Ibu Muti mengeluh kesemutan di ujung-ujung jemarinya, biasanya tangan
kanan. Kesemutan itu kemudian berkembang menjadi rasa tebal, baal.
Saat ia mengetik atau merenda, tebalnya makin terasa. Perasaan itu
semakin mengganggu karena saat ia memegang koran pun jadi tidak enak.
Ujung-ujung jarinya terasa tebal. Tapi begitu tangannya
dikibas-kibaskan, rasa kesemutan itu pun hilang. Karena berulang-ulang
mengalami hal yang sama, lama-lama ia jadi jengkel. Ia pun pergi
berkonsultasi ke dokter.

Setelah meneliti tangan kanannya, pencet sana-sini, si dokter dengan
enteng berkata, "Ini sih gara-gara Ibu yang kerajinan!" Ha? Belum
sempat Ibu Muti menyahut untuk minta penjelasan, suaminya malah
menimpali, "Memang, Dok, istri saya ini superrajin. Setiap hari posisi
meja dan kursi, termasuk vas bunga selalu diubah-ubah. Saya sudah
bilang, 'Cari kek pembantu', tapi ia tidak mau menurut."

Ibu Muti cuma senyum-senyum, "Abis, saya orangnya suka beberes sih,
Dok. 'Kan rumah yang rapi sedap dipandang?" Si dokter menawarkan
solusi yang amat sederhana, "Mulai sekarang, ibu harus mengurangi
kegiatan dengan tangan kanan yang tidak perlu. Jadi 'komandan' saja,
cukup main tunjuk dengan telunjuk."

Terowongan terjepit
Gejala kesemutan seperti dialami Ibu Muti itu ternyata punya nama
cukup keren, carpal tunnel syndrome (CTS). Sesuai namanya, gejala ini
berkaitan dengan terowongan di pergelangan tangan (karpal). Karena
kegiatan tangan kanan Bu Muti superaktif, otot-ototnya membesar
sehingga menekan saraf yang melewati terowongan di pergelangan tangan.
Maka terjadilah kesemutan alias gringgingen, kata orang Jawa.

Gejala di terowongan karpal ini juga umum terjadi pada para lansia
penderita rematik. Dalam hal ini, saraf terjepit bukan akibat
pembesaran otot melainkan sendi di pergelangan tangan berubah bentuk.
Kalau kasusnya seperti ini, dokter tentu tidak dapat memberikan solusi
sesederhana kasus Ibu Muti. Operasi dapat dilakukan oleh ahli bedah
saraf untuk mengendurkan saraf terjepit itu dan memperlebar
terowongannya. Namun, bila rematiknya dapat diobati, tindakan operasi
tidak diperlukan.

CTS bisa menjadi gangguan lebih serius bila didiamkan cukup lama,
misalnya 1 - 2 tahun. Pada tahap ini jepitan sudah mengganggu aliran
darah ke tangan, dengan akibat otot-otot yang kekurangan makanan jadi
mengecil. Mengecilnya otot membawa akibat tenaga otot berkurang.
Barangkali ibu jari atau jari lain jadi lemas. Tentu dibutuhkan
tindakan operasi untuk membebaskan terowongan terjepit tadi. Meski
operasi kecil, karena menyangkut saraf, pasien tetap harus dibius.
Hanya saja, setelah operasi butuh waktu lama untuk memulihkan kondisi
tangan, karena otot yang telah telanjur mengecil itu membutuhkan
latihan agar membesar dan kembali kuat.

Sindrom terowongan karpal ternyata punya "saudara" juga, dengan
gangguan sama, tapi pada jari-jari kaki. Namanya tarsal tunnel
syndrome dan umum diderita kaum laki-laki. Terapinya pun mirip: jangan
jalan-jalan dulu alias mengistirahatkan kaki. Bila tidak ada penciutan
otot, biasanya terapi sederhana ini cukup untuk menyembuhkan
kesemutannya.

Rangsang listrik terhambat
Siapa sih yang tidak pernah mengalami kesemutan? Umumnya kita
mengalaminya akibat posisi tubuh tertentu yang membuat saraf terjepit.
Duduk di lantai dengan kaki dilipat untuk waktu lama, ketiduran saat
nonton TV pada posisi tidur yang "kurang beres". Tetapi bila bagian
tubuh itu dikibas-kibaskan atau digoyang-goyangkan, kesemutannya akan
hilang.

Namun ada pula kesemutan yang tidak hilang sendiri. Simak pengalaman
Pak Tanto. Mulanya, ia cuma mengeluh kesemutan di telapak kaki. Lambat
laun telapak kaki itu terasa tebal. Rasa tebal itu menjalar ke betis,
lalu ke lutut. Setelah beberapa waktu, kaki yang terganggu itu mulai
lemah. Pak Tanto jadi sukar berjalan. Gejala diperparah oleh sakit
kepala hebat yang menyerang. Saat batuk atau mengedan pun kepalanya
terasa sakit. Lambat laun, kedua kakinya seakan lumpuh. Ia tak dapat
lagi berjalan. Seperti belum cukup, penglihatannya jadi kabur. Dalam
kondisi begini barulah ia menemukan dokter yang tepat. Ternyata ia
mengidap tumor di bagian depan otak. Sebuah penyakit amat serius
dengan gejala awal sepele.

Pada dasarnya kesemutan merupakan suatu gejala manifestasi dari
gangguan sistem saraf sensorik akibat rangsang listrik di sistem itu
tidak tersalur secara penuh dengan sebab macam-macam. Yang paling
sederhana, misalnya, jalan darah tertutup akibat satu bagian tubuh
tertentu ditekuk terlalu lama. Pada orang sensitif, tidur miring
terlalu lama saja dapat menyebabkan kesemutan. Juga duduk dengan siku
ditekuk.

Sistem saraf sensorik mempunyai prosedur kerja baku. Stimulus berupa
sentuhan, tekanan, rasa sakit, dan suhu panas atau dingin diterima
oleh reseptor di kulit, yang lalu dikirimkan ke saraf tepi, lalu masuk
ke dalam susunan saraf pusat di sumsum tulang belakang. Di sini
stimulus diteruskan ke atas sampai ke thalamus (pusat penyebaran utama
impuls-impuls sensoris). Dari sini stimulus dikirimkan ke kulit otak
(cerebral cortex). Baru pada saat inilah apa yang dirasakan tadi
disadari oleh si individu.

Kalau ada gangguan dalam jalur sensori baku tadi, timbullah kesemutan.
Kesemutan yang tidak disertai gejala-gejala lain biasanya menandakan
adanya gangguan pada reseptor di kulit atau pada cabang-cabang saraf
tepi. Namun kita mesti lebih waspada jika ada gejala lain di luar
kesemutan, seperti dialami Tanto. Bukan hanya kelumpuhan, kesemutan
bisa juga disertai gangguan penglihatan, pendengaran, gabungan
keduanya, atau lainnya. Kalau ada tumor di otak selain gejala
kesemutan atau tebal tadi, ada juga sakit kepala, muntah-muntah, dan
kelumpuhan kecil.

Kesemutan sebagai bagian dari gejala penyakit sebenarnya tahap paling
awal dari suatu proses kehilangan rasa. Kalau tahap paraesthesia (ya
kesemutan tadi) sudah terlampaui, pasien meningkat pada hypaesthesia
(baal) sampai akhirnya mengalami anaesthesia (hilang rasa sama
sekali).

"Kesemutan memang gejala amat penting", ungkap dr. Yusuf Misbach,
ketua Departemen Neurologi Fakultas Kedokteran UI, Jakarta. "Kalau
gejala kesemutan itu makin lama makin berat, intensitasnya makin
tinggi, bidang cakupannya makin luas dan frekuensinya makin sering,
segeralah periksakan diri ke dokter," lanjutnya.

Maka bila kesemutan tak hilang hanya dengan dikibaskan, bila tadinya
hanya terasa di dua jari kemudian di semua jari, lalu merambat ke
tangan; bila tadinya hanya terjadi sekali-sekali namun kini hampir
tiap hari, atau bila kesemutannya telah meningkat menjadi baal, itu
saatnya kita pergi ke dokter.

Defisiensi vitamin
Kesemutan bisa merupakan gejala penyakit serius, tetapi bisa juga
hanya akibat sampingan. Orang yang terlalu banyak berbaring atau
kurang gerak, entah karena sakit, lemah, atau obesitas, bisa juga
menderita kesemutan akibat bagian-bagian tertentu tubuhnya
terus-menerus tertekan. Bahkan penciutan otot bisa juga terjadi. Kasus
yang dinamakan neuropathy tekanan ini sering dijumpai pada pasien TBC
kronik dan stroke yang lumpuh sebelah dan kurang mendapat perawatan
fisioterapi. Istilah neuropati sendiri berkaitan dengan segala macam
penyakit, radang atau kerusakan yang menimpa saraf tepi.

Pada pasien jantung, kesemutan tak cuma muncul akibat neuropati
tekanan, namun dapat juga timbul karena komplikasi jantung dengan
sarafnya. Yang terjadi misalnya, si pasien menjalani operasi
pemasangan klep jantung. Saat pemasangan, ada bekuan darah menempel,
yang kemudian terbawa aliran darah ke atas, sehingga terjadi embolic
cerebral. Bila sumbatan di otak itu kebetulan mengenai daerah yang
mengatur sistem sensorik, si penderita akan merasakan kesemutan
sebelah. Bila daerah yang mengatur sistem motorik juga terkena,
kesemutan juga disertai kelumpuhan.

Pada penderita stroke yang terjadi juga mirip. Bila yang terserang
sistem motorik, ia lumpuh. Namun, bila yang terserang sistem sensorik,
yang ia rasakan hanya kesemutan atau baal sebelah. Namanya sensoric
stroke.

Bagaimana dengan anak-anak? Bila suatu kali Buyung mengeluh,
"Ujung-ujung jariku seperti dirambati banyak semut, lalu belakangan
'semut-semut' itu seperti merambat ke atas," besar kemungkinan
kesemutan anak ini akibat kekurangan vitamin. Biasanya ini diderita
anak-anak yang agak besar. Kesemutan pada anak-anak jarang terjadi,
karena jaringan sarafnya masih fleksibel dan anak-anak biasanya lebih
aktif bergerak.

Sebagai efek sampingan obat, kesemutan dapat juga timbul, misalnya
bila mengkonsumsi INH (obat TBC) atau furadatin (obat infeksi). Di
samping itu, kesemutan juga dapat disebabkan oleh faktor imunologi.
Poly neuroradiculopathy mengenai akar-akar saraf yang masuk atau
meninggalkan tulang belakang dan terjadi karena ada zat-zat tertentu
di dalam tubuh yang tidak dapat ditoleransi oleh tubuh.

Pada orang dewasa, kadang-kadang kesemutan itu didahului oleh flu
berat. Kesemutan itu semakin menghebat, naik dari ujung jari menjalar
sampai ke pusar. Gejalanya berkembang menjadi rasa tebal. Lalu
penderita sukar berjalan. Ini gejala radang sumsum tulang belakang,
yang terjadi karena serangan virus. "Biasanya cytomegalovirus," jelas
dr. Yusuf Misbach.

Bila terjadi infeksi di tulang belakang, bisa dari pusar ke bawah tak
dapat digerakkan. Penderita tak dapat mengontrol buang air kecil.
Buang air besar pun sulit. Penyakit ini dinamakan myelitis (radang
sumsum tulang belakang). Tergantung pada kerusakannya, penyakit ini
dapat disembuhkan total, dapat pula cuma sembuh sebagian, tetapi ada
juga yang sampai lumpuh.

Maka menghadapi pasien kesemutan, dokter selalu akan menyelidiki
bagian tubuh yang mengalami kesemutan, luasnya, tempat awal kesemutan,
dan perkembangan kesemutan itu sejak awal. Semua informasi ini akan
menunjukkan penyebab masalah. Barangkali pada saraf tepi, pada otot,
sumsum tulang belakang, atau bahkan otak.

Diabetes pun bisa
Lucunya, ada orang-orang yang memang condong gampang kesemutan. Bisa
karena ia pada dasarnya sensitif. Namun bisa juga hanya karena ia
terlampau kurus, sehingga sarafnya bertonjolan. Para penggemar minuman
keras pun ada yang akrab dengan kesemutan, bila takaran alkohol yang
merasuki tubuhnya sudah terlalu banyak. Soalnya, alkohol merusak
metabolisme vitamin B. Pada saat yang bersangkutan kekurangan vitamin
B1, timbullah neuropati. Tentu saja, karena vitamin ini salah satu
unsur yang diperlukan untuk penghantaran rangsang listrik pada saraf.
Dalam hal ini neuropati terjadi bukan karena tekanan, tetapi karena
fungsi saraf terganggu.

Seorang pasien datang berkonsultasi kepada dokter. Ia mengeluh
kesemutan di tangan, pada tiga ujung jari. Kesemutan itu makin lama
makin keras dan digantikan rasa tebal. Saat diraba, ditemukan saraf
membesar karena pembengkakan. Bagi si dokter, barangkali informasi
terakhir inilah yang dianggap krusial, karena menunjukkan saraf pasien
diserang oleh kuman lepra. Ia pun diberi obat-obatan untuk lepra dan
baru sembuh setelah 2,5 - 3 tahun. Kesemutannya hilang sama sekali,
meski pun ototnya jadi agak mengecil.

Rematik juga menimbulkan kesemutan atau rasa tebal. Untuk pegang
kancing saja di pagi hari saat berpakaian rasanya tak enak. Namun, di
siang hari gejala-gejala itu hilang. Gejala kesemutan karena rematik
hilang sendiri bila rematiknya sembuh. Berbeda dengan neuropati
diabetes yang pengobatannya membutuhkan waktu 6 bulan - 1 tahun.
Karena di sini kesemutan itu tergolong concomitant disease, penyakit
yang menyertai, ia harus diobati secara tersendiri.

Timbulnya neuropati pada penderita diabetes tidak tergantung pada
kadar gula darah, tetapi pada lamanya si penderita mengidap diabetes.
Semakin lama "jam terbang"-nya sebagai penderita diabetes, semakin
tinggi kemungkinan "semut-semut" itu muncul. Jadi bisa saja seorang
penderita merasakan kesemutan meskipun diabetesnya sendiri terkontrol
dengan baik. Yang dirasakan biasanya telapak kaki terasa tebal,
kadang-kadang panas (seperti kecabean), kesemutan di ujung jari
terus-menerus. Kemudian disertai rasa nyeri yang menikam, seperti
ditusuk-tusuk di ujung telapak kaki, terutama pada malam hari.

Bagi mereka yang tidak punya "bakat" khusus untuk kesemutan atau
mengidap penyakit tertentu yang salah satu gejalanya kesemutan, ada
kiat sederhana yang ditawarkan dr. Yusuf Misbach bila ingin terhindar
dari kesemutan. Hindari posisi tubuh yang tidak enak, seperti nonton
TV sambil tiduran atau menulis di lantai sambil tengkurap atau
nungging. Bila duduk menulis, duduklah di kursi dengan pantat merapat
ke belakang dan punggung lurus menempel pada sandaran. Dengan
sendirinya, pilihlah kursi yang ergonomik.

Namun mereka yang terlalu sensitif sehingga gampang kesemutan pun
dapat mengurangi kecenderungannya dengan berolah raga secara kontinyu,
sambil tetap menjaga sikap tubuh yang baik, mempertahankan pola makan
sehat, dan menghindari stres.

Selain itu juga bisa dengan konsumsi nutrisi atau food suplement yang
bisa memberikan daya tahan tubuh kita lebih kuat. Karena kalau daya
tahan tubuh kita kuat otomatis penyakit kemungkinan  besar akan segan
menyerah tubuh kita. Seperti  Calcium, Cordycep
dan Fish Oil.

Selain itu juga ternyata dalam hal kesemutan pun kita tidak terhindar
dari resep klasik yang telah diajarkan ayah ibu dan kakek-nenek kita.
Ingin jauh dari kesemutan, jauhilah penyakit dengan melakukan hal-hal
yang menyehatkan. Cukup sederhana bukan?

-- 
-----------------------------------------------------------------------------------
Office : PT. SUCOFINDO (Persero) Pekanbaru Branch
-----------------------------------------------------------------------------------
 ERIANTO SIMALANGO
-----------------------------------------------------------------------------------

Kirim email ke