Fyi sirs and madams

WashWatch

Christianto Wibisono

NGELA Merkel memang jadi kanselir wanita pertama Jerman. Tetapi,
kemenangannya tidak mutlak seperti Margaret Thatcher, karena harus
berkoalisi dengan rivalnya, Partai Sosial Demokrat (SPD), yang
memperoleh jatah 8 dari 14 menteri kabinet. Sementara itu, Wanita Besi
Thatcher baru saja merayakan ulang tahun ke-80, dan Ratu Elizabeth
menunggu 15 menit karena Thatcher sedang menerima telepon ucapan selamat
dari Presiden George W Bush. 

Menurut The Independent, Thatcher juga pertama kalinya meragukan alasan
penyerangan Irak. Sementara rakyat Irak sendiri memutuskan apakah mereka
akan mampu hidup berdemokrasi secara mandiri dalam referendum hari
Sabtu, 15 Oktober dan melaksanakan konstitusi baru secara beradab. Atau,
akan kembali kepada perang pewaris kalifah yang merupakan tradisi
suksesi politik di Dunia Arab sejak zaman ba- heula.

Hasil Pemilu Jerman membuktikan bahwa rakyat pemilih sudah muak kepada
tingkah laku politisi, baik dari pihak penguasa yang bercokol maupun
oposisi. Siapa pun mereka, menurut pemilih, sudah gagal dalam memenuhi
janji-janji kampanye dan tetap saja tidak mampu mengangkat ekonomi dan
kesejahteraan rakyat Jer-man. 

Karena itulah, baik Par-tai Uni-Kristen Demokrat (CDU)/CSU yang dipimpin
Merkel hanya memperoleh 35 persen suara, dibayangi oleh SPD 33 persen,
dan sisanya terbagi dalam tiga kelompok, yaitu FPD, mantan Partai
Komunis dan Partai Hijau. Karena itu CDU dan SPD menerima kompromi
koalisi demi mengatasi kebuntuan politik Jerman.

Masalah Jerman sebetulnya dialami oleh semua negara yang memakai sistem
distribusi sosial melampaui kemampuan produktif masyarakat. Jaminan
sosial yang diberikan kepada penganggur, melampaui daya dukung kekuatan
produktif Jerman. 

Orang hanya bisa memberi jaminan sosial, nilai lebih, bila orang itu
mempunyai surplus, profit, dan dana lebih, setelah ongkos kehidupan. Itu
berlaku untuk pribadi, kelas, kelompok, dan negara. Kalau besar pasak
daripada tiang, jelas harus ada arus dana utang yang makin lama tidak
tertanggung. 

Apalagi jika para penerima subsidi pengangguran keenakan dan tidak mau
bekerja karena lebih asyik menikmati subsidi kesejahteraan sosial. Tanpa
batas waktu, keluarga penganggur dengan dua anak bebas dari sewa rumah
dan utilitas. Negara memberi tunjangan US$ 1.450 per bulan. Sementara
para entrepreneur produktif, malas melakukan investasi karena harus
menanggung beban sosial yang akhirnya secara mikro juga menggerogoti
unit bisnis- nya. 

Karena itu, seluruh industri Jerman dilanda krisis termasuk industri
otomotif yang dianggap paling efisien. Ternyata, sekarang rapuh dan
mengalami kerugian dan kemunduran daya saing. 


*


SEJAK zaman purba sebetulnya manusia menghadapi dilema yang permanen.
Ada kelompok masyarakat yang produktif, berprestasi, dan bernilai lebih.
Dari situ bisa dipungut pajak, dan pemerintah bisa membagikan kembali
kepada rakyat termasuk yang kurang produktif dan mungkin hanya menjadi
parasit belaka. 

Jika kekuatan produktif masih mampu menghasilkan nilai lebih dan nilai
tambah, bangsa dan negara itu akan mengalami tingkat keamanan dan
kestabilan yang cukup. Tetapi, jika banyak yang jadi korban karena
sistem politik ekonomi yang kurang adil dan merasa tersisih, maka bisa
timbul pemberontakan dan perlawanan. Hal itu secara kuno sudah terjadi
di semua bangsa. 

Kekuatan rakyat yang tidak puas berontak dan mengkudeta raja lama,
mengangkat pemimpin pemberontak menjadi raja baru. Dan, seterusnya nanti
penguasa baru korup dan gagal lagi, akan terjadi lagi siklus
penggulingan takhta penguasa bercokol yang dianggap gagal dan rakyat
sudah muak.

Dalam konteks persaingan antarbangsa, bisa muncul pemimpin fasis yang
mengeksploitasi chauvinisme sempit untuk menciptakan bangsa yang
fanatik, seperti fasisme Hilter. 

Dengan semangat mengejar keterbelakangan dari Inggris, Hitler dan juga
penguasa Jerman sebelumnya seperti Bismarck, menekankan proteksionisme,
nasionalisme, sebagai metode untuk menyamakan kesetaraan bangsa Jerman
yang ketinggalan dari Inggris dan Prancis.

Ideologi fasisme sempat menjadi acuan dan kekaguman, bahkan berpeluang
menaklukkan Eropa pada Perang Dunia II. Sementara Karl Marx memimpikan
ideologi komunisme sebagai surga dunia, di mana kaum proletar menguasai
dan menikmati alat produksi termasuk nilai lebih yang selama ini
dikangkangi oleh kaum borjuis kapitalis, menurut doktrin Marxisme. 

Ideologi Marxisme akan menyusul fasisme ke "kuburan" karena gagal
melakukan koreksi dini dan internal terhadap kekuasaan absolut yang
digenggam tanpa kontrol dan oposisi. Ideologi itu akhirnya bangkrut
karena statistik palsu, disiplin lembek, korupsi dan tidak ada-nya
insentif untuk berproduksi dan berkreasi secara optimal. 

Muncul ideologi radikal, yang menurut Goenawan Mohamad, juga ingin
menciptakan surga dunia di bumi yang tidak mungkin jadi surga ini.
Inilah ideologi yang mengilhami dan menggerakkan OBL dan terorisme
global. Mereka membajak agama dan mengklaim sebagai penegak khalifah
yang akan menciptakan dunia yang sempurna seperti surga di langit dengan
menghancurkan semua lawan politik yang dianggap kafir dan tidak
memperoleh hak untuk hidup dan eksis di dunia ini. 


*

SEBENARNYA, ketika Francis Fukuyama menulis bahwa demokrasi adalah
jawaban final manusia untuk mengatasi konflik, walaupun dianggap utopia,
secara realistis itu adalah maksimal yang bisa dicapai oleh manusia di
bumi. Artinya demokrasi liberal Barat memang bukan surga, karena di sana
juga masih ada korupsi dan orang bisa kecewa kepada kedua kubu partai,
seperti rakyat Jerman bingung dan tidak mau memberi mandat kepada salah
satu partai karena kecewa terhadap kedua pilihan. 

Tetapi, demokrasi liberal itu mengajak manusia untuk belajar menghormati
perbedaan politik dan menyelesaikan dengan voting serta menghormati
hasil voting sebagai cara memilih pemimpin. Bukan dengan cara memotong
kepala lawan di bawah guillotine atau teror. 

Barat juga dulu pernah melampaui periode pembunuhan politik raja dan
dinasti silih berganti. Setelah itu mereka kapok dan bersepakat untuk
secara beradab menyelesaikan konflik melalui pemilu, Trias Politika, dan
pembatasan masa jabatan. Semua itu adalah karena yakin, sadar, dan
paham, bahwa manusia tidak sempurna dan cenderung korup. 

Karena itu, harus ada mekanisme pembatasan dan pencegahan serta
penggantian kekuasaan secara tertib damai dan efektif, tanpa perlu
melalui perang saudara, kudeta, dan genosida seperti yang dialami
Indonesia pada 1965 serta demo berdarah 1998.

Komite Pemberantasan Korupsi baru saja berdialog dengan masyarakat
Indonesia di KBRI Washington, 12 Oktober. Masalah inti adalah political
will dan political values yang dianut elite Indonesia masih berada pada
periode feodalisme, fasisme, atau komunisme. Mau menang sendiri, tidak
mau dikontrol, menganggap orang lain saja yang bisa salah dan harus
dihukum. Selalu benar sendiri, dan tidak mau dihukum atau ditegur
walaupun salah, karena merasa mendapat wangsit dewa. 

Itu semua akibat sistem diktator selama 40 tahun lebih Orde Lama dan
Orde Baru. Lalu diperkuat lagi oleh ideologi yang mengandalkan massa
mayoritas yang selalu mengklaim direstui atau mengatasnamakan "Allah"
untuk menghukum orang dan kelompok lain. Akibatnya, Indonesia seperti
negara berkembang Dunia Ketiga lain, tidak pernah mentas ke alam
demokrasi "ideal". Karena kekuasaan masih diperlakukan seperti wangsit
dan legitimasi model fasisme. 

Demokrasi hanya berjalan semu dan korupsi, nepotisme, dan otoriterisme
berdampingan dengan premanisme, membuat rakyat yang produktif tidak
mampu bekerja optimal. Sementara birokrat dan para penikmat situasi
feodal-fasis, terus melestarikan praktik pengelabuan rakyat dan penipuan
dengan menjejali massa dengan ideologi kebencian terhadap asing. 

Mirip fasisme Hitler, premanisme berjubah agama yang sekarang merajalela
di Indonesia adalah gabungan ideologi yang tidak akan membawa Indonesia
ke masa depan yang gemilang, melainkan akan tetap terpuruk dalam
keterbelakangan dan lingkaran setan, korupsi, kudeta, kolusi lagi,
kudeta lagi. 

Tetapi rakyatnya tetap saja terpuruk. Sedang elitenya mungkin
gonta-ganti dari Soekarno, Soeharto, tapi KKN jalan terus tanpa tindakan
efektif, dan Indonesia tetap dalam ranking negara yang kumuh dan
terbelakang, karena hanya berteriak demokrasi, tapi yang dipraktikkan
adalah fasisme-feodal-otoritarian. 

Apa boleh buat, kalau rakyat Jerman saja bingung memilih pemimpin, kita
di Indonesia juga masih tetap bingung, karena sudah sering dikecewakan
juga oleh para pemimpin yang tadinya jadi idola kemudian ternyata toh
tidak berkinerja sesuai harapan. Tetapi, dalam demokrasi, manusia diberi
peluang memilih dengan voting. *







------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Click here to rescue a little child from a life of poverty.
http://us.click.yahoo.com/vWALvA/gYnLAA/EcBKAA/.1VolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

================================================
Sampai disini Tuhan menolong kita (1 Sam 7:12)
================================================ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/eben-net/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 




Kirim email ke