DEPRESI YANG KERAP TERABAIKAN

Gejala depresi sangat akrab dengan keseharian kita. Sakit maag, kerap
murung, kehilangan gairah, gampang marah, atau malas beraktivitas adalah
sebagian ciri-cirinya. Konsultasi ke psikiater sesegera mungkin adalah salah
satu cara mengatasinya.

"Belakangan ini, saya suka uring-uringan tanpa sebab," keluh seorang wanita
muda. Wanita lainnya mengaku, merasa tak punya tenaga dan sulit
berkonsentrasi. Ya, gejalanya memang berbeda-beda, tapi yang jelas, jika
Anda merasa "down" selama lebih dari 2 minggu, ada baiknya segera ke
psikiater. Bisa jadi, Anda tengah depresi.

Depresi merupakan kondisi gangguan kejiwaan yang secara klinis tampil dalam
bentuk perasaan murung, kehilangan gairah hidup, lesu, pesimis/putus asa,
kehilangan rasa percaya diri. "Emosi, perilaku, dan cara berpikir turun,
jadi lamban alias tidak gesit," kata Dr. Tb. Erwin Kusuma, Sp.KJ dari Pro V
Clinic. "Itu sudah tanda-tanda ke arah depresi. Lama-lama, ia tidak mau
melihat kenyataan. Yang berat, muncul ide untuk meninggalkan semua dengan
jalan bunuh diri," kata Erwin.

Selain tanda-tanda non-fisik, tanda-tanda yang juga harus diwaspadai sebagai
gejala depresi adalah adanya berbagai keluhan fisik/somatis seperti berat
badan turun, disfungsi seksual, dan gangguan tidur. Sebuah pepatah lama
mengatakan, "Jika kesedihan tidak diungkapkan dengan air mata, maka
organ-organ tubuh lain-lah yang akan menangis. Ini yang disebut
psikosomatik, yaitu gangguan terjadi di jiwa, tapi tampil di badan."

Misalnya, sakit maag. "Padahal semua bagus, makan teratur, tidak pernah
makan yang pedas, tapi, kok, kena maag. Bisa jadi ini karena lambung
"menangis", bukan dalam bentuk air mata, tapi asam lambung yang meningkat."
Oleh karena itu, "Menangis jauh lebih baik bagi penderita depresi. Kalau
ditahan-tahan, bisa-bisa malah organ tubuh lain yang menangis."

MASA LALU
Penyebab depresi multifaktoral, ada yang dari dalam, misalnya karena faktor
genetik atau gangguan regulasi neotransmitter di otak. "Atau karena
keseimbangan hormon yang terganggu, misalnya pada wanita yang sudah lewat
usia produktif," jelas Erwin. Sementara penyebab dari luar, misalnya
perasaan kecewa, frustasi melihat ini-itu, dan sebagainya. "Akibatnya, ia
sedih dan depresi."

Yang juga harus digali adalah pengalaman masa lalu. "Masa lalu itu, kan,
berkaitan dengan perkembangan dan pengalaman hidup seseorang. Kalau ada
pengalaman yang menyedihkan, jadinya akan terekam dan muncul dalam bentuk
depresi."

Begitu pun masa depan, yang berkaitan dengan apa yang diharapkan oleh
seseorang di masa depannya. Contohnya, seorang istri yang bekerja membanting
tulang sendirian karena sang suami terkena stroke. "Ia harus berjuang
sendiri. Lalu, di benaknya muncul pertanyaan, 'Bagaimana masa depan saya
nanti?' Bahkan, tak jarang mereka protes pada Tuhan, kenapa harus mengalami
masalah seperti itu. Masa depan yang suram cenderung memicu depresi."

Contoh yang lebih spesifik, misalnya wanita yang harus memikul fungsi ganda,
sebagai ibu rumah tangga sekaligus pencari nafkah. "Ada dual function yang
sama-sama diharapkan ideal oleh orang-orang di sekelilingnya. Ia harus
menyiapkan makanan di rumah, belum lagi repotnya ngurusin anak, sementara di
tempat kerjanya pun ia harus menghadapi banyak masalah. Akhirnya, stres,
lalu depresi," tambah Erwin.

LAKUKAN VENTILASI
antas, apa yang harus dilakukan? Yang pertama, kata Erwin, kenali dulu
tanda-tanda depresi. Misalnya, tadinya gesit, tapi kemudian jadi lambat.
Tadinya penuh semangat, sekarang tidak, dan cenderung menarik diri dari
pergaulan. "Yang harus diwaspadai adalah jika sudah tidak mau menerima
kenyataan, bahkan sudah muncul ide untuk bunuh diri. Ini sudah berat dan
harus ditangani secara profesional."

Tanda-tanda fisik juga sebaiknya dikenali. Misalnya, tiba-tiba muncul mag,
padahal ia tak punya riwayat penyakit mag. "Atau muncul eksim atau asma
(bukan turunan). Sesak napas muncul kalau ada perasaan sedih atau kecewa.
Ini juga merupakan gejala depresi," jelas Erwin.

Setelah tahu tanda-tanda depresi, segera konsultasi. Idealnya ke psikiater,
tapi tak semua psikiater cocok. "Kalau berat, biasanya penderita akan diberi
obat. Kalau tidak ada psikiater, cari tempat curhat (ventilasi). Cari
pendengar yang baik. Kalau tidak ada tempat atau orang untuk curhat, tulis
semua kesedihan sampai tak ada lagi yang bisa diungkapkan. Setelah itu mau
dirobek juga boleh. Intinya, kebutuhan utama penderita depresi adalah
mengeluarkan endapan."

Yang tak kalah penting adalah mengatasi persoalan yang menjadi sebab depresi
(problem solving). "Ini sangat dipengaruhi oleh daya tahan mental
masing-masing. Ada orang yang baru kena sedikit masalah sudah depresi, tapi
ada pula yang bisa tegar meski didera berbagai masalah," kata Erwin yang
juga mendalami bidang psikiatri spiritual.

Misalnya, seorang anak yang sejak kecil selalu dimanja oleh lingkungannya
(orangtua), dan tak pernah diberi kesempatan untuk memecahkan masalah
sendiri. "Ketika dewasa, ia pun akan menjadi orang yang tidak bisa
menghadapi masalah, tidak mandiri, tidak pernah dilatih menghadapi stres.
Daya tahan mentalnya kurang. Ia jadi gampang sedih, gampang marah."

ANAK PUN BISA DEPRESI
Anak-anak ternyata juga bisa depresi. "Tapi, tampilnya (manifestasi) tidak
sama dengan depresi yang dialami orang dewasa," jelas Erwin. Depresi pada
anak lebih sering muncul dalam perilaku agresif, nightmare, atau keluhan
keluhan somatis seperti anoreksia, gangguan pencernaan, dan sebagainya.

Salah satu contoh depresi anak misalnya ketika ia punya adik baru. "Ia tidak
menangis, tapi depresi ditunjukkan dengan bertingkah nakal," jelas Erwin
yang juga seorang psikiater anak. "Atau, tanpa sadar, anak mengulang hal-hal
yang pernah dilakukannya dulu. Misalnya, mengompol. 'Dulu saya ngompol,
diperhatikan. Sekarang, tidak ngompol malah tidak diperhatikan. Kalau
begitu, saya akan ngompol lagi'."

Gejala depresi pada anak sangat tidak khas, sama seperti gejala depresi pada
orang lanjut usia. "Sehingga sering disebut depresi terselubung ('mask
depression'). Pada orang lanjut usia, depresi lebih banyak tampil dalam
keluhan fisik kronis, menyangkut banyak organ, berganti-ganti dan tidak
konsisten (somatisasi), serta tidak sesuai dengan hasil obyektif pemeriksaan
medis. "Depresi pada lanjut usia juga sering muncul sebagai keluhan
kognitif, seperti mudah lupa, sulit berkonsentrasi, dan malas berpikir."











SPONSORED LINKS
Health and wellness Health wellness product Health care
Health and wellness program Diet fitness health nutrition wellness Health promotion and wellness


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke