|
|
MEMPERSEMBAHKAN
PENDERITAAN KITA
2
Korintus 12:1-10
"…kuasaku
justru paling kuat kalau kau dalam keadaan lemah." ( 2 Kor. 12:
9, BIS)
Adakah kita ragu tentang apa
yang dapat dikerjakan oleh mere-ka yang cacat dan menderita? Jika
keterbatasan itu mereka per-sembahkan kepada Tuhan, maka Ia akan
mengerjakan sesuatu me-laluinya.
Secara khusus, Ibu Teresa ditopang oleh kekuatan doa dan pengorbanan tiga
orang, hingga ia berhasil bertahan. Mereka adalah: Agnes, yang sedang dalam
keadaan sekarat karena radang paru-paru (TBC) di Patna, dan Nicholas, yang
lumpuh seumur hidup serta tak dapat bergerak. Dan Jacqueline de Decker,
yang mengatakan bahwa ia berbagi cita-cita yang sama dengan Ibu Teresa. Ia
seorang pekerja sosial yang telah terlatih dengan baik. Jacqueline telah
menjalani tigapuluh empat operasi. Ia memakai sebuah kerah orthopedi
sekeliling lehernya dan tubuhnya dimasukkan ke dalam korset dari besi. Ia
berjalan dengan bantuan tongkat penopang. Jacqueline mengalami rasa sakit
yang berlangsung terus-menerus. Tapi ia mampu mengunjungi dan bersahabat
dengan begitu banyak orang sakit lainnya. Dan mengurusi sekitar seribu
wanita tunasusila di Antwerpen! Ia bergabung dengan Kerabat Kerja yang
Sakit dan Menderita.
Kelemahan dan penderitaan bukanlah penghalang serius untuk bekerja bagi
Tuhan. Rasul Paulus mempunyai 'duri dalam daging'. Kita tidak tahu apa itu,
sebab ia tak mengatakannya. Yang pasti ialah, sesuatu yang kronis dan
melemahkan, sehingga menghalangi pekerjaannya. Diteguhkan oleh janji Tuhan,
ia berkata, "…saya gembira dengan kelemahan-kelemahan saya…" (ay.
10)
Apakah kita menyesali kekurangan, keterbatasan dan hambatan fisik yang kita
alami? Biarlah kita percaya bahwa Tuhan ingin dan sanggup mengerjakan
sesuatu yang indah melalui diri kita.
Refleksi:
Tuhan,
ubahlah keadaan kami yang rapuh menjadi ampuh. Amin.
Menelusuri
Alkitab satu tahun: Bilangan 28-30
|
|