Yang  Dosen  aja  dah  kesulitan  secara  ekonomi, sampe2  stress tinggi &
umur  pendek,  apalagi  rakyat  kecil  pasca   kenaikan  harga  BBM ?  Akan
lebih  banyak  balita  yang  meninggal  akibat  kekurangan gizi.
Kiranya  Tuhan  Yang  Maha  Kuasa  Memberkati  Indonesia  &  Menghindarkan
Mala Petaka  dari  Bumi  Indonesia.  Amien.



Pesan Yang Diteruskan ----------
From: endah marty [EMAIL PROTECTED]
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Fri, 16 May 2008 17:20:53 +0900
Subject: 2008 KERJA DOSEN DAN UMUR PENDEK
KERJA DOSEN DAN UMUR PENDEK

Oleh : Moch. Faried Cahyono

Apakah bekerja sebagai dosen identik dengan umur pendek? Olok-olok serius
itu masih juga terjadi hingga lewat dua minggu sesudah  Riswanda Imawan,
pakar politik UGM, dipanggil Tuhan Yang Maha Kuasa. UGM untuk kesekian
kalinya, kehilangan dosen terpilih yang meninggal dalam usia relatif muda.
Riswanda Imawan, meninggal dunia pada usia 51 tahun, jauh dibawah umur
rata-rata orang Indonesia yang mencapai 67 tahun. Kehilangan dosen dalam
usia relatif muda adalah yang kesekian kalinya bagi UGM dalam tahun-tahun
terakhir. Salah seorang anggota Majelis Guru Besar UGM bahkan mencatat
selama 4 tahun belakangan ini UGM telah kehilangan 60 orang dosennya.
Mayoritas mereka, meninggal dibawah usia 60 tahun. Hanya 4 orang yang
meninggal dengan usia diatas 60 tahun.

Kematian Riswanda, diluar Allah menghendaki, ternyata menimbulkan kesimpulan

satir. Bahwa bekerja sebagai dosen di UGM di jaman kini, bisa jadi bukan
pekerjaan yang sehat. Irwan Abdullah, Direktur Pasca Sarjana UGM mengatakan,

kematian banyak dosen UGM dibawah usia rata-rata manusia Indonesia bisa jadi

karena keharusan bekerja ekstra keras untuk kebutuhan survive secara
ekonomi. Selain itu beban sosial seorang intelektual seperti dosen di
Indonesia, di luar pekerjaan pokoknya mengajar, lebih berat dibanding negara

maju. Mereka harus pula memenuhi tuntutan sosial masyaraakt, diantaranya,
ikut andil menciptakan masyarakat yang lebih baik Sementara dari gaji,
relatif lebih rendah. Persoalan menjadi penting, ketika orang mencoba
menghubungkan soal gaji rendah, kerja berat, dengan angka harapan hidup yang

rendah.

Begitulah kini, para dosen yang dekat dengan almarhum, mulai memikirkan cara

untuk tidak terlalu serius berpikir soal memperbaiki negara. Dosen harus
lebih rajin berolah raga dan menjaga kesehatan dengan mengurangi kegiatan
mengajar dan proyek yang terlalu banyak. Pekerjaan sebagai dosen itu sendiri

sudah dekat dengan stress tinggi.

Selain mengajar, harus menulis laporan penelitian, buat jurnal ilmiah, juga
kerja-kerja administratif yang dilakukan dalam tenggat waktu dan
ketergesaan. Harap maklum, di UGM, seorang dosen bisa mengajar sampai 11
mata kuliah per minggu.

Ada alasan mengapa dosen harus mengajar begitu banyak mata kuliah. Pertama
menyangkut kepakaran. Jumlah kelas yang lebih banyak, juga dibukanya banyak
program baru pada tahun-tahun terakhir menyebabkan dosen harus meluangkan
banyak waktu. Kebijakan semester pendek dengan memadatkan kuliah yang
lazimnya 3-4 bulan menjadi 1-2 bulan membuat dosen sering tidak punya hari
libur. Kadang proses belajar mengajar dipadatkan dalam satu minggu terus
menerus atau week end asal bisa mengejar jumlah jam. Tapi, jika jujur,
seperti diakui oleh seorang Wakil Dekan di salah satu Fakultas Ilmu Sosial
di UGM, dosen-dosen harus mengajar ekstra banyak, karena kalau tidak begitu,

tidak akan survive secara ekonomi.

Soal tidak cukupnya gaji untuk hidup sebulan, adalah soal umum di Indonesia.

Baik PNS, TNI maupun polisi kini tak cukup lagi mengandalkan hidup dari
gaji. Persoalan gaji yang belum juga mampu dipecahkan oleh pemerintahan
Presiden Yudoyono. Kebijakan pencabutan subsidi BBM, rendahnya dana untuk
pendidikan dan kesehatan, menjadikan gaji yang tadinya sudah pas-pasan,
menjadi benar-benar tidak cukup.

Lebih lanjut, Wakil Dekan ini bercerita, gaji seorang dosen seperti dirinya
yang sudah mengajar lebih dari 10 tahun, hanya cukup untuk hidup 1 minggu.
Bagi pensiunan dosen, situasi bisa lebih berat. Salah satu Dekan Fakultas
Eksakta UGM bercerita, bagaimana dia sesungguhnya selain merasa senang
melibat para profesor emeritus tetap mengajar di alamamaternya meskipun
sudah pensiun. Tapi, pak Dekan ini prihatin melihat para profesor sepuh itu
kini tidak lagi mengajar sebagai  hoby, aktualisasi diri, atau pengembangan
ilmu. Tapi memang mereka harus tetap mengajar karena uang pensiun sebagai
profesor hanya Rp 1 juta-an saja. Gaji dan pensiun itu biasanya sudah habis
untuk bayar listrik, telepon, dan bensin. Sisanya, harus dipenuhi dengan
kerja yang lain.

Beratnya tekanan ekonomi itu, bisa ditelusuri karena dua sebab. Pertama
karena gaji yang rendah sebagai trend umum pegawai negeri. Kedua, soal pola
hidup. Berbeda dengan situasi 10-20 tahun lalu,  jaman ini adalah jaman yang

lebih konsumtif. Jaman ini juga ditandai dengan negara yang lebih pelit
dalam mengeluarkan uang bagi rakyatnya.  Selain itu, kebersahajaan mungkin
barang lama. Ada pula fakta, bahwa universitas tidaklah �sekaya� dulu.
Fasilitas rumah dinas  misalnya, kini tak diberikan pada dosen-dosen muda.
Jika ingin membangun rumah, maka harus pandai-pandai mencari tambahan.

Tetapi, apakah perilaku kerja para dosen UGM yang rawan stress, itu adalah
sesuatu yang unik dan datang ujug-ujug tanpa sebab musabab? Jawabannya tentu

saja tidak. Kecenderungan itu ada di mana-mana. Ada banyak jawaban soal ini,

namun secara umum keharusan bekerja lebih berat itu muncul dan semakin
nyata, ketika paradigma pendidikan berubah menjadi komoditi dagang. Ide
Negara Kesejahteraan memang  sudah raib berganti dengan orientasi yang
benar-benar pro pasar,  sebagaimana kebijakan yang disarankan IMF. Resep
umum IMF untuk memperketat anggaran negara dan mencabut subsidi, benar-benar

menghantam dunia pendidikan dan manusia yang tinggal dan berhubungan
dengannya.

Ide negara yang harus lebih pro pasar itu mengharuskan pencabutan subsidi
pendidikan. Pendidikan bukanlah bentuk pelayanan publik, tetapi sebuah
komoditi yang diperdagangkan. Jadi, negara tidak boleh memberi subsidi.
Dulu, ide ini pun mendapat perlawanaan dari banyak warga kampus, bahkan
kampus-kampus Amerika, Jepang, dan negara-negara Asia lain. Tapi, perlawanan

tak berhasil. Sebagaimana sama dengan di Indonesia, warga Thailand misalnya,

kini juga harus menerima pendidikan yang lebih mahal.  Berkurangnya anggaran

tidak hanya dialami UGM, tapi juga universitas- -universitas negeri lainnya.

Mereka dipaksa mencari biaya sendiri, dan harus kreatif melobi sumber dana.
Tantangan berkurangnya dana itu dijawab UGM yang kini menjadi Badan Hukum
Milik Negara (BHMN), diantara yang pokok dengan membuka lebih banyak kelas.
Bahkan beberapa program studi yang harusnya diisi oleh lebih sedikit
mahasiswa, juga membuka kelas besar.

Biaya kuliah pun jadi mahal. Tentu ada kelas ekonomi yang tidak memasalahkan

soal biaya kuliah yang mahal. Misalnya mereka yang tak memasalahkan masuk
Fakultas Kedokteran UGM yang jadi mahal. Di UGM biaya masuk bagi mahasiswa
FK dengan tes murni mencapai Rp 20 jutaan. Orangtua yang bisa memberi
sumbangan sebesar Rp 150 juta, hampir  pasti dijamin bisa menyekolahkan
anaknya di FK-UGM, karena anak tersebut berjasa mensubsidi kawan-kawannya
yang lebih miskin. Ketika negara tidak menyediakan anggaran, maka tak akan
pernah lagi anak PNS rendahan, apalagi anak tukang becak, bisa jadi dokter.

Dengan gerak agresif perguruan tinggi negeri seperti UGM, maka Perguruan
Tinggi Swasta (PTS) di Yogya juga tidak tinggal diam. Mereka serius
bertahan. Selama bertahun-tahun, mereka sudah  melengkapi diri dengan
membangun fasilitas gedung-gedung megah, serta menyekolahkan para dosennya
hingga bergelar doktor. Kini beberapa PTS besar di Yogya bahkan membuka
program S-2 dan S-3 sendiri. Bagaimana PTS kecil yang hanya punya program
S-1, dan biasanya menerima mahasiswa yang sebelumnya, tidak lolos seleksi
UGM atau PTS besar? Mereka dibiarkan mati tanpa pertolongan.

Saat ini kekurangan mahasiswa hingga 50 persen adalah kecenderungan umum
yang dialami sebagian besar PTS di Yogya. Sudah banyak program studi PTS
tutup. Salah seorang pengelola PTS mengatakan, turunnya mahasiswa adalah
kecenderungan umum. Para orangtua dari luar Yogya, juga dari luar Jawa, kini

tidak lagi menjadikan Yogya tujuan kuliah utama. Selain biaya mahal, juga
karena sudah ada Perguruan Tinggi di kampung sendiri. Tetapi, UGM yang
membuka kelas baru dalam jumlah terlalu banyak, memang merupakan ancaman
nyata bagi kematian PTS.

Yogyakarta adalah sebuah pripinsi yang dibangun dengan basis industri
pendidikan. Ciri ekonomi propinsi ini, khas. Ada perguruan tinggi, datang
mahasiswa, muncul rumah kos, usaha makanan, hingga belanja mahasiswa dan
keluarganya. Dan begitulah ekonomi bergulir. Pola Yogyakarta ini relatif
aman dari konflik, karena industri pendidikan yang dibangun menyertakan
semua pihak mendapatkan bagian ekonominya masing-masing. Tapi, globalisasi,
dengan menjadikan pendidikan sebagai barang dagangan murni, akan menyebabkan

pola itu akan hancur.  Dominasi Universitas Negeri yang berlebih, dalam hal
ini UGM bersama Universitas Negeri Yogyakarta (Eks IKIP Yogya) dan
Universitas Islam Negeri (Eks IAIN) Sunankalijaga yang membuka kelas besar
tidak hanya akan mematikan PTS-PTS. Tetapi juga menyebabkan persebaran ruang

ekonomi lebih terbatas, dan potensi konflik di masyarakat, akibat hilangnya
pekerjaan, akan meningkat.

Presiden Yudoyono beberapa kali meminta bangsa Indonesia menerima
globalisasi sebagai fakta. Rakyat Indonesia diminata siap menerima dampak
buruk selain pengaruh baiknya. Persoalan tidak sesederhana itu. Di UGM yang
kaya intelektual saja, persoalan kesiapan dalam  menghadapi globalisasi di
dunia pendidikan diantisipasi dengan keliru, apalagi ketika persoalan gaji
pegawai yang tidak cukup untuk hidup layak, tetap merupakan soal yang tidak
dijawab negara. Tentu ada kelompok dosen atau Fakultas yang gemuk oleh
sumber dana, misalnya Fakultas Teknik dan Ekonomi. Secara personal, ada
dosen yang bisa jadi  menteri, staf menteri, konsultan, maupun nyambi jadi
pengusaha yang hidup sejahtera. Tapi, mereka adalah kelompok minoritas di
kampus. Selebihnya adalah pekerja intelektual atau pegawai administrasi yang

mengabdikan diri untuk karya intelektual pengajaran. Mereka berharap
mendapat gaji yang cukup, agar bisa berkonsentrasi dalam  pengembangnya
ilmu.

Penataan manajemen di tingkat internal UGM memang diperlukan, agar
kesejahteraan warganya lebih merata. Tetapi, jika kue yang harus dibagi
kecil atau mengecil, maka persoalannya adalah negara. Harus ada kemauan kuat

dari negara untuk meningkatkan anggaran pendidikan secara umum, misalnya,
dengan mencadangkan sekian persen dana hasil minyak bumi untuk pendidikan.
Kesalahan dalam memilih kebijakan di tingkat negara, dengan membiarkan dunia

pendidikan mencari uang sendiri, hanya akan menciptakan harga pendidikan
yang mahal bagi rakyat, sementara kualitas didikan justru tidak lebih baik.
Dan jika dinilai siapa yang paling bersalah, mohon maaf, pastilah mereka
yang sedang ada di kekuasaan.** -***



------------------------------

-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke