Subject: [terangdunia] Kesaksian Seorang Istri Pendeta
di Sebuah Desa
Saya pernah mengajak lewat milis ini agar teman-teman
mengirimkan kesaksian hidup supaya bisa saya muat di
Harian Sinar Harapan dan menjadi berkat bagi orang
lain. Ini adalah salah satu respons dari ajakan saya
itu. Sebuah kesaksian yang sangat menyentuh. Semoga
ini juga mendorong teman-teman untuk mengirimkan juga
kesaksian kepada saya. Terima kasih.
Allah Memenuhi Kebutuhanku
Oleh Davida
Sinar Harapan, 30 Juli 2005, halaman 11
Kupandangi wajah anakku satu per satu. Tidak ada
kesusahan di wajah mereka, tenang dan damai.
Kupandangi pula wajah suamiku. Wajahnya begitu tegar
di tengah kesulitan hidup yang kami alami.
Kami datang dari Jakarta ke Kota Makassar ini pada
tahun 1980, mendukung suamiku melanjutkan pendidikan
teologinya. Dengan penyerahan penuh kepada Tuhan, kami
mengikuti tuntunan Tuhan.
Tanpa pekerjaan dan pelayanan, pasti akan sangat berat
menghidupi keluarga kecil kami. Tetapi Tuhan sungguh
baik, sekolah tempat suamiku belajar memintanya untuk
membantu kesekretariatan kampus dengan berkat Rp
46.000/bulan dan disediakan rumah sederhana untuk
mahasiswa berkeluarga.
Malam itu aku gelisah. Tidak tersisa sebutir pun beras
dalam penampunganku. Uang di dompet tinggal beberapa
ratus rupiah saja. Sedari siang tadi aku sudah
bolak-balik ke rumah rektor yang masih satu komplek
dengan rumah kami. Beliau masih ada hubungan saudara
dengan suamiku.
Rencananya aku mau meminjam sedikit berasnya sampai
aku bisa membeli beras lagi 2 hari yang akan datang
saat suamiku menerima berkat bulanannya. Tetapi
mulutku tidak bisa berkata apa-apa. "Ah, hanya
main-main saja kok, Tante," begitu jawabku saat
ditanya tujuanku mengunjungi r umahnya berulang-ulang
kali seperti itu.
Aku mau tidur saja. Aku yakin Tuhan pasti mencukupkan
kebutuhanku, walaupun aku tidak tahu apa yang akan
anak-anakku makan besok dan lusa. Aku mau tidur dengan
tenang, karena aku tahu, dalam tidur pun Tuhan tetap
memberkati orang yang dikasihi-Nya. Masalah seperti
ini sudah sangat sering kami alami, bahkan yang lebih
berat sekali pun, dan Tuhan selalu menjawab tepat pada
waktu-Nya.
Pagi tiba. Hari itu hari minggu. Kami harus ke gereja.
Tapi kami tidak mungkin berjalan kaki ke yang berjarak
5 km dari rumah kami. Uang yang sedikit ini tidak
cukup untuk transportasi ke sana. Kulihat suamiku
masuk ke kamar mandi. Dia pasti akan bersiap-siap
untuk ke gereja. Aku tidak memberitahukan keadaan
keuangan kami saat ini.
Saat kubersihkan dapurku, kulihat suamiku yang keluar
dari kamar dalam keadaan rapi menghampiriku, "Kok
belum siap? Anak-anak belum dibangunkan? Kita
terlambat loh ke gereja."
Berusaha kutahan air mataku dengan menggaruk-garuk
kepalaku, "Pa, hari ini kita tidak bisa ke gereja
dulu. Uangnya tidak cukup untuk transport ke sana."
Suamiku hanya memandang sedih, dan aku semakin tidak
kuat. Aku tidak mau dia merasa bersalah karena tidak
cukupnya uang bulanan yang bisa dia berikan padaku.
Semua kejadian ini bukan salah siapa-siapa, ini sudah
kehendak-Nya. Kukatakan padanya, "Kita ibadah di rumah
saja ya, sama anak-anak. Itu pasti lebih indah."
Suamiku mengangguk sambil tersenyum padaku. Melihat
senyumannya, aku merasa tenang.
Kulihat suamiku dengan lunglai melepaskan lagi kaus
kaki dan kemejanya. Kalau bukan karena kekuatan dari
Tuhan, aku pasti sudah menangis sejadi-jadinya melihat
pemandangan itu.
Anak-anakku bangun. Biasanya mereka akan segera minta
dibuatkan bubur, sarapan kesukaan mereka. Tetapi Puji
Tuhan! Mereka tidak minta apapun, mereka langsung
duduk di ruang tamu menunggu papany a memutarkan
televisi hitam putih kami, yang adalah berkat tak
terduga dari Tuhan.
Aku berdoa dan minta hikmat-Nya mengenai masalah ini.
Kubulatkan tekadku, kali ini aku harus berani meminjam
beras pada Tante Yoke, isteri rektor, walaupun rasanya
begitu berat. Tetapi demi anak-anakku aku pasti bisa.
Pukul 10.00 anak-anakku masih asyik menonton televisi.
Suamiku juga duduk di depan televisi tetapi sambil
membaca sebuah buku. Aku masih terus membersihkan
dapur. Ya ... karena hari ini aku tidak masak, aku
jadi punya banyak waktu untuk membersihkan dapurku.
Tiba-tiba pintu rumahku diketuk. Ternyata pamanku yang
masih kuliah datang. Dia membawa karung kecil, itu
tandanya berasnya habis dan dia ingin minta sedikit
beras padaku. Jelas saja aku tidak bisa memberikannya
saat itu. Dia pun ikut lunglai.
Pukul 10.30 aku segera bersiap-siap menuju ke rumah
Tante Yoke untuk meminjam beras. Tiba-tiba pintu
rumahku diketuk. Seorang bapa k setengah baya berdiri
di depanku saat kubuka pintu.
"Bu, bener ini rumahnya pendeta yang baru datang dari
Jawa itu?" tanya sang bapak.
Kupikir-pikir memang hanya suamiku pendeta yang baru
datang dari Jawa di kompleks kami. "Iya, Pak, kami
memang baru saja datang dari Jawa."
"Oh ... ya sudah, saya disuruh mengantarkan barang ke
sini," kata bapak yang adalah tukang becak itu.
Bapak itu berlari kecil ke becaknya, kulihat dia
menurunkan sebuah karung besar.
"Lohhh Pak ... tunggu dulu, siapa yang menyuruh Bapak
bawakan ini kemari? Jangan-jangan Bapak salah alamat
barangkali?" tanya saya yang tidak mau serta-merta
menerima barang itu.
"Wah ... saya nggak tahu, Bu. Saya cuma dikasih uang
dan disuruh nganter ke sini saja kok. Semua orang di
kompleks ini sudah saya tanyai dan katanya pendeta
dari Jawa cuma keluarga Ibu ini, berarti saya tidak
salah," kata tukang becak itu setengah ngotot.
Begitu selesai menurunkan barang itu di depan pintu
rumahku, pak becak itu segera berlalu dan tidak lupa
kuucapkan terima kasih.
Saat kusentuh karung itu aku tercekat. Aku tahu,
karung besar itu berisi ... BERAS!
Suami dan pamanku yang mendengar perbincanganku dengan
tukang becak itu lalu keluar dari rumah. Mereka
melihat karung besar di depanku dan bertanya, "Apa
itu? Dari siapa?"
Aku hanya mengangkat bahuku, tanpa bisa lagi menahan
air mataku. Sebuah kesulitan tidak bisa menjatuhkan
air mataku, tetapi sebuah sukacita besar tidak dapat
menahannya. Sampai hari ini kami tidak tahu siapa yang
sudah jadi alat Tuhan untuk memberikan beras itu.
Tetapi yang pasti, Tuhanlah yang memberikannya.
Penulis adalah istri dari seorang pendeta yang
melayani di Makassar
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Get fast access to your favorite Yahoo! Groups. Make Yahoo! your home page
http://us.click.yahoo.com/dpRU5A/wUILAA/yQLSAA/9rHolB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
--------------------------------------------------------------------------------
"Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepadaKu;" (Mat.19:14)
--------------------------------------------------------------------------------
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/pagpib/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
How much free photo storage do you get? Store your holiday snaps for FREE with Yahoo! Photos. Get Yahoo! Photos
================================================
Sampai disini Tuhan menolong kita (1 Sam 7:12)
================================================
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "eben-net" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
