Salam kenal...

Saya pikir tidak perlu segitunya reaksi Anda. Sebab, memang ada sebagian
juga oknum dokter yang entah karena lelah atau lalai, mengakibatkan
pasiennya malah tambah parah. Kita harus mengakui itu, bahwa malpraktek
ringan atau besar itu ada.

TErima kasih.


On 6/2/06, endraya pra <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Makanya kalau sudah nggak percaya dokter, pergi aja ke bidan,mantri,
> paranormal, dukun atau mbah Marijan.................beres khan ?.
>
> "Hendarwin (Jakarta)" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:  Dear miliser yg
> berstatus parents,
> Pernahkah anak anda di-diagnosa 'Flek Paru' oleh DSA anda, dan diberi
> obat antibiotik berbulan-bulan?
> Tahukah anda bahwa 'There Is No Such A Term of 'Flek Paru-paru'' di
> dunia kedokteran?
> Tahukah anda bahwa banyak kasus DSA dgn gegabah memberikan obat TBC utk
> 'Flek Paru' ini tanpa diagnosa yg runut dan benar?
> Tahukah anda obat2 TBC tsb punya efek samping terhadap fungsi hati si
> anak (yg menjadi resiko tidak perlu jika diagnosa TB tidak ditegakkan
> secara benar) ?
> Jika anda penasaran, silakan baca artikel dibawah, cross-posting dari
> milist SEHAT.
> Jadi, lain kali dokter anda bilang anak anda kena 'Flek Paru', bilang
> saja: "Bah, darimana pulak kau belajar istilah tu!" :)
>
> Hendarwin
> Stopmalpraktekdokterindonesiadgnmenjadikonsumenygrasional,kolerik,dandem
> anding
> -----Original Message-----
> From: [EMAIL PROTECTED]
> Sent: Monday, May 29, 2006 4:34 PM
> Subject: Re: [sehat] Tentang Flek
>
> ...(deleted)
>
> INTISARI EDISI TERBARU (APRIL 2005)
> Flek Paru Yang Mengecoh
> "Flek" yang satu ini pasti bikin pening kepala, terutama jika menyerang
> anak. Orangtua dan dokter pun sering dibuat serba salah. Tak jarang,
> gara-gara munculnya "flek", anak divonis berpenyakit TB(C) paru-paru.
> Padahal sebenarnya ia sehat walafiat. Sebaliknya, bocah yang disangka
> sehat, malah terjangkit penyakit. Aneh, 'kan?
> -----
> "Flek" yang suka mengecoh itu punya nama lengkap flek paru-paru
> (disingkat flek paru). Nama yang membuat banyak dokter anak
> bersungut-sungut. Maklum, sampai detik ini, istilah flek paru tidak
> pernah ada di dalam kamus kedokteran mana pun. Statusnya mirip dengan
> masuk angin, panas dalam, atau saraf kejepit. Ngetop di masyarakat, tapi
> tak ada rujukannya di dunia medis.
> Entah siapa yang mulai menggunakan istilah ini. Yang jelas, kata flek
> berasal dari bahasa Belanda, vlek, artinya bintik alias bercak atawa
> noda.
>
> Para ahli radiologi menggunakannya untuk menyebut gambaran noda yang
> khas di foto rontgen. Lucunya, belakangan istilah ini dipakai sebagai
> eufemisme untuk tuberkulosis (TB) paru-paru yang disebabkan oleh
> Mycobacterium tuberculosis.
> Padahal, "Flek di foto rontgen tidak selalu berarti tuberkulosis," kata
> Dr. dr. Muljono Wirjodihardjo, Sp.A (K), ahli respirologi anak dari
> Rumah Sakit Internasional Bintaro. "Tuberkulosis pada anak berbeda
> dengan orang dewasa, sehingga diagnosisnya lebih sulit," tambah dr.
> Muljono. Dengan kata lain, jangan terkecoh oleh flek yang memang suka
> menyaru dan membuat orang keliru itu.
>
> Naik kelas
> Pelacakan dan keberadaan TB pada anak dan orang dewasa memang berbeda.
> Kuman TB pada orang dewasa bisa dilacak dari dahaknya. Sedangkan pada
> anak-anak, kuman itu sulit dilacak, sebab mereka belum bisa berdahak
> seperti sang bapak. Selain itu, gejala TB pada anak sering tersamar oleh
> gejala penyakit lain, misalnya flu atau batuk. Tak jarang dokter
> menganggapnya sebagai batuk biasa.
> Pada orang dewasa, gejala TB tampak lebih jelas. Gambaran radiologisnya
> pun khas. Tapi pada anak, ada banyak faktor yang bisa menyebabkan salah
> diagnosis. Kemal, seorang karyawan perusahaan asuransi, punya cerita
> tentang hal ini. "Anak saya pernah divonis TB. Waktu itu umurnya baru
> setahun. Awalnya, berat badannya enggak naik-naik. Dokter curiga, ia
> kena TB. Waktu dites Mantoux, hasilnya negatif. Lalu dokter minta tes
> rontgen.
> Ternyata ada flek di paru-parunya."
> "Dari hasil rontgen itu," tambah Kemal, "Dokter menyimpulkan anak saya
> kena TB dan disuruh minum obat jangka panjang. Setelah tiga bulan, saya
> tanya apakah obat perlu diteruskan. Dokter bilang, terus. Namun, pada
> bulan keempat saya disuruh menghentikan pemberian obat tanpa ada
> penjelasan. Waktu itu saya enggak ngerti apa-apa. Tak tahunya, setelah
> mencari second opinion, anak saya sebetulnya enggak apa-apa," tuturnya
> sembari geleng-geleng kepala.
>
> Selama ini, TB identik dengan penyakit udik. Orangtua biasanya akan
> merunduk malu jika anaknya diketahui sebagai pengidapnya. Menurut dr.
> Muljono, dalil itu tak lagi berlaku 100%kini. Menurut pengalamannya,
> banyak juga pasien anak-anak dari kelas ekonomi mapan. Banyak di antara
> mereka yang enggak percaya. "Tertular dari mana? Wong di rumah enggak
> ada yang kena kok", protes mereka.
>
> Dr. Muljono mencatat, sumber penularan yang diketahui hanya sekitar 10%.
>
> Ada yang tertular dari baby sitter, orangtua, atau orang lain yang
> tinggal serumah. Selebihnya, yang 90%, biang keladinya tidak diketahui
> secara pasti. Yang jelas, si anak pasti tertular dari orang dewasa,
> bukan dari teman bermain. Sebab pada anak, TB bersifat tertutup, tidak
> menular.
> Kuman ini diyakini menular secara tidak langsung dari orang lain yang
> tidak tinggal serumah. Saat penderita batuk, kuman TB keluar dari
> paru-paru bersama percikan air ludah, lalu bertahan hidup sambil
> beterbangan di udara, dan akhirnya terhirup oleh si anak. Dalam tubuh
> anak, kuman ini bersarang di kelenjar getah bening. Itulah sebabnya,
> orangtua harus waspada jika si Upik atau si Ucok punya benjolan kelenjar
> getah bening di leher bagian belakang telinga.
> Selain itu, orangtua juga bisa mengamati gejala-gejala yang lain. Di
> antaranya, batuk tak kunjung sembuh, gampang sakit, nafsu makan hilang,
> berat badan tidak naik-naik atau bahkan turun, serta demam
> berulang-ulang tanpa sebab yang jelas. Namun, gejala-gejala ini bersifat
> subjektif, sehingga tidak selalu menjamin diagnosis yang tepat. Sebagai
> contoh, batuk bisa saja disebabkan oleh alergi atau asma. Sedangkan
> demam berulang-ulang bisa karena infeksi virus langganan.
> Untuk memperkuat diagnosis, diperlukan tes-tes lain yang lebih akurat,
> seperti tes Mantoux dan foto rontgen dada.
>
> Tes Mantoux bertujuan menguji apakah tubuh pernah terpapar kuman TB.
> Sedangkan foto rontgen untuk mengetahui ada tidaknya infiltrat di
> paru-paru. Infiltrat adalah massa seperti dahak yang terjadi akibat
> aktivitas kuman TB.
> Namun, lagi-lagi di tahap ini pun banyak hal yang bisa mengecoh
> diagnosis.
>
> Tipuan pertama timbul pada saat tes Mantoux. Kalaupun hasilnya positif,
> itu tidak berarti si anak pasti menderita TB. Dr. Muljono memberi
> contoh, anak yang pernah mendapat vaksin BCG akan memberikan respons
> positif terhadap tes Mantoux. Begitu pula anak yang pernah terpapar
> kuman TB, tapi daya tahannya cukup kuat untuk melawan. Jadi, meskipun
> kemasukan kuman, dia enggak sakit.
> "Kalau kemerahan di kulitnya sangat tebal, misalnya lebih dari 20 mm,
> kemungkinan besar dia memang sakit. Apalagi jika benjolan di belakang
> telinganya juga sangat besar. Lebih-lebih jika ada riwayat anggota
> keluarga yang sakit TB," tambah dr. Muljono.
>
> Kuman paling bandel
> Karena tes Mantoux saja tidak cukup, untuk memperkuat diagnosis
> diperlukan tes foto rontgen. Namun, di sini pun masih ada tipuan yang
> harus diwaspadai.
> Pada orang dewasa, foto rontgen biasanya menunjukkan gambaran flek paru
> di bagian atas. Sebab, di situlah kuman TB membangun sarangnya.
> Sebaliknya, pada anak-anak, kuman TB tidak membangun sarangnya di
> paru-paru bagian atas, melainkan di kelenjar getah bening.
> Susahnya, lokasi kelenjar ini berdekatan dengan jantung. Jika hanya
> difoto dari depan, kadang flek tertutup oleh bayangan jantung. Apalagi
> jika teknisi rontgen kurang terampil. Itulah sebabnya, untuk memperkuat
> diagnosis, foto rontgen juga harus dilakukan dari arah samping. Dengan
> begitu, gambaran paru-paru tidak diganggu oleh jantung. Ruwetnya lagi,
> kalaupun hasil rontgen menunjukkan flek, tidak berarti si anak positif
> kena TB.
> Muljono memberi contoh anak-anak yang sedang batuk grak-grok-grak-grok.
> Saat dirontgen, mungkin saja menunjukkan flek, meskipun ia tidak
> menderita TB. Karena itu, foto rontgen harus dilakukan pada saat anak
> dalam kondisi terbaik. Jika mungkin, setelah batuknya disembuhkan. Atau
> paling tidak, saat batuknya minimal.
>
> Karena banyaknya faktor pengecoh itulah, diagnosis TB harus ditegakkan
> berdasarkan banyak pemeriksaan. Selain pemeriksaan-pemeriksaan tadi,
> masih ada jenis tes-tes lain. Masing-masing pemeriksaan punya skor
> tertentu.
> Jika misalnya total skornya enam atau lebih, maka itu berarti si anak
> memang menderita TB.
> Jika orangtua perlu mencari second opinion, Muljono menyarankan agar
> pendapat kedua dicari dari dokter lain yang lebih kompeten dan
> berpengalaman. Bukan sekadar ke dokter lain. "Mencari second opinion
> 'kan seperti naik banding. Karena itu, jangan sekadar ke dokter lain,"
> ujar dokter yang menyelesaikan pendidikan S1 sampai S3-nya di Keio
> University, Jepang, ini.
>
> Bagaimana jika anak memang benar-benar menderita TB? Tak ada pilihan
> lain, orangtua harus siap-siap merayu si buah hati untuk minum obat
> setiap hari.
> Lamanya berkisar antara enam bulan hingga satu tahun. Selama waktu itu,
> orangtua harus memastikan si anak minum obat sesuai aturan dokter. Dr.
> Muljono menegaskan hal ini, karena banyak orangtua, karena kasihan pada
> si Buyung, lantas menghentikan obatnya begitu gejala sakitnya hilang.
> Padahal, hilangnya gejala sakit TB bukan berarti kuman telah terbasmi
> semuanya. Kuman ini dikenal sebagai kuman yang sangat bandel. Ia tidak
> bisa dibasmi dengan satu macam antibiotik saja. Biasanya kombinasi dari
> beberapa obat anti-TB (OAT). Dalam kondisi digempur habis-habisan, ia
> akan berusaha mengawetkan diri dengan membentuk lapisan pelindung dan
> tidur tanpa makanan.
> Ia bisa bertahan dalam kondisi itu dalam jangka waktu berbulan-bulan.
> Itu sebabnya, pengobatan TB membutuhkan kedisiplinan ekstra. Jika
> pengobatan dihentikan di tengah jalan, suatu saat zombie-zombie kuman
> itu akan bangun
> lagi dan menggerogoti tubuh si anak di kemudian hari. Jika ini sampai
> terjadi, pengobatan berikutnya menjadi lebih sukar. Waktu terapi pun
> menjadi lebih lama.
> Kuman generasi kedua yang telah bereinkarnasi itu lebih kebal terhadap
> OAT terdahulu. Akibatnya, pemilihan obat menjadi lebih sulit. Orangtua
> harus menyiapkan lebih banyak duit. Persoalan pun jadi lebih rumit,
> karena makin
> sering minum obat, makin besar kemungkinan fungsi hati anak terganggu.
> Jangan sampai terkecoh berkali-kali, ah!
>
> Boks
> Anak-anak Hanyalah Korban
> Sebagaimana penyakit infeksi lainnya, hal terpenting dalam pencegahan TB
> adalah menghindari penularan. Orangtua harus memastikan tidak ada
> anggota keluarga yang menderita TB. Jika ada, penderita harus segera
> diobati agar tidak menulari anggota keluarga yang lain, terutama
> anak-anak. Mereka adalah kelompok paling rentan tertular karena daya
> tahan tubuh mereka relatif masih lemah.
> Meskipun hasil pemeriksaan menunjukkan, anak tidak menderita TB, ia
> tetap harus minum OAT. Dikhawatirkan, ia tertular selama masa
> pengobatan. Dosis untuk anak hanya setengah dari dosis terapi dewasa.
> Waktunya hanya sekitar tiga bulan. Setelah itu, anak harus tetap
> dievaluasi kembali. Jika hasilnya negatif, pemberian obat bisa
> dihentikan.
> Selain vaksin BCG, pencegahan TB pada anak harus dimulai dengan
> pemberantasan TB pada orang dewasa. Merekalah sumber penularan.
> Anak-anak hanyalah korban. "Sekarang ini kasus TB pada anak mulai
> meningkat," kata dr. Muljono. Di Indonesia sendiri, penyakit ini masih
> merupakan ancaman serius. Jadi, semua orang harus ikut mengingatkan,
> agar terapi benar-benar komplet-plet.
>
> =================================================================================================================================================="
> SEHAT mailing list is supported by Hewlett-Packard StorageWorks
> Division. SEHAT Internet Access & Website are supported by CBN Net "
>
> Please visit also our website at :
> http://www.sehatgroup.web.id/
> ==================================================================================================================================================Yahoo!
> Groups Links
>
>
>
>
> Another artikel on TBC:
> Sumber: website IDAI  (http://www.dokteranak.or.id)
>
> "Flek Paru" Istilah yang Rancu - Informasi Singkat Tentang Tuberkulosis
> (TB) Anak
>
> Banyak sekali anak-anak yang divonis sebagai "flek paru' dan harus
> menjalani "hukuman" minum obat jangka lama, paling tidak hingga 6 bulan.
> Jika ditanyakan kepada orangtuanya apa yang dimaksud flek paru? Biasanya
> orang tua pasien tidak tahu, Bila ditanya lebih lanjut apakah anaknya
> mendapat obat yang membuat air seninya berwarna merah ? Jika jawabnya
> "Ya"
> kemungkinan besar yang dimaksudkan sebagal "flek paru" adalah
> Tuberkulosis/TBC paru atau saat ini disebut TB saja.
>
> Mengapa dokter tidak menyatakan sebagai TB? Sebagian kalangan di
> masyarakat beranggapan bahwa TB bukan penyakit yang "bergengsi", Beda
> misalnya dengan penyakit jantung yang dianggap lebih "terhormat".
> Sebagian pasien tidak berkenan jika dinyatakan Sakit TB. Khawatir pasien
> tidak dapat menerima, dokter berusaha menyamarkan penyakitnya dengan
> istilah flek paru. Saat ini umumnya pasien sudah berpikiran terbuka dan
> dapat menerima jika dinyatakan Sakit TB. Sebaiknya dokter berterus
> terang menyatakan Sakit TB tanpa menyamarkan dengan
> Istilah flek paru yang justru tidak mendidik pasien.
>
> Mengapa disamarkan dengan istilah "flek paru" ? Flek berasal dan bahasa
> Belanda yang artinya ?noda?. Awalnya dari foto Rontgen paru pasien TB,
> yang dapat memberikan gambaran bercak-bercak putih seperti noda pada
> paru sehingga disebut "flek", Istilah flek paru tidak
> pernah diajarkan di fakultas kedokteran manapun, dan juga tidak pernah
> disebut dalam artikel kedokteran manapun, Istilah ini rancu dan kesannya
> kurang menghargai kecerdasan pasien Sama halnya dengan istilah "panas
> dalam" yang laris manis digunakan dalam iklan minuman penyegar. Keduanya
> sama sekali tidak mempunyai rujukan di dunia medis.
>
> Apakah semua gambaran "flek" pada paru berarti TB ? Tidak !!! Semua
> penyakit di paru (dan itu banyak sekali jenisnya) dapat memberi gambaran
> "flek' yang tidak dapat dibedakan dengan TB. Bahkan orang sehatpun pada
> Rontgen parunya akan ada gambaran bercak-bercak putih yang istilah
> medisnya infiltrat. Sebagai contoh Mike Tyson jika dironsen juga ada
> "flek"nya, tapi dia sama sekali tidak Sakit TB. Jadi tidak bisa
> mendiagnosis Sakit TB hanya dari Rontgen saja !
>
> Gambaran Rontgen seperti apa yang menunjukkan adanya TB paru? TB paru
> dapat memberikan gambaran infiltrat yang lebih khusus pada foto Rontgen,
> istilahnya gambaran yang sugestif TB. Misalnya gambaran miller (bercak
> kecil putih merata di seluruh paru), atau gambaran atelektasis
> (gambaran putih padat akibat pengerutan sebagian paru), dll. Sekalipun
> gambarannya sugestif TB, foto Rontgen saja tidak bisa dijadikan dasar
> tunggal diagnosis TB, tetap harus disertai gejala dan tanda sakit TB,
> dan pemeriksaan penunjang lain.
>
> Jadi diperlukan pemeriksaan lain, apakah itu ?
> Ya, pertama-tama jika seorang anak dicurigai Sakit TB harus dibuktikan
> dulu adanya Infeksi TB (adanya kuman TB dalam tubuh seseorang). Caranya
> dengan uji tuberkulin atau yang lazim dikenal sebagai Mantoux test. Jika
> hasilnya negatif berarti tidak ada infeksi, dan bila infeksinya saja
> tidak ada bagaimana mungkin bisa sakit TB.
>
> Jika hasil uji Mantoux positif apakah berarti sakit TB ?
> Belum tentu. Hasil uji Mantoux positif hanya menunjukkan adanya Infeksi
> TB, bukan menandakan pasiennya Sakit TB. Jadi harus dibedakan antara
> Infeksi TB dengan Sakit TB. Orang dewasa di Indonesia umumnya sudah
> terinfeksi TB tanpa sakit TB, sehingga jika dilakukan uji Mantoux pada
> orang dewasa di Indonesia maka umumnya akan positif.
>
> Ada yang mengatakan uji Mantoux bisa negatif padahal ada Sakit TB, apa
> benar?
> Benar. Uji Mantoux dapat memberikan hasil negatif palsu yang disebut
> anergi. Anergi dapat dijumpai pada keadaan tertentu misalnya gizi buruk,
> Sakit TB yang berat, tifus yang berat, campak, cacar air, menggunakan
> obat steroid jangka lama, dan berbagai keadaan lain yang menyebabkan
> penekanan system imun (kekebalan) tubuh, Jika tidak ada salah satu
> keadaan tersebut sangat kecil kemungkinannya terjadi anergi.
>
> Bagaimana dengan pemeriksaan darah?
> Biasanya pemeriksaan darah yang dimaksudkan untuk TB adalah LED (laju
> endap darah) dan hitung jenis limfosit, Kedua pemeriksaan ini nilai
> diagnostiknya untuk TB rendah, jauh lebih rendah dibanding foto Rontgen,
> sehingga hanya digunakan sebagai data tambahan.
>
> Adakah pemeriksaan darah lain untuk TB?
> Ada, yaitu pemeriksaan PCR dan serologis, seperti PAP TB, Mycodot, ICT
> dll. Namun semua pemeriksaan itu tidak lebih unggul daripada uji
> Mantoux, Semua pemeriksaan itu jika positif juga hanya menunjukkan
> adanya Infeksi TB, tidak bisa untuk menentukan ada tidaknya Sakit TB.
>
> Lalu apa bedanya Sakit TB dengan Infeksi TB?
> Jika orang (dewasa atau anak) mengalami Sakit TB akan menunjukkan gejala
> dan tanda Sakit TB. Sedangkan jika hanya terinfeksi TB tanpa sakit TB
> tidak akan ada gejala dan tanda sakit TB.
>
> Apa gejala dan sakit TB pada anak?
> Gejala dan tanda Sakit TB pada anak sangat luas variasinya, mulal dari
> yang sangat ringan sampai sangat berat. Gejala dan tanda yang mengawali
> kecurigaan Sakit TB pada anak di antaranya adalah MMBB (Masalah Makan
> dan Berat Badan), demam lama atau berulang, gampang / sering tertular
> sakit batuk pilek, adanya benjolan yang banyak di leher, diare yang
> sulit sembuh dll. TB juga dapat menyerang berbagai organ di seluruh
> tubuh sehingga bias timbul gejala pincang jika mengenai sendi panggul
> atau lutut, benjolan banyak di leher, bisa juga terjadi kejang jika
> mengenai susunan saraf pusat / otak.
>
> Apakah batuk lama atau berulang juga merupakan gejala Sakit TB?
> Batuk lama atau berulang merupakan salah satu gejala utama Sakit TB pada
> orang dewasa. Pada anak batuk lama / berulang dapat merupakan gejala
> Sakit TB, tapi bukan gejala utama. Pada anak ada penyakit lain yang
> gejala utamanya batuk lama / berulang yaitu asma. Banyak kasus asma pada
> anak yang keliru divonis TB. Asma dengan TB merupakan dua penyakit yang
> sama sekali berbeda namun sering dikelirukan.
>
> Apakah jika ada tersebut berarti sakit TB?
> Belum tentu. Berbagai gejala tadi bukan ?monopoli? Sakit TB, tapi dapat
> juga disebabkan oleh berbagai penyakit lain. Itulah sebabnya uji Mantoux
> sangat penting untuk menentukan dulu apakah ada Infeksi TB atau tidak,
> Jika tidak ada Infeksi TB, berarti berbagai gejala tadi disebabkan oleh
> penyakit lain.
>
> Sebenarnya apa penyebab TB, apakah penyakit keturunan atau penyakit
> menular?
> TB bukan penyakit keturunan, tapi penyakit menular. TB menupakan salah
> satu bentuk penyakit infeksi. Penyakit infeksi adalah penyakit yang
> disebabkan masuk dan berkembangbiaknya kuman dalam tubuh seseorang.
> Kuman adalah makhluk hidup yang sangat kecil sekali (mikro onganisme
> =mikroba == jasad renik) yang hanya dapat dilihat dengan mikroskop. Ada
> jutaan jenis kuman salah satu di antaranya adalah kuman TB.
>
> Bagaimana cara penularannya?
> Ada beberapa cara penularan, tapi yang paling sering adalah melalui
> saluran respiratonik (pernapasan). Pasien TB dewasa dengan TB paru, jika
> batuk, bersin, menyanyi, atau bicara akan menghembuskan ribuan kuman TB
> ke udara di sekitarnya. Bila kuman ini terhirup oleh orang lain, maka
> orang tersebut dapat terinfeksi.
>
> Apakah jika kita berhubungan dengan pasien TB paru dewasa, pasti akan
> tertular?
> Belum pasti tertular. Banyak faktor yang berperan untuk terjadinya
> infeksi TB. Faktor sumber penularan, lingkungan, dan faktor daya tahan
> tubuh. Tingkat eratnya hubungan (kontak) juga sangat berperan. Makin
> erat kontak (dose contact) dan makin lama, makin besar risiko tertular.
>
> Apakah anak yang sakit TB menular dan perlu dipisahkan dari orang lain?
> Tidak! Yang menular adalah pasien TB paru dewasa, pasien TB paru anak
> tidak menular sehingga tidak perlu dipisahkan apalagi dikucilkan. Yang
> perlu diingat, jika seorang anak terinfeksi TB, berarti ada orang dewasa
> sebagai sumber penularannya yang perlu dicari dan kemudian diobati agar
> tidak menulari orang lain lagi.
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>   SPONSORED LINKS
>         Health and wellness   Health wellness product   Health care
> Health and wellness program   Diet fitness health nutrition wellness
> Health promotion and wellness
>
> ---------------------------------
>   YAHOO! GROUPS LINKS
>
>
>     Visit your group "dokter_umum" on the web.
>
>     To unsubscribe from this group, send an email to:
> [EMAIL PROTECTED]
>
>     Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
>
>
> ---------------------------------
>
>
>
>
> Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com
> Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> Yahoo! Groups Links
>
>
>
>
>
>
>


[Non-text portions of this message have been removed]








SPONSORED LINKS
Health and wellness Health wellness product Health care
Health and wellness program Diet fitness health nutrition wellness Health promotion and wellness


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke