Dear docters dan miliser,
Saya pikir semuanya punya point kebenaran juga. Pengalaman saya 
pribadi, sblmnya saya menyerahkan judgment medis ke dokter, yg 
ternyata banyak sekali yang irrational use on drugs (IRUD) dan 
irrational diagnosis. Stlh saya 'dibuka pikiran' oleh dr. 
Purnamawaty (pengasuh milis SEHAT), saya mulai sadar medis, belajar 
cari tahu ttg medis, dan belajar membangun "dialog yg setara" dgn 
dokter, hasilnya saya 'berganti' beberapa dokter sblm bertemu yg PAS.
Apa yg "PAS", ternyata adalah yg mau berkomunikasi terbuka dgn 
pasien, spt yg dicontohkan dr. Yossi. Sayangnya jumlah yg seperti 
itu sedikit sekali. 
Apa penyebabnya? Saya pikir ada 2 hal:
1) Komersialisasi dunia provider medis
2) Tidak adanya regulasi dan pengawasan medis
Kita lihat sendiri berbagai merk obat bertebaran tanpa regulasi yg 
jelas, shg obat yg generik-nya sama mjd sangat mahal dgn diberi 
label merk yg dipatenkan, dan sayangnya "di-endorse" oleh dokter. 
Tentunya jgn menutup mata bhw ada bonus komisi dari penjualan obat, 
dsb yg disediakan provider obat tsb. Kenalan saya yg dokter dan 
apoteker juga cerita begitu. 

Solusinya? Pemerintah turun tangan utk meregulasi obat2an yg beredar.
Tambah lagi, Audit Medis ternyata tidak berjalan. Seharusnya setiap 
resep dari setiap dokter yg praktek di-audit, utk kemudian bila ada 
penyimpangan pengobatan maka tim Audit Medis dapat melakukan 
pemanggilan dan pengecekan.
Di US sendiri ada Komite Pengawasan Antibiotik, dimana kalo ada 
dokter mau meresepkan AB yg berat, mereka hrs menelpon Komite tsb 
utk meminta persetujuan. Dan Komite yg menginterview: kenapa harus 
kasih AB yg level tinggi, sudah bakteri kultur belum, sudah uji 
resistensi AB belum, dsb.

Bagaimana di Indonesia? Ini sorga buat para dokter, Pak. Bayangkan 
anda bekerja tanpa ada yg mengawasi hasil kerja anda, dan tidak ada 
pihak yg bisa menghukum anda, krn setiap ada kasus malpraktek ke 
pengadilan akan sangat sulit mencari saksi ahli yg mau melawan 
sesama Rekan Sejawat mereka sendiri.

Solusinya? Yg terbaik adalah regulasi yg ketat dari Pemerintah. Nah, 
sementara nunggu Pemerintahnya selesai mengurusi 'diri mereka 
sendiri' (sblm mengurusi rakyatnya), kita hanya bisa meningkatkan 
pengetahuan medis kita lewat media2 spt ini (ikut milis Dokter_Umum, 
milis SEHAT, dsb), belajar dari Google sblm berobat ke dokter (It's 
incredible, begitu complit info bisa didapat!), dan belajar 
membangun "dialog yg setara" dgn dokter anda atau istilah dr. Waty 
sbg belajar "ber-tanggo" dgn sang dokter.
Insya Allah, hal2 negatif spt IRUD dan Irrational Diagnostic bisa 
dihindari.

Rgds,
hendarwin

--- In [email protected], "yossi_agung" <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
>
> Sorry, numpang ngisi :)
> saya dokter umum, saat ini saya bekerja di Perusahaan provider 
layanan
> kesehatan di Indonesia yg bersifat International. Saya sudah
> membandingkan antara dokter luar (Singapore for Example) dengan dr
> lokal...apa kelebihan mereka? mereka lebih terbuka dalam 
menerangkan
> terhadap pasien, dan komunikasi mereka jaga dengan baik.
> TETAPI.....tidak semua pun bersikap seperti itu. Ada juga yg 
komplain
> setelah mereka berobat disana kok tidak sembuh2...dan hal itu 
jarang
> terekspos. 
> Untuk masalah keilmuan, begini sodara/i...Indonesia punya banyak
> Fakultas Kedokteran Negeri/Swasta, coba bandingkan dengan negara
> tetangga...Saya tidak menutup mata bila ada dokter yg kurang
> kompeten/secara keilmuan kurang....karena dalam satu kelas, pasti 
ada
> makhluk bernama manusia yg punya kelebihan dan kekurangan...Walau
> begitu, Kita dididik untuk tidak melakukan pengobatan yg
> aneh2/melenceng dari keadaan pasien, apabila kita tidak mampu, kita
> akan merujuk kepada yg lebih mampu. 
> Mengambil contoh dari Ibu yg sakit DM sebelum ini, saya rasa dokter
> tersebut punya indikasi lain untuk pemberian diazepam, karena jika 
ibu
> ini hanya mengalami DM saja, pemberian obatnya adalah golongan 
lain,
> dan bukan golongan benzodizepin. 
> Jika anda pergi ke dokter, tanyakan saya sakit apa, akan diberi 
apa,
> apa guna obat ini, kalau tidak sembuh bagaimana. Itu hak anda 
sebagai
> pasien, sehingga kalau nanti tidak puas anda mempunyai rincian
> informasi yang jelas untuk menyalahkan dokternya :P janganlah 
seperti
> sekarang, langsung menyalahkan knp diberi ini? obat ini kan begini?
> Maaf kalau ada yang menyinggung sebelumnya.
> Wassalam,
> Yossi A. Arioseno, dr.
> 
> > Dear,
> > 
> > Setuju Bang Toyib... Mudah2an dengan adanya forum seperti ini 
suatu saat
> > nanti tidak lagi kejadian seperti mama saya... sakit gula 
(diabetes)
> malah
> > dikasih obat diazepam... setau saya dulu waktu sekolah ada anak 
yang
> biasa
> > ngedrug pake obat jeniz itu juga... eh.. bener aja saya khawatir
> mama over
> > dosis  bayangin aja... anak itu aja minum sebutir sehari itu pun
> tidak tiap
> > hari.. na mamah saya di cekokin sehari 3 kali, edan .. kacaw 
dunia ini..
> > kalo semuanya udah berorientasi pada uang... mudah2an dokter2 di 
RSU
> > sume**** sadar dan semoga allah mengampuni kehilafan mereka.. ,
> memudahkan &
> > meringankan kepulangan mama ke pangkuan Illahi, sekali lagi 
mohon kalian
> > para dokter pertimbangkan para pasien itu sebagai manusia bukan 
kelinci
> > percobaan... atau mayat yang biasa kalian beli waktu kuliah 
dulu...
> > 
> > Wassalam
> > 
> > 
> > HrD PT Rals. Tbk.
> > 
>






------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Yahoo! Groups gets a make over. See the new email design.
http://us.click.yahoo.com/XISQkA/lOaOAA/yQLSAA/wrSolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 


 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/dokter_umum/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke