Nich bahan bagus buat diskusi...
===== WashWatch USS Abraham Lincoln di Aceh Christianto Wibisono RESIDEN Susilo Bambang Yudhoyono dikritik oleh Budiarto Shambazy dalam Politika di Harian Kompas, Sabtu (8/1), karena dingin dalam jumpa pers pasca-KTT Tsunami di Jakarta. Sementara Ridwan Saidi hari Sabtu yang sama di harian ini, mengingatkan bahwa pasukan multinasional di bawah PBB kemungkinan berada di Aceh sampai lima tahun lagi. Hari Kamis (6/1), saya menyaksikan pengumuman Direktur USICS (United States Immigration and Citizenship Services) dan Presiden El Salvador bahwa korban gempa bumi negara itu, yang telah ditampung di AS, akan memperoleh perpanjangan Temporary Protected Status (TPS) sampai Maret 2006. Hal itu mengingat kondisi El Salvador yang lima tahun setelah gempa dahsyat 2001, baru merampungkan 50 persen rekonstruksi wilayah gempa. Seorang wartawan Bangladesh menanyakan, apakah Pemerintah AS juga akan memberikan jatah imigrasi ke AS bagi para korban tsunami Asia. Direktur USICS menyatakan bahwa hal itu memerlukan pengkajian, sebab warga El Salvador itu umumnya sudah mempunyai keluarga di AS saat gempa bumi terjadi. USICS adalah jawatan yang mengurus imigrasi dan kewarganegaran AS di bawah Department of Homeland Security. Tragedi tsunami menurut Dr Sjahrir dalam acara di Usindo, 4 Januari 2005, bertema The Impact of Tsunami, The New Social and Political Landscape, memerlukan mentalitas pascatsunami dari elite dan rakyat Indonesia. Kapal induk nuklir Amerika, USS Abraham Lincoln, sudah berlabuh di Sabang dengan lusinan helikopter. Pasukan AS, Singapura, dan Australia, yang ber-"dwifungsi" menjalankan tugas kemanusiaan, terbukti lebih piawai dan cekatan melakukan operasi penyelamatan darurat. Prancis akan mengirim kapal Jeanne d'Arc, kata Menhan Michelle Alliot-Marie (ini wanita sipil tulen). Dengan demikian, seluruh tentara negara yang dikecam sebagai "liberal" dalam tragedi tsunami ini telah disulap menjadi tentara pelaksana "dwifungsi sejati", dari penembak jitu menjadi penyelamat jiwa yang gesit dan terampil. Sementara tentara Indonesia karena politicking di tingkat jenderal, dan ikut terhempas bencana tsunami, kehilangan peran, yang dulu sangat dominan. Di zaman Soeharto, dwifungsi berarti seluruh manusia Indonesia harus menunggu komando jenderal atau komandan di semua tingkatan dan jajaran. Aparatur sipil tidak ada yang berani bergerak kalau Soeharto atau Pangab atau Pangdam atau Danrem dan Dandim serta Babinsa belum mengeluarkan "instruksi". Jaringan intel dan operasional militer mengakar sampai ke desa terpencil. Semua bagaikan robot dipencet dari Cendana ke Cilangkap. Setelah Soeharto lengser dan Gus Dur menggeser Wiranto, tentara memang masih berusaha mempertahankan struktur warisan Soeharto. Tetapi, dunia sudah berubah, sebab transparansi tidak memungkinkan tentara menjalankan peranan seperti alat dinas rahasia Savak di zaman Shah Iran, atau Mukhabarat intelnya Saddam. Tentara Indonesia, karena kebijakan politik yang kurang menghargai HAM, telah diisolasi oleh sumber logistik terpenting, AS. Karena itu, armada laut dan skuadron udaranya tidak mungkin lagi menjalankan fungsi penyelamatan Aceh secara maksimal. Karena itulah, helikopter Armada VII yang berpangkalan di USS Abraham Lincoln diperlukan untuk menjangkau korban di Aceh, yang tidak mungkin lagi dibantu oleh TNI yang di lapangan juga mengalami musibah gempuran tsunami tanpa ampun dan tanpa kecuali. * KEHADIRAN USS Abraham Lincoln dan ribuan pasukan multinasional dalam rangka operasi kemanusiaan sudah mulai ditanggapi secara politis oleh para politisi, yang tampaknya mudah terbuai oleh "teori konspirasi". Al Jazeera dan Al Arabiya menyiarkan teori bahwa tsunami bukan gempa laut yang wajar, melainkan akibat ledakan nuklir oleh komplotan segi tiga Yahudi Israel, Hindu India, dan Kristen AS. Itu suatu fitnah yang lebih kejam daripada pembunuhan, lebih jahat dari tsunami, dan lebih berdosa dari "setan" yang tidak kelihatan. Teori itu bertujuan menciptakan kebencian terhadap AS, yang justru mengerahkan operasi militer terbesar di Asia setelah Perang Vietnam, untuk tujuan kemanusiaan dan penyelamatan. Mereka yang membenarkan peledakan WTC adalah juga yang memfitnah dengan teori tsunami nuklir, paralel teori WTC ditabrak oleh agen Yahudi Mossad, dan bukan Osama bin Laden. Mereka itu lebih berbahaya dari Mohammad Atta yang sudah terbakar di WTC. Karena mereka masih sehat wal afiat dan selalu menebarkan virus fitnah yang keji dalam usaha membenarkan teror dan kebencian terhadap kambing hitam abadi, yaitu AS dan Israel. Sekarang Hindu India juga dimasukkan dalam barisan musuh "Allah" yang diklaim oleh pemfitnah itu. * BENCANA tsunami memakan korban manusia dari pelbagai agama. Memang yang terbesar adalah Muslim di Aceh, tapi juga Hindu dan Buddha di India, Sri Lanka dan Thailand serta turis Barat yang Kristen atau sudah jadi ateis dan sekuler. Kalau negara-negara tertentu berteriak merasa paling berhak membantu dengan telepon semalam suntuk US$ 82 juta, memakai teori solidaritas agama sebagai kriteria bantuan, maka akan banyak yang mati sebelum bantuannya sampai di Aceh. Karena yang tiba lebih dulu adalah pasukan Singapura, Australia, dan awak USS Abraham Lincoln yang tanpa memedulikan agama, menolong para korban dengan empati. Sudah sering saya menulis dengan sedih dan prihatin bahwa nasionalisme Indonesia kadang terbajak oleh sektarianisme agama primitif yang mengorbankan kepentingan nasional dan kemanusiaan. Sekitar 40 tahun yang lalu negara-negara Arab meninggalkan atlet Indonesia diskors dari Olimpiade Tokyo, karena RI melarang Israel ikut Asian Games 1962 di Jakarta. Tetapi, negara-negara Arab berlenggang-kangkung bermain bersama Israel di Tokyo tahun 1964 tanpa simpati sedikit pun pada atlet Indonesia yang dikucilkan dari Olimpiade Tokyo. Sekarang tahun 2004, ketika USS Abraham Lincoln yang memang bertenaga nuklir sampai lebih dulu di Aceh untuk operasi kemanusiaan, jaringan pemberitaan Al Arabiya memfitnah bahwa tsunami merupakan bikinan AS. Teori konspirasi seperti itu dan solidaritas agama yang membuta, tetap saja dipakai. Sama sekali tidak mempunyai moral untuk melihat kebaikan atau kejujuran atau tingkah laku seseorang secara adil. * GELOMBANG tsunami kemarin barangkali tidak akan menimbulkan mentalitas pascatsunami seperti yang diharapkan oleh Dr Sjahrir. Sebagian elite Indonesia masih terkontaminasi mentalitas pratsunami dengan kekerdilan sektarian, fanatisme primitif, solidaritas jahiliyah, yang penuh fitnah, dendam-kesumat, angkara-murka, iri hati dan dengki. Mereka tidak akan mampu mengentaskan bangsa Indonesia dari kepedihan tsunami. Sebab seperti kemarahan Kompas bahwa sudah kere, masih tetap gengsi, gemar ikut memfitnah, tidak punya mentalitas bersyukur kepada penolong dan penyelamat. Maka nasib Indonesia barangkali tidak akan segera pulih. Abraham Lincoln menghapus perbudakan dengan risiko perang saudara di AS. USS Abraham Lincoln menggelar operasi kemanusiaan yang dibalas dengan air tuba, fitnah dan kekerdilan model elite yang bermental kere tapi gengsi. Siapa yang akan survive menghadapi dunia abad XXI, penganut Abraham Lincoln yang konsisten dengan prinsip kemanusiaan, atau para pemfitnah yang lebih populer dan merasuki massa yang hanya bisa membenci orang lain karena tidak tahan menderita? Padahal, penderitaan itu disebabkan oleh kebodohan, kedosaan, kedengkian dan kebencian mereka sendiri terhadap orang lain yang dijadikan alasan untuk meluncurkan teror dan fitnah. Dalam perang Irak, banyak orang ingin AS dan George Bush dikalahkan dan mungkin juga orang kepingin Pemilu 30 Januari di Irak gagal dan Bush malu besar. Begitu pula Pilpres Palestina, Minggu kemarin, masih diwarnai kebencian dan bukan terobosan perdamaian. Dalam "jihad pascatsunami", USS Abraham Lincoln di barisan depan penyelamat korban, tapi masih difitnah dengan teori konspirasi, maka manusia yang masih berhati nurani hanya bisa berdoa sambil terus melakukan misi kemanusiaan. Namun, sudah ada terobosan mentalitas pascatsunami pada elite Indonesia dalam mengarungi bahtera politik global era pascatsunami. Goenawan Mohamad tersentuh hati nuraninya untuk menanyakan "keterlambatan Arab Saudi dan negara-negara Islam memberi bantuan tsunami", menurut Raymond Bonner dalam The New York Times, 7 Januari. Saya ingin mengusulkan kepada Presiden Yudhoyono untuk menunjuk Goenawan Mohamad sebagai calon pengganti Dubes Soemadi Brotodiningrat yang akan habis masa jabatannya bulan Mei 2005 (setelah diperpanjang tiga bulan sejak Februari). Periode pascatsunami membutuhkan diplomat bermental pascatsunami dan berwawasan global sekaliber Soedjatmoko. Dengan segala hormat kepada para diplomat karier Departemen Luar Negeri dan para politisi sektarian yang sangat berambisi ingin duduk di Washington DC mewakili RI, melalui kesempatan ini saya ingin mengingatkan bahwa hanya tokoh sekaliber Goenawan Mohamad atau Nono Anwar Makarim yang saat ini pantas untuk berkantor di KBRI Massachusetts Avenue yang baru dikunjungi tiga presiden AS. Mengirim tokoh sembarangan ke AS, mirip menjual murah Indonesia dan menurunkan rating intelektualitas dan bobot profesional Dubes RI untuk AS, serta akan membuat Indonesia tidak mentas dari mentalitas pretsunami. * Yahoo! Groups Links Yahoo! Groups Links ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> In low income neighborhoods, 84% do not own computers. At Network for Good, help bridge the Digital Divide! http://us.click.yahoo.com/hjtSRD/3MnJAA/i1hLAA/.1VolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> ================================================ Sampai disini Tuhan menolong kita (1 Sam 7:12) ================================================ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/eben-net/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
