama suami, istri,
> dan
> anak-anak mereka.
> Hanya yang nomor empat tidak datang, karena katanya
> uang jutaan rupiah untuk membeli tiket pesawat bagi
> tiga orang ke Jakarta lebih baik disimpannya di
> bank.
> Ia hanya mengirim kartu Lebaran disertai tulisan dan
> tanda tangannya.
>
> Sedangkan cucu pertamaku memilih pergi ke rumah
> kekasihnya. Katanya karena ia segan. Ingat, segan.
> Segan bertemu neneknya. Padahal dahulu aku yang
> sering
> membersihkan kotorannya dan mengganti popok bila ia
> datang ke rumahku bersama orangtuanya. Lalu hingga
> kini tidak pernah lagi mereka datang.
>
> Hanya anakku yang nomor satu yang selalu mengirim
> ini
> dan itu kepadaku, biasanya berupa buku-buku terbaru
> psikologi, filsafat, sejarah, sastra, agama, sosial,
> seni, budaya, tentu saja, melalui sopirnya.
>
> Setiap pukul 04.30 aku bangun, mandi dengan air
> hangat
> yang keluar dari pancuran di bath-tub, sholat subuh,
> dan mengaji. Di sini kami seperti di rumah sendiri.
> Bangun jam berapa saja kami berkeinginan. Sarapan
> dan
> makan pun bebas memilih. Anak-anak telah membayar
> sangat tinggi untuk menitipkanku di sini.
> Aku jadi teringat masa ketika indekos ketika aku
> belajar psikologi.
>
> Hanya kini aku tidak tinggal bersama gadis-gadis
> cantik dan tidak untuk menuntut ilmu apa-apa. Hanya
> menunggu ajal.
>
> Tepat pukul 06.00 kami yang sudah bangun dianjurkan
> berkumpul di halaman depan untuk berolahraga. Cukup
> tiga puluh menit sekadar untuk meregangkan otot-otot
> tua kami. Setelah itu kami diminta untuk
> membersihkan
> diri,mandi pagi lagi kalau mau. Pukul 08.00 biasanya
> kami akan berkumpul di ruang makan untuk sarapan.
> Mereka yang bangun terlambat dan tidak ingin
> berolahraga dan tidak ingin sarapan di ruang makan,
> bisa meminta petugas mengantarkan sarapannya ke
> kamar.
>
> Setelah itu hingga pukul 16.00 kami dipersilakan
> melakukan kegiatan apa saja sesuai keinginan:
> merajut,
> melukis, menulis surat untuk anak-anak kami, bermain
> catur, berkebun, membaca, menonton TV, mendengar
> radio, berbincang-bincang dengan teman-teman lain,
> atau tidur siang.
> Dan setiap pukul 16.30 kami biasanya akan
> duduk-duduk
> di teras panti sambil menikmati secangkir teh manis
> dan kue-kue kecil.
>
> Setelah itu kami diminta untuk mandi sore. Pukul
> 19.00
> kami kembali berkumpul di ruang makan. Malam ini aku
> menikmati segelas air teh manis hangat, nasi putih,
> perkedel kentang, dan semur ikan bandeng dengan kuah
> kental kesukaanku. Hari ini tepat tiga tahun aku
> masuk
> panti.
>
> Aku, karena sejak muda mempunyai kegemaran membaca,
> setiap hari selalu hanya membaca. Apa saja aku baca.
> Majalah berita, koran pagi, tabloid perempuan, dan
> majalah perempuan yang dilanggani panti, tidak
> pernah
> kulewatkan, juga buku-buku di perpustakaan. Selama
> lima tahun di sini, aku sudah membaca semua buku
> yang
>
=== message truncated ===
__________________________________
Yahoo! Mail - PC Magazine Editors' Choice 2005
http://mail.yahoo.com
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Help save the life of a child. Support St. Jude Children's Research Hospital.
http://us.click.yahoo.com/xDyn3B/lbOLAA/xGEGAA/asSolB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
Dapatkan informasi kesehatan gratis
Mailing List Dokter Indonesia
http://www.mldi.or.id
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/dokter/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/