”Berkah” Penutupan Gereja? 
Oleh: Stevanus Subagijo


Penutupan beberapa tempat ibadah Kristiani kembali melukai hubungan antaragama di Indonesia, tak lama setelah pusat Ahmadiyah juga mengalami peristiwa yang lebih mengenaskan. Dikatakan melukai, karena yang menutup maupun yang ditutup sama-sama mengedepankan perdamaian dan kasih sayang, jauh dari kekerasan apapun bentuknya.
Tulisan ini mencoba merespon secara positif bahwa dengan adanya SKB, kekristenan justru mendapat ”berkah” dari padanya. Sulitnya membangun gedung gereja meski lahan, biaya dan umat sudah ada dirasakan tidak adil. Namun halangan itu justru meningkatkan spiritualitas baru yang tidak terkungkung pada tempat ibadah resmi seperti gedung gereja atau masjid.
Kini banyak ruko, hotel, gedung pertemuan, hotel, rumah tinggal, kantor dsb menjadi tempat ibadah atau pengajian. Semangat „Tuhan ada dimana-mana” patut disyukuri. Sayang inipun dipersoalkan melanggar fungsi, padahal sebagai bangsa ber-Ketuhanan, ibadah dimana saja mestinya disyukuri.
Meminta pemerintah mencabut SKB boleh-boleh saja, namun jangan terjebak pada makna gereja seperti dipahami SKB, yang secara tidak langsung mendegradasikan maknanya hanya sekadar tempat ibadah orang Kristen, jauh dari makna gereja yang sebenarnya sebagai organisme hidup dari mereka yang percaya kepada Kristus. (Marlyn Hardman, Biblical Principles for New Life Church, 1975).

Pemurnian Gereja
Sulitnya mendirikan gereja sebaiknya diimani bisa mereformasi gereja menjadi gereja sejati. SKB tersebut menyadarkan bahwa kekristenan semata-mata hanya ada-tidaknya gedung gereja. Padahal yang lebih penting ialah perjumpaan umat bersama Kristus dengan segala pergumulan hidupnya, tak peduli ada gedung gereja atau tidak, di dalam gedung gereja atau di manapun.
Ada empat hal utama dalam merespon ihwal hambatan pendirian gedung gereja.
Pertama, karena SKB dikeluarkan menteri/pemerintah, maka gereja sebaiknya menaatinya. Gereja harus taat kepada pemerintah (Roma 13:1-2). Sekalipun SKB itu dinilai sebagai ”ketidakadilan”, gereja tetap harus taat kepada pemerintah karena berdasar ayat di atas, pemerintah dipilih oleh Allah. Minimal SKB ditinjau ulang oleh pemerintah sekarang, mengingat telah berusia 35 tahun. Mungkin saja saat diterbitkan situasinya sangat berbeda dengan sekarang.
Kedua, SKB menghambat pendirian gedung gereja termasuk prosesi ibadah di dalamnya. Benarkah kekristenan sangat tergantung dengan sebuah gedung gereja? Sejarah gereja mengatakan kekristenan awal sampai 350 tahun lamanya tidak mempunyai dan yang lebih penting lagi tidak mempersoalkan ada-tidaknya gedung gereja. Orang Kristen mula-mula berkumpul di rumah, loteng, pantai, pasar, bukit,
padang rumput, jalan raya dsb yang menjadi ajang mobile church.
Ketiga, hambatan dalam perizinan pendirian gedung gereja justru telah menyelamatkan kekristenan untuk tetap berpusat pada Kristus (Christianity), bukan pada gereja (Churchianity). Churchianity yang tidak memusatkan pada keteladanan Kristus tetapi kepada supremasi organisasi keagamaan gereja semata, sangat mudah terjebak spiritual abuse dan religious elitism.
Mudahnya pendirian gereja jika SKB dicabut, berpotensi menurunkan standar panggilan pelayanan atas gereja baru, menjadi sekadar lowongan profesi pendeta dan pelayan rohani. Gereja sebagai organisme hidup adalah karya Allah, benih Injil yang tersebar di tanah subur dan respon kasih karunia Kristus. Bukan franchising church, dimana gereja bisa dikloning, dicabangkan seperti membuka perusahaan sekuler.

Kekayaan Metafora Gereja
Pembangunan gedung menciptakan elitisme jemaat donatur yang berjasa membiayai, yang acap sulit dihindari munculnya privilege dan eksklusivisme rohani dibanding mereka yang tidak. Padahal gereja mula-mula sangat tergantung pada ‘saham-saham rohani’ anggotanya masing-masing. Kesatuan hati dalam pengalaman bersama komunitas yang merespon kasih Kristus. Tanpa bangunan gereja yang statis dan waktu terjadwal, gereja (komunitas Kristiani) bisa melayani dimana, kapan, dan kepada siapa saja, tanpa harus dalam gedung gereja secara permanen.
Keempat, berkah lain adanya SKB sebagai rem tumbuhnya denominasi kekristenan baru. Mudahnya membangun gedung gereja dikuatirkan menjadi salah satu solusi konflik gereja berujung pada munculnya denominasi baru. Kita tahu setiap denominasi baru akan menciptakan pasar kekristenan baru yang membutuhkan religious showroom yakni gedung gereja, sehingga kekristenan makin bersifat festive dengan berbagai produk rohani yang membuat jemaat sebagai konsumen merasa dimanjakan.
Banyaknya pilihan bergereja membuat jemaat tidak bertumbuh dalam satu gereja lokal tetapi menjadi jemaat nomaden. Kristus tidak pernah meminta orang Kristen pergi ke gereja apalagi kalau gedung gereja belum bisa dibangun karena izinnya mentok. Kristus meminta mereka yang percaya menjadi gerejaNya. Alkitab tidak pernah menggambarkan gereja sebagai gedung atau tempat. Gereja selalu digambarkan sebagai orang-orang yang mencintai dan mengikut Kristus.
Kekayaan metafora gereja seperti sebagai rumah tangga Allah, kerajaan Allah, bait Allah, tubuh dimana Kristus adalah Kepala, pemuridan dengan Kristus sebagai Guru, hamba dimana Kristus adalah Tuannya, kawanan domba kecil dengan Kristus Gembala Agungnya, tentara Allah dengan Kristus sebagai Komandan, dsb, mestinya tidak mengalami pemiskinan alih-alih mematikan kekristenan, hanya karena tidak ada gedung gereja lantaran SKB masih berlaku.

Penulis adalah peneliti pada Center for National Urgency Studies Jakarta

SH,
09/09/05

 



================================================
Sampai disini Tuhan menolong kita (1 Sam 7:12)
================================================




SPONSORED LINKS
Gpib Gpib card Gpib interface
Religion Gpib board Christianity


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke