Hello Prie,

Tdk bergeser juga, karena masih berkisar pada bunyi dan kesehatan.
Kali ini anda sdh cukup bagus karena mendeteksi ttg rakasi tubuh anda 
terhadap berbagai sound system dan pemakainanya.
Seperti biasa saya senang utk berbicara yg gampang2 dan amsuk akal saja 
seperti begini:

Suara2 dg frekwensi yg rendah (bass n drum) memang berpotensi utk memicu 
adrenalin dan akibatnya mempengaruhi deburan atau kerjanya jantung.
Itulah mengapa sangat tdk dianjurkan utk tdk mengikuti club2 diskotek 
setiap malam, karena hanya dg mendengarkan suara dentuman bass dan 
drumnya saja maka kita sdh memicu kerja jantung kita menjadi bebrapa 
kali kerja normal.
Saya pernah berada di diskotek selama kurang lebih setahun utk mengamati 
pola hidup org2 disana, tdk setiap hari, tetapi cukup meyakinkan juga 
kalau saya dapatkan hasil yg setelah berada di diskotek bebrapa lama, 
gendang telinga, debur jantung imsomnia, bahkan samapi tremor dan 
migraene sering menghinggapip[ara peserta termasuk saya waktu itu.
Tdk saja ritme tubuh berubah, tetapi waktu utk melakukan perbaikan tubuh 
yg biasanya dilakukan pada saat tidur nyenyak menjadi sangat berkurang.
hasilnya, ada salah seorg staff saya waktu itu yg kemudian melakukan 
jalan pintas dg mengkonsumsi sebangsa minuman yg katanya kesehatan, dan 
terus meningkatkan dosagenya samapi akirnya dirawat dirumah sakit selama 
sebulan (kelihatannya tubuhnya menyerah setelah dipicu dg stamina 
booster dan load yg luar biasa) pada hal kerjanya hanya mengawasi 
komputer yg digunakan agar bila terjadi kerusakan langsung bisa 
ditangani dg baik jadi tdk langsung tejun bejingkrakan di arena.

Balik pada pertanyaan anda,
Perkembangan sytem reproduksi suara kemudian berubah dg dimasukannya 
system digital kedalam pola perekaman dan dg sendirinya pola pemutaran 
kembali juga disesuaikannya.
Dimulai dari signal analog yg direkam dlm piringan, berkemabang kedalam 
pita suara berbentuk cahaya dan kemudian pita magnetik akirnya menjadi 
perombakan struktural dari analog yg diatas tadi menajdi digital dg 
dimasukanya analog to digital converter (AD converter) yg kemudian juga 
seiring dg berkembangnya prosessor terus meningkat menjadi 128 bit dstnya.

Bit sendiri sebenarnya adalah nila ada dan tdk ada atau satu (1) dan nol 
(O) dari jumlah bit yg dimulai pada single bit (1O) yg kemudian pada 4 
bit (DCBA) kemduain bergerak maju terus samapi lebih dari 128 bit.
Sebenanya kaiatanya dg suara menjadi bagaimanakah?
Ceritanya begini:
Kalau suatu nada suara mislanya suara anda membuatkan nada do misalnya, 
maka do anda dan do saya berbeda warnanya karena ada berresonansi sekian 
banyak basik frekwensi yg semuanya kemudian membentuk nada do anda dan 
berbeda dg nada do saya.
Kalau garpu tala menghasikan harmonik suara single resonansi, maka nada 
do yg sama oleh organ akan beresonansi berbeda dg do piano, atau do nya 
suling, dlsbnya.
Nah kalau setiap titik anda potong2 gelombangnya utk dimasukan dlam 
suatu nilai sebanyak 4 titik (4bit ada dan tdk ada sebanyak 4 buah 
=digit1 0/1,digit2 0/1,digit3 0/1, dan digit4 0/1) maka tentu akan lebih 
sesuai kalau potongan pertitik tersebut dibagi dalam 128 bagian (128 bit 
jadi ada 128 0/1) ini yg disebut sampling ke digital dari analog.
Jadi misalnya dlm nada do nya organ, ada misalnya 250 frekwensi yg 
berinterfrensi menjadi satu (saya tdk tau persis ada berapa mesti tanya 
specifikasi pabrikan yg membuatnya) ke 250 frekwensi nada tersebut tentu 
akan lebih mendekati aslinya kalau di potong pada ttk yg sama dg 128 
potongan dibanding hanya menggunakan potongan yg 4 potongan saja.
Utk gampangnya kalau ada 250 frekwensi nada yg membentuk nada do nya 
organ, maka kalau dipotong dg sampling 128 bit maka setiap 2nda 
frekwensi dapat satu sampling, akan tetapi kalau hanya 4 bit maka setiap 
32 nada frekwensi mendaptkan satu
 sampling.
Inilah kenapa kalau anda mendengar dari sound systemnya speaker yg 
relatif cukup murah suaranya berbeda dg suara pada home teather sound 
system.

Dlm system suara home teathre, suara tdk saja mendaptkan samlping play 
back (digital to analog conversion) tetapi juga mengalami signal 
prosesing digital yg kemudian mengalokasikan bentuk suara dan frekwensi 
responsnya ke masing2 speaker ( misalnya 5 n 1: 4 suara channel R L 
front n back, juga 1 channel utk suara bassnya)
Nah resonansi suara yg ditimbulkan oleh penyallur suara speaker masing2 
kemudian memenuhi ruang dengar dan mencapai gendang telinga anda.
Akan tetapi tdk hanya gendang telinga saja tetapi suara ini juga 
bereaksi dg tubuh anda yg dibuat beresonansi sebagaimana peralatan2 
lainnya di dalam kamar tersebut.
Kalau anda ingin ber eksperiment, coba letakan didekat anda satu gelas 
dan air bersih didalamnya, lalau anda dg remote mulai menaikan volume 
suara home teathre anad, maka pada suatu level akan terlihat bahwa air 
dlm gelas tersebut muali bergerak secara kasat mata, artinya bahwa bunyi 
yg sampai bukan saja hanya menjrus ke kuping saja tetapi kesekelilingnya 
juga termasuk keseluruh tubuh (kalau anda teruskan volumenya maka akan 
membuat getaran sedemikian sampai sang gelas menjadi retak.
Nah, dg adanya resonansi tubuh tersebut, maka permukaan tubuh merasakan 
bahwa suara tadi menggerakan otot dan dg demikian perlu adanya 
peningkatan pengiriman darah dan peningkatan hormonal agar otot yg 
bergerak tadi tdk mengalami kekejangan, itulah yg anda rasakan sebagai 
debur jantung yg naik seiring dg dinaikannya volumenya.
System resonansi ini ada yg memanfaatkan utk alat pijat tempat duduk 
mobil (tetapi hati2 menggunaknnya karena ada suara yg kemudian juga 
memicu jantung anda, dan mind set anda sehingga dapat menimbulkan ketdk 
sadaran; ini bahayakan kalau lagi nyetir n tdk sadar???)
Digital amplifier pada home teathre tentu memiliki kemampuan menggerakan 
gendang telinga dan otot karena disamping tapisan dilakukan sangat 
banyak dan mengalokasikan ke 5 channel paling sedikit, juga suara yg 
keluar masing2 menjurus pada frekwensi yg di perkuat tersendiri, 
dibanding analog amplifier yg memiliki analog rekaman dan plyback yg 
juga sangat terbatas pada frekwensi response disamping penguatannya pun 
terbatas hanya 2 channel dg pemabgian suara yg kasar antara low, medium 
dan high tone saja, itupun kalau systemnya memilkki xross over filter 
dan belum lagi noise yg ditimbulkan oleh baiuk perangakat piringan 
misalnya atau pun tape misalnya.

Dg demikian mudah2an menjadi jelas uraian saya, dan diharapakan anda 
mewanti2 anak2 anda agar di rumah maupun di tempat kost utk tdk menyetel 
perangkat home teather dg keras2 karena kalau gelas berisi air bisa 
beresonansi dan pecah, apalagi dg tubuh, jantung, otak dlsbnya, meskipun 
tdk pecah tetapi pasti terganggu dan terprovokasi.

Emosional jelas terjadi kalau ada peningkatan hormonal tubuh akibat 
sound tersebut.

Sound atau suara yg digunakan utk terapi biasanya di putar dlm perngakat 
personal audio yg memilki frekwensi response yg lebih baik tetapi tdk 
memilki power yg besar dan hanya digunakan dg memakai headphone, 
sedangkan nadanya disesuaikan dg brainwave dan adaptasi kuping mendengar 
suara tersebut jadi hukan dg jedar jedor.
But sure, the natural sound always better then simulation or synthezise 
sound, jadi kalau mau penyembuhan yg alami, bisa ke gunung, ke sungai, 
ke pantai laut dan jangan ke padang pasir booo ;-) , haus nantinya dan 
terbakar serta dehidrasi, dan tentunya dg pengawasan dan dosage yg baik 
dan benar, sesuai dg kebutuhan tubuh masing2 yg berbeda satu sama lainnya.

Dg penjelasan ini tentu tdk aneh lagi kan kalau suara dan mutu suara dg 
DVD yg sama akan memberikan hasil ytg berbeda karena perangakat2 
tersebut berbeda baik D/A convertornya maupun system audioplaybacknya.

Wassallam

prie tea wrote:

>maap ya, mungkin jadi makin bergeser topiknya...
>
>Sepertinya selain kekerasannya (dB), mungkin ada
>kaitannya juga frekuensi suaranya ya (Hz). Suara yg
>ngeBass dug dug dug bisa bikin jantung jadi...
>mendapat tekanan lebih berat, dibanding dengan suara
>Treble yg ces ces ces.
>
>Kadang kalo memperhatikan soundtrack film, ada
>beberapa adegan yg musik latarnya lebih banyak pake
>nada rendah, ternyata membuat sy merasa lebih tegang
>daripada kalau musiknya ga serendah itu nadanya. kan
>ada software yg bisa ganti2 nada dasar
>
>yang anehnya lagi, film yang sama distel di perangkat
>audio-video yang berbeda bisa jauh beda pengaruhnya.
>apalagi kalau perbandingannya setel di komputer pake
>speaker aktif biasa dengan setel di perangkat home
>theater.. wuaah home theater bener-bener bikin tegang.
>apa karena speakernya banyak ya. apa ada hubungannya
>banyaknya sumber suara dengan pengaruh emosional?
>
>sorry nih jadi OOT...
>
>
>mprie
>
>
>Re: efek speker toa yang nyaring terhadap kesehatan
>gendang telinga? 
>Posted by: "Dr.(Naturopathy) Ir. Donny Hosea MBA. PhD"
>[EMAIL PROTECTED]   puyuh23 
>Tue Apr 17, 2007 3:19 pm (PST) 
>Hello,
>Mau dan tidak, topik ini cukup menarik utk dibahas
>dari sisi kesehatan.
>
>__________________________________________________
>Do You Yahoo!?
>Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
>http://mail.yahoo.com 
>
>
>
> 
>Yahoo! Groups Links
>
>
>
>
>
>  
>

-- 

   "Absolutely Drug less Health Care solution Organization"


Kirim email ke