|
Ternyata
bahagia dan sengsara adalah juga sebuah pilih@n. ----------------- Reframing adalah upaya untuk
membingkai ulang sebuah kejadian, dengan mengubah sudut pandang. Orang sering menyebutnya berpikir positif. Petik
manfaatnya, ambil hikmahnya. Maka,
sesuatu yang negatif bisa tampak bermanfaat
dan membahagiakan. Istri
yang cerewet, misalnya, tentu ada sisi
positif yang bisa dipetik. Sebab, menurut riset, kecerewetan itu membuat anak-anaknya
cenderung punya kosakata lebih kaya dan
variatif. Cerita lain diungkap Wiwoho
tentang seorang bankir yang keras kepala. Istrinya sangat penurut dan manis
terhadap anak-anaknya. Ia punya
seorang gadis yang punya sifat kombinasi
ayah-ibu. Gadis itu menganggap ayahnya jahat sedangkan ibunya paling baik di dunia.
Anehnya, si gadis punya perilaku seperti ayahnya: keras kepala! Yang jadi
soal, pria ini menyalahkan istrinya yang dianggap tak mampu mendidik sehingga anak gadisnya
keras kepala. Dan, ia tak menyukai perilaku itu. Problem ini dikonsultasikan
pada seorang terapis. Lalu bankir itu diminta mencermati anak gadisnya yang keras kepala dan hidup
mandiri. Keras
kepala itu, ''Sesuatu yang bisa menyelamatkan kehidupannya kelak. Bayangkan, betapa berharganya pelajaran Anda bila pada suatu
saat anak gadis Anda diajak kencan
pria yang bermaksud jelek. Dia akan menolak satu kali, 10, atau 1.000 kali dengan mengatakan 'tidak'. Karena dia keras
kepala, sekali bilang 'tidak' akan tetap tidak
selamanya,'' ujar si terapis. Bum! Bankir
itu tersentak. Seketika ia
''mengubah'' sudut pandang. Si
anak sendiri tidak berubah. Dunia tidak berubah,
tapi persepsi kita yang berubah. Walhasil, senangkah Anda punya anak keras
kepala? Tentu saja senang, kalau
konteksnya dia mempertahankan religiusitas, nilai-nilai moralitas, dan harga diri. Memang, ada sisi rasional dan ada
sisi spiritual. Ini kisah seorang ustad tentang seorang prajurit yang mengeluh bergaji kecil, sementara keluarganya menuntut sejahtera. Tapi ia tak sudi dijuluki ''batalyon 701'' alias datang pukul 07.00 untuk apel, setelah
itu kosong karena ngobyek, dan pukul satu siang kembali untuk apel
pulang. Tuntutan ini diperparah
oleh putra si prajurit yang minta dibelikan motor. Si ustad yang juga tentara itu menyarankan
agar si prajurit mengolah saja lahan kosong di belakang
asrama. ''Hasilnya
bisa untuk kamu,'' katanya. Oke. Kebun itu ditanami dengan semangka. Tiap hari disirami dan
dirawat. Celakanya, begitu semangka mau dipetik, sekelompok
babi hutan mengacak-acak. Ratusan
buah semangka dedel-duel. Prajurit itu
lemas, mau nangis. Cobaan hidup tiada habis. Sepertinya, Tuhan
tidak merestui. Mau membahagiakan anak saja, kok, susah! Berminggu-minggu
ia membangun
harapan, musnah semalaman oleh babi hutan. Menghadapi ''gugatan'' itu, si ustad melihat
dari sini lain. Kegagalan panennya itu bukan bentuk
kemurkaan Allah. ''Ini justru cinta Allah pada keluarga Bapak. Mahal mana,
semangka atau anak Bapak,'' tanya ustad. Anak SLTP semata wayang itu
tentu lebih disayangi. ''Seandainya buah semangka itu
jadi dipanen, dan hasilnya dibelikan
motor, apa tidak malah membuat
repot? Motor ini pasti dipakai kebut-kebutan bersama teman-temannya,'' kata si ustad. Motor itu bisa mencelakainya.
Mulut bapak dan anak
itu seakan terkunci. Gugatannya pada Allah jadi
cair. Hidup ini memang pilihan. Bahagia
atau sengsara juga pilihan. Namun rasanya lebih sreg
bila bukan hanya disikapi dari sisi rasio, juga
spiritual yang melibatkan nurani.
-- http://ketawa.com/ Yahoo! Groups Links
|
