-----Original Message-----
From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED]
On Behalf Of Henry Daniel H
Sent: 24 Mei 2006 15:25
To: Charles PR Joseph; Nelson Tampubolon; [EMAIL PROTECTED]
Subject: RE: [goodnews4BI] FW: Da Vinci Code
Syalom...........
Dear All....
Mohon izin urun rembug aza maaf kalau kurang tepat dan berkenan
Sharing aja .... saya meyakini dalam iman Kristen saya kepada Bapa
YESUS... sebagaimana tertulis dalam Alkitab ... Siapa Nabi yang tertulis
di kitab-2 apapun yang pernah ada di dunia ini ...berani mengatakan....
"AKULAH JALAN KEBENARAN DAN HIDUP BARANG SIAPA YANG tidak percaya kepada
KU tidak akan sampai kepada BAPAKU (ALLAH BAPA)" hanya BAPA YESUS
....artinya bahwa DIALAH TUHAN dan JURU SELAMAT....
Meskipun ada yang mepelesetkan tentang kebenaran Injil sebagaiman
film-2 atau cerita-2 yang ada menurut saya, itu semua seizin TUHAN ...
agar kita semakin, dengar-dengaran dan kita yang seiman (meyakini Bapa
Yesus) menjadi semakin Teguh ber-iman dan bersatu mengikatkan diri
didalam BAPA YESUS ....
Haleluyah ... Amin........
GBus...
SALAM DAMAI SEJAHTERA MENYERTAI KITA SEMUA .....
Hormat saya
Henry Daniel Hutagalung.
-----Original Message-----
From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED]
On Behalf Of Charles PR Joseph
Sent: Wednesday, May 24, 2006 2:11 PM
To: Nelson Tampubolon; [EMAIL PROTECTED]
Subject: RE: [goodnews4BI] FW: Da Vinci Code
Thanks pak Nelson untuk sharing ttg Davinci Code. Karena sudah lama saya
curious, kemarin saya nonton film fiksi tsb dan saya merasa geli karena
banyak manipulasi ttg "Historical Jesus" yg dipelesetkan dlm film fiksi
tsb.
Kalau kita jeli, di awal film itu tertulis pada text terjemahan bahwa
film ini adalah fiksi. So, "Fiction is not Historical Facts".
Juga banyak kalimat2 bahasa Inggris yg tidak diterjemahkan, karena
mungkin takut menyinggung perasaan umat Kristen di Indonesia. Bagian yg
tidak diterjemahkan tsb kebanyakan berupa pernyataan2 teologis.
Saya sih tidak merasa tersinggung atau terpancing oleh isi film tsb,
tapi bagi mereka yang tidak tahu sejarah gereja mula2, mungkin fiksi itu
bisa diterima sebagai kebenaran sejarah.
So, kita tidak perlu percaya akan isi novel akal2an si penulis novel Dan
Brown yg membelokkan kebenaran fakta sejarah gereja melalui penjualan
fiksi yg sudah diterjemahkan ke Bahasa Indonesia juga.
Bahkan yang lebih parah lagi adalah bahwa cerita dari novel Davinci Code
ini telah dijadikan reference bagi kuliah seorang ulama seberang yang
direkam dalam VCD berjudul "Yesus Poligami" yg dijual di depan Mesjid
Istiqlal dan juga dipamerkan di pameran buku2 agama seberang.
Kebetulan saya punya teman seberang yg sering berapologetik dg saya
membelikan VCD tsb di mesjid dan memberikan VCD itu kapada saya dan VCD
tsb banyak mengutip cerita dari Davinci Code bahwa Yesus menikah dengan
Maria Magdalena. Bahkan dalam kuliah di VCD tsb dikatakan bahwa kisah
pencucian kaki Yesus oleh Maria Magdalena yang ditulis di Perjanjian
Baru sebenarnya adalah upacara pernikahan Yesus dg Maria Magdalena
secara adat Yahudi. Suatu pelesetan yg luar biasa. `
Bualan seperti itu tidak perlu kita tanggapi karena fiksi tsb tidak
sesuai dengan fakta sejarah ditulisnya perjanjian baru pada abad pertama
(60-70 Masehi dimana umat Kristen mula2 telah mengimani Yesus sebagai
Tuhan dan Mesias umat manusia. Kita tidak perlu terpancing oleh fiksi.
Demikian komentar saya.
GBU
Charles
-----Original Message-----
From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED]
On Behalf Of Nelson Tampubolon
Sent: Wednesday, May 24, 2006 9:42 AM
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: [goodnews4BI] FW: Da Vinci Code
Rekan-rekan umat Kristiani yang berbahagia,
Saya yakin kita semua sdh banyak membaca ulasan ttg buku dan film The Da
Vinci Code. Buku dan film yang pastinya hanya fiksi belaka, namun penuh
dengan fitnah dan pemutar balikan fakta, yang sangat bertentangan dengan
keimanan kita. Namun bisa saja seseorang yang sudah membaca atau melihat
film itu terpengaruh dan tergoncang iman kekristenannya. Kita semua
sama-sama berdoa dan memohon kepada Tuhan Yang Maha Penyayang supaya hal
tersebut tidak sampai terjadi. Kebetulan saya menerima kiriman dari
seorang teman yang mengulas secara ringkas namun cukup berbobot tentang
buku/film tsb. Mudah-mudahan dapat membantu kita masing-masing untuk
menjelaskan kepada rekan-rekan kita, anak-anak kita yang mungkin sudah
membaca atau nonton Da Vinci Code tsb dengan lebih mudah. Sekecil apapun
sumbangan tulisan dibawah ini dalam membangun keteguhan iman kita, saya
yakin sangat bermanfaat untuk kita baca dan fahami. Tuhan memberkati
Syalom,
Nelson Tampubolon
Dear all,
Film "The Da Vinci Code" yang dibintangani oleh aktor Tom HankS akan
diputar serentak di seluruh dunia, termasuk Indonesia, pada 19 Mei 2006.
Novel "The Da Vinci Code", yang mendasari film itu, sangat menghujat
iman Kristen dan dapat menggoyahkan iman bila tidak dicermati dengan
kritis.
Berikut saya sampaikan ulasan **Pdt Dr Bambang Wijaya**, Ketua Umum
Persekutuan Injili Indonesia (yang juga dicetak dalam buku tipis).
**/Semoga anda dapat membantu menyebarkan (dicetak lalu di-photo
copy/***/ **atau lewat internet) di lingkungan gereja/persekutuan/rekan
seiman anda** **demi meredam dampak buruk film tersebut**/*.
Blessings,
Kristanto Hartadi (FISIP angkatan 1983)
---------------
Mengungkap "The Da Vinci Code"
Oleh Pdt Dr Ir Bambang Wijaya/
Ketua Umum Persekutuan Injili Indonesia
THE Da Vinci Code adalah salah satu novel terlaris dekade ini, sejak
diterbitkan pada 2003, di seluruh dunia buku ini telah terjual lebih
dari 40 juta copy!
Bila jumlah tersebut didistribusikan di seluruh Indonesia, sama dengan
setiap rumah tangga memiliki sebuah buku tersebut.
Buku ini tentu dapat berdampak pada pola pikir masyarakat. Dampak yang
diharapkan secara jelas dituliskan pada sampul depan edisi bahasa
Indonesianya, yaitu "memukau nalar, mengguncang iman!"
Dampak yang dalam edisi bahasa Inggris tidak dicantumkan ini, dapat
semakin besar dengan tayangan versi layar lebarnya, melalui film yang
dibintangi Tom Hanks, aktor Hollywood yang sangat terkenal, dan
diluncurkan serempak di seluruh dunia pada 19 Mei 2006 ini.
Hujatan terhadap Iman Kristiani
Buku ini memang diharapkan untuk mengguncang iman karena novel ini,
edisi bahasa Indonesianya setebal 624 halaman, terang-terangan menghujat
pokok-pokok iman Kristiani.
Berikut adalah hujatan tersebut yang merupakan pandangan si penulis:
1. Yesus bukanlah Tuhan, melainkan manusia biasa.
Kaisar Konstantin dari kerajaan Romawilah yang menjadikan Yesus sebagai
Tuhan, melalui konsili Nicea pada tahun 325 demi kepentingan politiknya.
2. Kitab Perjanjian Baru yang digunakan oleh orang Kristen saat ini
adalah himpunan dari kitab-kitab yang disusun oleh Kaisar Konstantin
melalui konsili Nicea.
Sedangkan kitab-kitab suci yang benar, yaitu yang digunakan oleh para
pengikut Yesus yang asli, justru dibakar berdasarkan putusan konsili
tersebut sebab berisikan "kebenaran" yang sesungguhnya, yaitu bahwa
Yesus adalah seorang manusia biasa dan bukan Tuhan.
3. Yesus menikah dengan Maria Magdalena dan memiliki seorang putri.
Maria terpaksa harus mengungsi ke Prancis, berlindung di antara
masyarakat Yahudi dan melahirkan anaknya di sana. Hal ini antara lain
dikarenakan rasul Petrus merasa cemburu sebab Maria Magdalena, sebagai
seorang perempuan, telah dipilih oleh Yesus untuk menjadi kepala gereja.
Untuk mengemukakan hujatannya tersebut sang penulis dengan sangat licin
telah memadukan:
1. Cerita-cerita khayalan, fiksi
2. Fakta-fakta sejarah
3. Data yang tidak akurat dan tafsiran yang melenceng terhadap beberapa
fakta sejarah 4. Keyakinan teologisnya yang bersifat anti Kristen
Karena keempat hal tersebut dijalin rapi di dalam sebuah tulisan yang
rancak dan dengan setting cerita thriller yang menarik, menegangkan
serta penuh kejutan, maka dengan mudah orang terhanyut dalam alur cerita
tanpa dapat membedakan fakta dan fiksi.
Akibatnya bagi yang tidak paham sejarah gereja dengan mudah akan
terperangkap kedalam jerat keyakinan teologis sang penulis. Bahkan,
orang dapat terbawa kepada ajaran sang penulis yang merupakan ajaran
kafir, seperti memandang hubungan seks bebas sebagai sarana untuk
berhubungan dengan Tuhan.
Ringkasan Plot Cerita
Buku ini diawali dengan pembunuhan terhadap Jacques Sauniere, kurator
Museum Louvre, di Paris, oleh Silas seorang biarawan berkulit albino,
demi mendapat rahasia batu kunci Priory of Sion, karena di situ termuat
informasi tentang letak Cawan Kudus (Holy Grail), yaitu cawan yang
digunakan oleh Yesus dalam perjamuan kudus terakhir bersama para
murid-Nya.
Sebelum meninggal Jacques Sauniere sempat memberi petunjuk sandi yang
mengakibatkan Robert Landon, ahli ilmu simbol dari Universitas Harvard,
ikut terlibat dalam kasus ini. Robert Landon lalu bekerjasama dengan
Sophie Neveu, ahli ilmu sandi pemerintah Prancis, yang juga cucu
perempuan Jacques Sauniere. Dalam upaya ini, keduanya terus diburu oleh
Kapten Bezu Fache, anggota reserse kriminal Prancis, dan Silas. Kapten
Bezu ingin mengungkap kasus pembunuhan, sedangkan Silas ditugasi
pemimpin Opus Dei, sebuah organisasi rahasia Gereja Katolik, demi
menyelamatkan Gereja Katolik.
Di tengah cerita, Robert Landon dan Sophie Neveu berjumpa Sir Leigh
Teabing, ilmuwan yang mendalami rahasia Cawan Kudus. Teabing memaparkan
berbagai "rahasia gereja", di antaranya: Yesus hanyalah manusia biasa
yang menikah dengan Maria Magdalena. Sehingga demi kepentingan
politiknya Kaisar Romawi Konstantin menetapkan Yesus sebagai Tuhan
melalui sebuah konsili (sidang gereja) di kota Nicea pada tahun 325.
Dalam konsili tersebut diputuskan semua "kitab suci yang benar", yang
menyatakan Yesus manusia biasa, dilarang dan dibakar. Sedangkan para
"pengikut Yesus yang asli", yaitu mereka yang tak mempercayai ketuhanan
Yesus ditetapkan sebagai kaum bidat, dan harus dimusnahkan.
Lebih jauh Teabing menjelaskan Leonardo da Vinci, yang adalah anggota
serikat rahasia Priory of Sion, mengetahui rahasia pernikahan Yesus
dengan Maria Magdalena, sehingga tugas serikat ini menjaga rahasia itu.
Namun Leonardo da Vinci membocorkannya melalui lukisannya yang sangat
terkenal, The Last Supper (Perjamuan Malam yang Terakhir) yang
melukiskan suasana perjamuan Paskah sebelum Yesus ditangkap. Lukisan
tersebut menyembunyikan beberapa kode yang menunjukkan Maria Magdalena
adalah istri Yesus.
Kode-kode tersebut diantaranya: tidak adanya gambar Cawan Suci pada
lukisan tersebut. Orang yang duduk di sebelah kanan Yesus, sesungguhnya
adalah gambar Maria Magdalena, bukan rasul Yohanes. Posisi tubuh Yesus
dengan Maria Magdalena di dalam lukisan tersebut membentuk huruf V,
supaya orang yang mencari-cari gambar Cawan Suci akan menangkap kode
huruf V ini, mendapati sesungguhnya Maria Magdalenalah Sang Cawan Suci
yang mereka cari.
Huruf V merupakan simbol dari cawan yang juga simbol seorang perempuan,
dan Leonardo memakai Cawan Suci sebagai kode untuk memberitahukan Yesus
menikah dengan orang yang duduk di sebelah kanan-Nya, yaitu Maria
Magdalena. Lukisan itu juga ingin memberitahukan betapa bencinya rasul
Petrus kepada Maria Magdalena, sebab Maria telah dipercaya Yesus untuk
memimpin gereja. Di situ dilukiskan wajah Petrus penuh amarah dengan
jari telunjuknya diarahkan ke leher Maria Magdalena.
Teabing juga menjelaskan Gereja Katolik telah berkonspirasi menutupi
fakta Yesus hanya manusia biasa, dan Vatikan mengetahui kebohongan
ajaran kalau Yesus adalah Tuhan. Rahasia ini dijaga demi mempertahankan
kekuasaan gereja.
Kejutan di akhir cerita, terungkap bahwa ternyata Teabing-lah tokoh
kunci dalang pencarian batu kunci Priory of Sion, dan bahwa Sophie Neveu
adalah keturunan Maria Magdalena dari perkawinannya dengan Yesus.
Fakta dan Fiksi
Seperti yang saya kemukakan di atas, Dan Brown, menulis novelnya dengan
sangat licin. Dia menjalin beberapa fakta dan fiksi, atau kisah khayal,
sehingga orang awam yang tak paham sejarah gereja sulit membedakannya.
Akibatnya pembaca buku tersebut dapat menganggap bagian-bagian fiksi
sebagai fakta.
Pelbagai fakta yang disisipkan oleh Dan Brown dalam novel fiksi ini
antara lain:
1. Detil ruangan Museum Louvre, tempat kisah ini dimulai, dan detil
dari kapel Rosslyn di Skotlandia, yang dikisahkan sebagai tempat
disimpannya cawan suci.
2. Penyelenggaraan Konsili Nicea atas permintaan Kaisar Konstantin,
yang juga menetapkan bahwa para pengikut Arius yang tak mempercayai
keilahian Yesus sebagai bidat.
3. Kedangkalan kekristenan Kaisar Konstantin, sehingga misalkan ia
hanya mau dibaptis menjelang saat ajalnya, dan diserapnya beberapa
praktik agama kafir ke dalam kehidupan gereja khususnya sejak Kaisar
Konstantin mengeluarkan edik toleransi pada tahun 313.
Edik toleransi ini memang pada satu sisi bersifat positif bagi orang
Kristen karena penganiayaan terhadap mereka dihentikan, namun di sisi
lain bersisi negatif sebab telah mengakibatkan gereja mengalami
kemerosotan spiritual sehingga terjerumus ke dalam abad-abad kegelapan.
4. Sebagian dari detil lukisan The Last Supper, karya Leonardo Da
Vinci yang terdapat pada dinding gereja Santa Maria delle Grazie di kota
Milan, Italia.
5. Serikat Piory of Sion dan Opus Dei yang memang ada dalam lingkup
Gereja Katolik. Hanya saja lembaga-lembaga tersebut didirikan bukan
untuk melakukan kegiatan rahasia seperti yang ditulis Dan Brown.
Di luar fakta tersebut bagian yang lain dari buku tersebut hanyalah
fiksi, khayalan Dan Brown. Data yang dikemukakannya tidak akurat,
tafsirannya melenceng dari fakta sesungguhnya. Namun karena gaya
penyajiannya sangat meyakinkan, maka pembaca yang tidak menggunakan
nalarnya secara kritis akan menganggap itu semua fakta yang benar.
Pembaca seperti ini akan mudah terperangkap dalam alur pikir Sophie,
tokoh dalam novel ini, saat ia terpengaruh oleh ceramah Leigh Teabing,
yang sesungguhnya adalah indoktrinasi dari Dan Brown.
Sebaliknya apabila ketidakakuratan dan tafsir yang melenceng tersebut
diungkap, dan pada saat yang sama ditunnjukkan bagian fiksi novel
tersebut, maka dengan mudah pembaca yang berpikiran jernih dan obyektif
dapat menangkap kelicinan dan kesalahan pandangan Dan Brown, dan
sekaligus akan melihat kebenaran pokok iman Kristiani.
Kebenaran Konsili Nicea?
Jauh sebelum Konsili Nicea, yang digelar pada tahun 325, gereja pada
zaman para rasul atau gereja mula-mula telah mengajarkan bahwa Yesus
adalah Tuhan, dan ini selaras dengan ajaran Yesus Kristus tentang
diri-Nya kepada para murid-Nya (lihat Injil Matius 16:13-20).
Beberapa bukti keyakinan gereja mula-mula ini dapat dilihat antara lain
di dalam kitab Didache (ditulis sebelum tahun 100), yang pada intinya
mengajarkan tentang praktika ibadah Kristiani dan dengan jelas
menuliskan pokok iman Kristiani: Yesus adalah Tuhan.
Contoh yang lain adalah tulisan-tulisan Yustinus Martir, bapa gereja dan
apologet terkemuka pada awal abad kedua, yang dua abad sebelum Konsili
Nicea telah menegaskan keilahian Yesus Kristus.
Bukti lain adalah ajaran Uskup Irenaeus, dari Lungdunum, tokoh yang
sangat terpandang pada awal abad kedua, yang mengacu kepada tulisan
dalam 1Korintus 8:6, yang berbunyi: "Namun bagi kita hanya ada satu
Allah saja, yaitu Bapa, yang daripada-Nya berasal segala sesuatu dan
yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus."
Dengan kata lain, ajaran Yesus adalah Tuhan sama sekali bukanlah ide
Kaisar Konstantin yang dalam agenda politiknya bermaksud menyatukan kaum
kafir dengan pemeluk agama Kristen di negara Romawi, dengan mencampurkan
ajaran kafir dan Kristen melalui Konsili Nicea.
Diakui dalam Konsili Nicea dirumuskan syahadat atau pengakuan iman
Kristiani, namun isi pengakuan iman tersebut bukanlah pemasukan ajaran
baru yang bersumber dari ajaran kafir ke dalam ajaran Kristiani. Kredo
yang dirumuskan itu merupakan penegasan inti jaran Kristiani yang sudah
ada tiga abad sebelumnya.
Penegasan ini dinilai perlu karena pada masa itu muncul ajaran baru yang
dikembangkan oleh Arius, seorang teolog dari Aleksandria, Mesir, yang
menyangkali keilahian Yesus.
Dan Brown melalui mulut tokoh yang ia ciptakan, Teabing, berkata bahwa
di dalam Konsili Nicea telah diadakan pemungutan suara, untuk menentukan
apakah Yesus adalah Tuhan atau manusia. Ia mengatakan bahwa voting
tersebut menghasilkan suara yang hampir seimbang di antara pendukung dan
penentang ajaran Yesus sebagai Tuhan. Dalam realita sejarah, saat
dilakukan pemungutan suara, dari tiga ratus uskup yang hadir pada
konsili tersebut hanya dua orang saja yang menentang rumusan Pengakuan
Iman Nicea. Jadi sungguh jauh dari yang disebut oleh Dan Brown sebagai
suara hampir seimbang! Padahal sebagian besar dari para uskup yang hadir
berasal dari wilayah Timur, tempat Arius menyebarkan ajarannya.
Konstantin Penyusun Perjanjian Baru?
Dan Brown sangat benar saat ia menulis bahwa "Alkitab tidak datang
dengan cara difaks dari surga." Sebab kekristenan tidak mengajarkan
bahwa setiap kata dan kalimat di dalam Alkitab didikte dari surga kepada
para penulisnya. Tetapi Dan Brown sangat keliru saat mengatakan
Konstantin-lah penyusun dan yang memilih kitab Injil mana yang boleh
dimasukkan ke dalam Perjanjian Baru melalui Konsili Nicea. Menurut
Brown, Konstantin telah memilih kitab-kitab yang membuat Yesus seakan
adalah Tuhan, sedangkan semua kitab Injil yang berbicara tentang segala
perilaku manusiawi Yesus dikumpulkan lalu dibakar.
Dan Brown keliru, karena ia menyembunyikan fakta sejarah bahwa
sesungguhnya daftar yang baku, atau kanon, dari kitab-kitab Perjanjian
Baru sudah tersusun dua abad sebelum Konsili Nicea. Salah satu kanon
yang paling terkenal adalah kanon Muratorian yang disusun pada tahun
190. Disitu dicantumkan dua puluh sembilan kitab dan surat Perjanjian
Baru, dua puluh tujuh kitab di antaranya sama persis dengan kanon Kitab
Perjanjian Baru yang ada saat ini, dengan dua tambahan yaitu kitab Wahyu
kepada Petrus dan kitab Hikmat Salomo.
Pada masa berikutnya para bapa gereja mengeluarkan kedua kitab tersebut
dari kanon Perjanjian Baru karena dipandang isinya tak setara dengan
kitab-kitab kanonik. Kanon lain adalah tulisan Irenaeus pada awal abad
kedua, yang mendaftarkan keempat Injil dalam Perjanjian Baru yang ada
sekarang sebagai kitab suci.
Jadi, dalam Konsili Nicea tidak disusun kanon Perjanjian Baru, tetapi
diperdebatkan keabsahan dari beberapa kitab yang ada di dalam kanon
Perjanjian Baru, khususnya kitab Ibrani dan Wahyu. Alasan perdebatan
tersebut karena pada kedua kitab tersebut tidak dicantumkan nama sang
penulis secara eksplisit seperti pada kitab-kitab Perjanjian Baru
lainnya. Bagi para pemimpin gereja di abad mula-mula kejelasan nama
penulis kitab atau surat sangat menentukan demi memastikan kekokohan
dari kanon. Lebih lanjut Dan Brown mengatakan kumpulan kitab-kitab Injil
yang sejati yang dicoba dimusnahkan oleh Kaisar Konstantin ada yang
berhasil diselamatkan. Kumpulan tersebut ditemukan kembali di Gua Qumran
dekat Laut Mati pada tahun 1950-an, yaitu Dead Sea Scrolls, dan gulungan
kitab di Nag Hammadi pada tahun 1945. Memang benar di kedua tempat itu
ditemukan gulungan-gulungan kitab tersebut, namun gulungan-gulungan
tersebut bukan kitab Injil yang sejati!
Dead Sea Scrolls sama sekali tidak berisi sepotong pun kitab yang
disebut sebagai Injil, sebaliknya berisi fragmen-fragmen dari
kitab-kitab Perjanjian Lama yang isinya sangat persis dengan kitab
Perjanjian Lama saat ini. Sehingga ia justru membuktikan keakuratan isi
kitab Perjanjian Lama dalam Alkitab. Dalam Dead Sea Scrolls juga
ditemukan catatan tentang aturan kehidupan kaum petapa Essenes, suatu
kelompok agama Yahudi sebelum masa agama Kristen.
Sedangkan isi kitab-kitab di dalam gulungan Nag Hammadi sangat jauh
untuk dapat dikatakan sebagai Injil yang sejati. Kitab-kitab tersebut
disebut sebagai kitab Gnostik, yakni aliran kebatinan yang mulai muncul
di gereja sejak awal abad kedua. Kitab-kitab dalam gulungan Nag Hammadi
tersebut ditulis oleh pengikut aliran ini pada akhir abad kedua sampai
dengan abad kelima, bukan pada zaman para rasul! Kitab-kitab tersebut
berisi dongeng dan mitos khas kaum Gnostik, mutu etikanya kelewat rendah
dan sangat bertentangan dengan doktrin Perjanjian Lama tentang pribadi
Allah sebagai Pencipta Langit dan Bumi, sehingga oleh gereja mula-mula
pun sama sekali tidak
dipandang sebagai kitab yang suci.
Yesus Menikah?
Kesimpulan Dan Brown ini tanpa bukti ilmiah, sebab tak satu pun naskah
pada zaman para rasul dan bapa-bapa gereja yang mencatat bahwa Yesus
menikah. Namun, untuk mendukung pernyataannya Dan Brown menggunakan tiga
"bukti." Namun bila diteliti tiga "bukti" itu dengan mudah terlihat
sebagai kesimpulan yang gegabah.
"Bukti" pertamanya adalah lukisan The Last Supper karya Leonardo Da
Vinci. Tanpa dasar jelas ia mengatakan gambar orang berwajah halus, yang
mirip wanita, duduk di sebelah kanan Yesus di dalam lukisan tersebut
adalah Maria Magdalena! Untuk membuktikan pendapatnya bahwa Yesus
menikahi "Maria Magdalena" tersebut, Dan Brown menggunakan metode
otak-atik gathuk, istilah bahasa Jawa yang berarti "diotak-atik supaya
jadi cocok." Dia mengotak-atik detil di dalam lukisan tersebut
sedemikian rupa supaya mendukung pernyataannya. Hanya saja ia tidak
menyebutkan suatu fakta dalam dunia seni bahwa para pelukis abad
pertengahan, yaitu zamannya Leonardo Da Vinci, seorang pria belia sering
dilukis dengan wajah feminim. Hal yang sama dilakukan Leonardo Da Vinci
saat melukiskan wajah Yohanes, murid
Yesus Kristus yang termuda, dalam lukisan The Last Supper di atas.
"Bukti" kedua yang ia gunakan adalah pendapatnya bahwa dalam kepantasan
sosial pada zaman Yesus Kristus, bahwa seorang lelaki Yahudi terlarang
untuk tidak menikah. Menurut Brown, dalam adat Yahudi tidak menikah
adalah hal terkutuk. Jelas pernyataan ini tidak berdasar, sebab
merupakan fakta sejarah ada banyak pria Yahudi pada zaman itu yang
menjadi nazir, yang karena alasan keyakinan keagamaan ada di antara
mereka yang tidak menikah. Sebagai contoh adalah kaum Essenes yang
menyimpan gulungan kitab Dead Sea Scrolls di atas. Di samping itu
merupakan suatu fakta pula bahwa orang Yahudi sangat menghormati
tokoh-tokoh di dalam Perjanjian Lama yang tidak menikah, seperti nabi
Daniel, yang adalah seorang sida-sida Yahudi di negara Babilonia.
"Bukti" ketiga yang ia gunakan adalah Injil Philip yang menyebutkan
bahwa Yesus mencintai Maria Magdalena lebih dari pada seluruh murid-Nya
dan Yesus sering mencium Maria. Patut diketahui bahwa yang disebut
sebagai Injil Philip sesungguhnya sama sekali bukan kitab Injil,
melainkan sebuah kitab Gnostik yang ditulis sekitar pada abad ketiga.
Kitab ini disebut sebagai Injil Philip bukan karena ia ditulis oleh
Rasul Filipus, tetapi karena di dalam kitab Gnostik tersebut tidak
disinggung nama rasul-rasul Tuhan Yesus yang lain, kecuali hanya nama
Rasul Filipus. Dan Brown juga tidak menyebutkan bahwa Injil Philip yang
ditemukan dalam gulungan Nag Hammadi tersebut tidak ditulis di dalam
bahasa Yunani ataupun berlatar belakang bahasa Yunani sebagaimana
layaknya kitab-kitab Perjanjian Baru, namun di dalam bahasa Koptik,
yaitu bahasa Mesir dan dengan latar belakang bahasa Siria!
Kesimpulan
Sejak gereja berdiri dua ribu tahun yang lampau serangan terhadap
pokok-pokok iman Kristiani tidak pernah berhenti. Serangan tersebut
berasal dari kelompok bidat di dalam gereja sendiri, maupun dari
orang-orang yang tidak mempercayai Yesus Kristus adalah Tuhan dan Juru
Selamat manusia.Jadi, hujatan dalam buku The Da Vinci Code bukan hal
baru. Hanya saja kali ini hujatan ini menjadi meluas karena ditunjang
dengan sistem promosi dan pemasaran yang sangat canggih, yang
mendatangkan keuntungan finansial luar biasa bagi pihak penulis dan
penerbit buku ini. Di samping itu juga karena di wilayah-wilayah
tertentu di dunia buku ini dipopulerkan oleh pribadi-pribadi yang tidak
menginginkan terbangunnya kerukunan umat beragama di tengah masyarakat.
Mengapa orang Kristen tidak menanggapi hujatan di dalam buku The Da
Vinci Code dengan amarah yang membabi-buta dan berbuat keonaran? Hal ini
bukan karena mayoritas orang Kristen yang terdidik mengetahui bahwa
Yesus memang seorang manusia yang karena manuver politik Konstantin
telah dijadikan Tuhan, sehingga tidak mampu menjawab hujatan tersebut
(seperti dikatakan Dan Brown di dalam bukunya). Justru sebaliknya, orang
Kristen yang berpikir obyektif, kritis dan memahami metoda ilmiah yang
masuk nalar serta mengetahui sejarah iman mereka, akan dapat melihat
hujatan di dalam novel The Da Vinci Code tersebut bersifat fitnah
murahan.
Di samping itu orang Kristen menghayati firman Tuhan bahwa "Janganlah
membalas kejahatan dengan kejahatan; lakukanlah apa yang baik bagi semua
orang!
Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam
perdamaian dengan semua orang!" (Roma 12:17-18). Perilaku kasih ini
bukanlah tanda kelemahan, justru sebaliknya kemampuan untuk
mengendalikan emosi secara dewasa merupakan bukti dari buah Roh (Galatia
5:22) di dalam kehidupan orang yang hidup di dalam anugerah Tuhan.
Di sisi yang lain, buku-buku seperti The Da Vinci Code harus membuat
orang Kristen lebih giat lagi membaca dan mempelajari Alkitab, memahami
pokok-pokok ajaran iman yang sehat, dan sejarah gereja dengan baik.
Dengan demikian mereka akan dapat "menjadi seorang pelayan Kristus Yesus
yang baik, terdidik dalam soal-soal pokok iman dan dalam ajaran sehat
yang telah mereka ikuti selama ini." (1Timotius 4:6), serta mampu
menjawab setiap hujatan tersebut sesuai dengan nasihat firman Tuhan:
"Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab
kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu
tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut
dan hormat, dan dengan hati nurani yang murni, supaya mereka, yang
memfitnah kamu karena hidupmu yang saleh dalam Kristus, menjadi malu
karena fitnahan mereka itu." (1Petrus 3:15-16). ***
-------------------------------
*/''A Psalm of David.'' The LORD is my shepherd; I shall not want. He
maketh me to lie down in green pastures: he leadeth me beside the still
waters.
He restoreth my soul: he leadeth me in the paths of righteousness for
his name's sake.
Yea, though I walk through the valley of the shadow of death, I will
fear no evil: for thou art with me; thy rod and thy staff they comfort
me.
Thou preparest a table before me in the presence of mine enemies: thou
anointest my head with oil; my cup runneth over.
Surely goodness and mercy shall follow me all the days of my life: and I
will dwell in the house of the LORD for ever
/*-------------------------------
Yahoo! Groups Links
Yahoo! Groups Links
Yahoo! Groups Links
================================================
Sampai disini Tuhan menolong kita (1 Sam 7:12)
================================================
SPONSORED LINKS
| Gpib | Gpib card | Gpib interface |
| Religion | Gpib board | Christianity |
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "eben-net" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
