09 Apr 07 08:04 WIB
Manfaat Mengetahui Golongan Darah
Ketika orang bertanya, "Golongan darahnya apa?" kemudian jawabannya bisa
golongan darah A, B, AB atau O. Sebenarnya apa sih golongan darah dan perlunya
kita mengetahui golongan darah kita? Golongan darah adalah ciri khusus darah
dari suatu individu karena adanya perbedaan jenis karbohidrat dan protein pada
permukaan membran sel darah merah. Dengan kata lain, golongan darah ditentukan
oleh jumlah zat (kemudian disebut antigen) yang terkandung di dalam sel darah
merah. Ada dua jenis penggolongan darah yang paling penting, yaitu
penggolongan ABO dan Rhesus (faktor Rh). Selain sistem ABO dan Rh, masih ada
lagi macam penggolongan darah lain yang ditentukan berdasarkan antigen yang
terkandung dalam sel darah merah. Di dunia ini sebenarnya dikenal sekitar 46
jenis antigen selain antigen ABO dan Rh, hanya saja lebih jarang dijumpai.
Salah satunya Diego positif yang ditemukan hanya pada orang Asia Selatan dan
pribumi Amerika. Dari sistem MNS didapat golongan darah M, N dan
MN yang berguna untuk tes kesuburan. Duffy negatif yang ditemukan di populasi
Afrika. Sistem Lutherans mendeskripsikan satu set 21 antigen. Dan sistem
lainnya meliputi Colton, Kell, Kidd, Lewis, Landsteiner-Wiener, P, Yt atau
Cartwright, XG, Scianna, Dombrock, Chido/ Rodgers, Kx, Gerbich, Cromer, Knops,
Indian, Ok, Raph dan JMH. Karl Landsteiner, seorang ilmuwan asal Austria yang
menemukan 3 dari 4 golongan darah dalam sistem ABO pada tahun 1900 dengan cara
memeriksa golongan darah beberapa teman sekerjanya. Percobaan sederhana ini pun
dilakukan dengan mereaksikan sel darah merah dengan serum dari para donor.
Hasilnya adalah dua macam reaksi (menjadi dasar antigen A dan B, dikenal dengan
golongan darah A dan B) dan satu macam tanpa reaksi (tidak memiliki antigen,
dikenal dengan golongan darah O). Kesimpulannya ada dua macam antigen A dan B
di sel darah merah yang disebut golongan A dan B, atau sama sekali tidak ada
reaksi yang disebut golongan O. Kemudian Alfred
Von Decastello dan Adriano Sturli yang masih kolega dari Landsteiner menemukan
golongan darah AB pada tahun 1901. Pada golongan darah AB, kedua antigen A dan
B ditemukan secara bersamaan pada sel darah merah sedangkan pada serum tidak
ditemukan antibodi. Penyebaran golongan darah A, B, O dan AB bervariasi di
dunia tergantung populasi atau ras. Salah satu pembelajaran menunjukkan
distribusi golongan darah terhadap populasi yang berbeda-beda. Rhesus Faktor
Rh atau Rhesus (juga biasa disebut Rhesus Faktor) pertama sekali ditemukan pada
tahun 1940 oleh Landsteiner dan Weiner. Dinamakan rhesus karena dalam riset
digunakan darah kera rhesus (Macaca mulatta), salah satu spesies kera yang
paling banyak dijumpai di India dan Cina. Pada sistem ABO, yang menentukan
golongan darah adalah antigen A dan B, sedangkan pada Rh faktor, golongan darah
ditentukan adalah antigen Rh (dikenal juga sebagai antigen D). Jika hasil tes
darah di laboratorium seseorang dinyatakan tidak memiliki antigen Rh, maka ia
memiliki darah dengan Rh negatif (Rh), sebaliknya bila ditemukan antigen Rh
pada pemeriksaan, maka ia memiliki darah dengan Rh positif (Rh+). Penting
Untuk Transfusi
Transfusi darah adalah proses menyalurkan darah atau produk berbasis darah dari
satu orang ke sistem peredaran orang lainnya. Transfusi darah berhubungan
dengan kondisi medis seperti kehilangan darah dalam jumlah besar disebabkan
trauma, operasi, syok dan tidak berfungsinya organ pembentuk sel darah merah.
Singkatnya berdasarkan panduan dari apa yang telah dilakukan oleh Landsteiner,
pada 1907 sejarah mencatat kesuksesan transfusi darah pertama yang dilakukan
oleh Dr. Reuben Ottenberg di Mt. Sinai Hospital, New York. Berkat keahlian
Landsteiner pula banyak nyawa dapat diselamatkan dari kematian saat terjadi
Perang Dunia I, dimana transfusi darah dalam skala lebih besar mulai dilakukan.
Kemudian, Karl Landsteiner memperoleh penghargaan Nobel dalam bidang Fisiologi
dan Kedokteran pada tahun 1930 untuk jasanya menemukan cara penggolongan darah
ABO. Dalam transfusi darah, kecocokan antara darah donor (penyumbang) dan
resipien (penerima) adalah sangat penting. Darah donor
dan resipien harus sesuai golongannya berdasarkan sistem ABO dan Rhesus
faktor. Transfusi darah dari golongan yang tidak kompatibel dapat menyebabkan
reaksi transfusi imunologis yang berakibat anemia hemolisis, gagal ginjal,
syok, dan kematian. Hemolisis adalah penguraian sel darah merah dimana
hemoglobin akan terpisah dari eritrosit. Pemilik rhesus negatif tidak boleh
ditransfusi dengan darah rhesus positif. Jika dua jenis golongan darah ini
saling bertemu, dipastikan akan terjadi perang. Sistem pertahanan tubuh
resipien (penerima donor) akan menganggap rhesus dari donor itu sebagai benda
asing yang perlu dilawan. Di dunia, pemilik darah rhesus negatif termasuk
minoritas. (H/Med) (ags)
Ly...
---------------------------------
Yahoo! Answers - Got a question? Someone out there knows the answer. Tryit now.