Di bawah ini adalah surat-surat dari, Adi, sepupuku, yang berhasil kuhimpun sejak dia merelakan dirinya berangkat ke Aceh sebagai relawan, sejak tanggal 27 desember yang lalu..(Adi adalah seorang dokter muda dan sedang menyelesaikan pendidikan S2-nya) ________________________________________
1. Celana Ini Sudah Kupakai Enam Hari aku juga tidak tahu kenapa aku tiba2 ada disini. Semuanya berjalan seperti sudah ada yang mengatur.. Pertamakali kudengar ada musibah ialah ketika teman lama, teman seperjuangan yang kini tinggal di Medan menelponku. Memang aku sudah dengar dari radio dan melihat dari televisi ada gempa kuat di Sumatra Utara, tapi teman tadi memberitakan bahwa keadaan memang parah dan kelihatannya mereka membutuhkan bantuan. Kala itu tanggal 26 sore...Kami berinisiatif mengontak teman2 lain yang masih dapat dihubungi, dan ternyata sebagian besar dari mereka juga berpikiran sama dan memang siap berangkat. Kami berangkat segera dengan bekal seadanya, apa yang bisa kami bawa ya kami bawa. Aku dan beberapa kawan menempuh perjalanan dengan bis dan sampai di Banda Aceh tgl 27 sore. Keadaan sungguh mencengangkan dan sangat menyayat hati. Kami memberikan bantuan sebisanya, dan mulanya tidak tahu harus mulai dari mana. Akhirnya aku digabung dengan pasukan TNI dan ditugaskan ke Arongan(? sampai tidak kepikir dimana batas kotanya, hampir semua rata dengan tanah), kira2 di Aceh Barat beberapa km dr Meulaboh.Aku dan beberapa relawan lainnya diangkut dengan helikopter karena jalan darat sangat tidak memungkinkan. Sesudah turun dari helikopter juga masih harus berjalan kaki berkilo-kilometer jauhnya. Keadaan yang tragis, dan sungguh memilukan. aku ditempatkan di Posko, merawat orang yang luka2, dan juga siang hari ikut evakuasi mayat-mayat. Aku menemukan seorang mayat ibu yang masih menggendong anaknya, tertutup lumpur, dan juga beberapa kali menurunkan mayat seseorang yang tersangkut di pohon. Juga ketika mendapat bantuan buldozer, kami mendapati, di bawah mobil yang tertutup onggokan kayu ada seorang ibu dan anaknya, kira-kira 3 tahun umurnya, masih hidup, sedang seorang anaknya lagi yang berusia sekitar 5 tahun, telah meninggal dengan kaki yang patah.. Sedih sekali menyaksikannya.. Tanggal 31 Desember, ketika malam Tahun Baru, aku berhasil mengontak kamu,mbak, duh senangnya.. aku agak lega karena bisa membagi cerita sedih yang ada disini. Selama 3 hari lebih aku tidak mandi, dan makan juga seadanya, hanya sedikit roti kering . Seperti kuceritakan di sms, bantuan sangat minim, dan terlambat.Keadaan kacau balau. Di Posko masih lumayan, bisa charge HP sebentar2, karena ada generator kecil. Tapi malam sangat dingin,dan sangat gelap, kukira bantuan selimut sangat dibutuhkan karena umumnya mereka tidur di alam terbuka. Semalaman selalu terdengar anak-anak kecil menangis karena kolik, dan orang-orangtua menangis dan meratapi nasib dan sanak saudaranya yang hilang. Banyak nyamuk, kurang air bersih, sehingga ditakutkan wabah segera menyerang. Obat2an sangat penting, juga peralatan medis yang pokok, seperti infus. Masker,yang biasa sudah tidak mempan lagi, karena bau mayat yang beribu2 sudah sangat menyengat. Selamat tahun Baru! Sabtu,tgl 1Januari Tiap hari mengevakuasi mayat2. Hari ini menyusul 1800 orang meninggal. Sebagian dikuburkan masal, sebagian lainnya belum. Jumlah Posko ada beberapa, dan pengungsi juga banyak, ratusan, bahkan ribuan orang yang kelaparan. Banyak diantara mereka anak-anak juga. Melihat mereka, hatiku seperti diiris-iris.Tapi hari ini mulai membaik, meski masih makan mie. Aku siang tadi sedang menurunkan logistik, waktu Mbak telpon.Obat2an sangat sedikit, butuh kaos tangan,masker, alat2 kedokteran, karbol, selimut, tikar. Relawan sangat sedikit jumlahnya dibanding pekerjaan yang harus dilakukan. Hari ini sudah datang beberapa orang suster dari Palembang dan beberapa relawan dari Jogja.Tapi banyak dari yang selamat mempergunakan kesempatan. Untuk membantu mengambil mayat saja, mereka memaksa minta uang. Memang, perut lapar.. Minggu,2 Jan. Banyak relawan perempuan terutama, pingsan, tidak tahan melihat semuanya. Memang, butuh ketahanan fisik dan mental yang luar biasa untuk membantu mereka disini. Kita harus membantu, bukannya malah menjadi beban, bukan? Tapi kuakui,beban mental sangatlah besar, menyaksikan mereka semua yang hidup sudah setengah gila,dan keadaan sekitar yang hampir2 rata dengan tanah,berlapis lumpur dan dimana-mana genangan air. Belum lagi kalau malam tiba, keadaan sangat gelap , dan yang kedengaran hanya ratapan dan tangisan. Bajuku sudah tidak layak pakai, celana belum ganti sejak hari pertama, dan baju juga dapet ambil dari bantuan baju bekas yang datang.Kalau malam aku suka berjalan2 sendiri, menjauh dari Posko, biar sejenak tidak mendengar ratapan dan tangisan mereka. Ini ada tentara yang memberi aku sebatang rokok.... Hari ini evakuasi mayat-mayat di daerah Lhok Nga, juga dekat pasar. Napasku agak sesak karena baunya menyengat sekali ditambah hujan gerimis yang membuat mayat-mayat cepat busuk. Mbak, menyedihkan.. Mayat-mayat bertumpuk-tumpuk, sudah tidak keruan bentuknya, dan jika diangkat sudah terlepas bagian2 tubuhnya...Dan tahukah,hari ini ada 2 orang ibu yang melahirkan. Ya, aku tadi menolong persalinan dua orang ibu, dibantu suster. Pengalaman pertamakali,(dulu hanya dapat teori sbg pelajaran dasar kedokteran) aku membantu dan berlangsung secara otomatis saja. Yang mengharukan, kedua bayi perempuan itu lahir dengan selamat, dan kedua ibu itu menamai bayi mereka dengan nama Babtisku. Josephina (Nama Babtisku Joseph)....Aku sangat terharu. Waktu tadi mengevakuasi mayat di sebuah gereja yang sudah sangat hancur, kami menemukan sesosok mayat yang masih memegang rosarionya. Tanpa sadar kuraba kantong celanaku,oh, rosarioku masih ada. Itu rosario pemberianmu,dan tidak sengaja terbawa, dan sekarang menjadi sumber pengharapan dan kekuatanku.. ----- Original Message ----- From: <mailto:[EMAIL PROTECTED]> margaretha L To: <mailto:[EMAIL PROTECTED]> [EMAIL PROTECTED] Sent: Monday, January 10, 2005 11:17 AM Subject: [ApiK] 2. Rinduku Menetes Sebanyak Tetes Gerimis.. boleh saya sampaikan surat-surat susulan dari Adi, sepupu saya yang sedang di Aceh sampai hari ini ( sambungan dari "celana ini sudah...."). Biarpun sinyal Pro-xl mati hidup, kami berusaha untuk tetap melakukan kontak... ___________________________________________________ 2. Rinduku Menetes Sebanyak Tetes Gerimis Senin, 3 Januari 2005 Hari ini lumayan dapat sarapan bubur sebelum berangkat. Bantuan Logistik sudah mulai memadai. Kami hari ini harus mengevakuasi mayat-mayat di dekat bekas alur sungai, seharian naik perahu karet, capek sekali, hanya dapat 152, dan jenasahnya langsung dikuburkan. Tidak terbayangkan beratnya mengangkat mayat satu-persatu. Pakaian kotor semua, kena lumpur dan mayat-mayat. Jika tidak ingat akan kesehatanku sendiri, aku sudah tidak hendak makan! Di LHok Nga, semua rata dengan tanah, seperti tidak ada kehidupan lagi, dimana-mana genangan air dan sejauh mata memandang warnanya kelabu, hitam, karena berselimut lumpur. Mayat-mayat dilempar ke dalam truk, ada puluhan, lalu ditumpahkan begitu saja, dan ditimbun. Tidak peduli siapa dia sebelumnya. Hanya bangkai. Rasanya, disini manusia sudah tidak ada harganya. Kemanakah AKU? Banyak relawan yang jatuh sakit, terutama karena tekanan mental. Malam ini tidak ada sinyal rupanya, dan aku jalan-jalan sendiri malam-malam, menjauh dari posko. Aku sedikit kangen rumah, dan tanpa sadar meraba rosarioku. Ingat sekilas,di suatu senja saat ziarah ke sebuah Gua Maria, aku menyalakan sebatang lilin. Terang sekali nyalanya di malam yang gelap. Seperti saat ini, aku ingin memandang nyala lilin dan berlutut di depan Gua Maria. Sepotong senja dengan nyala lilin yang terang, kukira sekarang itu yang didambakan rakyat Aceh...menjaga lilin agar tetap menyala.. Oh, batere hampir habis...! Sulit untuk charge HP, karena semua terpakai, dan kami harus hemat BBM. Jadi gantian tidak bisa lama-lama. Selasa, 4 Januari 2005 Pagi ini mau briefing, sudah sarapan mie, dan hanya bisa cuci muka saja. Dan masih ngantuk, karena semalam jaga terus. Kami standby 24 jam. Tidak jarang tengah malam ada yang teriak-teriak, atau merintih kesakitan. Semalaman selalu terdengar tangisan bersusulan tiada henti. Pagi ini kami harus memberikan imunisasi ke Bireun dan Sigli, karena beberapa orang sudah mulai terkena wabah, diare dan infeksi saluran pernafasan. Tim evakuasi masih meneruskan pencarian jenasah di sekitar Lhok Nga,karena masih banyak mayat, terutama di sungai-sungai dan reruntuhan. Obat-obatan dan tenaga medis sangat terbatas.. aku berangkat dengan Heli yang hanya satu itu, jadi ada relawan lainnya yang harus berangkat dengan team evakuasi jenasah. Lamanya waktu untuk merehabilitasi Aceh hampir sama dengan waktu penyembuhan mereka yang mengalami depresi pasca bencana, ada yang sepanjang hari berteriak dan menangis. ketakutan makin bertambah karena adanya isu kalau anak-anak mereka akan diculik atau diambil untuk diadopsi.. Siang ini aku sudah jalan ke daerah Aceh Jaya. Kalau ada pembagian, makanan dan baju, selalu rebutan, bahkan bertengkar, mereka menderita depresi berat... Di Posko, satu persatu meninggal. Kemarin ada yang meninggal karena serangan jantung. Disini, ribuan orang berjalan kaki mau menuju ke Aceh Besar.Ada yang sudah 2 hari 2 malam berjalan kaki tanpa makan dan minum, di atas jalan setapak yang licin dan becek. Malam gelap dan tanpa bekal apa-apa,anak-anak menangis. Ini pinjam handset teman untuk mengabarimu, mbak. Batereku habis. Sekarang jam 19.30 malam, baru mau pulang ke Posko. Tadi sore ada 3 orang meninggal karena trauma peradangan dan diare, dan satu meninggal karena gegar otak berat. Sedih juga, aku sudah semampuku... . 22.00. Baru sampai di Posko. Tadi di jalan ada hambatan dari GAM. Terjadi kontak senjata tapi semua baik-baik saja. Kemarein, beberapa tempat di jalan protokol juga terjadi penjarahan. Banyak orang mencari pakaian bekas. Tapi semua terkendali. Hari ini ada air, meski jatah untuk mandi sangat-sangat terbatas. Peralatan mandiku masih cukup, tapi harus bongkar baju bekas dulu. Boleh,kan? Siapa tahu, itu barang yang kamu sortir dr Jakarta? Kali ini ada sop... Malam ini kututup dengan doa rosario. Terimakasih,mbak, Tuhan beserta kita, dahulu, sekarang dan selamanya. Ingatlah bila hari hujan, rinduku, rindu rakyat Aceh pada alam yang indah menetes sebanyak tetes gerimis...... ----- Original Message ----- From: <mailto:[EMAIL PROTECTED]> margaretha L To: <mailto:[EMAIL PROTECTED]> [EMAIL PROTECTED] Sent: Monday, January 10, 2005 11:17 AM Subject: [ApiK] 3. The Day After Sepuluh hari sudah terlewati sejak murkanya sang samudra. Tapi Adi masih saja setia menulis-kan tiap-tiap riak yang menyapu pantai hatinya melalui sisa-sisa baterai HP-nya.... __________________________________________________ 3. The Day After Rabu,5Januari Pagi ini mendung.Tapi sudah tidak ada lagi jenasah yang berserakan di jalanan. Sebagian besar sudah ditimbun dalam kubangan-kubangan besar. Kemarin, 9 relawan dari kelompokku tidak pulang ke posko karena gantian jaga di poliklinik. Hari ini aku dan beberapa lainnya bertugas menggantikan mereka. Sudah ada beberapa kawan relawan yang jatuh sakit, karena terlalu lelah. Ada juga yang relawan yang stress, beberapa hari tidak mau makan, dan setiap kali dipaksakan, selalu dimuntahkan kembali. ...Ya, kami sudah sepuluh hari di sini...., dan kamu mungkin sulit mengenaliku jika kita nanti bertemu, mbak. Hampir seperti pengungsi, jika aku tidak mengenakan baju dokter yang sudah lusuh itu. Ada kopi dan mie,harus cukup mengganjal perut sampai lepas tengah hari nanti. Sekarang sedang menunggu truk dan heli, yang akan mengangkut kami ke pos-pos pengungsian yang tersebar di beberapa titik. Team evakuasi masih akan menyisir mayat-mayat di sepanjang pertokoan. Tenaga relawan medis masih kurang,mengapa kamu mengatakan terlihat banyak tenaga medis dari negara lain? Mungkin belum sampai ke sini... Kami sekarang sedang kerja keras menyelamatkan mereka yang masih hidup, dan yang bertahan hidup dalam penderitaan akibat trauma, fisik dan batin. Gegar otak, infeksi saluran pernapasan,diare dan muntah, demam tinggi hingga kejang, sakit kulit, luka menganga terinfeksi hingga paru-paru yang kemasukan lumpur... Tak ada air, tak cukup apa-apa. Mbak, baru kusadari, begini rapuhnya manusia. Aku harus memalingkan muka setiap kali aku menyaksikan mereka satu-persatu pergi, diiringi tatapan kosong atau tangisan memilukan... Dari jam 12 siang sampai sekarang (15.12) orang masih antri untuk sesuap nasi. Ribuan orang merasa putus harapan, dan akal sehat hanya sampai pada berebut pakaian dan makanan. Banyak yang tidur di alam terbuka, dan mereka sangat butuh selimut. Banyak juga yang akan pergi mengungsi ke Aceh Besar. Aku bertemu dengan seorang Camat dari Kreung Sabee, menurutnya, warganya sekarang hanya tinggal sekitar 20.000-an dari 75.000. Hancur, habis. Memberikan semangat kepada mereka rasanya seperti sedang berorasi untuk berdemo : "Hidup harus terus berlanjut apapun yang terjadi !". Ternyata lumayan ampuh ! Mungkin juga karena mulai musim hujan, sebagian ada yang mulai berbenah dan mendirikan bangunan, meskipun hanya sekedar untuk berteduh dan dan beristirahat di malam hari. Menjelang senja aku sampai di Aceh Jaya, kota bandar yang sekarang rata dengan tanah, menyisakan luka dan air mata... Kamis, 6 Januari 2005 Selamat pagi! Bagaimana kabarmu, Mbak? Semalam aku tidak bisa tidur, banyak sekali nyamuk dan hujan gerimis. Kepalaku pusing dan aku mulai demam. Sejujurnya, disini tidak ada selera makan. Tapi pikiran harus dihilangkan, dan tetap harus makan. Kalau tidak dipaksakan maka tidak akan bisa makan. Aku ada di Klinik Posko saja, memberi imunisasi dan pengobatan pada pengungsi. Team medis yang lain ada yang ikut evakuasi ke daerah pertokoan lagi. ( kemarin dapat 200 jenasah). Kepalaku agak berat. Untungnya ada beberapa relawan datang membantu, kalau tidak salah suster-suster dari ordo Ursulin. Hari ini panjang sekali. Tengah malam selalu saja ada yang menangis histeris dan bicara sendiri. Setiap saat anak-anak menangis dan menjerit. Semakin hari semakin banyak orang yang mengoceh sendiri sambil menyebut-nyebut "laut" atau nama-nama anggota keluarganya. Seperti dugaanku, banyak orang mulai hilang ingatan. Mereka mengalami luka batin, penyembuhan traumanya bisa sangat lama, tidak hanya fisik tapi juga psikis. Mungkin harus dibangun semacam "Trauma Center" atau "Therapy Center". Terbayangkankah olehmu, Mbak, bagaimana ribuan orang yang putus harapan harus hidup? Miskin papa, tidak ada tempat labuhan hati. Habis sudah semuanya. Di mata mereka hanya tersisa genangan air...Dan sebentar lagi musim hujan akan datang. Tidak ada tempat berteduh yang layak, tanaman tak tumbuh, dingin. Bongkahan tulang belulang mulai melebur dengan tanah. Meresap ke dalam air, dan mereka mengambilnya untuk mandi, mencuci dan minum. Seakan akan mereka ingin menyatukan diri, hampir tak ada bedanya mati dan hidup. The Day After. ...Malam ini hujan mendaraskan airnya, dan jatuh bersusulan ke tanah. Ditangkap pada tangan-tangan hampa yang meleleh di sela kerutan wajah... Menangis...., karena badai telah membawanya pergi.... Selamat malam, Mbak, aku sudah minum obat... ----- Original Message ----- From: <mailto:[EMAIL PROTECTED]> margaretha L To: <mailto:[EMAIL PROTECTED]> [EMAIL PROTECTED] Sent: Monday, January 10, 2005 11:18 AM Subject: [ApiK] 4.....yang Terakhir.... 4. .. yang Terakhir... ____________________________________________________ Jumat, 7 Januari 2005 Hari di sini dimulai sejak tengah malam. Dua orang pasienku baru saja meninggal dunia, karena trauma organ bagian dalamnya.Padahal akan dibawa ke rumah sakit Medan malam ini juga. Sesak napas, karena lumpur di paru-parunya. Sedih sekali, yang seorang masih anak-anak, dan tak punya siapa-siapa. Aku dan teman-teman sudah berusaha, ...tapi akhirnya meninggal juga. Ya, anak-anak dan orang lanjut usia paling rentan terhadap penyakit. Apalagi kalau ada yang kritis, harus selalu dijaga, karena keadaan drop bisa terjadi setiap saat. Aku baru selesai memasang selang pernapasan bagi seorang bayi berumur sekitar 11 bulan. Bayi ini masih dalam keadaan kritis. Bersama dengan ibunya yang telah meninggal, ia ditemukan telah terperangkap beberapa hari diantara reruntuhan rumahnya. Bayi ini lucu sekali, tangannya...... menggenggam jariku, seakan ingin berkata padaku : "Tolong, jangan tinggalkan aku....." Biarpun anak-anak bermain dan tertawa-tawa, sinar mata mereka memancarkan ketakutan, kesedihan dan schock yang mengguncangkan pikirannya. Sekarang aku sedang membagikan obat-obatan yang harus diminum dan mengganti perban. Lalu menyuntik sebagian orang dengan serum anti tetanus untuk luka-lukanya. Seorang anak membutuhkan perhatian lebih, karena tengkorak kepalanya hampir lepas terhantam kayu, sedang satu rusuknya dan tulang kakinya patah, dan dia tak punya siapa-siapa lagi. Aku tidak apa-apa, Mbak, semalam ada teh hangat dan biskuit. Demam sudah turun,dan ibu telepon karena mengkhawatirkanku. Ya, aku harus semangat dan tidak boleh sakit. Pagi ini juga dapat ransum susu dan sereal. Sekarang aku akan antri untuk mandi, karena mandi terakhir sudah dua hari yang lalu. Air bersih masih sulit didapat dan sangat terbatas. Aku beruntung, mendapat baju ganti yang bersih dan sekotak pakaian dalam, isinya tiga lembar.. Ada tugas baru, relawan yang sehat diminta untuk ikut pergi ke daerah pedalaman. Ada beberapa daerah yang masih sulit dijangkau karena jalan darat terputus sama sekali. Jadi aku bersiap-siap untuk pergi ke desa Woyla dan Cot Sukon ( sekarang ada di Arongan). Sambil menunggu team, aku teringat kalau hari ini adalah Jumat pertama. Biasanya aku selalu datang ke kapel di dekat rumah. Sejenak aku teringat pulang. O ya awal Januari ini ada ujian. Tapi tak apa, disini aku juga banyak belajar, belajar bertahan hidup, belajar memahami arti hidup, dan terutama belajar bahwa Tuhan sungguh hidup dan berada di atas segala-galanya. Mbak, jika sore ini ke Gereja, mohon panjatkanlah doa-doa untuk mereka... Kami berangkat. 16.17 Berjalan kaki dan menyeberangi sungai dengan rakit. Berjalan kaki lagi. Jalan disini sulit sekali, kakiku masuk ke lumpur hampir sampai ke lutut. Aku mengenakan mantel dan jaket yang dibagikan tentara, juga dengan sepatu boot tinggi. Perlengkapan sudah lebih baik, karena ada bantuan dari luar negeri. Peralatan dari Jepang sangat canggih, dan tentara AS sangat terlatih untuk SAR. Team kami sebenarnya digabung dengan beberapa relawan dari Jepang dan AS, tapi mereka hanya jaga di posko, tidak ikut masuk ke pedalaman, katanya karena takut dengan GAM! Beberapa kali memang kami dihadang oleh GAM di tengah-tengah perjalanan, tapi tidak ada ansiden yang berarti. _____________________________________________________ ......Berita dari Adi hanya sampai disini, tak ada sms lagi. Telepon genggamnya tak bisa dihubungi, sms tidak pernah sampai. Tapi aku masih menunggunya, dengan was-was, sambil terus berusaha. Semoga surat-surat Adi masih terus berlanjut, seperti semangatnya...Semoga... Dan sekalipun surat-suratnya tak datang lagi, mungkin akan masih banyak Adi-Adi lain yang sekarang tergugah dan akan meneruskan tugas ini. Tugas berat dan perjalanan panjang yang jauh. Aku teringat dia pernah berkata, " Hidupmu adalah milikmu, dan kamu yang berhak mengisinya sehingga berkenan kepada Tuhan". Dan, sungguh, sore itu aku sempatkan datang untuk misa Jumat sore di Gereja,misa Jumat pertama. Dan seperti permintaan Adi, aku memohonkan doa bagi mereka yang telah menjadi bagian dari hatinya selama tigabelas hari terakhir ini. Dan aku menyalakan sebatang lilin, berlutut di hadapan patung Bunda Maria bersama seikat bunga liar kering yang aku persembahkan.. ...Tuhan, terimakasih untuk semua yang terjadi dalam dunia ini, baik dunia di luar diriku;alam semesta, sesama, maupun dunia di dalam diriku; hati,pikiran, dan perasaan, Untuk kebutuhan dan rasa aman, untuk kebahagiaan dan penderitaan, untuk keindahan alam dan bencana alam, untuk kelahiran dan kematian, untuk terangnya siang dan gelapnya malam, untuk mereka yang menyukaiku dan yang membenciku, untuk tantangan yang menghadang dan untuk keberhasilan dan kegagalan. Terimakasih bahwa aku boleh mengalami semuanya ini, terutama untuk kesadaran bahwa Engkau selalu hadir dalam semua pengalaman itu, sekalipun pada saat-saat tertentu, aku tidak memahami rencanaMu. Sekalipun demikian, aku ingin selalu berusaha memahami setiap rencanaMu dalam diriku, setiap orang yang aku sayangi, semua umat manusia, dan segala penciptaan di dunia ini. Aku adalah milikMu dan segala milikku adalah kepunyaanMu. Kemuliaan kepada Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus, seperti pada permulaan, sekarang, selalu, dan sepanjang segala abad, ...amin. dengan ingatan akan Adi, -marge-,8 Januari 2005 ----- Original Message ----- From: <mailto:[EMAIL PROTECTED]> margaretha L To: <mailto:[EMAIL PROTECTED]> [EMAIL PROTECTED] Sent: Tuesday, January 11, 2005 2:28 PM Subject: [ApiK] Tokek Berkata...(reportase lanjutan dari Adi) Setelah dua hari dua malam tidak berkabar, tiba-tiba Adi mengirim sms, banyak dan bertubi-tubi. Aku tersenyum, segera pikiranku melayang ke waktu yang lalu, suatu senja di stasiun kereta. Hari sudah gelap di sana. Dikatakannya sebelum pergi, untuk menyusulku ke Jakarta. Semoga ada isyarat sederhana dari awan kepada hujan di sana. __________________________________________________ Minggu, 10 Januari 2005 Dua hari aku tidak dapat menghubungimu, Mbak, baterai habis dan sinyal tidak bagus. Sudah kuceritakan bukan, aku dan beberapa relawan lain bergabung bersama TNI untuk mulai memasuki daerah pedalaman. Kami berangkat menuju desa Woyla, Cot Sukon, dengan berjalan kaki. (-sampai di sini kontak dengan Adi sempat terputus 2 hari 2 malam lamanya,-marge). Kondisi jalan yang susah, penuh lumpur mengakibatkan perjalanan yang ditempuh terasa sangat panjang. Keadaan desa itu sungguh mengenaskan. Mayat-mayat masih berserakan karena belum terjangkau dan tidak adanya kendaraan pengangkut. Bau mayat yang sangat menyengat memaksa kami untuk memakai masker berlapis-lapis, karena cairan busuk dari mayat-mayat adalah arsen alami yang sangat berbahaya untuk manusia hidup! Mayat-mayat itu jumlahnya ribuan, dan sudah begitu membusuk hingga dipenuhi belatung yang berwarna abu-abu sebesar ulat jeruk. Sayang tidak ada reporter ikut dengan kami. Sebenarnya team kami juga terdiri dari tenaga relawan asing dari Jepang dan Amerika Serikat. Tapi mereka tidak ikut berangkat ke pedalaman, dan berjaga di posko saja, karena katanya takut pada GAM. Dan memang kami saat itu benar-benar diserang oleh GAM, yang rupanya telah mendirikan posko gadungan untuk menjarah barang-barang dan obat-obatan. Kita tidak akan tahu akan keberadaan mereka. Anggota mereka berbaur dengan warga sekitar sebagai mata-mata. Jumlah mereka banyak. Peluru berdesingan di sekitarku, dan kami menyelamatkan diri dan masuk ke dalam lumpur. Aku menggenggam erat rosarioku sambil terus mendaraskan doa Salam Maria. Terjadi kontak senjata selama beberapa waktu, dan akhirnya datang pertolongan dari tentara AS dengan helikopternya. GAM pergi, dan kami ditolong oleh heli tersebut dan dibawa ke Kapal Induk USS Abraham Lincoln ! Wah, pengalaman menakutkan, sekaligus pengalaman yang menyenangkan! Baru kali itu aku mendarat dengan heli di kapal induk USS Abraham Lincoln yang tersohor itu.( Sekaligus merasakan mandi air panas di dalamnya! Hehehe..) Di desa tersebut, ada ratusan orang yang sakit dan terluka.Sebagian luka-lukanya telah membusuk, baunya menyengat dan bahkan sudah berbelatung. Banyak dari mereka yang harus diamputasi anggota tubuhnya karena terlambatnya perawatan. Aku baru saja menenangkan seorang anak laki-laki berusia 8 tahun yang sedih karena kedua kakinya diamputasi akibat luka parah yang membusuk. Dia tak bisa main sepakbola lagi. Sebelumnya, seorang anak kecil muntah-muntah, dan dalam muntahannya itu terdapat lumpur dan pecahan kayu-kayu kecil. Bantuan tenaga medis dari luar sudah berdatangan, bahkan dari Mesir dan Jerman. Tapi kami sungguh harus kerja keras, karena jumlah relawan dan tenaga medis sangat tidak sebanding dengan jumlah mereka yang memerlukan pengobatan, apalagi bantuan yang datang tersendat dan tidak merata. Kami bertemu dengan seorang bapak yang membawa tas berat di bahunya. Apa isinya? Hanya akar-akar pohon yang masih muda, sekedar untuk menyambung hidup... Ada juga yang sudah tak mampu lagi bertahan hidup, seperti kejadian kemarin malam, seorang ibu nekat membakar dirinya dengan minyak tanah karena telah kehilangan 15 anggota keluarganya. Belakangan ada juga beberapa wartawan yang ikut, tapi team peliput dari luar negeri paling berani untuk ikut masuk ke daerah-daerah yang masih terpencil. Sekarang aku harus menyiapkan obat-obatan dulu, karena para pengungsi sebentar lagi akan makan siang,... dengan antrian yang panjang sekali. Dari sebuah pohon besar di dekat tenda pengungsi, kudapati seekor tokek besar masih tinggal dan berbunyi sepanjang waktu, sepertinya dia ingin berkata," Aceh bukanlah ladang wacana diskusi sebatas kosmetika bibir, tapi sebuah tindakan darurat yang tidak perlu diperdebatkan lagi karena kemanusiaanlah yang menjadi korban.. tokek...tokek..." ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Has someone you know been affected by illness or disease? Network for Good is THE place to support health awareness efforts! http://us.click.yahoo.com/UwRTUD/UOnJAA/i1hLAA/.1VolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> ================================================ Sampai disini Tuhan menolong kita (1 Sam 7:12) ================================================ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/eben-net/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
