Sebelum menghadiri kegiatan terapi kelompok senasib yang
diselenggarakan
LK3, saya menyempatkan diri untuk mengunjungi
teman senasib di kawasan
Jakarta
Pusat. Saya katakan senasib, karena kami berdua memiliki
masalah
yang relatif sama. Kami berdua kebetulan memiliki
pengalaman pahit yang
sama, yang bisa diandaikan dengan kehilangan
sebuah permata yang sangat
kami cintai.
Sebenarnya teman saya itu telah lama mengharapkan
saya datang ke rumahnya.
Dari nada bicaranya di telepon atau SMS yang
sering dikirimnya, saya tahu ia membutuhkan telinga saya. Sebagai saudara
seiman yang juga senasib,
rasanya tidak ada alasan lagi bagi saya untuk
tidak memenuhi permintaan
tersebut.
Dari pembicaraan kami, saya menjadi tahu bahwa
walaupun masalah kami relatif sama beratnya, tetapi kekuatan dan sikap kami
untuk menghadapinya sangat berbeda. Walaupun kami berdua sama-sama sering
mengatakan bahwa kami mengandalkan penyertaan Tuhan dan percaya bahwa Tuhan
punya rencana yang terindah untuk kami, tetapi suasana hati dan kondisi
kejiwaan kami sangat berbeda.
Walaupun sampai saat ini kami sama-sama tidak
menggenggam kembali permata yang pernah kami miliki, tetapi luka hati dan
kekecewaan saya telah tertutup rapat oleh kasih Tuhan. Dalam diri saya sudah
tidak ada penderitaan sedikitpun. Saya juga merasa tidak ada lagi doa-doa saya
yang tidak dijawab Tuhan. Pendek kata, saya bukan hanya mengalami recovery,
tetapi juga memiliki resilience yang menjadi modal pokok untuk menata masa
depan yang lebih baik lagi. Saya yakin dua hal tersebut berasal dari Tuhan.
Mengapa kami diberi ujian masalah yang sama beratnya,
dengan Tuhan penolong yang sama, tetapi hasil akhirnya berbeda? Walaupun kami
sama-sama tidak berhasil mendapatkan kembali permata kami, tetapi tragedi yang
saya alami menampilkan cerita happy ending, sedangkan akhir cerita teman saya
tidak seindah kisah saya? Apakah ini gara-gara Tuhan pilih kasih? Apakah
kehidupan saya lebih suci dari teman saya, sehingga doa-doa saya lebih di
dengar?
Secara kasat mata, kehidupan beragama teman saya
tidak lebih jelek dari saya. Saya yang tidak pandai berbasa-basi, sering kali
berdoa dalam tangis tanpa sepatah katapun. Merasa tak mampu lagi menanggung
beban berat yang ada, acap kali saya tidak tahu lagi apa yang harus saya
perbuat. Saya hanya menangis dan mengadu kepada Tuhan sambil bertanya apa
maksud Tuhan di balik penderitaan yang harus saya tanggung. Saya tidak berani
meminta ini itu kepada Tuhan karena saya tidak tahu apakah yang saya minta itu
yang terbaik untuk saya atau tidak. Namun ketika saya menyerahkan segala
sesuatunya kepada Tuhan, rasanya beban berat tak lagi terasa. Saya membayangkan
Tuhan Yesus berjalan di depan saya, sambil memanggul salib yang semula terlalu
berat saya panggul sendiri.
Teman saya sebenarnya memiliki cara yang lebih
"religius" untuk meminta Tuhan menyelesaikan masalahnya. Teman saya
tak henti-hentinya melakukan puasa doa, meminta supaya Tuhan mengembalikan
permata yang telah hilang itu. Teman saya mengaku, usaha dan doanya telah
dilakukannya selama lebih dari 3 tahun, tetapi menurutnya Tuhan masih
mengujinya sehingga permata itu belum kembali ke tangannya. Suatu penantian
yang hebat bila ia memang tetap bersuka cita, menunggu jawaban Tuhan tanpa
jemu. Namun sayang,penantiannya itu tidak selalu dibarengi dengan kepasrahan
total kepada Tuhan.
Ketika doa-doanya belum terkabul, ia mulai mencari-cari
kambing hitam. Ia mulai kecewa dengan orang-orang di sekitarnya yang menurut
pendapatnya wajib ikut menjaga permata miliknya. Ia juga menyalahkan, mengutuk
dan mendoakan hal-hal buruk bagi pencuri yang telah mengambil permatanya.
Hal lain yang membedakan kami adalah : bagaimana
kami memandang keadaan
yang Tuhan ijinkan terjadi pada diri kami. Saya
bisa menerima dengan lapang dada walaupun permata milik saya telah menjadi
milik orang lain.
Saya memandang bahwa dengan tidak kembalinya
permata itu ke tangan saya,
bisa jadi itulah jawaban Tuhan atas doa saya.
Teman saya pun tersentak melihat sikap saya. Dia
justru mengkritik saya "Kalau kamu bersikap seperti itu, berarti kamu
tidak percaya kuasa doa!"
"Saya percaya kuasa doa" jawab saya
singkat.
"Kalau kamu percaya, kenapa kamu tidak
berusaha meminta Tuhan untuk mengembalikan permata itu kepada kamu?" tanya
teman saya.
"Saya memang tidak pernah meminta Tuhan untuk
mengembalikan permata itu kepada saya. Saya takut, jangan-jangan itu
tidak sesuai dengan kehendakNya" jawab saya.
"Kalau begitu, apa yang kamu minta di dalam
doa? Apakah kamu minta Tuhan
untuk menggantikan permata yang baru
untukmu?" tanyanya.
"Saya tidak berani untuk meminta permata yang
lama ataupun permata yang baru, karena saya tidak tahu mana yang terbaik untuk
saya. Itulah sebabnya saya hanya
meminta kepada Tuhan untuk memberikan yang terbaik
untuk saya" jawab saya kalem.
"Kalau begitu caramu berdoa, Tuhan tidak akan
memberikan permata kepadamu" ia berpendapat.
"Kalau memang menurut Tuhan permata itu tidak
membuat saya bahagia, Tuhan pasti tidak akan memberikan permata itu kepada
saya" jawab saya tegas.
"Kayaknya kamu pesimis ya?" teman saya
belum mengerti.
"Saya tidak pesimis! Saya justru yakin, kalau
memang permata tidak membuat hidup saya bahagia, Tuhan pasti akan
menggantikannya dengan emas, perak dan pernak-pernik lainnya yang kecil-kecil
tetapi banyak dan tak kalah berharganya dengan permata yang pernah saya
miliki" saya menjelaskan. "Sekarang apa alasanmu tetap berkeras
meminta Tuhan untuk mengembalikan permatamu?" saya balik bertanya.
"Karena saya percaya kuasa doa" jawabnya
bersemangat.
"OK! Tapi kuasa doa, itu tidak sama dengan
kuasa kita lho! Jangan salah mengartikan bahwa doa yang kita panjatkah
dengan sekuat tenaga sampai mulut kita berbuih-buih itu memiliki kuasa
untuk memaksa supaya Tuhan mengabulkannya!" saya mengingatkan.
"Tapi saya percaya Firman Tuhan
yangmengatakan bahwa apapaun yang kita minta di dalam doa dengan penuh
percaya, maka akan kita terima" jawabnya.
"Ya! Selama yang kita minta itu sesuai dengan
kehendak Tuhan, maka Tuhan pun pasti akan mengabulkannya. Tetapi
kalau yang kita minta itu bukan yang terbaik dan bisa mencelakakan kita,
maka Tuhan pun tidak akan mengabulkannya. Ingat, kalau kita berdoa harus
menyerahkan kepada Tuhan, supaya bukan kehendak kita yang jadi, tetapi kehendak
Tuhan saja yang terjadi" saya kembali mengingatkan.
"Permintaan saya nggak banyak kok, cuma minta
permata yang dulu saya miliki bisa kembali ke tangan saya" teman saya
masih terus meyakinkan bahwa itulah yang terbaik untuknya.
"Kenapa kamu harus mendikte Tuhan? Kenapa
kamu harus mengajari Tuhan bahwa permata itu yang terbaik untuk kamu, sedangkan
Tuhan lebih tahu mana yang terbaik untukmu? Kenapa kamu tidak berserah
diri seraya mempersilakan tangan Tuhan bertindak dan kehendak-Nya berlaku
dengan leluasa atas diri kita?" saya terus berusaha mengingatkan.
"Mungkin itu semua sudah rencana Tuhan yang
membuat saya dan kamu berbeda" teman saya membela diri.
"Kalau kamu percaya bahwa Tuhan punya rencana
yang terindah untuk kamu, kamu harusnya berserah dan mensyukuri apa yang Tuhan
berikan saat ini. Jangan lagi membuat rencana untuk mengambil kembali permata,
kalau kita tidak tahu apakah di dalam rencana Tuhan permata itu memang harus
ada dalam kehidupan kita" kata saya.
"Saya tidak minta yang muluk-muluk, saya
hanya minta apa yang telah Tuhan berikan dulu" jawab teman saya berkeras.
"Alangkah sayangnya, jika hanya karena kamu
terlalu memaksakan diri untuk mendapatkan kembali permata yang telah hilang
itu, kamu tidak menyadari dan merasakan banyak berkat, emas, perak dan intan
yang Tuhan berikan untukmu" saya terus mengajaknya mensyukuri
keadaan. "Jangan-jangan saat ini Tuhan telah memberikan yang terbaik
untukmu, tetapi kamu tidak menyadarinya dan masih menunggu-nunggu yang belum
tentu baik untukmu. Apapun yang kamu pikir dan lakukan, jangan sekali-sekali
beranggapan bahwa Tuhan tidak menyayangi dan tidak
mendengarkan doa-doamu" sambung saya.
Dari pembicaraan kami yang berlangsung kurang
lebih 3 jam itu, saya diingatkan kembali tentang pejaran tentang doa yang
diajarkan Pdt. Eka Darmaputra beberapa tahun yang lalu. Saya masih ingat dan
meyakini bahwa doa bukanlah jimat penangkal bahaya atau penolak derita. Dengan
berdoa bukan berarti "sim salabim" yang otomatis dan dengan ajaib
mendatangkan mukjizat seperti yang kita kehendaki.
Walaupun akal kita tidak cukup untuk mengetahui
bagaimana cara Tuhan bekerja, tetapi saya yakin Tuhan tidak hanya bekerja
setelah mendengar doa-doa permohonan kita. Doa juga bukan sederet permintaan
yang menurut kita baik. Melalui doa kita justru harus membuka diri, sehingga
ketika Tuhan mengetuk pintu, hati kita selalu siap sedia dan mempersilakanNya
masuk dan bertahta sebagai Raja atas diri kita. Adakalanya kita perlu berdiam
diri, dan mendengarkan kata-kataNya. Kita pun harus meyerahkan hidup hanya ke
dalam kuasa Tuhan, bukan atas kuasa kita sendiri.
Kita sering salah mengartikan kekuatan atau kuasa
doa, sebagai kuasa kita mengatur dan mendikte Tuhan. Siapakah kita ini sehingga
kita berani memaksakan keinginan kita di atas kehendak Tuhan? Siapakah kita ini
sehingga berkeinginan menjadikan kehendak pribadi kita menjadi kehendak Tuhan?
Bukankah kita hanya berhak untuk mengarahkan kehendak kita untuk menjadi sama
dengan kehendak Tuhan? Kalau memang semikian, sesungguhnya kita tidak layak
menuntut Tuhan mengikuti keinginan kita. Sebaliknya, kita harus setia menerima
apapun yang Tuhan berikan, walaupun barangkali hal tersebut di mata dunia
sangat jauh dari suka cita.
Lalu, apakah kalimat "doa memiliki
kuasa" itu hanya klise belaka? Tidak! Satu hal yang harus diingat
bahwa doa yang benar sungguh besar kuasanya.
Dengan kata lain, doa yang tidak benar sama sekali
tidak punya kuasa apa-apa. Lalu, bagaimana doa yang benar itu? Doa yang benar
adalah doa yang dipanjatkan dalam ketaatan kita akan kehendakNya, dan kita
persembahkan dalam kebenaran dan iman kepada Kristus.
Kalau Tuhan memang berkehendak bahwa tidak ada
permata dalam hidup kita dan kita tetap setia menerima kehendaknya dengan penuh
syukur, maka doa penyerahan diri dan permohonan yang benar yang kita naikkan
dalam nama Tuhan Yesus, sungguh besar kuasanya. Namun begitu kita memaksakan
kehendak kita di atas kehendak Tuhan, maka doa yang kita naikkan itu pun akan
hilang kuasanya
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam
protection around
http://mail.yahoo.com
[Non-text portions of this message have been
removed]