----- Original Message -----
From: "Susi Agnesi" <[EMAIL PROTECTED]>
To: "Alumnismp213" <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Friday, April 29, 2005 11:10 AM
Subject: FW: [alumnismp213] 1 ONS BUKAN 100 GRAM


>
> Mengenai email dengan subject diatas, berikut saya sampaikan tanggapan
dari
> milis lain, semoga kita bisa lebih dewasa dalam menanggapi sesuatu....
>
> Salam,
> Susi
>
> From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of
> Firdaus, Jos
> Sent: Tuesday, April 26, 2005 9:35
> To: [email protected]
> Subject: RE: [IA-ITB] Fw: 1 ons memang 100 gram
> Importance: High
>
>
> Tanggapan yang saya ambil dari milis Ahli Keuangan-Indonesia /Sdr Poltak
> Hotradero. Semoga berguna.....
>
>
> At 05:38 AM 4/25/2005, you wrote:
>
> Jangan terlebih dahulu bilang Oh My God.
>
> Kalau kita mau meng-google sebentar - maka kita akan temukan bahwa :
>
> http://en.wikipedia.org/wiki/Ounce:
> "The Dutch term *ons* is a unit of mass that is considerably more, 100 g,
a
> redefinition adopted with the introduction of the metric system together
> with a redefinition of the Dutch /pond/ as 1 kg. (Though the /ons/ of 100
g
> remains in informal usage, this /pond/ as a kilogram has fallen by the
> wayside, replaced by the metric pound of 500 g adopted in other
countries.)"
>
> http://www.unc.edu/~rowlett/units/dictO.html*
> *ons:  *a Dutch unit of weight or mass, now used as a metric  unit equal
to
> the hectogram (100 grams, or about 3.5274 ounces).
>
> http://www.unc.edu/~rowlett/units/dictP.html*
> *pond [1]:  *the Dutch pound, historically about 494 grams (1.089 English
> pounds). This unit was also used in the former Dutch Indies (now
Indonesia)
> and throughout Southeast Asia. In the Netherlands, the pond has been
> reinterpreted now as a metric unit equal to exactly 500 grams (1.1023
> pounds), like the German pfund.
>
>
> Jadi cerita tentang "teman saya yang bekerja di perusahaan asing..." lebih
> mungkin cuma sebuah isapan jempol (yang herannya cepat sekali menyebar
luas
> di banyak milis).  Atas hal tersebut - janganlah kita langsung
terburu-buru
> menyalahkan Depdiknas.
>
>
> CATATAN:
> Credit should be given to my friend Windo Hutabarat who wrote the truth
> about "ons" - in ppi-uk mailing list.  He is a Ph.D candidate student from
> The University of Cambridge.
>
>
>
>
> -----Original Message-----
> From: [EMAIL PROTECTED]
> [mailto:[EMAIL PROTECTED] Behalf Of Meiga
> Sent: Friday, April 29, 2005 9:05 AM
> To: Undisclosed-Recipient:;
> Subject: [alumnismp213] 1 ONS BUKAN 100 GRAM
>
>
> Agak panjang tapi penting untuk dibaca dan disebarkan kepada yg
> lainnya.....
>
>  ==========================================================
>
>  1 ONS BUKAN 100 GRAM.
>
>  PENDIDIKAN YANG MENJADI BOOMERANG.
>
> > Seorang teman saya yang bekerja pada sebuah perusahaan asing, di PHK
> > akhir
> > tahun lalu. Penyebabnya adalah kesalahan menerapkan dosis pengolahan
> > limbah, yang telah berlangsung bertahun-tahun. Kesalahan ini terkuak
> > ketika
> > seorang pakar limbah dari suatu negara Eropa mengawasi secara langsung
> > proses pengolahan limbah yang selama itu dianggap selalu gagal.
> > Pasalnya
> > adalah, takaran timbang yang dipakai dalam buku petunjuknya menggunakan
> > satuan pound dan ounce. Kesalahan fatal muncul karena yang bersangkutan
> > mengartikan 1 pound = 0,5 kg. dan 1 ounce (ons) = 100 gram, sesuai
> > pelajaran yang ia terima dari sekolah. Sebelum PHK dijatuhkan, teman
> > saya
> > diberi tenggang waktu 7 hari untuk membela diri dgn. cara menunjukkan
> > acuan
> > ilmiah yang menyatakan 1 ounce (ons) = 100 g. Usaha maksimum yang
> > dilakukan hanya bisa menunjukkan Kamus Besar Bahasa Indonesia yang
> > mengartikan ons (bukan ditulis ounce) adalah satuan berat senilai 1/10
> > kilogram. Acuan lain termasuk tabel-tabel konversi yang berlaku sah
> > atau
> > dikenal secara internasional tidak bisa ditemukan.
> >
> > SALAH KAPRAH YANG TURUN-TEMURUN.
> >
> > Prihatin dan penasaran atas kasus diatas, saya mencoba menanyakan hal
> > ini
> > kepada lembaga yang paling berwenang atas sistem takar-timbang dan ukur
> > di
> > Indonesia, yaitu Direktorat Metrologi . Ternyata, pihak Dir.
> > Metrologi-pun
> > telah lama melarang pemakaian satuan ons untuk ekivalen 100 gram.
> > Mereka
> > justru mengharuskan pemakaian satuan yang termasuk dalam Sistem
> > Internasional (metrik) yang diberlakukan resmi di Indonesia. Untuk
> > ukuran
> > berat, satuannya adalah gram dan kelipatannya. Satuan Ons bukanlah
> > bagian
> > dari sistem metrik ini dan untuk menghilangkan kebiasaan memakai satuan
> > ons
> > ini, Direktorat Metrologi sejak lama telah memusnahkan semua anak
> > timbangan
> > (bandul atau timbal) yang bertulisan "ons" dan "pound".
> >
> > Lepas dari adanya kebiasaan kita mengatakan 1 ons = 100 gram dan 1
> > pound =
> > 500 gram, ternyata tidak pernah ada acuan sistem takar-timbang legal
> > atau
> > pengakuan internasional atas satuan ons yang nilainya setara dengan 100
> > gram. Dan dalam sistem timbangan legal yang diakui dunia internasional,
> > tidak pernah dikenal adanya satuan ONS khusus Indonesia. Jadi, hal ini
> > adalah suatu kesalahan yang diwariskan turun-temurun. Sampai kapan mau
> > dipertahankan ?
> >
> > BAGAIMANA KESALAHAN DIAJARKAN SECARA RESMI ?
> >
> > Saya sendiri pernah menerima pengajaran salah ini ketika masih di
> > bangku
> > sekolah dasar. Namun, ketika saya memasuki dunia kerja nyata, kebiasaan
> > salah yang nyata-nyata diajarkan itu harus dibuang jauh karena akan
> > menyesatkan.
> >
> > Beberapa sekolah telah saya datangi untuk melihat sejauh mana
> > penyadaran
> > akan penggunaan sistem takar-timbang yang benar dan sah dikemas dalam
> > materi pelajaran secara benar, dan bagaimana para murid (anak-anak
> > kita)
> > menerapkan dalam hidup sehari-hari. Sungguh memprihatinkan. Semua
> > sekolah
> > mengajarkan bahwa 1 ons = 100 gram dan 1 pound = 500 gram, dan
> > anak-anak
> > kita pun menggunakannya dalam kegiatan sehari-hari. "Racun" ini sudah
> > tertanam didalam otak anak kita sejak usia dini.
> >
> > Dari para guru, saya mendapatkan penjelasan bahwa semua buku pegangan
> > yang
> > diwajibkan atau disarankan oleh Departemen Pendidikan Indonesia
> > mengajarkan
> > seperti itu. Karena itu, tidaklah mungkin bagi para guru untuk
> > melakukan
> > koreksi selama Dep. Pendidikan belum merubah atau memberi-kan petunjuk
> > resmi.
> >
> > TANGGUNG JAWAB SIAPA ?
> >
> > Maka, bila terjadi kasus-kasus serupa diatas, Departemen Pendidikan
> > kita
> > jangan lepas tangan. Tunjukkanlah kepada masyarakat kita terutama
> > kepada
> > para guru yang mengajarkan kesalahan ini, salah satu alasannya agar
> > tidak
> > menjadi beban psikologis bagi mereka ;
> > "acuan sistem timbang legal yang mana yang pernah diakui / diberlakukan
> > secara internasional , yang menyatakan bahwa :
> >
> > 1 ons adalah 100 gram, 1 pound adalah 500 gram."?
> >
> > Kalau Dep. Pendidikan tidak bisa menunjukkan acuannya, mengapa hal ini
> > diajarkan secara resmi di sekolah sampai sekarang ?
> >
> > Pernahkan Dep. Pendidikan menelusuri, dinegara mana saja selain
> > Indonesia
> > berlaku konversi 1 ons = 100 gram dan 1 pound = 500 gram ?
> >
> > Patut dipertanyakan pula, bagaimana tanggung jawab para penerbit buku
> > pegangan sekolah yang melestarikan kesalahan ini ?
> >
> > Kalau Dep. Pendidikan mau mempertahankan satuan ons yang keliru ini,
> > sementara pemerintah sendiri melalui Direktorat Metrologi melarang
> > pemakaian satuan "ons" dalam transaksi legal, maka konsekwensinya ialah
> > harus dibuat sistem baru timbangan Indonesia (versi Depdiknas). Sistem
> > baru
> > inipun harus diakui lebih dulu oleh dunia internasional sebelum
> > diajarkan
> > kepada anak-anak. Perlukah adanya sistem timbangan Indonesia yang
> > konversinya adalah 1 ons (Depdiknas) = 100 gram dan 1 pound (Depdiknas)
> > =
> > 500 gram. ? Bagaimana "Ons dan Pound (Depdiknas)" ini dimasukkan dalam
> > sistem metrik yang sudah baku diseluruh dunia ? Siapa yang mau pakai ?.
> >
> > HENTIKAN SEGERA KESALAHAN INI.
> >
> > Contoh kasus diatas hanyalah satu diantara sekian banyak problema yang
> > merupakan akibat atau korban kesalahan pendidikan. Saya yakin masih
> > banyak
> > kasus-kasus senada yang terjadi, tetapi tidak kita dengar. Salah satu
> > contoh kecil ialah, banyak sekali ibu-ibu yang mempraktekkan resep kue
> > dari
> > buku luar negeri tidak berhasil tanpa diketahui dimana kesalahannya.
> >
> > Karena ini kesalahan pendidikan, masalah ini sebenarnya merupakan
> > masalah
> > nasional pendidikan kita yang mau tidak mau harus segera dihentikan.
> >
> > Departemen Pendidikan tidak perlu malu dan basa-basi diplomatis
> > mengenai
> > hal ini. Mari kita pikirkan dampaknya bagi masa depan anak-anak
> > Indonesia.
> > Berikan teladan kepada bangsa ini untuk tidak malu memperbaiki
> > kesalahan.
> >
> > Sekalipun hanya untuk pelajaran di sekolah, dalam hal
> > Takar-Timbang-Ukur,
> > Dep. Pendidikan tidak memiliki supremasi sedikitpun terhadap Direktorat
> > Metrologi sebagai lembaga yang paling berwenang di Indonesia. Mari kita
> > ikuti satu acuan saja, yaitu Direktorat Metrologi.
> >
> > Era Globalisasi tidak mungkin kita hindari, dan karena itu anak-anak
> > kita
> > harus dipersiapkan dengan benar. Benar dalam arti landasannya,
> > prosesnya,
> > materinya maupun arah pendidikannya. Mengejar ketertinggalan dalam hal
> > kualitas SDM negara tetangga saja sudah merupakan upaya yang sangat
> > berat.
> > Janganlah malah diperberat dengan pelajaran sampah yang justru bakal
> > menyesatkan. Didiklah anak-anak kita untuk mengenal dan mengikuti
> > aturan
> > dan standar yang berlaku SAH dan DIAKUI secara internasional, bukan
> > hanya
> > yang rekayasa lokal saja. Jangan ada lagi korban akibat pendidikan yang
> > salah. Kita lihat yang nyata saja, berapa banyak TKI diluar negeri yang
> > berarti harus mengikuti acuan yang berlaku secara internasional.
> >
> > Anak-anak kita memiliki HAK untuk mendapatkan pendidikan yang benar
> > sebagai
> > upaya mempersiapkan diri menyongsong masa depannya yang akan penuh
> > dengan
> > tantangan berat.
> >
> > ACUAN MANA YANG BENAR ?
> >
> > Banyak sekali literatur, khususnya yang dipakai dalam dunia tehnik, dan
> > juga ensiklopedi ternama seperti Britannica, Oxford, dll. (maaf, ini
> > bukan
> > promosi) menyajikan tabel-tabel konversi yang tidak perlu diragukan
> > lagi.
> >
> > Selain pada buku literatur, tabel-tabel konversi semacam itu dapat
> > dijumpai
> > dengan mudah di-dalam buku harian / diary/agenda yang biasanya
> > diberikan
> > oleh toko atau produsen suatu produk sebagai sarana promosi.
> >
> > Salah satu konversi untuk satuan berat yang umum dipakai SAH secara
> > internasional adalah sistem avoirdupois / avdp. (baca : averdupoiz).
> >
> > 1 ounce/ons/onza = 28,35 gram (bukan 100 g.)
> >
> > 1 pound = 453 gram (bukan 500 g.)
> >
> > 1 pound = 16 ounce (bukan 5 ons)
> >
> > Bayangkan saja, bagaimana jadinya kalau seorang apoteker meracik resep
> > obat
> > yang seharusnya hanya diberi 28 gram, namun diberi 100 gram. Apakah
> > kesalahan semacam ini bisa di kategorikan sebagai malapraktek ?
> > Pelajarannya memang begitu, kalau murid tidak mengerti, dihukum !!!
> > Jadi,
> > kalau malapraktik, logikanya adalah tanggung jawab yang mengajarkan.
> > (ini
> > hanya gambaran / ilustrasi salah satu akibat yang bisa ditimbulkan,
> > bukan
> > kejadian sebenarnya, tetapi dalam bidang lain banyak sekali terjadi)
> >
> > KALAU BUKAN KITA YANG MENYELAMATKAN - LALU SIAPA ?.
> >
> > Melalui tulisan ini saya ingin mengajak semua kalangan, baik kalangan
> > pemerintah, akademis, profesi, bisnis / pedagang, sekolah dan orang tua
> > dan
> > juga yang lainnya untuk ikut serta mendukung penghapusan satuan "ons
> > dan
> > pound yang keliru" dari kegiatan kita sehari-hari. Pengajaran sistem
> > timbang dgn. satuan Ounce dan Pound seharusnya diberikan sebagai
> > pengetahuan disertai kejelasan asal-usul serta rumus konversi yang
> > benar.
> > Hal ini untuk membuang kebiasaan salah yang telah melekat dalam
> > kebiasaan
> > kita, yang bisa mencelakakan / menyesatkan anak-anak kita, generasi
> > penerus
> > bangsa ini.
> >
> > # # # # #
> >
> > Tulisan ini akan dikirimkan kepada media masa, baik cetak maupun
> > elektronik
> > yang mau menyiarkannya demi kepentingan bangsa. Dipersilahkan mengubah
> > formatnya sesuai dengan ketentuan penyiaran masing-masing.
> >
> > Juga kepada sekolah-sekolah, pabrik-pabrik serta LSM dan masyarakat
> > umum,
> > untuk diketahui secara luas.
> >
> > Bila anda merasa sependapat dengan saya, setuju untuk menghentikan
> > kesalahan ini demi masa depan anak bangsa Indonesia, silahkan
> > diperbanyak
> > /
> > difoto copy dan disebar-luaskan sendiri.
> >
> > Bila anda ragu-ragu terhadap kebenaran tulisan ini, silahkan
> > menanyakannya
> > langsung kepada Direktorat Metrologi atau Balai Metrologi setempat
> > dikota
> > anda berada.
> >
> > Terima kasih saya ucapkan kepada anda yang peduli dan mau
> > berpar-tisipasi
> > menyelamatkan masa depan anak-anak Indonesia. Semoga Tuhan memberkati
> > upaya
> > ini, yang kita lakukan dengan tulus ikhlas tanpa pamrih sedikitpun.
> >
> > # # # # #
> >
> > Ditengah orang-orang waras, dia yang lain sendiri dianggap gila.
> >
> > Ditengah orang-orang gila, dia yang waras justru dianggap gila.
> >
> > Memang banyak orang yang benar, tetapi jangan diartikan bahwa yang
> > diikuti
> > banyak orang itulah yang pasti dan selalu benar.
> >
> > LEMBAR PELENGKAP
> >
> > TAKAR - UKUR - TIMBANG MENGIKUTI
> >
> > SISTEM METRIK YANG BERLAKU SEJAK THN 1799.
> >
> > Kuantitas
> > Satuan
> > Simbol
> > Keterangan
> >
> > Panjang
> > meter
> > m
> > bukan mtr.
> >
> > Luas
> > meter persegi
> > m2
> >
> > Isi / volume
> > meter kubik
> > m3
> >
> > Berat
> > gram
> > g
> > bukan gr.
> >
> > Takaran
> > liter
> > l
> > 1 l = 1000 cm3 (cc)
> >
> > Suhu / temperatur
> > derajat Celcius
> > oC
> >
> > BEBERAPA SEBUTAN / AWALAN UNTUK FAKTOR PENGALI
> >
> > DALAM SISTEM METRIK
> >
> > AWALAN
> > FAKTOR PENGALI
> > SIMBOL / SINGKATAN
> > CONTOH PEMAKAIAN
> >
> > giga
> > 1.000.000.000
> > G
> > GHz.
> >
> > mega
> > 1.000.000
> > M
> > MW
> >
> > kilo
> > 1.000
> > k
> > km
> >
> > hecto
> > 100
> > h
> > ha
> >
> > deka
> > 10
> > da
> > dam
> >
> > deci
> > 0,1
> > d
> > dm
> >
> > centi
> > 0,01
> > c
> > cm
> >
> > milli
> > 0,001
> > m
> > ml
> >
> > micro
> > 0,000.001
> > m
> > mF
> >
> > dan seterusnya.
> >
> > Dalam sistem metrik memang dikenal 1 are = 100 m2 khusus untuk ukuran
> > tanah
> > yang diakui sah secara internasional.
> >
> > Untuk satuan ONS yang mengartikan kelipatan 100 g., apalagi POUND yang
> > mengartikan kelipatan 500 g., tidak pernah ada didalam sistem metrik
> > maupun
> > non-metrik / imperial yang pernah diberlakukan sah secara
> > internasional.
> >
> > # # # # #
> >
> > RANGKUMAN SARAN-SARAN, KRITIK DAN KOMENTAR
> >
> > 1. Banyak orang berpendapat bahwa ONS kita ini tidak ada kaitannya sama
> > sekali dengan OUNCE.
> >
> > a. Kalau kita baca kamus-kamus Inggris-Indonesia dan sebaliknya, jelas
> > bahwa terjemahan "ounce adalah ons" dan "pound adalah pon" begitu pula
> > sebaliknya dari Indonesia-Inggris. Bahkan ada beberapa kamus yang
> > menterjemahkan "ounce menjadi ons, berat 100 gram." Tetapi ada juga
> > yang
> > menterjemahkan "ons, 28,3 gram".
> >
> > Nara sumber : Jumlah : 2 orang
> >
> > Profesi : Guru dan Dosen Bahasa Inggris.
> >
> > b. Beberapa guru berpendapat bahwa kata "ons" jelas bukan asli bahasa
> > Indonesia, karena bahasa Indonesia hanya mengenal 2 konsonan rangkap,
> > yaitu
> > "ng" dan "ny". Tidak ada konsonan rangkap "ns". Contoh : "Helm" kalau
> > di
> > Indonesiakan menjadi "helem". Kalau "ons" tidak bisa dijadikan "ones"
> > tentu
> > karena menyangkut suatu acuan yang harus dilafalkan secara benar, sama
> > seperti "gram" yang tidak boleh ditulis menjadi "geram".
> >
> > Nara sumber : Jumlah : 2 orang
> >
> > Profesi : Guru Bahasa Indonesia.
> >
> >
> > c. Beberapa orang lanjut usia yang cukup terpelajar membenarkan bahwa
> > "ons
> > dan pound" itu bawaan Belanda, bukan asli Indonesia, karena sudah
> > dipakai
> > sebelum Indonesia merdeka dan diajarkan juga disekolah HIS maupun HCS
> > (masih jaman penjajahan).
> >
> > Beberapa diantara mereka ingat bahwa acuan konversi yang diterapkan di
> > Indonesia tidak sama dengan yang diterapkan di Belanda.
> >
> > Nara sumber : Jumlah : 7 orang. Usia : 77 s/d. 87 tahun.
> >
> > Pendidikan terendah : HCS / HIS.
> >
> > Pendidikan tertinggi : Sarjana
> >
> > Profesi terakhir : Guru, Kontraktor, Dokter, Pendeta, PN.
> >
> >
> > 2. Acuan internasional yang menyatakan 1 ons = 100 gram , 1 pound = 500
> > gram jelas-jelas tidak pernah ada.
> >
> > Bahkan Acuan nasional (kalaupun ada dulu-dulunya) tidak bisa / tidak
> > boleh dipergunakan lagi semenjak diundangkannya UU no.2 tahun 1981
> > tentang
> > Metrologi Legal, yang mencabut dan membatalkan Ijkordonnantie 1.049
> > Staatsblad nomor 175.
> >
> > Nara sumber : Jumlah : 1 orang.
> >
> > Profesi : tidak dikenal.
> >
> > 3. Penerbit tidak seharusnya dimintai pertanggung-jawaban karena semua
> > materi kurikulum yang harus dibukukan telah mendapat persetujuan
> > terlebih
> > dulu dari Dep. Pendidikan.
> >
> > Nara sumber : Jumlah : 1 orang.
> >
> > Profesi : Pengusaha.
> >
> > 4. Tidak perlu memperlebar masalah / mendramatisir dengan timbangan
> > versi
> > depdiknas dan sebagainya. Yang penting bagaimana kesalahan ini bisa
> > segera
> > diakhiri.
> >
> > Nara Sumber : Jumlah : 1 orang.
> >
> > Profesi : tidak dikenal.
> >
> > 5. Terkejut dan syok berat tapi Setuju bahwa kita harus menghentikan
> > kebiasaan salah selama ini dan membiasakan diri menggunakan Sistem
> > Internasional yang berlaku. Perlu pengumuman resmi dari pemerintah dan
> > penyuluhan masyarakat melalui instansi yang berwenang.
> >
> > Nara sumber : Jumlah : lebih dari 100 orang.
> >
> > Profesi : Guru, Dosen, Karyawan,
> > Mahasiswa, Dokter.
> >
> > 6. Para guru tidak bisa dipersalahkan karena mereka hanya melaksanakan
> > apa
> > yang telah menjadi kebijakan nasional pendidikan yang dikeluarkan oleh
> > Dep.
> > Pendidikan.
> >
> > Nara sumber : Jumlah 14 orang.
> >
> > Profesi : Guru, Ibu Rmh.Tangga,
> > Karyawan.
> >
> > 7. Di dalam Dep. Pendidikan ada bagian yang khusus melakukan
> > Penelitian,
> > Pengkajian dan Pengembangan. Kalau ini benar-benar suatu kesalahan, ..
> > .(hanya geleng-geleng kepala)
> >
> > Nara sumber : Jumlah : 1 orang
> >
> > Profesi : Dosen.
> >
> > 8. Bukankah semua pegawai Dir. Metrologi memiliki anak yang juga
> > sekolah
> > di
> > Indonesia ? Mengapa diam saja ?
> >
> > Nara sumber : Jumlah : 1 orang.
> >
> > Profesi : Kep. Sekolah
> >
> > 9. Sejauh pengetahuan saya, hanya Indonesia yang menerapkan konversi 1
> > ons
> > = 100 gram. Mungkin karena itulah banyak yang menganggap ons itu khusus
> > Indonesia. Kita memang dianjurkan untuk mencintai produk-produk
> > Indonesia,
> > tetapi yang satu ini jangan.
> >
> > Mari dihentikan bersama-sama.
> >
> > Nara sumber : Jumlah : 1 orang.
> >
> > Profesi : GM Hotel
> >
> > 10. Bisa-bisa ini produk akal-akalan penjajah (VOC) dulu untuk menipu
> > raja-raja kita. Beli rempah-rempah di Indonesia 1 ons dapat 100 gram,
> > tetapi dijual di Eropa 1 ons hanya 28 gram.
> >
> > Mengapa bisa keterusan sampai sekarang ? Harus dihentikan.
> >
> > Nara sumber : jumlah : 1 orang.
> >
> > Profesi : Instalatir.
> >
> > 11. Pantas saja, anak saya selalu frustrasi kalau menghitung berat
> > badan
> > petinju yang ditayangkan di TV. Selalu tidak cocok dengan hitungannya.
> > Harus segera dihentikan.
> >
> > Nara sumber : Jumlah : 1 pasutri
> >
> > Profesi : Anggota Polri & guru SD.
> >
> > 12. Dep. Pendidikan harus mengeluarkan pernyataan resmi, baik kepada
> > sekolah maupun masyarakat, agar diketahui secara luas.
> >
> > "Bahwa pelajaran 1 ons = 100 g. adalah pengetahuan tentang
> > timbangan yang sifatnya NORMATIF, yang merupakan kebiasaan beberapa
> > daerah
> > di Indonesia. Karena itu, tidak boleh dijadikan acuan ilmiah, tidak
> > boleh
> > dipakai dalam transaksi legal, tidak boleh dipakai untuk acuan konversi
> > formal / legal, misalnya dalam pekerjaan, pembuatan surat-surat resmi
> > dll."
> >
> > Nara sumber : Jumlah : 2 orang.
> >
> > Profesi : Manager Personalia, Manager
> > Engineering.
> >
> > # # # # #
> >
> >
> >
> > (kritik, saran dan komentar diatas selain saya terima dalam bentuk
> > surat, email, juga pernyataan lisan dari wawancara dengan kepala
sekolah,
> > guru, karyawan pabrik, praktisi, dokter, teknisi, dan warga masyarakat.
> > Terakhir diterima tgl. 16-04-05)
> >
> >
> > --
> > Best regards,
> >  Sofyan                          mailto:[EMAIL PROTECTED]
>
>
>
>
> Yahoo! Groups Links
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> Yahoo! Groups Links
>
>
>
>
>
>
>
>



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
In low income neighborhoods, 84% do not own computers.
At Network for Good, help bridge the Digital Divide!
http://us.click.yahoo.com/hjtSRD/3MnJAA/i1hLAA/.1VolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

================================================
Sampai disini Tuhan menolong kita (1 Sam 7:12)
================================================ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/eben-net/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke