Author
: H.L. Cermat
Sumber : Riwayat Lagu
Pilihan dari Nyanyian Pujian, Jilid 1
® Lembaga Literatur Baptis
Syair :
Jerman, Josef Mohf, 1818; Silent Night, Holy Night, John
Freeman Young, 1863.
Lagu : STILLE NACHT, Franz Gruber,
1818.
Kita tentu akan merasa ada
sesuatu yang kurang kalau ada perayaan Natal
tanpa menyanyikan
"Malam Kudus," bukan?
Terjemahan-terjemahan lagu
Natal kesayangan itu sedikit berbeda satu
dari yang lainnya, namun
semuanya hampir serupa. Hal itu berlaku juga
dalam bahasa- bahasa
asing. Lagu itu begitu sederhana, sehingga tidak
perlu ada banyak selisih
pendapat atau perbedaan kata dalam
menterjemahkannya.
"Malam Kudus"
sungguh merupakan lagu pilihan, karena dinyanyikan dan
dikasihi di seluruh dunia.
Bahkan para musikus ternama rela
memasukkannya pada acara
konser dan piringan hitam mereka.
Anehnya, nyanyian yang
terkenal di seluruh dunia itu sesungguhnya
berasal dari sebuah desa
kecil di daerah pegunungan negeri Austria.
Inilah ceritanya....
*Orgel yang Rusak*
Orgel di gereja desa
Oberndorf sedang rusak. Tikus-tikus sudah mengunyah
banyak bagian dalam dari
orgel itu.
Seorang tukang orgel telah
dipanggil dari tempat lain. Tetapi menjelang
Hari Natal tahun 1818,
orgel itu masih belum selesai diperbaiki.
Sandiwara Natal terpaksa
dipindahkan dari gedung gereja, karena
bagian-bagian orgel yang
sedang dibetulkan itu masih berserakan di
lantai ruang kebaktian.
Tentu tidak ada seorang
pun yang mau kehilangan kesempatan melihat
sandiwara Natal. Pertunjukan itu akan dipentaskan oleh
beberapa pemain
kenamaan yang biasa
mengadakan tour keliling. Drama Natal sudah menjadi
tradisi di desa itu, sama
seperti di desa-desa lainnya di negeri Austria.
Untunglah, seorang pemilik
kapal yang kaya raya mempunyai rumah besar di
desa itu. la mengundang
para anggota gereja untuk menyaksikan sandiwara
Natal itu di rumahnya.
Tentu saja Josef Mohr,
pendeta pembantu dari gereja itu, diundang pula.
Pada malam tanggal 23
Desember, ia turut menyaksikan pertunjukan di
rumah orang kaya itu.
Sesudah drama Natal itu selesai, Pendeta Mohr tidak terus
pulang. la
mendaki sebuah bukit kecil
yang berdekatan. Dari puncaknya ia memandang
jauh ke bawah, dan melihat
desa di lembah yang disinari cahaya bintang
yang gemerlapan. Sungguh
malam itu indah sekali ... malam yang kudus ...
malam yang sunyi ....
*Hadiah Natal yang
Istimewa*
Pendeta Mohr baru sampai
ke rumah tengah malam. Tetapi ia belum juga
siap tidur. Ia menyalakan
lilin, lalu mulai menulis sebuah syair tentang
apa yang telah dilihatnya dan
dirasakannya pada malam itu.
Keesokan harinya pendeta
muda itu pergi ke rumah temannya. Franz Gruber,
yang juga masih muda,
adalah kepala sekolah di desa Arnsdorf, yang
terletak tiga kilometer
jauhnya dari Oberndorf. la pun merangkap
pemimpin musik di gereja
yang dilayani oleh Josef Mohr.
Pendeta Mohr lalu
memberikan sehelai kertas lipatan kepada kawannya.
"Inilah hadiah Natal untukmu," katanya, "sebuah
syair yang baru saja
saya karang tadi
malam."
"Terima kasih,
pendeta!" balas Franz Gruber.
Setelah mereka berdua diam
sejenak, lalu pendeta muda itu bertanya:
"Mungkin engkau dapat
membuat lagunya, ya?"
Franz Gruber senang atas
saran itu. Segera ia mulai bekerja dengan syair
hasil karya Josef Mohr.
Pada sore harinya, tukang
orgel itu sudah cukup membersihkan ruang
kebaktian sehingga gedung
gereja dapat dipakai lagi. Tetapi orgel itu
sendiri masih belum dapat
digunakan.
Penduduk desa berkumpul
untuk merayakan Malam Natal. Dengan keheranan
mereka menerima
pengumuman, bahwa termasuk pada acara malam itu ada
sebuah lagu Natal yang baru.
Franz Gruber sudah membuat
aransemen khusus dari lagu ciptaannya--untuk
dua suara, diiringi oleh
gitar dan koor. Mulailah dia memetik senar pada
gitar yang tergantung di
pundaknya dengan tali hijau. Lalu ia membawakan
suara bas, sedangkan Josef
Mohr menyanyikan suara tenor.
Paduan suara gereja
bergabung dengan duet itu pada saat-saat yang telah
ditentukan. Dan untuk
pertama kalinya lagu "Malam Kudus" diperdengarkan.
*Bagaimana Tersebar?*
Tukang orgel turut hadir
dalam kebaktian Malam Natal itu. Ia senang
sekali mendengarkan lagu Natal yang baru. Mulailah dia bersenandung,
mengingat not-not melodi
itu dan mengulang-ulangi kata-katanya.
"Malam Kudus"
masih tetap bergema dalam ingatannya pada saat ia selesai
memperbaiki orgel di
Oberndorf, lalu pulang.
Sekarang masuklah beberapa
tokoh baru dalam ceritanya, yaitu: Strasser
bersaudara. Keempat gadis
Strasser itu adalah anak-anak seorang pembuat
sarung tangan. Mereka
berbakat luar biasa di bidang musik.
Sewaktu masih kecil,
keempat gadis cilik itu suka menyanyi di pasar,
sedangkan ayah mereka
menjual sarung tangan buatannya. Banyak orang
mulai memperhatikan
mereka, dan bahkan memberi mereka uang alas nyanyiannya.
Demikian kecilnya
permulaan karier keempat gadis Strasser itu, hanya
sekedar menyanyi di pasar.
Tetapi mereka cepat menjadi tenar. Mereka
sempat berkeliling ke
banyak kota. Yang terutama mereka tonjolkan ialah
lagu-lagu rakyat dari
tanah air mereka, yakni dari daerah pegunungan
negeri Austria.
Tukang orgel tadi mampir
ke rumah keempat Strasser bersaudara. Kepada
mereka ia nyanyikan lagu Natal yang baru saja dipelajarinya dari kedua
penciptanya di gereja desa
itu.
Salah seorang penyanyi
wanita itu menuliskan kata-kata dan not-not yang
mereka dengarkan dari tukang
orgel teman mereka. Dengan berbuat demikian
mereka pun dapat
menghafalkannya.
Keempat wanita itu senang
menambahkan "Malam Kudus" pada acara mereka.
Makin lama makin banyak
orang yang mendengarnya, sehingga lagu Natal itu
mulai dibawa ke negeri-negeri
lain pula.
Pernah seorang pemimpin
konser terkenal mengundang keempat kakak-beradik
dari keluarga Strasser itu
untuk menghadiri konsernya. Sebagai atraksi
penutup acara yang tak
diumumkan sebelumnya, ia pun memanggil keempat
wanita itu untuk maju ke depan
dan menyanyi. Antara lain, mereka
menyanyikan "Malam
Kudus," yang oleh mereka diberi judul "Lagu dari Surga."
Raja dan ratu daerah
Saksen menghadiri konser itu. Mereka mengundang
rombongan penyanyi
Strasser itu untuk datang ke istana pada Malam Natal.
Tentu saja di sana pun mereka membawakan lagu "Malam
Kudus."
*Rahasia Asal Usulnya*
Lagu Natal yang indah itu
umumnya dikenal hanya sebagai "lagu rakyat"
saja. Tetapi sang raja
ingin tahu siapakah pengarangnya. Pemimpin musik
di istana, yaitu komponis besar
Felix Mendelssohn (lihatlah pasal 14
dari JILID 3 dalam seri
buku ini), juga tidak tahu tentang asal usul
lagu Natal itu.
Sang raja mengirim seorang
utusan khusus untuk menyelidiki rahasia itu.
Utusannya hampir saja
pulang dengan tangan kosong. Lalu secara kebetulan
ia mendengar seekor burung
piaraan yang sedang bersiul. Lagu siulannya
tak lain ialah "Malam
Kudus"!
Setelah utusan raja tahu
bahwa burung itu dulu dibawa oleh seseorang
dalam perjalanannya dari
daerah pegunungan Austria,
maka pergilah dia ke
sana serta menyelidiki lebih jauh. Mula-mula
ia menyangka bahwa
barangkali ia akan
menemukan lagu itu dalam naskah-naskah karangan
Johann Michael Haydn,
seorang komponis bangsa Austria yang terkenal.
(Lihatlah pasal 6 dari
JILID 3 dalam seri buku ini.) Tetapi sia-sia
semua penelitiannya.
Akan tetapi usaha utusan
raja itu telah menimbulkan rasa ingin tahu pada
penduduk setempat. Seorang
pemimpin koor anak-anak merasa bahwa salah
seorang muridnya mungkin
pernah melatih burung yang pandai mengidungkan
"Malam Kudus"
itu. Maka ia menyembunyikan diri sambil bersiul meniru
suara burung tersebut.
Segera muncullah seorang
anak laki-laki, mencari burung piaraannya yang
sudah lama lolos. Ternyata
anak itu bernama Felix Gruber. Dan lagu yang
sudah termasyhur itu, yang
dulu diajarkan kepada burung piaraannya,
ditulis asli oleh ayahnya
sendiri!
Demikianlah seorang bocah
dan seekor burung turut mengambil peranan
dalam menyatakan kepada
dunia luar, siapakah sebenarnya yang mengarang
"Lagu Natal dari Desa
di Gunung" itu.
*Tanda Pengenal Orang
Kristen*
Setelah satu abad lebih,
"Malam Kudus" sesungguhnya menjadi milik
bersama seluruh umat
manusia. Bahkan lagu Natal
itu pernah dipakai
secara luar biasa, untuk
menciptakan hubungan persahabatan antara
orang-orang Kristen dari
dua bangsa yang sangat berbeda bahasa dan latar
belakangnya.
Pada waktu Natal tahun 1943, seluruh daerah Lautan
Pasifika diliputi
oleh Perang Dunia Kedua.
Beberapa minggu setelah Hari Natal itu, sebuah
pesawat terbang Amerika
Serikat mengalami kerusakan yang hebat dalam
peperangan, sehingga jatuh
ke dalam samudra di dekat salah satu pulau
Indonesia.
Kelima orang awak kapal
itu, yang luka-luka semua, terapung-apung pada
pecahan-pecahan kapalnya
yang sudah tenggelam. Lalu nampak pada mereka
beberapa perahu yang makin
mendekat. Orang-orang yang asing bagi mereka
mendayung dengan cepatnya
dan menolong mereka masuk ke dalam
perahu-perahu itu.
Penerbang-penerbang bangsa
Amerika itu ragu-ragu dan curiga:
Apakah orang-orang ini
masih di bawah kuasa Jepang, musuh mereka? Apakah
orang-orang ini belum
beradab, dan hanya menarik mereka dari laut untuk
memperlakukan mereka
secara kejam?
Segala macam kekuatiran
terkilas pada pikiran mereka, karena mereka sama
sekali tak dapat berbicara
dalam bahasa para pendayung berkulit coklat
itu. Sebaliknya,
orang-orang tersebut sama sekali tak dapat berbicara
dalam bahasa Inggris.
Rupa-rupanya tiada jalan untuk mengetahui dengan
pasti, apakah tentara
angkatan udara itu telah jatuh ke dalam tangan
kawan atau lawan.
Akhirnya, sesudah semua
perahu itu mendarat di pantai, salah seorang
penduduk pulau itu mulai
menyanyikan "Malam Kudus." Kata-kata dalam
bahasa Indonesia itu masih
asing bagi para penerbang yang capai dan
curiga. Tetapi lagunya
segera mereka kenali. Dengan tersenyum tanda
perasaan lega, turutlah
mereka menyanyi dalam bahasa mereka sendiri.
Insaflah mereka sekarang
bahwa mereka sudah jatuh ke dalam tangan
orang-orang Kristen
sesamanya, yang akan melindungi dan merawat mereka.
*Lagu Duniawi dan Surgawi*
Bagaimana dengan sisa
hidup kedua orang yang mula-mula menciptakan lagu
"Malam Kudus"?
Josef Mohr hidup dari
tahun 1792 sampai tahun 1848. Franz Gruber hidup
dari tahun 1787 sampai
tahun 1863. Kedua orang itu terus melayani Tuhan
bertahun- tahun lamanya
dengan berbagai-bagai cara. Namun sejauh
pengetahuan orang, mereka
tidak pernah menulis apa-apa lagi yang luar
biasa. Nama-nama mereka
pasti sudah dilupakan oleh dunia
sekarang...kecuali satu
kejadian, yaitu: Pada masa muda mereka pernah
bekerja sama untuk
menghasilkan sebuah lagu pilihan.
Gereja kecil di desa
Oberndorf itu dilanda banjir pegunungan pada tahun
1899, sehingga hancur
luluh. Sebuah gedung gereja yang baru sudah
dibangun di sana. Di sebelah dalamnya ada pahatan dari
marmer dan
perunggu sebagai
peringatan lagu "Malam Kudus."
Pahatan itu menggambarkan
Pendeta Mohr, seakan-akan ia sedang bersandar
di jendela, melihat keluar
dari rumah Tuhan di surga. Tangannya ditaruh
di telinga. Ia tersenyum
sambil mendengar suara anak-anak di bumi yang
sedang menyanyikan lagu
Natal karangannya. Di belakangnya berdiri Franz
Gruber, yang juga
tersenyum sambil memetik gitarnya.
Sungguh tepat sekali
kiasan dalam pahatan itu! Seolah-olah seisi dunia,
juga seisi surga, turut
menyanyikan "Lagu Natal dari Desa di Gunung."
================================================
Sampai disini Tuhan menolong kita (1 Sam 7:12)
================================================
SPONSORED LINKS
YAHOO! GROUPS LINKS