Wah , boleh juga. Gimana kalau kita dirikan "Persatuan Dokter Demo."
Alpino --- Lakshmi Nawasasi <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Harap hemat bandwith > ---------------------- > Menurut saya, mungkin situasi dan kondisi nya beda > jauh (saya belum pernah kerja di Jerman sih). > Mungkin di jerman atau negara lain, profesi dokter > sama dengan profesi lain nya jadi sama-sama > mempunyai kesempatan menuntut adanya perbaikan > pendapatan dan perbaikan birokrasi seimbang dengan > mutu pelayanan yang mereka (dokter) berikan. Jadi > disana demo dokter yaa sama dengan demo dari profesi > lainnya. > Tapi kalau di Indonesia, (mudah-mudahan saya keliru) > image seorang dokter adalah profesi pemberi jasa > yang sifatnya sosial. Rasanya tidak enak seorang > dokter berbicara soal tarif, dan masyarakatpun > terbiasa untuk menggratiskan tarif dokter .... kan > tugas mulia, kan tugas sosial. Buat mereka para > dokter yang sempat tugas di daerah pasti banyak > cerita soal ini :-) > Mangkanya dokter yang tarifnya murmer (murah meriah) > banyak di lirik orang dan dikagumi. Orang hanya > liat nominalnya saja, mutunya belakangan .... dalam > arti kalau terdapat malpraktek pun juga "diampuni" > (bukan berarti yang murmer banyak yang malpraktek) > Juga pada pengobatan alternatif, paranormal atau > sangkal putung / dukun patah tulang, tidak ada > istilah malpraktek antara lain (mungkin) karena > tarifnya dapat dijangkau meskipun kalau mau di > runtut banyak juga kasus malpraktek dari > praktek-praktek yang seperti itu. > > Kembali soal demo, dokter di Indonesia kalau boleh > jujur pasti maunya demo ... tapi karena sudah ada > pagar/batas tidak pantas untuk demo, akibatnya yaa > nggerundel sendiri di 'belakang'. Sudah terbelenggu > dengan batasan, dokter adalah profesi sosial demi > kemanusiaan dan ujung-ujungnya gratis. Kalau demo > siapa yang ngurusi RS, ada orang sakit apakah harus > ditelantarkan ? (walaupun kenyataanya kalo dokter > demo kan kayak tugas jaga malem, jadi yang demo yaaa > demo yang kerja di RS yaa tetep kerja cuma tetep aja > masyarakat melihatnya tidak pantas kalau tenaga > medis itu demo) > > Dokter termasuk profesi yang memberikan jasa .. sama > dengan (misalnya) tukang jahit, stylist yang > disalon-salon itu . Hanya dokter nilainya tentu > lebih tinggi karena ga ada kan tukang jahit atau > stylish yang 24 jam, kemudian ga ada juga istilah > malpraktek ? walaupun sebenernya kita bisa nuntut > kalo tiba-tiba baju yang kita pesan jadi > kekecilan/kebesaran, atau abis potong rambut > tiba-tiba potongan rambutnya "njegrig" ga > karu-karuan dan profesi tk jahit / stylish juga ga > ada hubungannya dengan kematian. Logikanya memang > seharusnya dokter dibayar lebih besar (saya tiba-tba > jadi ingat untuk op herniorafi pasien askes, jasa > yang diberikan untuk dr bedah amat sangat berbeda > jauuuuuuuuh dengan biaya yang harus dibayar untuk > membuat jas praktek atau untuk rebonding rambut di > salon-salon padahal tindakan herniorafi adalah > tindakan yang dapat mengancam jiwa sedangkan buat > jas atau rebonding disalon ga ada kaitannya dengan > mengancam jiwa ..) > Tapi itulah, dokter adalah profesi pemberi jasa > yang sifatnya sosial. Rasanya tidak enak seorang > dokter berbicara soal tarif, dan masyarakatpun > terbiasa untuk menggratiskan tarif dokter .... kan > tugas mulia, kan tugas sosial :-) > > dr.Agnes, > Saya percaya para dokter di Indonesia semuanya > bersatu kok (solid banget), kerasa terutama kalau > tugas di daerah ... Dan para dokter kalaupun tidak > pernah demo, bukan berarti mereka mengalah. Kan ada > cara lain yang lebih elegant .... istilahnya dokter > itu "ga ade matinye" ... > Kalau soal persaingan ... itu biasa .. profesi > manapun pasti ada persaingan, kan persaingan yang > sehat ... ga ada persaingan yang sifatnya saling > menjatuhkan (saya ga pernah mendengar atau melihat > kasus spt itu, antara TS kan katanya saudara > sekandung ) > Kalaupun terkesan ada TS yang tidak bisa membantu TS > yang lain yang sedang "merasa kesusahan" mungkin > bukannya tidak mau membantu tapi TS yang diharapkan > dapat membantu tadi, (sebenernya) lagi kesusahan > juga, TS itu lagi ribet juga Nes ... :) > Kalau ada TS yang terkesan lebih "dimudahkan" urusan > birokrasinya karena anak si anu atau kenal si anu > pejabat penting di suatu instansi tertentu .... > aaaah .. kualitasnya pasti beda jauh sama TS yang > penuh dengan perjuangan bahkan sampe nangis darah > hehe (mohon maaf kalau ada yang tersinggung) > > Untuk merubah semuanya yaaaa ... serahkan sama yang > diatas aja lah yang lebih berwewenang :) Sayangnya > biasanya yang mengurus para dokter itu kebanyakan > jabatannya struktural jadi ga pernah dilapangan, ga > tau sepak terjang dan keluh kesah di lapangan. > Mereka ga pernah ngerasain ada dokter yang dibawain > parang, di tempelin fotonya di pohon trus di atas > fotonya di tarok panah menandakan jiwanya terancam, > meninggal karena tertembak waktu gencatan senjata, > mbenerin rumah dinas sendiri sampe ber jut-jut tapi > ga ada penggantian sampai akhir masa tugas, gaji > yang terlambat sampai berbulan-bulan itupun masih > dipotong sana-sini, siap menandatangani SPJ / > kuitansi kosong karena ga punya kuasa untuk > menanyakan berapa sebenarnya uang yang didapat, > mengalami diskriminasi saat mau menjalankan tugas > atau melanjutkan sekolah, diskriminasi agama, > kesukuan atau jenis kelamin, dll. > > Perubahan mungkin bisa dimulai dengan antara lain, > ubah image profesi dokter , regulasi penempatan > dokter diperbaiki, kalau kenyataannya banyak lulusan > dokter yang masih banyak nganggur yaaa FK2 yang > menelurkan dokter itu di priiiiit .. dikasih batesan > cuma nerima calon mahasiswa sekian untuk setiap > tahunnya. Jika PTT menjadi suatu hal yang wajib, > maka untuk yang baru lulus harus langsung di berikan > tempat untuk PTT dengan jaminan yang layak di tempat > tugas selain itu secara perodik ada tim yang > bertugas untuk memonitoring dan mengevaluasi segala > kesulitan yang dialami para dokter yang bertugas di > suatu daerah sehingga dihasilkan suatu penemuan yang > objektif. > Pilihan lain juga bisa di lakukan misalnya setelah > lulus apakah ditempatkan sebagai dokter keluarga, > dokter perusahaan, dokter yayasan tertentu, atau > untuk misi pengobatan massal, baksos, dllnya, atau > mau meneruskan sekolah lagi. > Hidup dokter Indonesia, tetap semangat dr. Agnes !! > Salam, Lakshmi > > > > ----- Original Message ----- > From: agnes sukenty > To: [email protected] > Sent: Thursday, January 19, 2006 6:55 PM > Subject: [MLDI] Dokter di Jerman Berdemo... > > > Harap hemat bandwith > ---------------------- > Dear All. > Kalau mungkin rekan2 sempat melihat acara Liputan > 6 Pagi di TV sebelum jam 7 pagi, pasti akan melihat > berita dokter di Jerman demonstrasi. Yang dituntut > adalah perbaikan pendapatan dan perbaikan birokrasi. > Hebatnya dokter2 disana bisa bersatu untuk > menyatukan suara. Bukan seratus dua ratus orang yang > berdemo tapi ribuan, sehingga banyak klinik-klinik > yang tutup hari itu. > Mungkin kita sebagai dokter-dokter di Indonesia > bisa berkaca dari para dokter yang ada di Jerman > tersebut. Bukankah masalah kita disini hampir sama > dengan mereka? Bahkan lebih parah? Pernahkah kita > dokter merasa sudah sekolah mahal2 dan susah, pas > jadi dokter malah sulit dapat penghasilan dan pas > dapat penghasilan malah setara dengan UMR? ketika > giliran sudah punya penghasilan dan ingin > spesialisasi eh biayanya super mahal dan perlu > referensi sana sini? belum lagi urusan birokrasinya. > Tapi hebatnya, dokter-dokter Indonesia yang sudah > banyak tertindas itu bukan malah makin solid, tapi > tetap sendiri-sendiri dan memilih mengalah. Yang > berhasil ya melupakan yang belum berhasil, giliran > yang belum berhasil hanya meratapi nasib... uh > sedihnya. > Nah... mungkin kini saatnya kita dokter2 di > Indonesia lebih peduli dengan sesama teman > sejawatnya. Semoga apa apa yang terjadi di Jerman > bisa membuat kita menyadari bahwa sudah saatnya > menyatukan suara untuk kebaikan. Cuplikan berita > bisa dibaca di : > http://hosted.ap.org/dynamic/stories/G/GERMANY_DOCTORS_STRIKE?SITE=NCASH&SECTION=HOME&TEMPLATE=DEFAULT > > > regards, > dr Agnes Niken > www.dokterniken.com > > _______________________________________________ > MAILING LIST DOKTER INDONESIA (MLDI) > Sejarah, etika bermilis dan arsip, > subscribe/unsubscribe dapat diakses di : > http://www.mldi.or.id atau > kirim mail ke: > mailto:[EMAIL PROTECTED] > &&&& > Informasi di atas adalah informasi kesehatan umum > dan tidak dimaksudkan untuk menggantikan nasehat, > diagnosis dan pengobatan dari tenaga kesehatan > profesional > _______________________________________________ > __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com Dapatkan informasi kesehatan gratis Mailing List Dokter Indonesia http://www.mldi.or.id Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/dokter/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
