Komunikasi Empati Dalam Bidang Kedokteran
oleh: Juswan Setyawan <[EMAIL PROTECTED]>

pertama kali diposting oleh penulisnya sendiri di:
http://groups.yahoo.com/group/vincentliong/message/15843
 


      Pagi ini sekilas saya membaca artikel “Supartono
Mengajar Empati” pada harian Kompas halaman 12. “Ah,
kebetulan saja”, batin saya berkata sambil melupakan
sama sekali artikel tersebut setelah membacanya
sekilas. Agak siang hari Vincent menilpon saya dan
menanyakan apakah saya sudah membaca artikel tersebut.
“Sama sekali tidak sama dengan konsep yang kita
bahas,” kata saya. “Hanya kebetulan saja” pikiran saya
terus ngotot sambil melupakan konsep Jungian
Synchronity yang pernah disebut-sebut sebelumnya saat
membahas monyet-monyet pulau Koshima. Saat kita
membahas komunikasi empatik maka mungkin mulai semakin
panjang deret orang akan membicarakan topik yang sama
sebelum pecahnya pandemi selewat orang ke-100 yang
membahasnya.

“Tentu saja lain,” kata Vincent. “Kita bicara tentang
dan mengembangkan Perangkat Hardware tetapi Supartondo
hanya bicara soal Software. Yang mampu berbicara soal
software hanya penemunya sendiri yang memahaminya.
Sebaliknya jika kita mengembangkan suatu Perangkat
Hardware maka untuk applikasinya semua program
software yang compatible dapat dijalankan melalui
Perangkat Hardware tersebut”. “Oh, begitu rupanya,”
pikir saya sambil mengangguk-angguk tidak jelas -
karena kami hanya terhubung oleh rentangan kabel saja.

 

      Prof. Supartondo juga banyak membahas soal “das
Sollen” atau “what should be done” dalam bidang
kedokteran di Indonesia, walaupun beliau sendiri
mempraktekkan maupun mengajarkan soal pentingnya
komunikasi empatik bagi para mahasiswanya. Di
Indonesia profesi dokter itu masih berat berorientasi
kepada “pertukangan” – aku jadi teringat serial Si
Doel yang disebut “tukang insinyur” oleh babenya.
Mendingan, karena insinyur memang hanya berhadapan
dengan mesin tetapi di Indonesia ini kerap kali pasien
juga lebih dipandang sebagai obyek (percobaan,
pengobatan, ekonomi) bahkan tidak jarang dianggap
sebagai sekedar nomor numerik.  Komunikasi empatik
lebih kerap terjadi di kalangan dokter muda perifer di
mana pasien masih jarang dan mereka punya relatif
lebih banyak waktu dalam menunggu datangnya pasien.
Dulu sewaktu masih bekerja di dunia farmasi para
detailer kami sering berhubungan dengan dokter perifer
karena dokter urban sudah menjadi “captive market”
para detailer dan pabrikan PMA dan PMDN yang berani
melakukan “program kerjasama” yang sangat menggiurkan
sekaligus mengikat seperti tentakel oktopus. Kami dari
perusahaan lokal hanya mampu melancarkan strategi
marketing model “manajemen qalbu” – kalau boleh
meminjam istilah dari Aa’ Gymanstiar yang beken dewasa
ini.

 

      Alkisah ada dokter-dokter muda yang menunggu
pasiennya dengan pakaian agak santai dan hanya
bersandal jepit. Kami “mendorong” mereka dengan
super-halus untuk berpakaian jubah putih profesional
dengan stethoscope di lehernya dan memakai sepatu
serta menginduksi cara bagaimana berkomunikasi yang
empatik dengan para pasien. Pasien itu bukankah pada
dasarnya adalah juga orang yang sedang “minta
perhatian” dan kerapkali lebih berat kadarnya mengidap
penyakit “psikosomatis” daripada fisis semata-mata.
Kalau kena flu misalnya,  akan sembuh sendiri dengan
cara cukup beristirahat dan makan vitamin dan
sejujurnya apa perlunya pergi berobat ke dokter? 
Kepada mereka juga dianjurkan supaya sedikit-sedikit
mulai memakai dialek-dialek lokal supaya para pasien
menjadi agak “tertegun dan tersanjung” terutama bila
dokter itu (biasanya) dari daerah dan budaya lain. 
Juga dalam mendiagnosa penyakit dengan lebih teliti
dan agak lamaan sedikit serta mau menjawab
pertanyaan-pertanyaan “tolol” dari para pasiennya. 
Bukan untuk membuat mereka menjadi pintar tetapi
sekedar membuat mereka puas hatinya. Apalah ruginya,
toch waktu banyak tersedia karena pasiennya masih “do
re dan mi”.  Namun, bila para pasien yang “do re mi”
itu merasa puas atas pelayanan dokter yang ramah dan
teliti, maka mereka dengan sendirinya akan menjadi
agen promosi secara getok tular untuk mendatangkan
pasien baru – terutama keluarga dan temannya – bagi
dokter tadi. Itu tadi adalah kilah dan strategi
marketing perusahaan pelanduk yang kerapkali kewalahan
berhadapan dengan para perusahaan gajah.

Rumah Sakit Pluit - misalnya saja, mempunyai Direktur
yang sangat ramah dan memperhatikan sekali para pasien
pribadi yang dirawat di sana. Ini bukan promosi tetapi
ia mempromosikan dirinya sendiri dengan kebiasaan
komunikasinya yang empatik.

Menarik membaca kisah bagaimana para dokter muda
sukarelawan dari Cina sempat memukau para pasien yang
patah tulang akibat gempa bumi di Yogya dan
sekitarnya. Lha orang Yogya “yang halus” akan mati
kutu ibarat aksara hanacaraka yang “dipangkon”. 
Itulah bukti nyata betapa dokter cekatan dan
komunikatif empatik disenangi oleh banyak orang.
Sayangnya pemerintah kita malahan menilai bantuan
kesehatan pihak asing sudah waktunya untuk dihentikan.
Betapa sikap (arogan) dan keputusan (naif, nekad)
seperti itu patut disayangkan ! Orang lain ikhlas mau
menolong kok disuruh berhenti padahal para pasien
masih sangat banyak yang harus ditangani -  bukan
hanya secara memadai tetapi juga secara manusiawi dan
empatik.

 

     Artikel itu juga membicarakan soal syarat
penerimaan mahasiswa kedokteran yang hanya terutama
difokuskan pada soal kepintaran. Sahabat saya, alm.
Drg. Chudorry pernah mengatakan mahasiswa pintar yang
cepat-cepat mau lulus itu akan miskin kasus dalam masa
kuliah prakteknya yang singkat di rumah sakit, jadi
akan rugi sendiri nantinya.  Hal ini terjadi juga
dalam kedokteran gigi. Geraham anak saya ditangani di
klinik 24 jam oleh dokter gigi lulusan baru dan
akibatnya sangat fatal. Sewaktu memberi suntikan
anestesi muka anak saya menjadi bengkak seperti bakpao
namun gusi tetap tidak kebas sehingga penanganan tidak
dapat dilanjutkan. Ternyata, menurut dokter gigi yang
senior penyuntikan itu telah keliru arah. Orang awam
mana mengerti detil seperti itu, sedangkan dokter baru
itu saja tidak paham apa kekeliruannya menyuntik. Jadi
sebenarnya mereka itu baru berhak menerima predikat
Sarjana strata satu Ilmu Kedokteran Gigi tetapi belum
laik praktek.  Menurut kurikulum lama konon seorang
kandidat harus sudah menangani pencabutan minimal 100
buah geraham baru boleh lulus sebagai dokter gigi.
Lalu mengapa kemudian kurikulum yang baik itu diubah,
apakah fakultasnya hanya sekedar berperilaku seperti
sopir yang mengejar target setoran? Kemudian anak saya
pindah ke dokter yang lebih senior sekaligus lebih
komunikatif secara empatik dan malahan sampai
menghabiskan biaya melebihi satu juta rupiah untuk
geraham celaka yang satu itu, yang semula berobat ke
klinik supaya murah meriah. Seperti pada kedokteran
umum berobat pertama-tama adalah soal “life saving”
dan penanganan geraham pada kedokteran gigi juga
sebaiknya tidak berdasarkan pertimbangan “cost saving”
semata-mata. Bukan hanya akhirnya terpaksa
mengeluarkan biaya yang jauh lebih besar tetapi juga
kondisi geraham yang rusak parah karena terlanjur
dibor terlalu luas itu dinding giginya menjadi terlalu
tipis, rapuh dan mudah terbelah.

Masalah komunikasi empatik juga sangat penting dalam
bidang kedokteran gigi. Putri saya pernah berobat ke
dokter gigi yang sangat tidak simpatik. Waktu beliau
hanya diminta supaya menyesuaikan tingginya kursi maka
dokter itu dengan agak membentak mengatakan bahwa anak
saya itu amat cerewet. Alhasil, ia kemudian kehilangan
pasiennya itu dan banyak lagi pasien potensial yang
lain kemudian sampai akhirnya prakteknya terpaksa
ditutup karena minus pasien sedangkan pada para dokter
gigi lain pasiennya antri sampai tengah malam.  What a
difference the situation with and without an emphatic
communication would be and has been.

 

        Satu hal lagi yang disebut-sebut dalam artikel
tersebut ialah tentang ketrampilan berkomunikasi
dengan  para pasien uzur dan pasien dengan jenis
penyakit yang “uncurable” lagi (kanker stadium empat;
Alzheimer, gagal jantung, gagal ginjal dsb). Belum
lagi bicara tentang pentingnya jenis komunikasi
empatik untuk mempersiapkan pasien secara psikologis -
dan bila mungkin secara spiritual bagi para pasien
uzur yang sedang menghadapi ajalnya yang sudah
mengintip di depan pintu di rumah sakit tersebut.

 

Jakarta, 4 Juni 2006.

Juswan Setyawan



Send instant messages to your online friends http://au.messenger.yahoo.com 


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Protect your PC from spy ware with award winning anti spy technology. It's free.
http://us.click.yahoo.com/97bhrC/LGxNAA/yQLSAA/asSolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Dapatkan informasi kesehatan gratis
Mailing List Dokter Indonesia
http://www.mldi.or.id 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/dokter/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke