----- Original Message ----- From: "Susi Agnesi" <[EMAIL PROTECTED]> To: "Alumnismp213" <[EMAIL PROTECTED]> Sent: Friday, April 29, 2005 11:10 AM Subject: FW: [alumnismp213] 1 ONS BUKAN 100 GRAM
> > Mengenai email dengan subject diatas, berikut saya sampaikan tanggapan dari > milis lain, semoga kita bisa lebih dewasa dalam menanggapi sesuatu.... > > Salam, > Susi > > From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of > Firdaus, Jos > Sent: Tuesday, April 26, 2005 9:35 > To: [email protected] > Subject: RE: [IA-ITB] Fw: 1 ons memang 100 gram > Importance: High > > > Tanggapan yang saya ambil dari milis Ahli Keuangan-Indonesia /Sdr Poltak > Hotradero. Semoga berguna..... > > > At 05:38 AM 4/25/2005, you wrote: > > Jangan terlebih dahulu bilang Oh My God. > > Kalau kita mau meng-google sebentar - maka kita akan temukan bahwa : > > http://en.wikipedia.org/wiki/Ounce: > "The Dutch term *ons* is a unit of mass that is considerably more, 100 g, a > redefinition adopted with the introduction of the metric system together > with a redefinition of the Dutch /pond/ as 1 kg. (Though the /ons/ of 100 g > remains in informal usage, this /pond/ as a kilogram has fallen by the > wayside, replaced by the metric pound of 500 g adopted in other countries.)" > > http://www.unc.edu/~rowlett/units/dictO.html* > *ons: *a Dutch unit of weight or mass, now used as a metric unit equal to > the hectogram (100 grams, or about 3.5274 ounces). > > http://www.unc.edu/~rowlett/units/dictP.html* > *pond [1]: *the Dutch pound, historically about 494 grams (1.089 English > pounds). This unit was also used in the former Dutch Indies (now Indonesia) > and throughout Southeast Asia. In the Netherlands, the pond has been > reinterpreted now as a metric unit equal to exactly 500 grams (1.1023 > pounds), like the German pfund. > > > Jadi cerita tentang "teman saya yang bekerja di perusahaan asing..." lebih > mungkin cuma sebuah isapan jempol (yang herannya cepat sekali menyebar luas > di banyak milis). Atas hal tersebut - janganlah kita langsung terburu-buru > menyalahkan Depdiknas. > > > CATATAN: > Credit should be given to my friend Windo Hutabarat who wrote the truth > about "ons" - in ppi-uk mailing list. He is a Ph.D candidate student from > The University of Cambridge. > > > > > -----Original Message----- > From: [EMAIL PROTECTED] > [mailto:[EMAIL PROTECTED] Behalf Of Meiga > Sent: Friday, April 29, 2005 9:05 AM > To: Undisclosed-Recipient:; > Subject: [alumnismp213] 1 ONS BUKAN 100 GRAM > > > Agak panjang tapi penting untuk dibaca dan disebarkan kepada yg > lainnya..... > > ========================================================== > > 1 ONS BUKAN 100 GRAM. > > PENDIDIKAN YANG MENJADI BOOMERANG. > > > Seorang teman saya yang bekerja pada sebuah perusahaan asing, di PHK > > akhir > > tahun lalu. Penyebabnya adalah kesalahan menerapkan dosis pengolahan > > limbah, yang telah berlangsung bertahun-tahun. Kesalahan ini terkuak > > ketika > > seorang pakar limbah dari suatu negara Eropa mengawasi secara langsung > > proses pengolahan limbah yang selama itu dianggap selalu gagal. > > Pasalnya > > adalah, takaran timbang yang dipakai dalam buku petunjuknya menggunakan > > satuan pound dan ounce. Kesalahan fatal muncul karena yang bersangkutan > > mengartikan 1 pound = 0,5 kg. dan 1 ounce (ons) = 100 gram, sesuai > > pelajaran yang ia terima dari sekolah. Sebelum PHK dijatuhkan, teman > > saya > > diberi tenggang waktu 7 hari untuk membela diri dgn. cara menunjukkan > > acuan > > ilmiah yang menyatakan 1 ounce (ons) = 100 g. Usaha maksimum yang > > dilakukan hanya bisa menunjukkan Kamus Besar Bahasa Indonesia yang > > mengartikan ons (bukan ditulis ounce) adalah satuan berat senilai 1/10 > > kilogram. Acuan lain termasuk tabel-tabel konversi yang berlaku sah > > atau > > dikenal secara internasional tidak bisa ditemukan. > > > > SALAH KAPRAH YANG TURUN-TEMURUN. > > > > Prihatin dan penasaran atas kasus diatas, saya mencoba menanyakan hal > > ini > > kepada lembaga yang paling berwenang atas sistem takar-timbang dan ukur > > di > > Indonesia, yaitu Direktorat Metrologi . Ternyata, pihak Dir. > > Metrologi-pun > > telah lama melarang pemakaian satuan ons untuk ekivalen 100 gram. > > Mereka > > justru mengharuskan pemakaian satuan yang termasuk dalam Sistem > > Internasional (metrik) yang diberlakukan resmi di Indonesia. Untuk > > ukuran > > berat, satuannya adalah gram dan kelipatannya. Satuan Ons bukanlah > > bagian > > dari sistem metrik ini dan untuk menghilangkan kebiasaan memakai satuan > > ons > > ini, Direktorat Metrologi sejak lama telah memusnahkan semua anak > > timbangan > > (bandul atau timbal) yang bertulisan "ons" dan "pound". > > > > Lepas dari adanya kebiasaan kita mengatakan 1 ons = 100 gram dan 1 > > pound = > > 500 gram, ternyata tidak pernah ada acuan sistem takar-timbang legal > > atau > > pengakuan internasional atas satuan ons yang nilainya setara dengan 100 > > gram. Dan dalam sistem timbangan legal yang diakui dunia internasional, > > tidak pernah dikenal adanya satuan ONS khusus Indonesia. Jadi, hal ini > > adalah suatu kesalahan yang diwariskan turun-temurun. Sampai kapan mau > > dipertahankan ? > > > > BAGAIMANA KESALAHAN DIAJARKAN SECARA RESMI ? > > > > Saya sendiri pernah menerima pengajaran salah ini ketika masih di > > bangku > > sekolah dasar. Namun, ketika saya memasuki dunia kerja nyata, kebiasaan > > salah yang nyata-nyata diajarkan itu harus dibuang jauh karena akan > > menyesatkan. > > > > Beberapa sekolah telah saya datangi untuk melihat sejauh mana > > penyadaran > > akan penggunaan sistem takar-timbang yang benar dan sah dikemas dalam > > materi pelajaran secara benar, dan bagaimana para murid (anak-anak > > kita) > > menerapkan dalam hidup sehari-hari. Sungguh memprihatinkan. Semua > > sekolah > > mengajarkan bahwa 1 ons = 100 gram dan 1 pound = 500 gram, dan > > anak-anak > > kita pun menggunakannya dalam kegiatan sehari-hari. "Racun" ini sudah > > tertanam didalam otak anak kita sejak usia dini. > > > > Dari para guru, saya mendapatkan penjelasan bahwa semua buku pegangan > > yang > > diwajibkan atau disarankan oleh Departemen Pendidikan Indonesia > > mengajarkan > > seperti itu. Karena itu, tidaklah mungkin bagi para guru untuk > > melakukan > > koreksi selama Dep. Pendidikan belum merubah atau memberi-kan petunjuk > > resmi. > > > > TANGGUNG JAWAB SIAPA ? > > > > Maka, bila terjadi kasus-kasus serupa diatas, Departemen Pendidikan > > kita > > jangan lepas tangan. Tunjukkanlah kepada masyarakat kita terutama > > kepada > > para guru yang mengajarkan kesalahan ini, salah satu alasannya agar > > tidak > > menjadi beban psikologis bagi mereka ; > > "acuan sistem timbang legal yang mana yang pernah diakui / diberlakukan > > secara internasional , yang menyatakan bahwa : > > > > 1 ons adalah 100 gram, 1 pound adalah 500 gram."? > > > > Kalau Dep. Pendidikan tidak bisa menunjukkan acuannya, mengapa hal ini > > diajarkan secara resmi di sekolah sampai sekarang ? > > > > Pernahkan Dep. Pendidikan menelusuri, dinegara mana saja selain > > Indonesia > > berlaku konversi 1 ons = 100 gram dan 1 pound = 500 gram ? > > > > Patut dipertanyakan pula, bagaimana tanggung jawab para penerbit buku > > pegangan sekolah yang melestarikan kesalahan ini ? > > > > Kalau Dep. Pendidikan mau mempertahankan satuan ons yang keliru ini, > > sementara pemerintah sendiri melalui Direktorat Metrologi melarang > > pemakaian satuan "ons" dalam transaksi legal, maka konsekwensinya ialah > > harus dibuat sistem baru timbangan Indonesia (versi Depdiknas). Sistem > > baru > > inipun harus diakui lebih dulu oleh dunia internasional sebelum > > diajarkan > > kepada anak-anak. Perlukah adanya sistem timbangan Indonesia yang > > konversinya adalah 1 ons (Depdiknas) = 100 gram dan 1 pound (Depdiknas) > > = > > 500 gram. ? Bagaimana "Ons dan Pound (Depdiknas)" ini dimasukkan dalam > > sistem metrik yang sudah baku diseluruh dunia ? Siapa yang mau pakai ?. > > > > HENTIKAN SEGERA KESALAHAN INI. > > > > Contoh kasus diatas hanyalah satu diantara sekian banyak problema yang > > merupakan akibat atau korban kesalahan pendidikan. Saya yakin masih > > banyak > > kasus-kasus senada yang terjadi, tetapi tidak kita dengar. Salah satu > > contoh kecil ialah, banyak sekali ibu-ibu yang mempraktekkan resep kue > > dari > > buku luar negeri tidak berhasil tanpa diketahui dimana kesalahannya. > > > > Karena ini kesalahan pendidikan, masalah ini sebenarnya merupakan > > masalah > > nasional pendidikan kita yang mau tidak mau harus segera dihentikan. > > > > Departemen Pendidikan tidak perlu malu dan basa-basi diplomatis > > mengenai > > hal ini. Mari kita pikirkan dampaknya bagi masa depan anak-anak > > Indonesia. > > Berikan teladan kepada bangsa ini untuk tidak malu memperbaiki > > kesalahan. > > > > Sekalipun hanya untuk pelajaran di sekolah, dalam hal > > Takar-Timbang-Ukur, > > Dep. Pendidikan tidak memiliki supremasi sedikitpun terhadap Direktorat > > Metrologi sebagai lembaga yang paling berwenang di Indonesia. Mari kita > > ikuti satu acuan saja, yaitu Direktorat Metrologi. > > > > Era Globalisasi tidak mungkin kita hindari, dan karena itu anak-anak > > kita > > harus dipersiapkan dengan benar. Benar dalam arti landasannya, > > prosesnya, > > materinya maupun arah pendidikannya. Mengejar ketertinggalan dalam hal > > kualitas SDM negara tetangga saja sudah merupakan upaya yang sangat > > berat. > > Janganlah malah diperberat dengan pelajaran sampah yang justru bakal > > menyesatkan. Didiklah anak-anak kita untuk mengenal dan mengikuti > > aturan > > dan standar yang berlaku SAH dan DIAKUI secara internasional, bukan > > hanya > > yang rekayasa lokal saja. Jangan ada lagi korban akibat pendidikan yang > > salah. Kita lihat yang nyata saja, berapa banyak TKI diluar negeri yang > > berarti harus mengikuti acuan yang berlaku secara internasional. > > > > Anak-anak kita memiliki HAK untuk mendapatkan pendidikan yang benar > > sebagai > > upaya mempersiapkan diri menyongsong masa depannya yang akan penuh > > dengan > > tantangan berat. > > > > ACUAN MANA YANG BENAR ? > > > > Banyak sekali literatur, khususnya yang dipakai dalam dunia tehnik, dan > > juga ensiklopedi ternama seperti Britannica, Oxford, dll. (maaf, ini > > bukan > > promosi) menyajikan tabel-tabel konversi yang tidak perlu diragukan > > lagi. > > > > Selain pada buku literatur, tabel-tabel konversi semacam itu dapat > > dijumpai > > dengan mudah di-dalam buku harian / diary/agenda yang biasanya > > diberikan > > oleh toko atau produsen suatu produk sebagai sarana promosi. > > > > Salah satu konversi untuk satuan berat yang umum dipakai SAH secara > > internasional adalah sistem avoirdupois / avdp. (baca : averdupoiz). > > > > 1 ounce/ons/onza = 28,35 gram (bukan 100 g.) > > > > 1 pound = 453 gram (bukan 500 g.) > > > > 1 pound = 16 ounce (bukan 5 ons) > > > > Bayangkan saja, bagaimana jadinya kalau seorang apoteker meracik resep > > obat > > yang seharusnya hanya diberi 28 gram, namun diberi 100 gram. Apakah > > kesalahan semacam ini bisa di kategorikan sebagai malapraktek ? > > Pelajarannya memang begitu, kalau murid tidak mengerti, dihukum !!! > > Jadi, > > kalau malapraktik, logikanya adalah tanggung jawab yang mengajarkan. > > (ini > > hanya gambaran / ilustrasi salah satu akibat yang bisa ditimbulkan, > > bukan > > kejadian sebenarnya, tetapi dalam bidang lain banyak sekali terjadi) > > > > KALAU BUKAN KITA YANG MENYELAMATKAN - LALU SIAPA ?. > > > > Melalui tulisan ini saya ingin mengajak semua kalangan, baik kalangan > > pemerintah, akademis, profesi, bisnis / pedagang, sekolah dan orang tua > > dan > > juga yang lainnya untuk ikut serta mendukung penghapusan satuan "ons > > dan > > pound yang keliru" dari kegiatan kita sehari-hari. Pengajaran sistem > > timbang dgn. satuan Ounce dan Pound seharusnya diberikan sebagai > > pengetahuan disertai kejelasan asal-usul serta rumus konversi yang > > benar. > > Hal ini untuk membuang kebiasaan salah yang telah melekat dalam > > kebiasaan > > kita, yang bisa mencelakakan / menyesatkan anak-anak kita, generasi > > penerus > > bangsa ini. > > > > # # # # # > > > > Tulisan ini akan dikirimkan kepada media masa, baik cetak maupun > > elektronik > > yang mau menyiarkannya demi kepentingan bangsa. Dipersilahkan mengubah > > formatnya sesuai dengan ketentuan penyiaran masing-masing. > > > > Juga kepada sekolah-sekolah, pabrik-pabrik serta LSM dan masyarakat > > umum, > > untuk diketahui secara luas. > > > > Bila anda merasa sependapat dengan saya, setuju untuk menghentikan > > kesalahan ini demi masa depan anak bangsa Indonesia, silahkan > > diperbanyak > > / > > difoto copy dan disebar-luaskan sendiri. > > > > Bila anda ragu-ragu terhadap kebenaran tulisan ini, silahkan > > menanyakannya > > langsung kepada Direktorat Metrologi atau Balai Metrologi setempat > > dikota > > anda berada. > > > > Terima kasih saya ucapkan kepada anda yang peduli dan mau > > berpar-tisipasi > > menyelamatkan masa depan anak-anak Indonesia. Semoga Tuhan memberkati > > upaya > > ini, yang kita lakukan dengan tulus ikhlas tanpa pamrih sedikitpun. > > > > # # # # # > > > > Ditengah orang-orang waras, dia yang lain sendiri dianggap gila. > > > > Ditengah orang-orang gila, dia yang waras justru dianggap gila. > > > > Memang banyak orang yang benar, tetapi jangan diartikan bahwa yang > > diikuti > > banyak orang itulah yang pasti dan selalu benar. > > > > LEMBAR PELENGKAP > > > > TAKAR - UKUR - TIMBANG MENGIKUTI > > > > SISTEM METRIK YANG BERLAKU SEJAK THN 1799. > > > > Kuantitas > > Satuan > > Simbol > > Keterangan > > > > Panjang > > meter > > m > > bukan mtr. > > > > Luas > > meter persegi > > m2 > > > > Isi / volume > > meter kubik > > m3 > > > > Berat > > gram > > g > > bukan gr. > > > > Takaran > > liter > > l > > 1 l = 1000 cm3 (cc) > > > > Suhu / temperatur > > derajat Celcius > > oC > > > > BEBERAPA SEBUTAN / AWALAN UNTUK FAKTOR PENGALI > > > > DALAM SISTEM METRIK > > > > AWALAN > > FAKTOR PENGALI > > SIMBOL / SINGKATAN > > CONTOH PEMAKAIAN > > > > giga > > 1.000.000.000 > > G > > GHz. > > > > mega > > 1.000.000 > > M > > MW > > > > kilo > > 1.000 > > k > > km > > > > hecto > > 100 > > h > > ha > > > > deka > > 10 > > da > > dam > > > > deci > > 0,1 > > d > > dm > > > > centi > > 0,01 > > c > > cm > > > > milli > > 0,001 > > m > > ml > > > > micro > > 0,000.001 > > m > > mF > > > > dan seterusnya. > > > > Dalam sistem metrik memang dikenal 1 are = 100 m2 khusus untuk ukuran > > tanah > > yang diakui sah secara internasional. > > > > Untuk satuan ONS yang mengartikan kelipatan 100 g., apalagi POUND yang > > mengartikan kelipatan 500 g., tidak pernah ada didalam sistem metrik > > maupun > > non-metrik / imperial yang pernah diberlakukan sah secara > > internasional. > > > > # # # # # > > > > RANGKUMAN SARAN-SARAN, KRITIK DAN KOMENTAR > > > > 1. Banyak orang berpendapat bahwa ONS kita ini tidak ada kaitannya sama > > sekali dengan OUNCE. > > > > a. Kalau kita baca kamus-kamus Inggris-Indonesia dan sebaliknya, jelas > > bahwa terjemahan "ounce adalah ons" dan "pound adalah pon" begitu pula > > sebaliknya dari Indonesia-Inggris. Bahkan ada beberapa kamus yang > > menterjemahkan "ounce menjadi ons, berat 100 gram." Tetapi ada juga > > yang > > menterjemahkan "ons, 28,3 gram". > > > > Nara sumber : Jumlah : 2 orang > > > > Profesi : Guru dan Dosen Bahasa Inggris. > > > > b. Beberapa guru berpendapat bahwa kata "ons" jelas bukan asli bahasa > > Indonesia, karena bahasa Indonesia hanya mengenal 2 konsonan rangkap, > > yaitu > > "ng" dan "ny". Tidak ada konsonan rangkap "ns". Contoh : "Helm" kalau > > di > > Indonesiakan menjadi "helem". Kalau "ons" tidak bisa dijadikan "ones" > > tentu > > karena menyangkut suatu acuan yang harus dilafalkan secara benar, sama > > seperti "gram" yang tidak boleh ditulis menjadi "geram". > > > > Nara sumber : Jumlah : 2 orang > > > > Profesi : Guru Bahasa Indonesia. > > > > > > c. Beberapa orang lanjut usia yang cukup terpelajar membenarkan bahwa > > "ons > > dan pound" itu bawaan Belanda, bukan asli Indonesia, karena sudah > > dipakai > > sebelum Indonesia merdeka dan diajarkan juga disekolah HIS maupun HCS > > (masih jaman penjajahan). > > > > Beberapa diantara mereka ingat bahwa acuan konversi yang diterapkan di > > Indonesia tidak sama dengan yang diterapkan di Belanda. > > > > Nara sumber : Jumlah : 7 orang. Usia : 77 s/d. 87 tahun. > > > > Pendidikan terendah : HCS / HIS. > > > > Pendidikan tertinggi : Sarjana > > > > Profesi terakhir : Guru, Kontraktor, Dokter, Pendeta, PN. > > > > > > 2. Acuan internasional yang menyatakan 1 ons = 100 gram , 1 pound = 500 > > gram jelas-jelas tidak pernah ada. > > > > Bahkan Acuan nasional (kalaupun ada dulu-dulunya) tidak bisa / tidak > > boleh dipergunakan lagi semenjak diundangkannya UU no.2 tahun 1981 > > tentang > > Metrologi Legal, yang mencabut dan membatalkan Ijkordonnantie 1.049 > > Staatsblad nomor 175. > > > > Nara sumber : Jumlah : 1 orang. > > > > Profesi : tidak dikenal. > > > > 3. Penerbit tidak seharusnya dimintai pertanggung-jawaban karena semua > > materi kurikulum yang harus dibukukan telah mendapat persetujuan > > terlebih > > dulu dari Dep. Pendidikan. > > > > Nara sumber : Jumlah : 1 orang. > > > > Profesi : Pengusaha. > > > > 4. Tidak perlu memperlebar masalah / mendramatisir dengan timbangan > > versi > > depdiknas dan sebagainya. Yang penting bagaimana kesalahan ini bisa > > segera > > diakhiri. > > > > Nara Sumber : Jumlah : 1 orang. > > > > Profesi : tidak dikenal. > > > > 5. Terkejut dan syok berat tapi Setuju bahwa kita harus menghentikan > > kebiasaan salah selama ini dan membiasakan diri menggunakan Sistem > > Internasional yang berlaku. Perlu pengumuman resmi dari pemerintah dan > > penyuluhan masyarakat melalui instansi yang berwenang. > > > > Nara sumber : Jumlah : lebih dari 100 orang. > > > > Profesi : Guru, Dosen, Karyawan, > > Mahasiswa, Dokter. > > > > 6. Para guru tidak bisa dipersalahkan karena mereka hanya melaksanakan > > apa > > yang telah menjadi kebijakan nasional pendidikan yang dikeluarkan oleh > > Dep. > > Pendidikan. > > > > Nara sumber : Jumlah 14 orang. > > > > Profesi : Guru, Ibu Rmh.Tangga, > > Karyawan. > > > > 7. Di dalam Dep. Pendidikan ada bagian yang khusus melakukan > > Penelitian, > > Pengkajian dan Pengembangan. Kalau ini benar-benar suatu kesalahan, .. > > .(hanya geleng-geleng kepala) > > > > Nara sumber : Jumlah : 1 orang > > > > Profesi : Dosen. > > > > 8. Bukankah semua pegawai Dir. Metrologi memiliki anak yang juga > > sekolah > > di > > Indonesia ? Mengapa diam saja ? > > > > Nara sumber : Jumlah : 1 orang. > > > > Profesi : Kep. Sekolah > > > > 9. Sejauh pengetahuan saya, hanya Indonesia yang menerapkan konversi 1 > > ons > > = 100 gram. Mungkin karena itulah banyak yang menganggap ons itu khusus > > Indonesia. Kita memang dianjurkan untuk mencintai produk-produk > > Indonesia, > > tetapi yang satu ini jangan. > > > > Mari dihentikan bersama-sama. > > > > Nara sumber : Jumlah : 1 orang. > > > > Profesi : GM Hotel > > > > 10. Bisa-bisa ini produk akal-akalan penjajah (VOC) dulu untuk menipu > > raja-raja kita. Beli rempah-rempah di Indonesia 1 ons dapat 100 gram, > > tetapi dijual di Eropa 1 ons hanya 28 gram. > > > > Mengapa bisa keterusan sampai sekarang ? Harus dihentikan. > > > > Nara sumber : jumlah : 1 orang. > > > > Profesi : Instalatir. > > > > 11. Pantas saja, anak saya selalu frustrasi kalau menghitung berat > > badan > > petinju yang ditayangkan di TV. Selalu tidak cocok dengan hitungannya. > > Harus segera dihentikan. > > > > Nara sumber : Jumlah : 1 pasutri > > > > Profesi : Anggota Polri & guru SD. > > > > 12. Dep. Pendidikan harus mengeluarkan pernyataan resmi, baik kepada > > sekolah maupun masyarakat, agar diketahui secara luas. > > > > "Bahwa pelajaran 1 ons = 100 g. adalah pengetahuan tentang > > timbangan yang sifatnya NORMATIF, yang merupakan kebiasaan beberapa > > daerah > > di Indonesia. Karena itu, tidak boleh dijadikan acuan ilmiah, tidak > > boleh > > dipakai dalam transaksi legal, tidak boleh dipakai untuk acuan konversi > > formal / legal, misalnya dalam pekerjaan, pembuatan surat-surat resmi > > dll." > > > > Nara sumber : Jumlah : 2 orang. > > > > Profesi : Manager Personalia, Manager > > Engineering. > > > > # # # # # > > > > > > > > (kritik, saran dan komentar diatas selain saya terima dalam bentuk > > surat, email, juga pernyataan lisan dari wawancara dengan kepala sekolah, > > guru, karyawan pabrik, praktisi, dokter, teknisi, dan warga masyarakat. > > Terakhir diterima tgl. 16-04-05) > > > > > > -- > > Best regards, > > Sofyan mailto:[EMAIL PROTECTED] > > > > > Yahoo! Groups Links > > > > > > > > > > > > > > Yahoo! Groups Links > > > > > > > > ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> In low income neighborhoods, 84% do not own computers. At Network for Good, help bridge the Digital Divide! http://us.click.yahoo.com/hjtSRD/3MnJAA/i1hLAA/.1VolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> ================================================ Sampai disini Tuhan menolong kita (1 Sam 7:12) ================================================ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/eben-net/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
