Trima kasih Bung Arry,
  Saya kira yg harus dilakukan pemerintah bukan import beras, tetapi mengajak 
segenap komponen bangsa ini untuk mengolah apa yg bisa dijadikan alternatif 
bagi beras kita yg terus menerus mengalami penurunan produksi..
   
  Saya baca target produksi beras tahun ini akan mengalami penurunan tersebab 
banyak sekali masaalah yg muncul.. waduk gajah mungkur di Jateng mengalami 
masaalah , ini belum lagi bencana banjir dan keterbatasan lahan yg terus 
menyusut.. Pembangunan membikin lahan sawah kita terus mengalami penurunan, 
ditambah pola mentality anak petani kita yg  kurang kemauan untuk mengolah 
lahannya sendiri.
   
  Pemerintah kalau ingin melakukan diversifikasi pangan, lakukanlah itu dalam 
tubuhnya sendiri.. usulan saya:
   
  1. Seluruh jajaran Departemen dan Dinas pemerintahan Ambil Kebijakan untuk 
satu hari dalam seminggu untuk tidak mengkonsumsi nasi bagi pegawai Negeri.. 
ini akan berefek penurunan permintaan akan beras dan harga bisa stabil..
   
  2. Dep Pertanian mengusulkan dan mensosialisasikan pada berbagai media massa 
untuk mengajak seluruh lapisan masyarakat mengurangi makan nasi dan lebih 
banyak lauk/ sayuran.. dgn tujuan permintaan akan beras juga turun.. dan harga 
bisa stabil...
   
  3. Seluruh Media Massa diminta oleh Kementrian Menkominfo ( kementrian 
Komunikasi Informasi) untuk mensosialisasikan dan menginformasikan berbagai 
jenis pangan yg tidak kalah kwalitasnya dgn nasi selaku alternatif, mungkin itu 
kacang ijo, roti jenis tertentu, bubur gandum, kentang, singkong olehan 
tertentu dll...
   
  4. Departemen Kesehatan mengajak dan mendorong ahli tata boga kita untuk 
mengkreasikan, menciptakan formula pangan tertentu yg tidak butuh nasi, tetapi 
dari segi kwalitas tidak kalah... mungkin dari gandum, kentang, singkong, ubi 
bisa juga dari sagu... Ini adalah kreatifitas pangan..
   
  5. Petani didorong untuk mengolah bahan pangan selain padi, dgn memberi 
berbagai bibit pangan non padi... Ini lagi-lagi bagian Dep Pertanian...
   
  6. Kesadaran bangsa ini perlu ditanamkan bahwa kecukupan produksi beras 
adalah mustahil dimasa mendatang tersebab banyak sekali kendala, terutama 
pemanasan global yg memunculkan berbagai bencana la nina dan el nino, terutama 
banjir yg bikin produksi beras tidak mungkin dilecut lebih tinggi sehingga 
butuh alternatif lain. belum lagi kalau kita bicara kekeringan . apalagi polusi 
akibat industri dan kendaraan bermotor telah amat membahayakan iklim global... 
dan  berdampak amat parah pada negara iklim tropis seperti Indonesia..     ini 
tugas Media massa baik cetak maupun elektronik...
   
  kalau ini tidak dilakukan... tidak ada lagi yg dapat saya sampaikan kecuali: 
matilah kau Indonesia... nyanyian kelaparan akibat beras mahal akan tetap jadi 
headline media kita dan pemerintah akan tetap mengalami gugatan...
  
Sang
  A Man From Minangkabau
   
   
  
--- In [email protected], "Arry Kusnadi" <[EMAIL 
PROTECTED]> wrote:

  Saya agree dgn paragraph terakhir "Sang" dibawah. Article dibawah ini
mungkin bisa dijadikan pacuan tuk hal itu.

Kearifan Lokal Buru
Bebas Beras ala Lumbung Suku Rana
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0703/01/humaniora/3349968.htm

Oleh Agung Setyahadi

Ketika di banyak daerah warga diintai kelaparan, suku Rana yang hidup
terisolasi di dataran dan perbukitan di sekitar Danau Rana, Pulau
Buru, Maluku Tengah, tak pernah dipusingkan dengan persoalan perut.
Mereka menyatu dengan alam untuk membangun lumbung pangan yang tak
lekang sepanjang masa. Bahkan warga Rana bebas dari kebutuhan beras.

Masyarakat Rana menanami lahan tadah hujannya dengan tanaman semusim
seperti jagung, kacang, padi, singkong, dan hotong (mirip gandum).
Tanaman pangan itu dibudidayakan secara bergiliran sesuai dengan
ketersediaan air pada lahan tadah hujan.

Jenis tanaman pangan pada setiap musim itu membentuk pola konsumsi
makanan yang mengikuti bahan pangan yang ada.

Masyarakat Rana tidak pernah terjebak dalam ketergantungan, karena
tidak pernah bergantung pada satu jenis bahan pangan. Mereka
menikmati apa saja yang dihasilkan oleh alam. Tidak ada gengsi-
gengsian harus makan beras.

Kemampuan mereka menyelaraskan diri dengan kondisi alam telah
membentuk kearifan terhadap bahan pangan. Mereka mampu membaca
potensi terbaik yang bisa diberikan alam untuk mendukung kehidupan.
Mereka tidak pernah tergoda untuk mengonversi kebun menjadi lahan-
lahan persawahan. Padi hanya ditanam saat musim hujan, itu pun tidak
seluruh kebun ditanami padi.

"Kami yang tinggal di sekitar Danau Rana ini tidak pernah kekurangan
pangan. Belum pernah terjadi musibah kelaparan di sini. Kami makan
apa yang dihasilkan oleh kebun," kata Wentis Waemesi, Portelu (kepala
suku) Waikolo di Dusun Waremang, Wamlana, Air Buaya, Pulau Buru.

Saat berkunjung ke perkampungan di sekitar Danau Rana, minggu lalu,
masyarakat setempat sedang melakukan panen kacang tanah. Warga di
enam dusun di sekitar Danau Rana, yaitu Waeremang, Waegrahe,
Waemamboli, Waemite, Kaktuan, dan Air Dapa, sibuk di kebun-kebun.
Panen hasil bumi merupakan rahmat yang harus disyukuri.

Oleh karena itu, sebagai rasa syukur, hasil panenan pertama tidak
boleh dijual, tetapi dimakan bersama-sama dengan seluruh warga
kampung. Bila hasilnya berlimpah, warga tetangga kampung juga
diundang makan bersama. Tradisi yang disebut wahadegen itu dilakukan
setiap panen pertama untuk semua jenis tanaman pangan.

Dalam perayaan wahadegen, puji syukur diwujudkan dalam tarian
ingafuka yang diiringi lantunan syair berbahasa Buru dan tetabuhan
tifa. Pesta rakyat penduduk Rana ini menyajikan berbagai makanan yang
dibuat dari hasil panen. Seperti saat wahadegen kacang di Waeremang,
hasil bumi itu disajikan dalam bentuk kacang goreng, kacang rebus,
sayur, dan kue kacang.

"Hasil panen harus selalu disyukuri dan kebahagiaan dibagi bersama
dengan seluruh warga. Selama ini kami tidak pernah kekurangan pangan
dan itu harus dipertahankan," kata Sudin Waemesi, warga Dusun
Waeremang.

Saat Kompas diundang bersantap malam di rumah Sudin, makanan utama
yang disajikan adalah singkong rebus, papeda sagu, sayur, dan ikan
mujair. Singkong rebus dan papeda berfungsi seperti nasi, dan sajian
lainnya sebagai pelengkap.

Singkong rebus disantap bersama mujair goreng ternyata sangat enak.
Apalagi papeda disiram kuah gulai morea (sejenis belut besar),
rasanya sungguh nikmat di tengah hawa sejuk Pegunungan Rana.

Ketahanan pangan mandiri

Singkong dan papeda (sagu), yang oleh sebagian orang dinilai sebagai
makanan konsumsi masyarakat kelas bawah itu, justru bagi masyarakat
Rana adalah anugerah tak ternilai. Predikat remeh-temeh yang
dilekatkan pada singkong dan sagu, luruh dalam kearifan yang
menghargai pangan lokal.

Sudin bangga menyajikan papeda sagu dan singkong rebus yang lembut
dan manis itu. Makanan yang mungkin dicap murahan itulah yang telah
menyelamatkan masyarakat Rana dari kelaparan dan penyakit busung
lapar.

Mereka juga tidak pernah dipusingkan dengan kekurangan persediaan
beras Bulog. Mereka tidak pernah antre untuk memperoleh beras seperti
yang terjadi di berbagai kota lain.

"Kalau kami di sini paling senang makan hotong karena rasanya lebih
lembut dari beras. Hotong juga tahan hingga tahunan dan tidak busuk.
Kapan-kapan kalau ke sini lagi, Bapak harus merasakan hotong kami,"
ujar Sudin membanggakan salah satu pangan lokalnya.

Masyarakat Rana terbebas dari ketergantungan pada beras karena
memiliki sistem ketahanan pangan mandiri.

Lumbung pangan mereka dibangun di atas fondasi kearifan atas bahan
pangan lokal. Mereka menikmati apa yang diberikan oleh alam tanpa
mengeluh karena tidak ada beras. Toh semua kebutuhan asupan gizi bisa
dipenuhi dari pangan lokal.

Kebutuhan karbohidrat dipenuhi dari singkong, sagu, hotong, dan padi.
Ikan mujair dan morea dari Danau Rana memasok kebutuhan protein.
Sedangkan vitamin dan mineral lain dipenuhi dari sayur-sayuran yang
tumbuh di sekitar rumah.

"Kami di sini bisa makan kenyang hanya dari hasil kebun. Singkong dan
sagu sudah cukup bagi kami. Makan beras kadang- kadang saja kalau
sedang panen," ujar Sudin.

Masyarakat Rana yang terisolasi karena ketiadaan akses jalan mampu
bertahan dengan menghargai pangan lokal. Bila mereka tergantung
dengan beras, tentunya 1.200 penduduk Rana akan kerepotan sendiri
karena harus berjalan kaki dua hari menuju desa terdekat, yaitu Desa
Unit VI atau ke Mako di Waeapo, sebagai sentra penghasil beras di
Pulau Buru dan Maluku.

Runyamnya lagi, tidak ada akses transportasi ke desa terdekat itu,
karena jalan yang dilewati pun merupakan hutan belantara dan jalan
eks jalur kayu hak pengusahaan hutan (HPH) milik PT Gema Hutan
Lestari dan PT Wahana Potensi. Itu pun dalam kondisi rusak dan sering
terjadi longsor.

Andai saja mereka tak memahami kearifan lokal, maka tak mustahil
ribuan penduduk Rana itu akan dengan cepat terancam kelaparan.

Ternyata, di tengah hutan di jantung Pulau Buru itu, masyarakat Rana
mengisi lumbung pangan dengan singkong, sagu, kacang, jagung, hotong,
dan sedikit beras. Bahan pangan lokal itulah yang membebaskan mereka
dari krisis pangan seperti dialami oleh masyarakat yang tergantung
pada beras.

Berkunjung ke perkampungan masyarakat Rana mengingatkan pada kekayaan
bahan pangan di bumi Nusantara yang telah lama terlupakan.



"Sang" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Saya setuju-setuju saja kalau ada beberapa kepingan peradaban kita
> yg jadi kekaguman global.. mungkin diantaranya adalah Borobudur yg
> diciptakan oleh orang-orang jawa yg amat fanatik pada nasi semasa
> abad pertengahan.... Setelah itu apa???
>
> Juga setuju ada bebeapa orang-orang kita yg punya prestasi global,
> mungkin juara bulutangkis, juara fisika, juara tinju, juara politik
> kayak Soekarna, Hatta dan beberapa betul-betul pantas dibanggakan
> output keluaran otaknya seperti Pak Habibie yg jenius
> aerodinamika... juga termasuk utut Adianto yg pemain Catur dgn
> kemampuan olah fikirnya, dan mungkin ada beberapa lainnya..
>
>
> Tetapi secara massal orang-orang kita lebih cenderung punya
> kemampuan kurang dibanding katakanlah bangsa swiss misalkan yg
hanya
> setitik noktah ditengah eropa...
>
> kemarin team sepakbola kita dicukur 3-0 oleh Oman yg setitik noktah
> kecil di timur tengah.. memalukan sekali... apa sebab???
>
> lalu kebanyakan kita leboih cendrung pada olah otot yg butuh
> karbohidrat tinggi seperti TKW dgn andalan otot dan dengkul
> dibanding otak yg lebih butuh protein, asam amino dan vitamin plus
> mineral... supaya tetap bersemangat mereka yg jadi budak
> dimancanegara ini disanjung-sanjung selaku pahlawan devisa...
> Sementara orang-orang kita yg mengandalkan otak juga terbang keluar
> negeri dan malahan sebagian menetap disana...
>
> tinggallah pemakan nasi murni selaku pembangun peradaban kita dan
> hasilnya beras yg jadi makanan pokok kita menjadi masaalah besar
> dan jadi komoditas politik... padahal yg goblok adalah pengambil
> kebijakan pangan dari pemimpin- pemimpin kita yg pemakan beras yg
> terlalu mengidolakan nasi selaku konsumsi massal... dan akibatnya
> adalah ketakutan akan kelaparan... terpaksa jugalah pemakan nasi
> membeli beras walau dgn harga yg mahal...dan akibat sampingan
adalah
> devisa yg terkuras untuk import beras oleh sebab bangsa ini terlalu
> doyan nasi..
>
> Seandainya beras tidak lagi jadi komoditas utama, saya kira krisis
> pangan yg terjadi saat ini, mungkin tidak akan lagi terjadi ditahun
> mendatang... seandainya orang kita mulai mengganti beras dgn
> kentang, singkong, ubi jalar, jagung dan dioleh dgn lauk-pauk yg
> cukup, saya kira hidup kita akan lebih berkwalitas dan tidak akan
> ada lagi teriakan beras mahal atau teriakan kelaparan tersebab
> makanan kita telah amat beragam... dan petani beras mungkin tidak
> akan lagi dikejar-kejar tengkulak tersebab petani mulai menanam apa
> saja yg dibutuhkan sebagai makanan pokok...
>
>
> Sang




   
   

 
---------------------------------
Expecting? Get great news right away with email Auto-Check.
Try the Yahoo! Mail Beta.

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Something is new at Yahoo! Groups.  Check out the enhanced email design.
http://us.click.yahoo.com/kOt0.A/gOaOAA/yQLSAA/asSolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Dapatkan informasi kesehatan gratis
Mailing List Dokter Indonesia
http://www.mldi.or.id 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/dokter/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/dokter/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke