bonniemanuputty <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
-----Original Message-----
From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] Behalf
Of Moderator
Sent: Friday, May 13, 2005 4:22 PM
To: [EMAIL PROTECTED]; BPK PW GPIB
Subject: [PW GPIB] Mei, Bulan "Oikoumene"


SUARA PEMBARUAN DAILY
_____


Titik Pandang

Mei, Bulan "Oikoumene"

Andreas A Yewangoe


B ULAN Mei,
setidak-tidaknya bagi gereja-gereja yang tergabung di dalam
Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia, adalah bulan penting yang
tidak bisa dilewatkan begitu saja. Inilah bulan ketika gereja-ge-reja
menghayati secara mendalam makna gerakan oikoumene.


Dalam bulan inilah, 50 tahun lalu, tepatnya 25 Mei 1950, gereja-gereja
mendirikan Dewan Gereja-gereja di Indonesia (DGI). Kenyataan sejarah
ini patut dicatat, sebab gereja-gereja yang sangat beraneka-ragam
latar belakang teologi, etnis, dan suku itu, "berhasil" melupakan
sejenak perbedaan-perbedaan mereka dan bercita-cita mewujudkan Gereja
Kristen Yang Esa (GKYE) di Indonesia. Tentu saja cita-cita itu tidak
dengan serta-merta terwujud. Pergumulan mewujudkan GKYE tetap menjadi
pergumulan sampai sekarang. Tetapi, paling tidak gereja-gereja telah
berada pada track yang benar.


Dalam perjalanan sejarah bersama ini, banyak hal telah dicapai kendati
tidak kurang juga kesulitan-kesulitan. Pergumulan tentang keesaan
macam manakah yang hendak diwujudkan, apakah itu keesaan
struktural-organisatoris, ataukah keesaan fungsional-organisme tetap
mewarnai perjalanan bersama itu.


Pendulum terus bergerak. Sidang Raya X DGI/PGI di Ambon pada 1984
merupakan tonggak sejarah penting, ketika "Dewan" menjadi
"Persekutuan". Perubahan itu dimaknai sebagai keberhasilan
gereja-gereja menyatakan keesaannya lebih maju lagi. Mudah-mudahan,
demikian dikatakan kita tidak jauh lagi dari perwujudan GKYE.


Pada saat ini, jumlah anggota PGI telah mencapai 81 gereja. Kita
bergembira atas hal itu, kendati tidak dengan sendirinya berarti kita
makin dekat ke cita-cita keesaan itu.


Pertambahan jumlah anggota di dalam PGI tidak serta-merta mencerminkan
pertambahan jumlah anggota jemaat.


Sudah menjadi rahasia umum, banyak gereja yang sekarang menjadi
anggota PGI, sebelumnya adalah bagian dari sebuah "gereja induk".
Tetapi, karena iklim sudah makin kondusif, yaitu terjalinnya hubungan
yang baik antara gereja "pecahan" dan bekas gereja induk itu, gereja
yang bersangkutan diterima sebagai anggota PGI.


Yang kita harapkan sesungguhnya, adalah agar kegairahan gerakan
keesaan itu sungguh-sungguh terasa getaran dan resonansinya mulai dari
jemaat-jemaat, bahkan dari setiap rumah tangga.




Pertanyaan mendasar ketika kita berada dalam gerakan oikoumene, adalah
apa maknanya? Bukan tidak mungkin berbagai kesalahpahaman muncul, baik
di dalam lingkungan gereja-gereja sendiri, maupun di luarnya.


Apakah gerakan ini merupakan suatu mobilisasi kekuatan umat Kristen
Indonesia menghadapi pihak lain? Atau, suatu upaya untuk
memperlihatkan umat Kristen Indonesia tidak "kalah" besarnya dengan
umat-umat lain?


Pertanyaan-pertanyaan yang tidak terhindarkan itu mesti dijawab oleh
umat Kristen Indonesia, dengan memperlihatkan kesatuan mereka
sungguh-sungguh bertujuan untuk makin memantapkan pelayanan bagi
masyarakat, yang di dalamnya mereka berada. Gereja-gereja mesti
menjadi berkat bagi lingkungannya.


Itulah yang dimaksud oleh Sidang Raya ke-14 PGI beberapa waktu lalu,
yang menegaskan bahwa gereja adalah "Gereja bagi Orang Lain". Itu
dijabarkan dari pengakuan, sesungguhnya Yesus Kristus adalah "Manusia
bagi Orang Lain".


Penegasan itu lalu membawa konsekuensi, gereja-gereja di Indonesia
mesti lebih tanggap terhadap persoalan-persoalan kemanusiaan. Tentu
saja percakapan-percakapan mengenai struktur organisasi gereja
penting, tetapi kalau waktu dihabiskan untuk itu, sementara
masalah-masalah kemanusiaan berlalu begitu saja, kehadiran gereja di
tengah-tengah masyarakatnya menjadi tidak berarti. Bahkan tidak disukai.


Maka Sidang Raya yang sama itu menegaskan supaya keesaan kita dimaknai
sebagai suatu keesaan dalam aksi (keesaan in action). Dengan aksi-aksi
bersama itu, yang dituntun oleh visi bersama yang diinspirasikan oleh
tema dan subtema Sidang Raya, gereja-gereja dengan demikian makin
memperlihatkan keesaan mereka. Dengan kegiatan-kegiatan seperti itu,
terlihat gereja-gereja mempunyai keleluasaan untuk bergerak, dan
memulai dari apa yang dirasakannya paling baik dan relevan bagi gereja
dan masyarakat di sekitarnya.




Oikoumene, berasal dari rangkaian dua patah kata Yunani, oikos= rumah
dan menein=mendiami. Jadi oikoumene berarti "mendiami rumah".
Dikalimatkan secara lebih bebas, ini berarti, rumah yang (layak) didiami.


Dalam pengertian tersebut, gerakan itu adalah gerakan yang tidak saja
menghendaki keesaan gereja-gereja, tetapi juga menghendaki agar bumi
ini menjadi rumah yang layak didiami. Ini berarti umat Kristen
Indonesia bertanggung jawab terhadap lingkungannya dalam pengertian
yang luas sekali.


Adalah suatu pengakuan iman, Allah telah memandatkan pemeliharaan bumi
ini kepada umat manusia. Maka ketika terjadi berbagai malapetaka di
berbagai tempat di negeri ini, gereja-gereja terpanggil melakukan
pemulihan, agar bumi ini layak lagi didiami.


Keterlibatan umat Kristen Indonesia dalam berbagai persoalan sosial,
bukan sekadar ikut-ikutan atau semata-mata didorong perasaan
belas-kasihan, tetapi karena kesadaran bumi ini bumi Allah yang
dipercayakan kepada manusia untuk ditinggali secara patut. Itulah juga
makna keprihatinan umat Kristen secara mendalam ketika berhadapan
dengan berbagai permasalahan sosial lainnya seperti korupsi, kolusi
dan nepotisme. Kita berdoa agar titik-titik terang yang sudah mulai
muncul dalam rangka pemberantasan KKN ini akan terus berlanjut sampai
sukses.


Kita prihatin dengan berbagai pencemaran yang dilakukan manusia
terhadap lingkungannya. Sumber-sumber air yang makin lama makin cemar
perlu dipulihkan kembali. Tetapi, pada pihak lain, kita juga cemas
dengan kecenderungan penguasaan sumber-sumber air oleh pihak-pihak
tertentu. Adanya UU pemakaian sumber air yang cenderung menguntungkan
pihak-pihak tertentu, yang makin lama makin mengasingkan rakyat banyak
dari sumber air, kita kritik dan tolak.


Gereja-gereja mestinya ikut-serta dalam penolakan terhadap UU yang
makin mempersulit aksesnya kepada sumber yang sangat vital bagi
kehidupan ini. Air sebagai sumber kehidupan, jangan dikuasai beberapa
orang saja.


Maka dalam rangka Bulan Oikoumene yang diberi tema, "Dibarui Di Dalam
Roh dan Pikiran" (bdk. Ef. 4:23), umat Kristen Indonesia diserukan
untuk menjadi berkat bagi lingkungannya.



Bonnie Manuputty
0811824765


Do you Yahoo!?
Yahoo! Small Business - Try our new resources site!

================================================
Sampai disini Tuhan menolong kita (1 Sam 7:12)
================================================




Yahoo! Groups Links

Kirim email ke