Ternyata ada orang Indonesia yang berprestasi dalam kiprah internasional.
Ini menjadi tonikum bagi kita agar kita tidak cepat patah
semangat. Amin.
Raih
profesor dan 4 gelar doktor sekaligus
(27 Juni
2005 02:21) , ditulis oleh
Sumatera Ekspres
Ken
Soetanto, asli Surabaya bergaji Rp. 12 miliar
per bulan di Jepang
JAKARTA-
Prestasi membanggakan ditorehkan Prof. Ken
Soetanto. Warga
Surabaya ini
menggondol gelar profesor dan empat
doctor selama
bertahun-tahun
mengabdikan hidupnya di Jepang. Hebatnya lagi,
prestasi
akademiknya
tersebut diakui di Jepang dan AS dengan menjadi profesor di
usia 37
tahun.
Pada
1988-1993, Soetanto yang juga direktur Clinical Education and Science
Research
Institute (CERSI) ini menjadi associate
professor di Drexel
University
dan School Medicine at Thomas Jefferson University,
Philadelphia, USA. Ia juga pernah
tercatat sebagai profesor di Biomedical
Engineering Program University of Yokohama (TUY).
Saat
ini pria beristri juga perempuan Surabaya ini tercatat
sebagai
prosefor
di almameternya, School of International Liberal Studies
(SILS)
Waseda University, dan
profesor tamu di Venice International University,
Italia.
Gelar
itu dirangkap dengan jabatan wakil dekan di Waseda University.
Kemampuan
otak pria kelahiran 1951 ini sungguh
brilian karena mampu
menggabungkan
empat disiplin ilmu berbeda. Itu terungkap dari empat gelar
doktor
yang diperolehnya. Yakni, bidang Applied Electronic Engineering di
Tokyo
Institute of Technology, Medical Science dari Tohoku University, dan
Pharmacy
Science di Science University of Tokyo. Yang terakhir
adalah
doktor
bidang ilmu pendidikan di almamater sekaligus tempatnya
mengajar
Waseda University.
''Saya sungguh
menikmati dengan pekerjaan sebagai akademisi,''
tutur
Soetanto
dalam wawancara khusus dengan koran ini di President University,
Jababeka Education Park, Cikarang,
Jawa Barat, Sabtu lalu. Soetanto
kebetulan
berada di Indonesia untuk mendampingi Dr.
Kotaro Hirasawa (dekan
Graduate School Information Production
& System Waseda University) dan
Yukio Kato
(General Manager of Waseda University) dalam
penandatanganan MoU
antara
President University dan Waseda University. President University
adalah
institusi perguruan tinggi berbasis
kurikulum bertaraf
internasional
yang berlokasi di tengah-tengah sekitar 1.040 perusahaan di
kawasan
industri Jababeka, Cikarang. Sebagian
mahasiswa President
University
berasal dari Cina, Vietnam, dan Jepang.
Di
luar status kehormatan akademik itu, Soetanto juga masuk birokrasi
di
Negeri
Sakura. Pria yang pernah berkawan dengan mantan
presiden RI BJ
Habibie
ini ini tercatat sebagai komite pengawas (supervisor committee) di
METI
(Japanese Ministry of Economy, Trade, and Industry atau semacam Menko
Perekonomian
di RI). Selain itu juga ikut membidani konsep
masa depan
Jepang
dengan menjadi Japanese Government 21st Century Vision.
''Pada
jabatan tersebut saya berpartisipasi
langsung menyusun GBHN
(kebijakan
makro)-nya Jepang,'' tutur Soetanto yang masih fasih berbahasa
Indonesia dan Jawa
berlogat Suroboyoan ini. Buah pemikiran Soetanto yang
terkenal
adalah konsep pendidikan "Soetanto Effect"
dan 31 paten
internasional
yang tercatat resmi di pemerintah Jepang.
Dan, mau
tahu berapa Soetanto digaji? Jumlahnya sangat mencengangkan untuk
ukuran
akademisi bergelar profesor atau mereka
yang pernah menduduki
jabatan
tertinggi di perguruan tinggi (rektor).
Kementerian Pendidikan
Jepang
mengganjar Soetanto dengan gaji US$ 15 juta (Rp
144 miliar) per
tahun.
Sungguh "perhatian" dari pemerintah yang luar biasa!
Di
antara segudang prestasi itu, bisa jadi
yang paling membanggakan,
khususnya
bagi warga Surabaya, adalah latar
belakang sekolah dasar dan
menengahnya
yang ternyata dihabiskan di kota buaya.
Soetanto muda
mengenyam
pendidikan di SD swasta di Kapasari, SMP
Baliwerti, dan SMA
Budiluhur
yang dulu menjadi jujugan sekolahan warga keturunan Tionghoa.
Kritik
pendidikan RI
Seusai
menandatangani MoU, Soetanto memberikan ceramah akademik popular di
hadapan
ratusan mahasiswa PresidentUniversity. Isi ceramahnya
menarik
perhatian
mahasiswa bahkan beberapa jajaran direksi PT Jababeka, termasuk
Dirut
PT Jababeka Setyono Djuandi Darmono.
Maklum, Soetanto membeber
pengalamannya
bisa "menaklukkan" dunia perguruan
tinggi Jepang kendati
dirinya
hingga sekarang masih berkewarganegaraan Indonesia. Apalagi,
dirinya
berasal dari Kota Surabaya yang nyaris tak diperhitungkan di dunia
akademisi
Jepang.
Selebihnya,
Soetanto banyak mengkritisi sistem pendidikan di Indonesia
yang
perlu dibenahi untuk menghasilkan produk
berkualitas. ''Sistem
pendidikan
di sini Indonesia) sudah
tertinggal jauh bahkan di bawah
Malaysia dan Vietnam,'' jelas
Soetanto dengan gaya bicara berapi-api.
Yang ironis,
penghargaan terhadap staf pengajar atau guru di Indonesia juga
sangat
kurang. Soetanto lantas mencontohkan kecilnya
gaji guru yang
memaksa
mereka harus bekerja sambilan.
''Dan,
karena faktor tersebut jangan heran bila banyak ilmuwan Indonesia
mencari
penghasilan di luar negeri,'' pungkas Soetanto. Kendati demikian,
pria berkaca
mata ini awalnya belajar ke Jepang bukan untuk semata-mata
untuk
mengejar materi alias duit. (red)