Hanya comment saja dok,
Dalam prakteknya (tidak semua)ada beberapa dokter di daeah pinggiran yang 
memberikan obat kepada pasien, jarang memberikan resep utnuk ditebus di apotik. 


Rin Pras
  ----- Original Message ----- 
  From: BHR-MLR-B05S 
  To: Dokter_Umum 
  Sent: Monday, February 25, 2008 1:59 PM
  Subject: [Dokter Umum] Fwd: [health-talk] Praktek dokter/apoteker


  Begin forwarded message:

  > From: "B.H. Jo" <[EMAIL PROTECTED]>
  > Date: February 25, 2008 1:19:10 PM GMT+07:00
  > To: [EMAIL PROTECTED]
  > Subject: Re: [health-talk] Praktek dokter/apoteker
  > Reply-To: [EMAIL PROTECTED]
  >
  > Saya sebagai dokter (di AS dan Canada) mau ikut
  > sharing ttg. topik ini dan kebetulan istri saya
  > sebagai pharmacist di Canada.
  >
  > Dokter disini tidak boleh dispensing obat sebab adalah
  > satu yg. bisa menyebabkan "conflict of interest" dan
  > dianggap melanggar etika dan dilarang. Tetapi dokter
  > boleh memberi obat sample kpd. pasien karena dokter
  > tidak mendapat uang dari obat sample ini. Jadi obat
  > (yg. memerlukan resep) cuma bisa didapat di pharmacy.
  >
  > Tugas pharmacist:
  > 1) menge-check apakah resep dari dokter itu tidak
  > salah utk. penyakit tertentu, apakah dosisnya benar?
  > Kalau resepnya salah, pharmacist harus memberi tahukan
  > kpd. dokter supaya kalau memang ada kesalahan,
  > kesalahan masih bisa diperbaiki.
  > 2) menge-check apakah ada potensi drug-interaction
  > dgn. obat2 lain yg. dipakai oleh si pasien? Setiap
  > pasien mempunyai "file" di computer di pharmacy dgn.
  > obat2 yg. dipakainya. Jadi kalau obat/resep baru bisa
  > menyebabkan drug-interaction, software di computer
  > akan memberi tahu kepada pharmacist-nya. Dan
  > pharmacist harus memberitahukan kpd. dokternya supaya
  > kalau perlu obat bisa diganti.
  > 3) mengawasi apakah pasien adalah drug's/narcotic's
  > abuser? Walaupun pasien pindah ke apotik lain, kalau
  > membeli obat narcotic, bisa diketahui history dari
  > pemakaian obat narcotic sebab pemaikan obat narcotic
  > disimpan di central computer yg. bisa di access oleh
  > setiap apotik.
  > 4) counseling: menerangkan cara pemakaian obatnya
  > bagaimana, misalnya: dimakan dgn. perut kosong, tidak
  > boleh dimakan ber-sama2 dgn. antacid dll. Menerangkan
  > potensi side effects-nya. Counseling adalah tugas yg.
  > sangat penting utk. pharmacist.
  > 5) dari segi ekonomi, sekarang, phamacist dianjurkan
  > utk. mengganti brand name yg. dianjurkan oleh dokter
  > dgn. generic drug.
  > 6) sekarang pharmacist (di Province tertentu di
  > Canada) mulai diperbolehkan menulis resep utk.
  > penyakit2 yg. gampang dan boleh memperbarui (renew)
  > utk. obat2 dari penyakit2 kronis dgn. kerjasama dgn.
  > dokternya. Ini bisa meringankan pekerjaan dokter.
  >
  > B.H. Jo
  > (Beng-Hoey Jo)
  >
  > --- theresia permadi <[EMAIL PROTECTED]>
  > wrote:
  >
  > > Dengan hormat,
  > >
  > > Pertama saya ucapkan terima kasih untuk tanggapan
  > > Prof Iwan dan juga Peserta HT yang lain.
  > > Pada Prof Iwan:
  > >
  > > Perumpaan mengenai apel dalam keranjang memang benar
  > > tetapi ini mengandaikan apel tidak bisa berpikir
  > > sedangkan manusia bisa kecuali dia adalah "economic
  > > animal".
  > > Saya percaya bahwa Prof sudah terima media bisnis
  > > farmasi "Pharma Magazine" vol.2 Ed I Jan-Feb. 2008.
  > > Pada halaman 40 dibahas "Peran Apoteker belum
  > > optimal".Ternyata konsep "Apotek Rakyat" yang
  > > membingungkan berasal dari Dr. Marius SE dari YPKKI
  > > dan Badan POM (Dr. Husniah R?) dengan tujuan untuk
  > > memberantas perdagangan obat ilegal. Apakah hal ini
  > > masuk akal? Sedangkan pendapat dari wakil YLKI
  > > malahan tidak digubris.
  > > Catatan: Kalau ada TS Dokter yang ingin mendapat
  > > "Free Subscription Pharma Magazine" silahkan tulis
  > > ke pharma_magazine @yahoo.com.
  > >
  > > Pada Dr. Billy,
  > > Saya menyesal kalau Anda salah persepsi mengenai
  > > tulisan saya. Saya sama sekali tidak claim bahwa
  > > apoteker lebih akhli dari dokter tentang dispensing
  > > obat.
  > >
  > > Saya berpendapat bahwa profesi sarjana kesehatan
  > > sudah menyimpang karena dokter banyak (meskipun
  > > tidak semuanya) yang dispensing obat tetapi apoteker
  > > salah juga karena hanya pajang nama. Juga banyak
  > > apotek dimiliki pabrik obat/pengusaha yang menjadi
  > > apotek panel. Jadi agar secara resmi obat mengikuti
  > > jalur yang resmi pesanan melalui apotek tetapi
  > > kemudian obat tersebut disalurkan ke dokter yang
  > > dispensing. Untuk ini harga obat yang tiba di tangan
  > > dokter lebih murah 20-30% dari harga yang dibeli
  > > apotek dari distributor resmi. Mengapa saya tahu
  > > karena saya pernah ditawarkan tetapi saya tahu bahwa
  > > ini tidak etis, maka saya tinggal menolak dengan
  > > segala konsekuensinya.
  > >
  > > Jadi kalau dengan alasan memberikan obat murah
  > > kepada pasien tetapi caranya merugikan profesi saya
  > > apakah ini harus dilanjutkan?
  > > Sesungguhnya saya sudah lama menanti2kan ada
  > > kelompok profesi kesehatan yang mau menjernihkan
  > > "Cara2 praktek kesehatan yang baik" didalam
  > > masyarakat kita sehingga kita bisa kembali ke
  > > PROFESI kita. Bukan seperti yang terjadi sekarang
  > > dimana banyak pasien menjadi lahan "exploitasi"
  > > secara tidak manusiawi.
  > >
  > > Kesimpulan: karena saya masih percaya bahwa apa yang
  > > kita tabur/tanam akan kita tuai/petik (baca buku
  > > "The Secret").
  > >
  > > Wassalam,
  > >
  > > Theresia Permadi
  > >
  >

  [Non-text portions of this message have been removed]



   

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke