Tool dan Tool ..sekilas pandang ditulis oleh: Mochamad Riza <[EMAIL PROTECTED]>
(Pertama kali diposting di e-link: http://groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif/message/18115 ) Beberapa waktu yg lalu ada rekan dimilis ngirimin saya e-book (Falun gong). Maka sih banget mayan dpt e-book gratis ^_^. Penasaran tak baca bukunya. Setelah membaca beberapa bagian awal...saya menyimpulkan : Isinya lumayan memperkuat, membenarkan, apa yang saya alami, yang mana secara umum bisa dianggap &[EMAIL PROTECTED] Selain itu buku ini punya keunikan. Nah uniknya buku ini, penulis memberikan semacam tool pada setiap pembacanya. Gunanya tool ini supaya pembaca memahami apa yang coba diungkapkan oleh penulis. Maksudnya secara langsung pembaca ikut : melihat, mengalami, merasakan apa yang di alami oleh si penulis. Nah kemampuan pembaca dalam merasakan atau menikmati manfaat tool yg diberikan si penulis, tergantung pada tingkatan atau sejauh mana pemahaman sipembaca pada masalah spiritual. Salutnya lagi tool ini ada disetiap tingkatan. Nah tool-tool semacam ini mengingatkan saya pada kompatiologinya si Vincent. Setiap orang yg terdekon otomatis dia mempunyai semacam tool baru. Tool yang unik, yang hanya dimiliki oleh orang tersebut. Dalam perjalanannya setiap yang terdekon akan mampu menjadi dirinya sendiri. Hingga pada satu titik tertentu, atau dengan kata lain mencapai suatu batasan tertentu yang mana setelah lewat batasan atau titik tertentu orang yang terdekon ini baru benar-benar memahami tool yg ada dan bukan sekedar memakainya saja. Selama ini yang saya amati, setiap orang yang terdekon atau orang yang dekat dengan vincent seolah-olah mempunyai ketergantungan yang besar pada si vincent. Jika si vincent cape atau mengalami suatu hal yang serba gak pasti otomatis para dekoners..ikut merasakan. Entah itu secara tidak langsung atau langsung. Nah apakah berarti dekonnya tidak jalan. Bukan...dekonnya tetap berjalan...namun kembali pada yang terdekon. Maksudnya jalur yang digunakan (kompatiologi) pada dasarnya adalah jalur spiritual juga, tool yang digunakan adalah tool spiritual juga. Artinya org yang terdekon cepat atau lambat harus paham jalur spiritualnya sendiri dan memahami tool yg digunakannya itu ada dlm tingkatan mana. Selama org yg terdekon belum bisa atau menemukan tool yang diberikan si vincent maka ketergantungan ( timbul kurang pede dan akhirnya mesti telp vincent dulu baru pede lagi-kayak batere mesti di recharge ulang) tetap masih ada. Bahasa lainnya..setiap orang yang terdekon mesti menjalani bolak balik, jatuh bangun hingga suatu titik, menemukan tool atau materi sendiri barulah dia bisa lepas dari ketergantungan dari vincent. Oh ya minggu yg lalu saya liat tulisan2 Mas Audi...dan bahasanya semua masalah Ketuhanan. Sempat tersirat ...timbul tanda tanya ..tumben nih..ada apa ya. Nah jawabannya ternyata...si Audi ada di Jakarta dan nginap di rumah vincent. Lah hubungannya apa? Gini dalam kaca mata saya ..keberadaannya Mas Audi ini dan tulisannya akibat interaksi dgn vincent. Bahasa lainnya....Mas audi ini seperti diberi vitamin secara gak langsung oleh vincent, ter booster..hingga menelurkan tulisan2 berbau ketuhanan. Salah atau benernya ini hanya dugaan saya dan dugaan inipun sudah saya sampaikan ke vincent, hanya sayangnya belum bicara langsung dgn Mas Audi (lagi bobo sih wkt gue datang). Kembali pada buku falun gong, tool yg diberikan oleh penulisnya..akan hilang jika melanggar suatu larangan keras yg diberikan. Pada akhirnya sipelanggar akan kembali menjadi manusia biasa. Kalo dgn kompatiologi...gimana? dari diskuss saya dgn vincent juga pengamatan..... tool itu tetap ada walau yg terdekon berbuat apapun. Demikian sekilas pandangnya.. Monggo Mas ISF, Mas Pri, Mbah NR, Mas goen Mas tuhantu, Mas Goen..mbak Pipit, mba Isti de el el...sharingnya di tunggu Salam riza (Note: e-mail Mochamad Riza: [EMAIL PROTECTED] ) Diskusi berkaitan dengan tulisan ini dilakukan secara unmoderated di maillist: * Maillist [EMAIL PROTECTED] http://groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif/message/18115 * Maillist [EMAIL PROTECTED] http://groups.yahoo.com/group/vincentliong/message/20363 Maillist-maillist tempat mendiskusikan Kompatiologi: http://groups.yahoo.com/group/komunikasi_empati http://groups.yahoo.com/group/vincentliong/ http://groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif/ http://groups.yahoo.com/group/r-mania LAMPIRAN (Jawaban resmi versi Vincent Liong) Menjawab email Tool dan Tool ..sekilas pandang karya mas Riza oleh: Vincent Liong (pendiri kompatiologi) Mas Riza, saya setuju tentang penjelasan mas Riza soal kesamaan antara ilmunya Falun Dafa dan Kompatiologi. Seperti tulisan mas Riza, sbb: Nah uniknya buku ini, penulis memberikan semacam tool pada setiap pembacanya. Gunanya tool ini supaya pembaca memahami apa yang coba diungkapkan oleh penulis. Maksudnya secara langsung pembaca ikut : melihat, mengalami, merasakan apa yang di alami oleh si penulis. Nah kemampuan pembaca dalam merasakan atau menikmati manfaat tool yg diberikan si penulis, tergantung pada tingkatan atau sejauh mana pemahaman sipembaca pada masalah spiritual. Salutnya lagi tool ini ada disetiap tingkatan. Nah tool-tool semacam ini mengingatkan saya pada kompatiologinya si Vincent. Setiap orang yg terdekon otomatis dia mempunyai semacam tool baru. Tool yang unik, yang hanya dimiliki oleh orang tersebut. Dalam perjalanannya setiap yang terdekon akan mampu menjadi dirinya sendiri. Hingga pada satu titik tertentu, atau dengan kata lain mencapai suatu batasan tertentu yang mana setelah lewat batasan atau titik tertentu orang yang terdekon ini baru benar-benar memahami tool yg ada dan bukan sekedar memakainya saja. (dikutip dari tulisan sdr Mochamad Riza di e-link: http://groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif/message/18115 ) Lalu apa yang membedakan ilmu Falun Dafa dan Kompatiologi ? * Ilmu Falun Dafa tools-nya bekerja pada hardware penggunanya. Yang dimaksut hardware di sini adalah instalasi penghubung antara software dengan output & input device indrawi. Seperti sebuah rumah akan juga dinilai dari fasilitas seperti ada tidaknya koneksi telepon, internet dan cable tv, di satu ruangan saja atau ada di setiap kamar, juga perlu diperhatikan instalasi kabel listrik, ada tidaknya pendingin ruangan, kulkas, kompor, dsb. * Ilmu Kompatiologi tools-nya bekerja pada tataran software penggunanya terutama bagian operating sistem (pengatur lalulintas informasi) dan sistem pengambilan keputusan. Seperti sebuah komputer ada Windows atau Linux-nya. Atau seperti setiap rumah memiliki denah pembagian ruangan yang individual yang membedakannya dengan rumah yang lain. Jelas kalau kita membedakan ilmu yang ber-basic tools yang sederhana seperti Falun Dafa & Kompatiologi dengan ilmu lain yang berbasis penormaan & pelabelan akan jauh berbeda. Ilmu kebanyakan sifatnya pelabelan dan penormaan, menjadikan kegiatannya sendiri sebagai object pengamatan tetapi tidak diajarkan untuk dipraktekkan secara subjective. Ilmu seperti Falun Dafa & Kompatiologi sifatnya mekanis dan langsung dipraktekkan secara subjective. Maka dari itu bung Riza, berkali-kali saya mengingatkan Falun Dafa misalnya dalam tulisan; Mengingatkan : Ilmu berkomitmen pada inti ilmunya sendiri. Di tulisan tsb saya mengingatkan di tiga paragraf yang saya akhiri dengan kata MENGAPA?!. Banyak murid saya yang bertanya kepada saya,mengapa saya tidak membuat sebuah ajaran yang bersifat believe sistem yang diajarkan kepada para pengguna kompatiologi ilmu yang saya lahirkan ini? Malahan membuat ilmu yang melarang para muridnya memberikan nasehat, konseling, dogma-dogma tertentu, sehingga sifat proses belajar kompatiologi seperti programmer komputer yang bekerja; dilarang untuk membuka atau mengutak-atik file interen / local wisdom perusahaan. MENGAPA?! Mengapa saya lebih memilih untuk membatasi diri saya dalam menulis dan membiarkan para murid saya sajalah yang masing-masing membuat buku tentang ilmu saya kompatiologi? Mengapa saya tidak membuat hak paten atas Kompatiologi agar lebih eksis sebelum ada orang lain yang mempatenkan kompatiologi agar terlihat secara resmi ilmu kompatiologi adalah miliknya? Dan saya katakan biar saja orang lain yang menipu diri dengan membuat hak patennya, toh bila itu terjadi yang akan dipegang oleh masyarakat adalah nama praktisi yang berkwalitas bukan nama ilmunya. MENGAPA?! Kalau pembajakan oleh pihak lain dengan membuat hak paten terjadi, saya akan menyatakan kejadian tsb kepada para murid saya dan membiarkan ilmu yang saat ini bernama kompatiologi itu sepertinya hilang, tetapi menyebar dengan berbagai nama berbeda di masyarakat, hanya persaudaraan tanpa bentuk organisasinya yang jalan. MENGAPA?! (dikutip dari tulisan sdr Vincent Liong di e-link: http://groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif/message/18212 ) Yang sangat amat penting diingatkan seperti makna dari kalimat: Mengingatkan : Ilmu berkomitmen pada inti ilmunya sendiri. Adalah komitmen dasar dari ilmu itu sendiri. Falun Dafa sepertihalnya Kompatiologi memiliki hubungan erat dengan ilmu Taoisme. Tao selalu menekankan bahwa Tao yang didefinisikan bukanlah Tao yang sebenarnya. Kata Tao sendiri dipilih untuk mewalili sesuatu yang tidak terjelaskan dan tidak berusaha untuk dijelaskan (dilabelkan, dinormakan, didefinisikan, distandarisasi, dlsb). Tao sendiri dibagi-bagi range-nya menjadi Manusia mengikuti aturan bumi, bumi mengikuti aturan langit dan langit mengikuti aturan Tao. Sebuah ilmu misalnya Falun Dafa dan Kompatiologi harus tahu diri bahwa letak posisi peran ilmunya adalah pada manusia, jadi masih banyak hirarki aturan di atasnya sebelum mencapai Tao. Dengan mengarahkan Falun Dafa pada pengkultusan sang guru dan penggunaan believe sistem yang sifatnya seperti agama akan membahayakan dan mengancam keberadaan ilmu Falun Dafa itu sendiri karena sifat ilmu Falun Dafa tidak sama paradigmanya dengan ilmu-ilmu kebanyakan yang basisnya bersifat menjadikan kegiatannya sendiri sebagai object pengamatan tetapi tidak diajarkan untuk dipraktekkan secara subjective, lalu membuat penjelasan-penjelasan yang sifatnya pelabelan, penormaan, pendefinisian, standarisasi, pempatenan, dlsb. Ilmu Falun Dafa dasar ilmunya bersifat tools praktis, sifatnya mekanis dan langsung dipraktekkan secara subjective. Seperti sudah dijelaskan mas Leonardo Rimba dalam email sbb: Actually Falun Dafa is the number one spiritual practice I could recommend to anybody who ask me. But for me myself to make it my own selalu ada saja yang mengganjal. Ada yang gak plong. Buat Vincent juga. Vincent gak suka gaya politik-politikan Falun Dafa. Kalau saya sendiri lebih merasakan ganjalan yang berasal dari peran Shifu di Falun Dafa. The Shifu is a good guy, to be sure, a real good guy. But he put himself between the practitioners and the Universe. So, between each Dafa's practitioner (called praktisi Xiulian Xinxing) and the whole Universe stands this guy called Shifu. He placed himself there. For me, it's very much objectionable. (dikutip dari tulisan sdr Leonardo Rimba di e-link: http://groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif/message/18222 ) Kelemahan dari ilmu yang sifatnya mekanis di tengah jaman yang serba mengkultuskan (pelabelan, penormaan, pendefinisian, standarisasi, pempatenan, dlsb) adalah ilmu tsb kurang begitu dihargai karena para penganut paradigma yang umum berlaku di jaman ini selalu meminta penjelasan yang seolah-olah sangat jelas sampai semua terjelaskan sehingga sadar tidak sadar sifatnya menjadi penjelasan objective, mereka tidak begitu tertarik pada praktek yang subjective, cukup sebagai pengamat baru merasa tahu. Kalau praktisi yang subjective sering disindir tidak logis karena, Mana penjelasan objectivenya? Pengaruh dari penganut paradigma yang sedang ngetreen di jaman sekarang ini lambat laun menggeser paradigma tolls praktis yang bisa dipraktekkan secara subjective menjadi pengkultusan yang objective saja tanpa perlu praktek. Salah satu sifat dari paradigma ini adalah membuat dua kubu ekstrim antara fisik dan metafisika dalam judgement-judgement mereka. Maka dari itu dalam ilmu seperti misalnya Falun Dafa terbawa ke masalah dimana seperti mas Leonardo Rimba sudah mengatakan: But he put himself between the practitioners and the Universe. So, between each Dafa's practitioner (called praktisi Xiulian Xinxing) and the whole Universe stands this guy called Shifu. He placed himself there. For me, it's very much objectionable. Akibatnya, cepat atau lambat pemahaman tentang tools yang bisa dipraktikalkan secara subjective cepat lambat akan punah dengan sendirinya. Seperti ilmu Tao, Strategi perang Sun Tzu, dlsb teracuni paradigma yang serba pelabelan ala jaman sekarang ini hingga yang tersisa adalah dongeng-dongeng yang dikultuskan (dilabelkan, dinormakan, didefinisikan, distandarisasi, dlsb) tentang pernah adanya ilmu-ilmu tsb. Ilmu tolls praktisnya sendiri dianggap tidak penting lagi untuk diwariskan. Pengalaman seperti dijelaskan di bawah ini tentu dari hari ke hari akan punah bahkan dalam praktisi Falun Dafa sendiri karena informasi yang diterima dari indoktrinasi yang adalah hasil pengkultusan tsb dianggap lebih penting untuk diperhatikan daripada pengalaman individual mengalami proses itu sendiri,sehingga secara otomatis terabaikan begitu saja. Muncul anggapan bahwa hanya yang sensitif, sakti, hanya sang guru besar yang benar-benar mengalami seperti kita membahas tentang kisah para nabi. Seperti penjelasan mas riza tentang Kompatiologi di bawah ini: Setiap orang yg terdekon otomatis dia mempunyai semacam tool baru. Tool yang unik, yang hanya dimiliki oleh orang tersebut. Dalam perjalanannya setiap yang terdekon akan mampu menjadi dirinya sendiri. Hingga pada satu titik tertentu, atau dengan kata lain mencapai suatu batasan tertentu yang mana setelah lewat batasan atau titik tertentu orang yang terdekon ini baru benar-benar memahami tool yg ada dan bukan sekedar memakainya saja. Selama ini yang saya amati, setiap orang yang terdekon atau orang yang dekat dengan vincent seolah-olah mempunyai ketergantungan yang besar pada si vincent. Jika si vincent cape atau mengalami suatu hal yang serba gak pasti otomatis para dekoners..ikut merasakan. Entah itu secara tidak langsung atau langsung. Nah apakah berarti dekonnya tidak jalan. Bukan...dekonnya tetap berjalan...namun kembali pada yang terdekon. Maksudnya jalur yang digunakan (kompatiologi) pada dasarnya adalah jalur spiritual juga, tool yang digunakan adalah tool spiritual juga. Artinya org yang terdekon cepat atau lambat harus paham jalur spiritualnya sendiri dan memahami tool yg digunakannya itu ada dlm tingkatan mana. Selama org yg terdekon belum bisa atau menemukan tool yang diberikan si vincent maka ketergantungan ( timbul kurang pede dan akhirnya mesti telp vincent dulu baru pede lagi-kayak batere mesti di recharge ulang) tetap masih ada. Bahasa lainnya..setiap orang yang terdekon mesti menjalani bolak balik, jatuh bangun hingga suatu titik, menemukan tool atau materi sendiri barulah dia bisa lepas dari ketergantungan dari vincent. (dikutip dari tulisan sdr Mochamad Riza di e-link: http://groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif/message/18115 ) Tentang mas Audi (mas Audifax), seperti dijelaskan mas Riza sbb: Oh ya minggu yg lalu saya liat tulisan2 Mas Audi...dan bahasanya semua masalah Ketuhanan. Sempat tersirat ...timbul tanda tanya ..tumben nih..ada apa ya. Nah jawabannya ternyata...si Audi ada di Jakarta dan nginap di rumah vincent. Lah hubungannya apa? Gini dalam kaca mata saya ..keberadaannya Mas Audi ini dan tulisannya akibat interaksi dgn vincent. Bahasa lainnya....Mas audi ini seperti diberi vitamin secara gak langsung oleh vincent, ter booster..hingga menelurkan tulisan2 berbau ketuhanan. Salah atau benernya ini hanya dugaan saya dan dugaan inipun sudah saya sampaikan ke vincen, hanya sayangnya belum bicara langsung dgn Mas Audi (lagi bobo sih wkt gue datang) (dikutip dari tulisan sdr Mochamad Riza di e-link: http://groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif/message/18115 ) Entah mengapa memang energi saya untuk menarik pelanggan (terdekon) habis untuk diluangkan ke menjalani hidup sehari-hari menyepi di rumah saya di Jl Ametis IV bersama Audifax. Uang yang biasanya saya miliki dari hasil mendekon orang habis dan kami hidup pas-pas-an berhubung orangtua saya libur dua minggu ke Eropa. Bung Audifax sendiri menginap di rumah saya dua kali dua minggu, jadi total empat minggu. Dua minggu pertama banyak menulis, ngeluyur-ngeluyur dan diakhiri dengan kecelakaan mobil adik saya, Audifax bahkan ikut menemani setiap saat membantu saya. Dua minggu kedua yang hanya menyepi di rumah saya saja. Memang capek mas Riza kalau jadi guru ya otomatis harus mau turun frekwensi (turun kelas) mengalami bersama yang dididik. Itupun kalau murid didiknya tidak terlalu kultus, kalau terlalu mengkultuskan, maka jarak hirarkinya terlalu jauh jadi susah untuk turun kelasnya. Kembali pada buku falun gong, tool yg diberikan oleh penulisnya..akan hilang jika melanggar suatu larangan keras yg diberikan. Pada akhirnya sipelanggar akan kembali menjadi manusia biasa. Kalo dgn kompatiologi...gimana? dari diskuss saya dgn vincent juga pengamatan..... tool itu tetap ada walau yg terdekon berbuat apapun. Demikian sekilas pandangnya.. (dikutip dari tulisan sdr Mochamad Riza di e-link: http://groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif/message/18115 ) Pilihan untuk tidak membuat ancaman seperti misalnya;Kembali pada buku falun gong, tool yg diberikan oleh penulisnya..akan hilang jika melanggar suatu larangan keras yg diberikan. Pada akhirnya si pelanggar akan kembali menjadi manusia biasa.; Bagi saya sebagai pendiri kompatiologi, sifat takut dikhianati murid semacam ini malah membahayakan keberadaan ilmu Falun Dafa. Resikonya seperti saya telah sebutkan sebelumnya: Pengalaman seperti dijelaskan di bawah ini tentu dari hari ke hari akan punah bahkan dalam praktisi Falun Dafa sendiri karena informasi yang diterima dari indoktrinasi yang adalah hasil pengkultusan tsb dianggap lebih penting untuk diperhatikan daripada pengalaman individual mengalami proses itu sendiri,sehingga secara otomatis terabaikan begitu saja. Muncul anggapan bahwa hanya yang sensitif, sakti, hanya sang guru besar yang benar-benar mengalami seperti kita membahas tentang kisah para nabi. Maka itu sdr Riza, belajar dari pengalaman pahit yang dihadapi para pengguna ilmu Falun Dafa sebagai akibat dari lupa terhadap kondisi / aturan alam bahwa Ilmu berkomitmen pada inti ilmunya sendiri maka praktisi kompatiologi saya wajibkan untuk tetap taat pada aturan kompatiologi yang anti pengkultusan, anti pempatenan, anti ancam mengancam antara hirarki yang lebih tinggi ke hirarki yang lebih rendah, dlsb. Ttd, Vincent Liong Jakarta, Selasa, 10 April 2007 Send instant messages to your online friends http://au.messenger.yahoo.com Dapatkan informasi kesehatan gratis Mailing List Dokter Indonesia http://www.mldi.or.id Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/dokter/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/dokter/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
