Jumat, 05/02/2010 16:55 WIB
Nurul Ulfah : detikHealth

detikcom - London, Satu lagi penyebab depresi yang mungkin tidak Anda sadari. 
Baru-baru ini peneliti menyebutkan bahwa pecandu internet yang sering membuka 
situs komunitas, seksual dan game online bisa terkena depresi. Pecandu internet 
tidak sadar bahwa kebiasannya yang menyenangkan itu bisa jadi ancaman untuk 
kesehatannya.

Semakin lama seseorang berselancar di dunia maya, semakin rendah tingkat 
kebahagiaanya. Demikian menurut studi terbaru yang dilakukan peneliti dari 
Great Britain.

Penelitian dilakukan dengan menganalisa penggunaan internet dan level depresi 
terhadap lebih dari 1.000 partisipan berumur 16-51 tahun. Menurut peneliti dari 
Leeds University, sebanyak 1,2 persen partisipan tergolong 'pecandu internet'.

Pecandu internet ini biasanya menghabiskan waktunya untuk membuka situs-situs 
online seperti situs komunitas dan game. Mereka juga lebih banyak melakukan 
browsing terhadap situs-situs yang berbau seksual.

Hasil studi menunjukkan, partisipan yang tergolong pecandu internet cenderung 
mengalami gejala-gejala depresi seperti mudah gelisah, tegang, tidak nyaman dan 
lainnya.

"Kami menemukan hubungan antara lamanya waktu menggunakan internet dengan level 
depresi. Perasaan sedih atau senang ternyata sangat erat kaitannya dengan 
seberapa besar ketergantungan seseorang terhadap internet," kata Carriona 
Morrison dalam Journal Psychopathology, seperti dilansir Newyorkdailynews, 
Jumat (5/2/2010).

Beberapa orang menggunakan internet sebagai media pelepas stres, tapi banyak 
yang tidak sadar bahwa kegiatan itu justru membuatnya tambah depresi.

"Sebagian orang pergi online karena ingin melepas beban atau stres dengan 
cepat. Mereka pikir daripada mengeluarkan tenaga untuk keluar dan bertemu 
orang-orang, lebih baik mereka berinteraksi dari dunia maya. Mereka merasa 
sangat senang dengan cara seperti itu, tapi mereka tidak sadar ada bahaya yang 
mengancam dari kebiasaannya itu," ujar psikolog Jean Cirillo.

Meski demikian, peneliti belum bisa memastikan apakah faktor internet yang 
menyebabkan depresi ataukah memang orang depresi itu ketergantungan pada 
internet.

"Yang jelas, penggunaan internet berlebih harus jadi peringatan munculnya 
risiko depresi dan penyakit lainnya," kata Cirillo.


Kind regards,
Lia Brasali-Ariefano, Dr

We want to create hope for the person ... we must give hope, always hope 
(Mother Teresa)

Sent from my whitTulipeBerry® 

Kirim email ke