Aku dapet email pertama dari Ellen Tunggono, sudah aku komentari di
bawah
ini,tapi pikir2 BAGUS JUGA seluruh panekuk tau. Aku akan buat PEMBAHASAN
lebih lanjut tentang kasus ini. Worth reading for your families' sake.
Tunggu tanggal mainnya.

>
> Ceritanya emang serem, tapi TERJADI. dan BANYAK. Dokter tidak dituntut
malpraktek bukan karena memang ia berbuat yang benar, tapi semata2
karena
TIDAK MENYALAHI PROSEDUR. Persetan dengan pasiennya. Praktek dunia
kesehatan
jadi sama dengan 'according to the book', padahal yang 'nulis buku'nya
juga
bikin salah. Lebih sial lagi mengikuti ilmu yang sudah ketinggalan 30
tahun.
Karena kelalaian dokter hanya mengikuti seminar yang disponsori pabrik
obat
(jadinya taunya cuma obat) tanpa mengerti PATOFISIOLOGI manusia menjadi
sakit secara benar, yang belum sempat diajari di fakultas kedokteran.
Termasuk antropologi manusia dan penyakit yang menyertai perkembangan
industri pangan & Obat2an.
>     Ikan menggelepar dalam akuarium terus menerus diberi obat,
dimanipulasi macam2... LUPUT dari penglihatan bahwa justru AIR
AKUARIUMNYA
KERUH. Jadi, apa yang harus ditangani sebenarnya? Lebih celaka lagi,
ikannya
digotong keluar dari akuarium, bulet2 'dibenerin' di atas meja.
Keblinger...
>
> Y.
> (PS: Baca bukunya orang terkenal Ivan Illich - filsuf abad ini: Limits
to
Medicine. Medical Nemesis: Expropriation to health. Dari Iatrogenesis
Klinis, Iatrogenesis sosial, masalah kerusakan yang disebabkan dokter,
hingga politik kesehatan dan "imperialisme diagnostik". Very highly
recommended for doctors. Tidak ada dalam kuliah kedokteran.)
>
>
------------------------------------------------------------------------
--
------
>
> From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of
Utty
> Sent: Friday, April 29, 2005 3:43 PM
> To: [EMAIL PROTECTED]; Utari Tresnadewi
> Subject: [si_i] SHARING PENGALAMAN/KISAH NYATA
>
>
>
>
>
>     From
>
>     cerita dari temen kantor, 2 minggu lalu anak satu2xnya meninggal
>
>
>
>
>
>     Ini kisah  nyata  yang saya  alami, sebagai  informasi / pelajaran
bagi  Rekan-rekan jika suatu saat ada yang menghadapi cobaan seperti
yang
saya alami.
>
>
>
>     Saya salah satu karyawan Kantor Pusat di Perusahaan kita, saya
menikah
pada pertengahan tahun 2001, saya mempunyai Istri  "I"  yang dulunya
juga
adalah karyawan di Perusahaan kita (Cab. Fatmawati), dan karena untuk
mematuhi peraturan di perusahaan (tidak boleh menikah antar sesama
Karyawan), Istri saya mengundurkan diri dari Perusahaan.
>
>
>
>     Sejak Menikah (th.2001), Istri saya telah mengalami dua kali
keguguran, yang pertama +/- pada kehamilan berumur 2,5 bulan, dan yang
kedua
sempat di Operasi "Kuretase" karena usia kehamilannya telah berumur 3,5
bulan.
>
>
>
>     Penyebab keguguran, menurut dokter "K" di RS "A"  Panglima
Polim/Jakarta , karena Istri saya "kecapaian"  (Istri saya bekerja di
Perusahaan lain setelah pengunduran dirinya) dan kandungannya "agak
lemah".
Dokter memeriksa hasil Lab. komplit hasilnya " negatif ", tidak terdapat
penyakit yang menyebabkan Istri saya keguguran. Jadi secara medis memang
penyebabnya hanya "Kecapaian" dan "Kandungannya lemah". Jadi jika suatu
saat
Istri saya hamil lagi, dokter menyarankan harus extra hati-hati dalam
merawatnya.
>
>
>
>     Bulan Sept 2004, Pada saat Istri saya periksa (karena sudah
terlambat
bulan) ke dokter kandungan dr. "K" di RS "A", istri saya kembali
dinyatakan
Hamil, keluarga kami begitu bahagia mendengar berita ini. Lalu saya dan
Istri dengan sangat hati-hati merawat kehamilan ini. Segala saran-saran
dokter kami laksanakan dengan baik, minum penguat janin,
vitamin-vitamin,
susu ibu hamil, menjaga kesehatan makanan, makan makanan bergizi,
menjaga
pantangan-pantangan ketika Hamil, dan bahkan untuk menjaga kehamilannya
(pada saat itu berumur 5 bulan), Istri saya rela kembali keluar dari
tempat
kerjanya (saat itu masih bekerja pada Bank "B") dengan tujuan ingin
benar-benar konsentrasi dalam merawat/menyusui anak.
>
>
>
>     Pada pertengahan bulan Juni 2005, Istri saya melahirkan dengan
baik
(walau dengan operasi caesar), bayi kami sehat tidak kurang suatu
apapun,
beratnya 3.150 Kg dengan panjang 49 Cm. Sekali lagi Kami sangat bahagia
atas
peristiwa ini.  Kembali Segala saran-saran dokter (Dokter Anak: Prof.
"R" di
RS "A") kami laksanakan dengan baik, minum vitamin-vitamin, susu ibu
menyusui, menjaga kesehatan makanan/perlengkapan makan, makan makanan
bergizi, menjaga pantangan-pantangan dalam merawat bayi. dan rutin
melakukan
Imunisasi.
>
>
>
>     Disinilah mulai timbul bencana pada keluarga kami, pada saat
anak/bayi
kami berusia +/- 7 bulan, untuk kesekian kalinya kami datang untuk
imunisasi, pada saat itu kami datang ke dr Anak kami Prof. "R" di RS "A"
,
namun pada saat itu beliau tidak masuk, diganti oleh dokter
pengganti/wanita
yang masih muda/mungkin dokter baru (namun saya lupa namanya). Begitu
melihat jadwal pada buku RS anak saya, dokter tersebut langsung siap
melakukan imunisasi terhadap anak saya, "hari ini imunisasi HIB ya ?!" ,
saya & istri tahu bahwa imunisasi HIB tersebut salah satunya untuk
mencegah
radang Otak, makanya Istri saya sempat bertanya, "dok, seandainya
imunisasi
ini tidak dilakukan bagaimana ya ?!", lalu dokter pengganti tersebut
menjawab dengan nada agak ketus, "apakah ibu mau, anak ibu jadi Idiot?!
(sambil memperagakan ta! mpang muka orang yang idiot dengan lidah
dijulurkan
keluar)" . Karena begitu sayangnya kami dengan anak kami, sudah barang
tentu
kami tidak mau anak kami idiot, lagi
>  pula saya saat itu berfikir demi kesehatan anak kami tentulah kami
menuruti apa kata dokter yang lebih tahu/berpengalaman dengan imunisasi
tersebut. Lalu tanpa memeriksa dengan seksama kondisi anak kami dalam
keadaan fit/tidak, dan perlu tidaknya imunisasi tersebut kembali
diberikan
kepada anak saya (karena sebelumnya pada saat berumur +/-  5 bulan anak
kami
telah pernah diberikan imunisasi HIB I) dokter pengganti tersebut
langsung
memberikan suntikan imunisasi HIB II kepada anak saya.
>
>
>
>     Dua hari setelah pemberian imunisasi HIB yang kedua tersebut anak
kami
mengalami panas, lalu turun, panas lagi lalu turun ( 2 atau 3 hari
sekali
pasti mengalami panas ) dan anehnya panasnya hanya dikepala dan di
pundak/leher serta di ketiak saja, badan/tangan dan kakinya tidak. Hal
ini
berlangsung +/- selama dua minggu, jika sedang panas, panasnya pernah
sampai
40,6 derajat C.
>
>
>
>     Sewaktu di kantor saya sempat bertanya kepada rekan-rekan yang
masih/pernah punya anak kecil mengenai panas anak saya, banyak diantara
mereka yang bilang panas setinggi itu berbahaya, malah sebagian teman
bilang
anaknya panas "cuma" 38 derajat C saja sudah Step/kejang-kejang, namun
sampai hari itu anak saya belum pernah Step/kejang-kejang, padahal
panasnya
beberapa kali sampai 40 derajat C, dan biasanya akan turun dengan
sendirinya, paling-paling hanya rewel, susah tidur. Saya mulai Panik dan
khawatir, takut jika anak saya tiba-tiba kejang/step di rumah.
>
>
>
>     Dan Saya mulai ke dokter, kebetulan di dekat rumah ada dokter Umum
di
RS. "D" ( Berhubung waktu itu hari minggu tidak ada dokter Spesialis
anak
yang Buka ). Dokter tersebut memberikan beberapa macam obat, ada yang
syrup,
ada yang serbuk. Setelah memakan obat-obatan tersebut selama 3 hari,
anak
kami masih belum membaik ( panasnya masih naik turun ), lalu kami ke RS
"A"
tempat dokter anak saya Prof. "R" dimana selain diberi obat-obatn juga
disarankan untuk memeriksakan darah anak saya ke Lab. (waktu itu saya
langsung periksakan anak saya ke Lab. "P" yang sudah berpengalaman),
Karena
setelah kami ketahui hasilnya "negatif/tidak ada penyakit" dan obat dari
Prof. "R" di RS "A" juga belum efektif menyembuhkan panas anak saya,
akhirnya saya membawa anak saya ke RS "B" Cikini ( karena saya tahu di
RS
"B" ada ruang perawatan anak, jika memang anak saya perlu di rawat).
>
>
>
>     Di sinilah ketabahan/kesabaran kami di uji. Saya datang pertama
kali
ke RS "B" cikini, Kamis 17 Maret 2005 pagi +/- jam 7.00 Wib, dan setelah
bertanya kesana-kemari saya langsung membawa anak saya ke UGD (Unit
Gawat
Darurat) karena masih pagi, dan disana ada dokter jaga, setelah
dilakukan
beberapa tindakan lalu +/- jam 08.30 saya bawa anak saya ke dokter
Spesialis
anak dr. "N", baru kemudian diminta untuk di bawa ke ruang perawatan
untuk
di rawat.
>
>
>
>     Pintarnya RS, setiap mereka akan melakukan tindakan medis terhadap
anak kami, kami/orang tua harus menyetujui terlebih dahulu tindakan
tersebut, dengan catatan apabila orang tua pasien tidak menyetujui suatu
tindakan medis, kami juga disodorkan surat penolakan tindakan medis,
yang
didalamnya tertera apabila terjadi apa-apa terhadap anak saya, maka
pihak RS
tidak bertanggung jawab karena tindakan medis yang akan mereka lakukan
tidak
disetujui. Itu artinya kami/pasien bagai memakan buah simalakama, dan
tentunya harus mengikuti semua langkah-langkah medis yang dilakukan oleh
pihak RS, karena memang tidak ada pilihan lain.
>
>
>
>     Anak saya langsung di infus dan diambil darahnya untuk pengecekan
(karena hasil cek darah yang saya bawa dari Lab "P" sebelumnya menurut
pihak
RS bisa berubah) walaupun akhirnya hasilnya juga masih "negatif" tidak
diketahui penyebab/penyakit panas anak saya. Kemudian atas anjuran
dokter
anak saya harus puasa dari jam 15.00 (tiga sore) sampai dengan 21.00
(sembilan malam) kerena akan diambil darahnya lagi untuk pemeriksaan.
Selama
waktu tersebut kami sedih melihat anak saya, walaupun ada infus di
kakinya,
namun anak saya tampak ingin makan/minum, namun kami tidak berikan walau
mulutnya seperti orang yang kehausan. Kami sangat mengkhawatirkan fisik
anak
saya.
>
>
>
>     Benar saja apa yang Saya dan Istri saya khawatirkan terjadi,
esokan
hari/Jum'at subuh begitu panas anak saya kembali tinggi sampai lebih
dari 40
derajat C, anak saya langsung kejang/Step (padahal sewaktu di rumah
belum
pernah sekalipun anak saya kejang/Step seperti saat itu), suster-suster
RS
mulai memberikan anak saya Oksigen melalui selang ke hidung, dan karena
panas/Kejangnya lebih dari 1/2 jam, maka anak saya pagi itu juga
langsung di
bawa ke ruang ICU/! PICU (Pedriatic Intensive Care Unit). Anak saya di
diagnosa awal "kemungkinan" terkena Radang Otak yang disebabkan oleh
Virus/bakteri, sehingga mengganggu fungsi pengaturan suhu tubuh. Dan
dokter
bilang kemungkinan sembuhnya hampir tidak ada,  kalaupun sembuh akan ada
efek sisa, misalnya jadi Idiot, Lumpuh, dsb. (Pihak RS langsung
Pesimistis
untuk penyembuhan anak saya).
>
>
>
>     Di ICU anak saya di rawat oleh Tim Dokter, dengan ketua Timnya
yaitu
dr. "Y" (dokter spesialis anak senior RS "B"), dengan anggota beberapa
dokter Spesialis THT, Syaraf, Urologi, Bedah, dsb. Ditambah dengan
dr.Konsulen/semacam penasihat, yaitu Prof. "A" dari RS "C", selain
dokter
tim tersebut dibantu oleh beberapa orang suster yang dalam sehari
bekerjanya
dibagi menjadi 3 shift, suster-suster inilah yang memonitor perkembangan
kesehatan anak kami tiap saat. Suster juga sama seperti karyawan di
kantor
kita, ada yang teliti, ada yang rajin, ada yang baru/belum
berpengalaman,
ada yang text book, ada yang kurang berani bertindak, dsb.
>
>
>
>     Sabtu subuh (hari ke dua perawatan) anak saya kembali panas tinggi
dan
kembali kejang, kali ini suster jaga pada saat itu terlihat kurang
tanggap/cekatan dalam memberi tindakan terhadap anak saya, malahan pada
saat
kejang, karena tenaga medis tidak begitu "care", Istri saya sendiri yang
harus mengganjal mulut anak saya dengan alat pengganjal agar lidahnya
tidak
tergigit, dan karena terlalu lama tidak ditangani dengan baik akibatnya
anak
say! a semakin lemah, terlihat pada mesin yang memonitor Oksigen dan
Jantung
anak saya saturasinya (istilah mesin tsb) terus menurun. Pada saat tim
Dokter datang kondisi anak saya sudah memburuk, bahkan pada layar
monitor
mesin saturasi sempat terlihat "Flat", artinya paru-paru/oksigen dan
jantung
anak saya telah berhenti bergerak. Saya dan Istri langsung Shock dan
lemas
tangis pun tak terbendung. Beberapa tenaga medis terus berusaha memompa
secara manual nafas anak saya, lalu mereka segera memasang mesin
Ventilator/alat bantu pernafasan (
>  mesin yang sama dengan yang digunakan Almh. Sukma Ayu) dan
menyalakann!
ya. Seperti biasa pihak RS menyodorkan surat persetujuan tindakan
pemasangan
mesin tsb.  Pada saat itu saya & istri sangat Shock, sehingga
konsentrasi
kami hanya kepada anak kami tersebut, oleh karena saya tidak begitu
memperdulikan surat persetujuan melakukan tindakan yang disodorkan RS,
akibatnya pihak RS langsung mencopot kembali selang-selang yang
terpasang
dan mematikan mesin/listrik Ventilator tsb. Kami kesal dan marah (walau
hanya di dalam! hati), lalu segera meraih surat persetujuan tindakan tsb
dan
menandatanganinya, barulah alat tersebut kembali dipasang/dinyalakan,
dan
selamatlah nyawa anak saya ketika itu (padahal menurut hemat saya
hitungannya hanya detik untuk mengambil keputusan tersebut/terlambat
sedikit
mungkin akan berbeda ceritanya).
>
>
>
>     Kurang lebih dua minggu alat Ventilator itu terpasang, dan dua
minggu
itu pula kami mengalami pengalaman yang sangat pahit dalam kehidupan
kami,
kami menyaksikan betapa tersiksanya anak yang kami sayangi yang terus
menerus dilakukan tindakan medis, diantaranya :
>
>     1. Diambil darahnya yang hampir setiap hari (dengan cara disedot
dengan alat suntik), walaupun hasil Lab.-nya selalu negatif dengan
jumlah
pengambilan dalam sehari bisa 3X, dan dalam sekali ambil antara 5 - 10
CC
darah, padahal kondisi anak saya ketika itu sangat lemah/terlihat kuning
seperti kurang darah. Diambil sampel Urine, sampel cairan dari perut,
Bahkan
sampai diambil contoh cairan otaknya (melalui penyedotan pada ruas
tulang
belakang) walaupun hasilnya juga negatif.
>
>     2. Berganti-ganti tempat untuk memasukan jarum Infus, dari
vena-vena
di kepala, tangan, kaki, selangkangan, malah karena Tim medis sudah
kesulitan memasukan jarum infus, tim medis melakukan tindakan Vena
Sectio
(operasi kecil/merobek kulit/daging terluar) untuk dicari pembuluh vena
yang
berada agak ke dalam agar jarum infus dapat memasukan cairan infus ke
tubuh
anak saya. Kedua pergelangan tangan dan kaki anak saya telah di-Vena
Sectio.
>
>     3. Bius Total, dengan alasan takut mesin Ventilator tidak
berfungsi
dengan baik apabila anak saya dalam keadaan sadar.
>
>     4. Diberi obat-obatan/anti biotik berganti-ganti sesuai
indikasi/kemungkinan (Baru kemungkinan/seperti coba-coba) penyakitnya
yang
kadarnya tergolong keras, yang sudah pasti banyak efek sampingnya.
>
>     5. Karena sudah tidak ada tempat untuk Infus dan pengambilan darah
(semua titik venanya telah habis), beberapa kali tindakan
infus/pengambilan
darah tidak berhasil dilakukan, lalu dicoba lagi dan di coba lagi
sehingga
menimbulkan bekas luka lebam/biru/bekas-bekas jarum suntik yang sangat
banyak.
>
>     6. Dilakukan foto Thorax (Rongent) beberapa kali,  Padahal sekali
saja
dilakukan di yakini dapat membunuh banyak sel tubuh )
>
>     7. Timbul efek samping, Paru-paru anak saya meradang/infeksi
sehingga
di penuhi banyak cairan, dan kepala belakang dan samping kiri
memar/luka/lecet/bengkak. Karena terlalu lama dalam posisi tidur/di bius
(hal ini seharusnya tidak perlu terjadi kalau tim medis sering merubah
posisi tidur anak saya/setelah kami Complain baru hal ini dilakukan).
>
>     8. Masalah Biaya. Sering kali pihak RS (dokter/suster), menanyakan
masalah biaya, walaupun berkali-kali saya katakan ada surat jaminan
pembayaran dari Kantor. ( Coba bayangkan seandainya memang kami tidak
punya
biaya).
>
>     9. Diagnosa penyakit yang tidak didukung bukti yang pasti, tim
Medis
hanya selalu mengatakan "Kemungkinan". Dari +/- satu bulan di rawat,
anak
saya sudah beberapa kali dikatakan kemungkinan penyakitnya bersumber
dari
Radang Otak karena penyakit/Virus/bakteri: Herpes, berubah Toxoplasma,
berubah Maningitis, berubah Ensevalitis, sampai kesimpulan terakhir/dari
sampel darah terakhir anak saya masih belum mengetahui pasti penyebab
penyakitnya (bukti lab. adanya virus/bakteri tersebut tidak pernah ada).
>
>
>
>     Pada masa itu juga kami sempat beberapa kali bersitegang dengan
beberapa Tim Medis anak saya, namun kami selalu kalah (mengalah) karena
posisi kami sangat lemah, Ketua tim dokternya "dr.Y" sempat berujar
bahwa
mereka dokter-dokter ahli, " kalau di RS "C" bapak boleh bilang
"begitu",
karena banyak dokter muda yang sedang belajar disana" (maksudnya
menanggapi
guman saya dengan istri saya, "kok anak kita seperti kelinci percobaan
ya!?
dan kata-kata tersebut didengar Suster, yang lalu melaporkannya ke ketua
Tim
dokternya) , bahkan dokter itu juga sempat berkata " kalau bapak tidak
puas,
silahkan angkat anak bapak sekarang !!" . Padahal saat itu, hal tersebut
tidak mungkin kami lakukan karena seluruh tubuh anak saya terpasang
mesin
(Ada mesin ventilator, ada mesin saturasi Oksigen/Jantung, ada infus,
ada
selang Sonde/makanan, dsb)
>
>
>
>     Pernah seorang anggota Tim dokter yang didatangkan dari RS "C",
yaitu
dr. "I" ahli syaraf, setelah memeriksa anak saya mengatakan,
"Penyakitnya
malah dari RS ini semua, ya !!",  Setelah masa perawatan 2 minggu
tersebut
timbul berbagai komplikasi; mata anak saya buta/tidak bisa melihat
(menurutnya  mungkin bisa se! mbuh karena anak saya masih bayi), Infeksi
paru, memar di kepala, badan kaku/keras, padahal pertama kali masuk RS
anak
saya "hanya" sakit Panas. Kemudian dr "I" juga bilang " tadi saya coba
lepas
alat Ventilatornya agak lama, anak bapak bagus kok, dia sudah bisa
bernafas
sendiri ". Saya bersyukur berarti ada kemajuan pikir saya ketika itu.
>
>
>
>     Awal minggu ke tiga beberapa orang tim medis (ada beberapa dokter
dan
beberapa suster), mencoba melepas alat bantu nafas/Ventilator (mungkin
setelah diberi masukan oleh dr. "I" dari RS "C"), di coba 1 jam, 2 jam,
3
jam dan seterusnya .... rupanya anak saya sudah bisa kembali bernafas
sendiri/normal. Namun karena Sumber penyakitnya belum diketahui maka Tim
medis beberapa kali melakukan penggantian Obat/anti biotik, diantaranya
Acyclovir, Delantin, Tegatrol, TieNam, Meronem (dua jenis yang tertulis
dibelakang katanya merupakan anti Biotik yang paling Ampuh/Mahal/Impor
dari
Amerika).
>
>
>
>     Minggu ketiga dan selanjutnya Panas kepala anak saya relatif
stabil
(antara 36 - 38 derajat C), dan kondisinya relatif membaik "hanya"
tinggal
matanya yang Buta dan badannya yang kaku (sendi-sendinya tidak bisa
ditekuk), namun pengambilan darah masih dilakukan secara berkala, dan
hampir
setiap hari dilakukan Terapi Fisioteraphy (Penyinaran dan pemijatan).
Sehingga akhir minggu ke tiga semua Infus telah dicopot, oksigen
dicopot,
hanya tinggal selang Sonde (Selang makanan/di mulut) yang masih
terpasang.
>
>
>
>     Saya dan Istri (serta keluarga besar kami), terus berdoa setiap
hari
untuk kesehatan anak kami satu-satunya, sampai pada pertengahan minggu
ke
empat, dr. "I" (Specialis syaraf dari RS "C") bilang anak kami boleh di
bawa
pulang, namun minimal harus sehari masuk ke ruang perawatan biasa dahulu
(sesuai prosedur RS "B"). Dan menurut  dokter "I" juga, anak kami hanya
cukup rawat jalan ke RS "C", untuk berobat ke dr. "I" dan dr. "L"
(specialis
tumbuh kembang/penyembuhan tubuh anak saya yang masih kaku-kaku).
Setelah
sehari berada di ruang perawatan biasa, dan tidak ada masalah kami
membawa
anak kami pulang dengan membawa dua macam obat (Anti kejang dan anti
Virus),
dan sebelum pulang, lagi-lagi anak kami diambil kembali darahnya oleh RS
untuk pemeriksaan penyebab penyakit anak kami, setelah itu barulah kami
diperbolehkan pulang.
>
>
>
>     Namun tidak sampai 2 hari anak kami di Rumah, kami/keluarga lupa
akan
luka dibelakang kepalanya (akibat perawatan yang lalai sebelumnya) yang
masih belum sembuh total, lukanya terlihat memar/merah/agak bengkak/dan
mungkin infeksi, yang mungkin juga membuat anak kami panas lagi/karena
infeksinya, Panasnya kembali naik sampai 40 derajat C lebih, bahkan
ketika
akan kami beri obat (yang kami bawa dari RS), anak kami muntah hingga
lemas,
lalu tanpa banyak pikir lagi walaupun pada saat itu jam 02 pagi, kami
kembali membawa anak kami ke RS "B" Cikini dan kembali kami me! ngalami
kekesalan, anak kami diperlakukan layaknya seperti pasien yang baru
masuk
RS. Anak kami kembali masuk ICU, kembali harus Infus, puasa, diambil
darahnya lagi (meskipun titik venanya sudah habis/tidak ada tempat lagi
untuk infus/periksa darah, dan saya juga telah sampaikan mungkin
panasnya
akibat luka dibelakang kepalanya yang belum sembuh/infeksi), padahal
saya
sudah protes terhadap dr. jaga pada saat itu
>   bahwa anak saya sebelumnya sudah dirawat hampir sebulan di RS
tersebut,
dan hasil lab. terakhirnya juga baru kemarin saya ambil dengan hasil
"negatif",  juga saya kemukakan mengenai luka dibelakang kepalanya yang
harus diprioritaskan pengobatannya. Namun karena dr. terus mengemukakan
argumennya, akhirnya kami mengalah dan menyerahkan sepenuhnya apapun
yang
akan dilakukan oleh dr. Dan kembali anak saya dipakaikan selang Oksigen
ke
hidungnya , lalu dengan alasan "saturasi" nafasnya terus menurun, Tim
medis
berencana untuk memasang kembali mesin Ventilator pada anak saya, dengan
sebelumnya meminta persetujuan saya lagi untuk diambil darahnya sebelum
pemasangan mesin tersebut (padahal ketika itu kondisinya terlihat
pucat/kuning seperti telah kehabisan darah). Kembali dengan berat hati
dan
berharap Tim Medis melakukan tindakan yang "benar" untuk anak saya, saya
kembali menyetujuinya. Namun belum sempat mesin itu dipasang, belum
sempat
hasil lab I dan ke II (pengambilan darah pad
>  a pada hari itu) ada hasilnya, akhirnya anak saya dipanggil oleh yang
Maha Kuasa ...... anak saya mengalami Gagal Nafas dan dinyatakan
Meninggal
oleh pihak RS, walau saat itu saya pegang denyut Nadi di leher/bawah
dagunya
masih ada (walau lemah), sewaktu kami minta untuk terus memompa alat
bantu
nafas manualnya, Dokter/suster yang ada pada saat itu sudah lepas tangan
dan
tidak melakukan tindakan apapun juga. Akhirnya dengan Ikhlas, didepan
mata
kepala saya dan istri saya, anak kami melepaskan nyawanya tanpa kami
bisa
berbuat apapun juga ( Selasa 12 April 2005 Jam 23.25 wib). Akhirnya Anak
kami meninggal dengan sebab bukan karena penyakitnya (Panas),  menurut
kami
"kemungkinan" karena gagal nafas/Infeksi paru atau malah "mungkin"
karena
terlalu lemah  kehabisan da! rah.
>
>
>
>     Innalillahi Wa inna illaihi roji'un selamat jalan Permata hatiku,
........ doa kami 'kan selalu menyertaimu...Amin
>
>
>
>     Dan tidak lupa saya & keluarga mengucapkan terimakasih yang
sebesar-besarnya kepada rekan-rekan yang telah memberikan suport baik
moril,
materil maupun spirituil kepada saya dan keluarga, semoga segala
kebaikan
rekan-rekan akan dibalas dengan pahala yang berlipat-lipat oleh Tuhan
Yang
Maha Kuasa. Amin.
>
>
>
>     Salam,
>
>     Istriyanto & Keluarga
>
>
>
>
>
>
>
>     Note :
>
>
>
>     Tanpa mengurangi rasa hormat saya pada Ilmu Kedokteran dan tenaga
medis, sesuai dengan pengalaman berharga dan mahal yang telah saya
alami,
maka kami mencoba mengambil kesimpulan (Setelah kami juga mendengar dari
sesama Pasien RS, rekan/sahabat, tetangga, saudara yang sempat bezuk dan
mengatakan pada saya, selama dalam perawatan sampai saat Meninggalnya
anak
saya) sbb:
>
>
>
>     1. Banyak kasus penyakit bayi/balita yang timbul setelah mereka
disuntik imunisasi.
>
>         - Pasien lain di RS yang sama mengatakan pada saya, anak
saudaranya sampai dengan usia 2 tahun belum pernah suntik Imunisasi
Hepatitis namun, setelah ada dokter (spesialis anak) yang tahu, lalu
disarankan di imunisasi Hepatitis, kemudian tidak lama setelah itu
akhirnya
anak saudaranya positif terkena Hepatitis akut, dan harus bolak-balik
berobat ke dokter.
>
>         - Tetangga saya, sehabis Imunisasi campak, dua hari kemudian
malah
terkena campak.
>
>         - Tetangga kami yang lain, anak pertamanya rutin diimunisasi,
namun fhisiknya malah lemah sering sakit-sakitan, sedangkan anak
keduanya
sama sekali tidak pernah imunisasi namun malah sehat, hampir tidak
pernah
sakit (kalaupun sakit cepat sembuh/ringan)
>
>         - Teman sekolah saya anaknya tidak pernah Imunisasi malah
sehat,
umur 10 bulan sudah lincah berjalan, dan juga boleh dibilang tidak
pernah
sakit (kalaupun sakit hanya ringan saja).
>
>         - dan banyak lagi kasus-kasus serupa yang tidak mungkin saya
tulis
satu persatu.
>
>
>
>     2. Menurut saya, Jika bisa Hindari Imunisasi, kalaupun
perlu/terpaksa
pilihlah imunisasi yang pokok saja (bukan imunisasi lanjutan/yang
aneh-aneh)
alasannya :
>
>         - Kita "Mendzolimi", anak kita sendiri yang memang sedang masa
pertumbuhan dan pertahanan tubuhnya masih lemah, malah kita suntikan
penyakit (walaupun sudah dilemahkan) ke tubuhnya.
>
>         - Kita tidak pernah tahu kondisi anak kita sedang benar-benar
sehat atau tidak, karena terutama anak yang masih di bawah 1 tahun
biasanya
belum bisa bicara mengenai kondisi badannya, sedangkan imunisasi harus
dilakukan pada bayi/balita yang sehat (tidak sedang lemah
fisiknya/sakit).
>
>         - Sesudah kita memasukan penyakit ke tubuh anak kita, biasanya
kita juga harus mengeluarkan banyak biaya. (Jasa dokter/RS, harga
imunisasi,
dsb),
>
>         - Tidak ada jaminan (Dokter/RS/puskesmas) apabila setelah
imunisasi anak kita bebas dari penyakit yang telah dimasukan ketubuhnya.
Contoh nyata yang terjadi pada anak saya, padahal anak saya sudah 2 kali
imunisasi HIB ( ketika berusia +/- 5 dan 7 bulan ), padahal sebelumnya
dokter bilang imunisasi HIB untuk menghindari penyakit Radang Otak,
namun
nyatanya anak saya malah meninggal  akibat penyakit Radang Otak.
>
>         - Menurut seorang rekan yang pernah membaca Literatur terbitan
Prancis, justru Imunisasi sudah tidak populer di Amerika Serikat, dan
terus
berusaha dihilangkan dan tidak dipergunakan lagi, bahkan di Israel
Imunisasi
telah di STOP samasekali, padahal kita tahu negara-negara itu merupakan
pelopor "industri", imunisasi.
>
>         - Menurut pengalaman saya jumlah kadar/isi setiap pipet/tabung
imunisasi semua sama, jadi imunisasi tidak melihat berdasarkan berat
tubuh/perbedaan Ras/warna kulit, padahal kalau Obat/Imunisasi itu Impor,
tentulah kadarnya disesuaikan dengan berat/fisik orang Luar (Barat) yang
jelas lebih basar dan kuat fisiknya dibanding orang Asia, namun kita
malah
sama-sama menggunakan dengan takaran yang sama. (akibatnya overdosis).
>
>
>
>     3. Jika tidak "urgent" sekali, hindari rawat inap di RS, karena
banyak
prosedur/step-step pengobatan yang akhirnya akan melemahkan tubuh
pasiennya.
(Contoh: keharusan berpuasa, pemasangan infus, pengambilan darah yang
terus
menerus, foto Rontgen, operasi, kemoteraphy, dsb). Jikalau perlu coba
dulu
dengan cara pengobatan alternatif/tradisional.
>
>
>
>     4. Jika perlu dengan tegas untuk menolak suatu tindakan medis yang
akan dilakukan RS, jika kita yakini manfaatnya tidak benar-benar
berpengaruh
terhadap kesembuhan pasien.
>
>
>
>     5. Jika perlu lakukan 2nd opinion pada RS/dokter lain yang
setara/lebih baik.
>
>
>
>     6. Banyak tanya, biarlah kita dibilang "bawel", tanyalah setiap
tindakan medis yang akan dilakukan, mengapa akan di lakukan,
akibat-akibatnya, ada tidak cara-cara lain/alternatif lain yang lebih
baik/tidak terlalu menyakiti pasien.
>
>
>
>     7. Terus temani pasien (bisa bergantian dengan keluarga yang
lain),
karena setiap saat bisa ada tindakan medis yang memerlukan persetujuan,
dan
cermati semua pekerjaan perawatannya, jika ada yang habis/kurang jangan
sungkan melaporkan ke tenaga medis yang ada segera.
>
>
>
>     8. Terus berdoa, karena segala sesuatunya telah ditetapkan oleh
"Yang
Maha Kuasa", manusia hanya bisa ikhtiar dan berusaha.
>
>





~ C a r p e  d i e m ~ 

'P.a.n.e.k.u.k.s.a.n.u.r. A.w.a.r.d. acct: 3691091382'
'BCA KCP PS Tanah Abang'
'Atas Nama: Irma Wirawaty dan Francisca Istiati'

Friendster: [EMAIL PROTECTED] ~
http://www.panekuksanur.com ~
Attachments : http://groups.yahoo.com/group/panekuksanur/files/ 
or mailto:[EMAIL PROTECTED]
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * 
* Post message: [EMAIL PROTECTED]              *
* Subscribe:    [EMAIL PROTECTED]    *
* Unsubscribe:  [EMAIL PROTECTED]  *
* Daily digest: [EMAIL PROTECTED]       *
* No mail/cuti: [EMAIL PROTECTED]       *
* Reactivate:   [EMAIL PROTECTED]       *
* List owner:   [EMAIL PROTECTED]        *
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *  
Yahoo! Groups Links



 





<-----------------------------------------------------------------------
---->




 
Yahoo! Groups Links



 





<-----------------------------------------------------------------------
---->



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
What would our lives be like without music, dance, and theater?
Donate or volunteer in the arts today at Network for Good!
http://us.click.yahoo.com/WwRTUD/SOnJAA/i1hLAA/.1VolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

================================================
Sampai disini Tuhan menolong kita (1 Sam 7:12)
================================================ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/eben-net/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke