|
Dari milis
sebelah........ -----Original
Message----- Mahasiswa IAIN
Tewas Diplonco Setelah kasus STPDN
tahun lalu, mahasiswa korban kekerasan yang dilakukan seniornya terulang lagi.
Kali ini menimpa Imam Nawawi Warnang (23), mahasiswa IAIN Sunan Gunung
Jati, Berita kematian
Nawawi sangat memukul keluarganya. Orangtuanya, Hamim dan Hajah Barkah -- warga
Pulo Gebang, Jakarta Timur -- yang dikabari anaknya mengalami kecelakaan begitu
shock manakala melihat anaknya sudah terbujur kaku di Rumah Sakit Hasan Sadikin
(RSHS) Bandung. Rasa kehilangan
tidak saja dirasakan oleh kedua orangtua Imam, tetapi juga Abdul Basyth
Warnang, kakak kandungnya. Karena dialah yang mondar-mandir mengurus
jenazah adiknya, sampai proses membuat laporan di Polres "Saya
memutuskan melapor karena merasa ada kejanggalan, pertama telepon yang tidak
benar, kedua setelah melihat keadaan adik saya yang seperti ada memar di bagian
dada dan pipi kiri," kata lelaki yang lulusan IAIN yang sama tahun 2001. Ia juga
menyesalkan panitia diklatsar maupun anggota Mahapeka yang tidak mau
memberikan penjelasan yang sebenarnya. "Beritanya simpang siur, saya sudah
kecewa dengan pemberitaan pertama yang mengatakan kalau adik saya
kecelakaan," kata Abdul. Polisi langsung
menindaklanjuti laporan Abdul. Pemeriksaan dilakukan secara maraton sejak Sabtu
lalu. Sebanyak 12 mahasiswa IAIN Sunan Gunung Jati Bandung yang tergabung dalam
Mahapeka Senin (23/2) resmi menjadi tersangka. Kesalahan panitia
adalah tidak mengecek kesehatan dan tidak menyediakan tim medis selama latihan.
Mereka juga terbukti menutupi kematian korban, selain itu juga tidak cepat
membawa ke rumah sakit atau pun melapor kepada petugas berwajib. Laporan kepada
pihak keluarga yang menyatakan korban meninggal akibat kecelakaan juga menjadi
dasar lain ke-4 mahasiswa ini dijadikan tersangka. Sedangkan ke-8
mahasiswa lainnya terkena pasal 170 KUHP Subsider 359 yaitu melakukan kekerasan
terhadap orang di muka umum secara bersama hingga menyebabkan kematian. Mereka
adalah Tedi Firmanto, Ishak Iskandar, Atik Sudrajat, Iwan Gunawan, Ahmad Budiman,
Didi Nurhakim, Asep Mulyanudin, dan Asep Ridwan. "Mereka juga tidak
melakukan pengecekan kesehatan terhadap para peserta yang ikut pelatihan,
selain itu kesalahan lainnya karena mereka tidak segera membawa peserta yang
sudah lemah ke tim medis," kata Kasat Reskrim Polres Bandung AKP Slamet
Uliadin. Ahmad Budiman, salah
satu tersangka, mengaku sempat menampar korban. "Tetapi saya hanya
melakukan sekali saja, itu pun tidak keras, dan lebih untuk peringatan serta
semangat dalam pelatihan," kata Ahmad dengan suara parau. Katanya,
biasanya dalam sebuah latihan peringatan seperti itu adalah hal yang biasa.
"Di mana pun seperti itu, tetapi yang jelas kami tidak berlebihan, dan
masih dalam batas wajar," katanya. Kelelahan jelas
terlihat di wajah mahasiswa berambut cukup panjang ini. Dia juga mengatakan
saat melakukan long march di Situ Lembang ia mendengar tentang korban yang
sempat terjatuh. "Saya mendengar kalau Imam hanya pingsan," katanya. Ke-12 mahasiswa ini
semua menutup diri terhadap wartawan. Bahkan Asep Ridwan, salah satu tersangka
yang terlihat stress meminta wartawan untuk tidak mengambil gambarnya.
"Saya mohon jangan, karena kasihan keluarga yang belum tahu apa-apa, nanti
mereka kaget," katanya sambil menutupi wajah dengan lengannya. Dia kemudian
meminta kepada petugas untuk pindah ke ruangan lain. Pembantu
Rektor III IAIN Sunan Gunung Jati Bandung Drs Zaenal Abidin mengaku pihak
rektorat belum menerima status 12 mahasiswa yang resmi menjadi tersangka
itu. "Direktorat belum menerima tentang status mahasiswa kami yang
dinyatakan sebagai tersangka, karena terakhir kali kabar yang saya terima hanya
empat mahasiswa yang ditahan, saya justru baru dengar sekarang," kata
Zaenal. "Bila memang
terbukti ada kesalahan seperti yang dituduhkan, pihak kampus akan membicarakan
hal ini lebih lanjut, seperti membicarakan masalahnya seperti apa, dan tindakan
apa yang akan dilakukan, semua harus dibicarakan terlebih dahulu sebelum
diputuskan," katanya. Segar
bugar Suasana duka
menyelimuti rumah kos di Gang Manisi III No 89 Jalan Manisi Kecamatan Cibiru,
Kabupaten Bandung, Sabtu (21/2) malam. Kematian Imam Nawawi, mahasiswa
angkatan 2001 yang menjadi salah satu penghuni kamar kos di rumah tersebut,
membuat rekan-rekan satu kosnya terpukul. Imam dikenal sebagai pribadi yang
ramah dan menyenangkan. Walhasil, banyak rekan-rekan satu kos mahasiswa asal "Saya kaget dan
sedih begitu mendengar Imam meninggal. Sebab sebelum berangkat mengikuti
kegiatan ini pada tanggal 5 Februari lalu, Imam masih segar bugar. Setiap pukul
tujuh pagi, dia terus berolah raga mempersiapkan diri," kata Amru, rekan
satu kos Imam. Kata Amru, sebelum
mengikuti kegiatan Mahapeka, Imam memang dikenal sering naik-turun gunung saat
masih duduk di bangku SMU. "Menurut kabar yang beredar, Imam meninggal di pangkuan Iwan, salah seorang seniornya yang
juga menjadi panitia kegiatan Mahapeka," katanya. (tat/mur/ink/Metro Bandung)
-- http://ketawa.com/
Yahoo! Groups Links
|
