<Out Of Topic>
Paradox Ilmu Baru

Penulis: Juswan Setyawan

pertama kali diposting oleh penulisnya sendiri di:
http://groups.yahoo.com/group/vincentliong/message/15856
 

        Ilmu yang sama sekali baru dan belum ada
preseden sebelumnya disebut “ilmu laduni”. Saya pernah
dikenalkan dengan seorang Ustadz yang pakar dalam ilmu
tentang burung walet dari suatu pon-pes di Kabupaten
Subang. Ia tahu persis burung walet itu paling suka
datang ke rumah yang dibangun di atas tanah jenis apa,
misalnya yang pasti di atas jenis tanah yang sedikit
banyak mengandung unsur minyak bumi dan jenis-jenis
tanah mana pula yang tidak disukai burung walet. Ia
tahu bagaimana menyiasatinya sedemikian rupa sehingga,
walaupun tanahnya kurang sesuai tetapi burung walet
bisa juga dibuat tertarik untuk datang.  Ia juga tahu
jenis-jenis kayu yang disukai walet untuk bersarang
pada kisi-kisinya, yang pasti misalnya jenis kayu
Sonokembang. Ia juga tahu jenis serangga yang disukai
burung walet. Ia tahu bagaimana warna sarang burung
walet yang terbentuk pada musim kemarau dan musim
penghujan.

Karena ilmunya yang canggih itu ia dipanggil ke
mana-mana sebagai konsultan bagi pembangunan rumah
walet. Salah satunya berada di Bandar Lampung dan di
jantung kota Kerawang di mana rumah walet yang
dibangun lebih mewah dari pada rumah hunian manusia.
Mungkin dapat disamakan dengan hotel bintang lima
untuk para unggas walet.

Tentu saja pengetahuan asli seperti ini dikembangkan
sebagai hasil observasi yang panjang dan tidak banyak
akan dijumpai referensinya pada kepustakaan yang ada.
Bagi kita yang awam hampir tidak mungkin untuk
mengenal jenis-jenis tanah seperti ‘tanah api’ kecuali
menjadi mahasiswa ilmu pertanahan.

 

      Suatu ilmu baru sangat berbeda dengan ilmu
klasik yang sudah ada. Ilmu yang sudah mapan itu
memiliki referensi kepustakaan yang kaya dan kuat
sekali yang memungkinkan pengembangan lebih lanjut
baik atas dasar riset kepustakaan apalagi kalau dengan
riset lapangan. Ilmu yang mapan sangat kuat mengandung
sifat unsur Tanah. Tanah adalah tempat orang berpijak,
mendirikan bangunan, mengkultivasi tanaman dsb. Maka
dari itu tanah yang sudah ada hanya dapat digarap
dengan lebih baik melalui perbaikan dalam ilmu teknik
pengolahan tanah, pemilihan bibit unggul, pembibitan
silang, kultur jarangan dsb. Ilmu yang sudah mapan
berkembang atas dasar prinsip dan metodik memetika
yang sejajar dengan prinsip duplikasi mikrobiotika.

 

      Ilmu baru harus dimulai dengan mengandalkan
unsur Angin. Karena segala sesuatu dimulai dari
kekosongan. Di angkasa tidak terdapat apa-apa kecuali
angin.  Kita tidak pernah tahu dari mana angin berasal
dan ke arah mana ia akan bertiup. Ilmu baru tidak
mungkin mengandalkan unsur Tanah karena referensinya
sama sekali belum ada. Orang harus terus menerus
menggali dan melakukan observasi lewat referensi yang
laksana kepingan-kepingan teka-teki jigsaw dan
mengadakan induksi secara terus menerus.  Angin hanya
terdengar suaranya – dan kadang-kadang membawa serta
bau – entah harum entah bau busuk. Tetapi Angin
mempunyai daya energi dinamika yang luar biasa,
seperti angin topan, taifun, cyclon, hurricane atau
puting beliung yang mampu meluluh-lantakkan semua
bangunan yang dilaluinya. Bangunan lama memang
diruntuhkan (dekonstruksi) sehingga dimungkinkan untuk
upaya pembangunan kembali (rekonstruksi) namun tanah
itu sendiri tetap bertahan (faktor konstante).
Demikian pula dalam bidang ilmu pengetahuan akan
selalu terjadi dekonstruksi dan rekonstruksi lewat
kegiatan-kegiatan yang sifatnya transformatif.

 

      Logika dan Komunikasi Empati dimulai dengan
Kitab Angin. Tidak mungkin dimulai dengan Kitab Tanah.
Sebagai kelanjutan dari Kitab Angin akan disusul oleh
Kitab Api. Mengapa Api?  Karena api mempunyai dinamika
dan potensi untuk membakar hangus (dekonstruksi)
bangunan lama sehingga dimungkinkan didirikannya
bangunan baru (rekonstruksi) yang lebih sesuai dengan
lingkungan dan zamannya.  Adalah sifat api untuk
membakar-bakar di sana sini, membuat panas apa yang
sudah dingin dan membeku. Selanjutnya angin tetap
dibutuhkan oleh api karena oksigen dari angin yang
mampu membuat api berkobar semakin besar dan merambat
ke mana-mana.  Lama kelamaan angkasa tidak kosong lagi
karena mulai ada awan-awan.  Tetapi untuk membentuk
awan perlu ada unsur air yang dipanaskan oleh unsur
api dan diakumulasikan oleh unsur angin.

Dalam bidang ilmu pengetahuan juga demikian halnya.
Para ilmuwan yang sudah mapan dan established –
apalagi yang termasuk kategori pakar - akan panas
hatinya kalau dibakar-bakar – dipanas-panasi oleh ilmu
baru yang bersinggungan baik secara tidak langsung,
apalagi secara langsung dengan bidang yang memang
sudah didaku sebagai bidang ekspertisenya.  Kitab
Angin akan menyebar dengan cepat ke mana-mana dan
ditanggapi dalam dua bentuk utama. Ada yang ditanggapi
secara berkobar-kobar untuk menanti apa kelanjutannya
tetapi ada pula yang khawatir tersingkir dari arenanya
yang mapan, tetapi umumnya dengan sikap ‘Wait and See”
dan sikap “Show Me” what next?

 

      Setelah Kitab Api seharusnya dan wajib diikuti
oleh Kitab Air.  Air memiliki sifat yang “cooling
down” mengimbangi hawa panas (the heat)  yang dibawa
oleh unsur Api.  Air juga memiliki daya serap
(absorbability) yang tinggi dan daya penyusupan
(penetrability) secara diam-diam yang melebar luas.
Adonan yang diberi ragi yang dicairkan dengan air akan
membuat substansinya mengembang beberapa kali volume
aslinya. Dengan Kitab Air diharapkan Logika dan
Komunikasi Empati akan mulai mengkristal dan mempunyai
bentuk yang kurang lebih sudah memenuhi syarat minimal
bagi eksistensinya; tidak lagi “mengambang” seperi
pada taraf Kitab Angin atau “provokatif” seperti pada
Kitab Api.

 

        Taraf terakhir akan muncul Kitab Tanah yang
akan memberi dasar fondasi yang kuat bagi bangunan
fisiknya.  Sekali suatu ilmu baru mencapai taraf dan
sifat Tanah maka ia harus siap digempur, dibajak,
diluluh-lantakkan atau secara positif dijadikan batu
pijakan (stepping stone) bagi pengembangannya sendiri
untuk selanjutnya sesuai prinsip hukum dasar
organisme. Prinsip itu ialah “sekali suatu organisme
hidup, maka ia mempunyai hak untuk bertahan,
berkembang dan untuk hidup terus selamanya”.

 

      Bila keempat kitab itu sudah lengkap disusun
maka lengkaplah Caturlogi kitab Logika dan Komunikasi
Empati yang dikembangkan secara “customer
experiential” strategy. Para pembaca Kitab Angin
dibawa ikut serta dalam suatu pengalaman nyata tentang
bagaimana suatu ilmu itu diciptakan dan dikembangkan.
Maka dari itu disusun secara E-Book system dan bukan
dalam bentuk buku cetak. Bila kita membaca buku cetak
maka kita kehilangan kenikmatan proses penyusunannya
tahap demi tahap yang hanya dinikmati - atau bahkan
diderita (suffering the pain) - oleh penulisnya
sendiri. Dalam Kitab Api urutan bab-babnya sangat
longgar dan siap diganti setiap saat. Tahu-tahu ada
artikel dari tanggal terbaru menyusup sebagai bab yang
lebih awal, hal yang tidak mungkin terjadi dalam buku
yang sudah tercetak rapi. Satu dan lain hal karena
ditulis berdasarkan sistem e-mail yang sangat bebas. 
Kita juga tidak pernah tahu kapan saatnya kitab
selanjutnya akan tercipta – tergantung ilham
penulisnya - karena sesuai prinsip Jungian Synchronity
kita tidak pernah tahu siapa yang akan menjadi monyet
Koshima yang ke-100. Tahu-tahu muncul tokoh baru yang
langsung berminat dengan Logika dan Komunikasi Empati
dan bersedia menjadi penulis atau co-contributor
bahkan untuk melakukan riset kuantitatif atas prakarsa
sendiri tanpa ada yang menyuruh apalagi memaksanya.

 

Jakarta, 5 Juni 2006.

Mang Iyus


Send instant messages to your online friends http://au.messenger.yahoo.com 


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Everything you need is one click away.  Make Yahoo! your home page now.
http://us.click.yahoo.com/AHchtC/4FxNAA/yQLSAA/asSolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Dapatkan informasi kesehatan gratis
Mailing List Dokter Indonesia
http://www.mldi.or.id 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/dokter/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke