Nih dengar cerita pemuda kejam.........................................
Nenek-nenek kok digebukin...
> Suatu hari ada seorang pemuda yang diajukan
ke pengadilan. Dia
didakwa
> melakukan tindakan kekerasan - Menggebuki seorang nenek di KA jurusan
> Jakarta - Surabaya.
>
> Hakim yang memimpin persidangan berkata kepada si pemuda yang
> bertampang berangasan : " Sekarang saudara ceritakan semuanya, apa
> yang sebenarnya terjadi , secara detil, lengkap, berurutan.
>
Bayangkan... ...kok saudara itu kejam sekali. Tega-teganya memukuli
> nenek-nenek, orang yang lemah ...!"
>
> Pemuda sangar itupun memulai ceritanya:
>
> "Begini Pak hakim, hari Minggu sebulan yang lalu, saya menerima kabar
> ibu sakit.
>
> Lalu saya naik kereta jurusan Jakarta- Surabaya di Gambir yang
> berangkat di pagi hari. Saya duduk bersebelahan dengan seorang
> perempuan tua.
>
> Nenek ini membawa tas besar yang di letakkan di bawah kakinya. Saya
> menawarkan pertolongan untuk menaruh tas besarnya itu di rak atas,
> tapi dia menolak.Tas barang yang besar itu sangat mengganggu
> kenyamanan saya, karena kaki saya tidak bisa bebas bergerak.
>
> Kemudian kereta berangkat dan beberapa saat kemudian tiba di stasiun
> Jatinegara Di stasiun ini, kereta berhenti untuk pemeriksaan tiket.
> Kondektur pun datang ke gerbong tempat
saya berada, kemudian
> menanyakan tiket. Saya langsung tunjukkan tiket saya ke dia.
>
> Giliran tiket si nenek. Wah ini repot sekali.
>
> Nenek itu mengangkat tas besarnya ke bangku. Dia mengeluarkan handbag
> dari tas pakaian itu, lantas dari dalam handbag dia mengeluarkan
> dompet besar. Dari dompet besar dia mengeluarkan dompet kecil. Dari
> dompet kecil itu ia mengeluarkan tas kain kecil berserut. Di dalam
tas
> kain itu ada bungkusan yang diikat dengan karet gelang. Bungkusan itu
> di buka dan didalamnya ada kotak korek api. Rupanya nenek itu
> menyimpan tiketnya di dalam kotak korek api.
>
> Setelah diperiksa kondektur, dia kembali melipat tiketnya dan menaruh
> kembali ke kotak korek api. Lalu kotak itu dibungkus, diikat karet.
> Dimasukkan ke tas kain. Lalu masuk ke dompet kecil. Dompet kecil
masuk
> ke dompet besar, lalu di taruh
di handbag. Handbag masuk kembali ke
> tas besar. Tas besar ditaruh kembali ke bawah kakinya.
>
> Keretapun meneruskan perjalanan.
>
> Perhentian berikutnya di setasiun Bekasi. Di sana juga sama ada
> pemeriksaan tiket. Tiket saya dengan cepat di periksa. Sementara si
> nenek, kembali mengangkat tas besarnya ke bangku. Keluarkan handbag,
> lalu berturut-turut dari dalamnya dompet besar, lalu dompet kecil,
tas
> kain, lalu ada bungkusan berkaret, di buka ada kotak korek api, ada
> tiket di dalamnya. Diperiksa kondektur, lantas tiket masuk lagi ke
> kotak korek api, dibungkus, diikat karet, masuk ke tas kain serut, ke
> dompet kecil, masuk ke dompet besar, handbag, akhirnya masuk ke tas
> besar. Di taruh di bawah kaki, .."
>
> " Kereta jalan terus sampai di stasiun Krawang. Lagi-lagi ada
> pemeriksaan tiket . Tiket saya cepat diperiksa, sementara
nenek itu
> angkat tas besarnya ke bangku, keluarkan handbag, lalu dompet besar,
> dompet kecil, lalu keluarkan tas ka.......... ...,"
>
> Belum sempat si pemuda meneruskan ceritanya, pak hakim keburu
> membentaknya. " Saudaraaa... .... jangan main-main ya !!!!. Anda itu
> melantur atau apa??? Tau enggak ini pengadilan.. ..bukan warung!!!!"
>
> Langsung saja pemuda itu berdiri dan tak kalah gertak juga : " Nah
> lihat kan, bapak hakim yang cuma mendengar cerita saya saja sudah
> marah. Padahal baru sampai Krawang. Coba bayangkan, bagaimana rasanya
> saya harus mengalami hal ini sepanjang perjalanan dari Jakarta -
> Surabaya.... . Bapak tau nggak ada berapa stasiun yg dilewati!!!
[Non-text portions of this message have been removed]
________________________________________________________
Lelah menerima spam? Surat Yahoo! mempunyai perlindungan terbaik terhadap spam.
http://id.mail.yahoo.com/