Setelah membaca Novel Dan Brown dan nonton
film Da Vinci Code, saya bersyukur kini telah terbit buku “CRACKING DA
VINCI’S CODE’ by James. L. Garlow and Peter Jones (dua teolog ahli
Perjanjian Baru), One quarter million in Print, yang telah diterjemahkan dalam
bahasa Indonesia dan dapat dibeli di Gramedia dg harga Rp42,000. Buku ini mematahkan teori-teori spekulaif dalam Da Vinci
Code.
From:
[EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of arief tjahjono
Sent: Wednesday, May
31, 2006 9:55 AM
To: albertus sudibyo; alexander
tjandana; Anna Satria; bambang setijoprodjo; bank bisnis pusat; Butet Linda HP;
C. Heru Budiargo; conny; Daryo; David Ch Maitimu; deeny uli rosa; dirawati
visa; Dohar Siburian; engelin sambow; [EMAIL PROTECTED]; Fransisca Oey;
Gregorius Sudarmadi; Kinza Marlissa; kristiani bank indonesia; lasma siregar
Pdt; lukito hasta; lydia australia; lyndon BM; maureen hahijary; Palar
Batubara; paul ateng; peter mahmud; Petra Group; Pramanaya Prema; prasetyo
citra gran; Rany Tarigan; rehavam reza; rini soro; rodion wikanto; ronald
hutapea; Sudradjad Djiwandono; timbul sihombing; Truly Hutapea; widodo
budidarmo; wiwiek sunarpertiwi; Yonatan Hermanto
Subject: [goodnews4BI] Fwd: Dusta
Da Vinci Code
Engelin Sambow
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Dusta Da Vinci Code
Oleh: Rm. Yohanes Indrakusuma, O. Carm
Buku The Da Vinci Code ternyata telah tersebar luas pula di Indonesia dan
menimbulkan banyak pertanyaan diantara umat dan bahkan membingungkan. Karangan
ini berusaha memberikan pernilaian kritis terhadap buku tersebut.
Karangan ini juga kami terbitkan dalam bentuk sebuah buku kecil yang berjudul:
Kebohongan Da Vinci Code dengan isi yang lebih mendetail sedikit.
1. Pertanyaan
dan isi buku The Da Vinci Code.
Pada musim semi 2003 penerbit
Doubleday mengeluarkan sebuah buku berbentuk novel yang berjudul: The Da Vinci
Code, karangan Dan Brown. Didukung oleh suatu pengiklanan yang hebat, dalam
waktu satu tahun lebih sedikit, buku itu telah menjadi bestseller yang hebat
dan telah terjual hampir 6 juta eksemplar. Mengapa? Buku itu mengandung
unsur-unsur yang menarik bagi banyak pembaca: ketegangan, rahasia, teka-teki,
roman dan suatu sugesti bahwa dunia ini tidak seperti yang tampak sekarang ini
dan bahwa dibalik sana ada kebenaran yang
berusaha ditutup-tutupi oleh kekuasaan Gereja yang ada sekarang ini. Banyak
orang Katolik juga ikut digoyahkan imannya karena membaca buku tersebut, yang
sepintas lalu memberi kesan ilmiah, tetapi yang sesungguhnya berisi kebohongan
belaka.
Novel itu dimulai ketika
Robert Langdon, seorang profesor dari Harvard, Inggris, ahli symbologi religius
(religious symbologi,
bidang ini dalam kenyataannya tidak ada) yang sedang berkunjung ke Paris, dipanggil
untuk menyaksikan suatu kejahatan yang terjadi di museum Louvre, Paris. Jacques
Sauniere, yang dikenal sebagai seorang ahli tentang dewi-dewi dan
"feminitas sakral", tergeletak mati terbunuh disalah satu bagian
museum itu. Sebelum meninggal Sauniere masih sempat menuliskan
petunjuk-petunjuk tentang rahasia bilangan, anagram dan pentagram, yang
dilukiskan pada tubuhnya sendiri dengan darahnya. Pada waktu itu pula Sophie
Neveu, seorang "criptologist" yang juga merupakan cucu Sauniere,
didatangkan ketempat kejadian. Sophie berhasil menafsirkan tanda-tanda yang
ditinggalkan oleh kakeknya kemudian berbincang-bincang dengan Langdon tentang
pemujaan dewi-dewi, serta menemukan sebuah "kunci penting" yang
ditinggalkannya.
Selanjutnya novel itu
membawa pembaca kepelbagai tempat di Eropa bersama dengan Langdon dan Sophie
untuk mencari jawaban yang sesungguhnya hanya sederhana saja: Sauniere adalah
Grand Master dari suatu kelompok rahasia yang disebut "Priory of
Sion" (Persekutuan Sion) yang dibaktikan untuk membela kebenaran tentang
Yesus, Maria Magdalena, dan karenanya seluruh umat manusia. (Tentu saja
kebenaran menurut Brown, kebenaran yang tidak benar, sebab mengandung banyak
dusta).
Dalam buku itu
diceritakan bahwa pada mulanya umat manusia, selama beberapa milenia,
menghayati suatu spiritualitas yang memiliki keseimbangan antara yang maskulin
dan feminin, yaitu orang menghormati para dewi dan kuasa wanita. Inilah yang
menjadi pesan Yesus. Untuk itu Ia mengambil Maria Magdalena sebagai istri serta
mempercayakan kepadanya kepemimpinan gerakannya itu, demikian Brown menulis.
Maria Magdalena sedang mengandung anak mereka ketika Yesus disalibkan. Menurut
Brown Yesus bukan Allah, tetapi manusia biasa saja.
Dipihak lain ada Petrus,
karena iri hati terhadap peranan Maria Magdalena, mengumpulkan kelompok lain
yang berada disekitar
Yesus dengan tujuan untuk menghambat dan mengganti ajaran Yesus yang sejati
dengan ajarannya sendiri, memalsukan Injil Yesus, sehingga Injil seperti yang
kita kenal itu adalah rekaan Petrus dan kelompoknya, mendongkel Maria Magdalena
dan menjadikan dirinya sendiri sebagai pemimpin kelompok itu, tentu saja
menurut versi Brown.
2. Penilaian kritis
terhadap Da Vinci Code.
Walaupun Da Vinci Code
tampaknya ilmiah, namun kenyataannya suka "ngawur" dan mengandung
banyak kebohongan. Apa yang dilakukan Brown dalam buku itu ialah menggabungkan
beberapa aliran pemikiran, dongeng-dongeng esoterik, serta sejarah gadungan
yang dipublikasikan oleh buku-buku lain. Brown memberikan beberapa bibliografi
dalam websidenya dan mengutip beberapa judul dalam novel itu sendiri. Akan
tetapi semua sumber itu bukan sumber yang "bonafide".
Sumber-sumbernya dapat digolongkan dalam 3 klompok.
2.1. Darah Kudus,
Grail Kudus dan garis keturunan
Buku ini yang ditulis
oleh Michael Baignent, Richard Leigh dan Henry Lincoln, diterbitkan tahun 1981
dan menjadi dasar sebuah
siaran televisi Inggris. Disajikan sebagai sebuah karya non fiksi, karya itu
mengandung banyak cemoohan dan dinyatakan sebagai karya khayalan, dengan
asumsi-asumsi tidak berdasar, serta didasarkan pada dokumen-dokumen palsu.
Sebuah buku lain yang sejenis adalah: The Templar Revelation (Wahyu Templar)
karangan Lynn Picknett dan Clive Prince, keduanya paranormal. Mereka juga
mengarang: The Mammoth Book of UFOs (Buku Besar Tentang Ufo). Semua unsur
tentang Maria Magdalena, Holy Grail, Priory Sion, yang terkandung dalam The Da
Vinci Code seluruhnya berasal dari kedua buku tersebut.
2.2. Feminitas
sakral
Sejak abad
ke-19 ada orang-orang yang berspekulasi tentang suatu abad para dewi yang telah
hilang. Menurut mereka pada masa itu feminitas sakral dipuja, tetapi akhirnya
diganti dengan suatu patriarkat yang cenderung untuk perang. Dalam tahun-tahun
terakhir ini beberapa penulis menggabungkan pemikiran itu dengan tokoh Maria
Magdalena, khususnya seorang penulis Amerika yang bernama Margaret Starbird
dengan gigih memperjuangkan hal itu dalam beberapa bukunya, walaupun tanpa
dasar historis sedikitpun. Lukisan Brown tentang Maria Magdalena sebagian besar
bersumber pada karya-karyanya, khususnya yang berjudul The Woman With The
Alabaster Jar (Wanita Dengan Buli-buli Alabaster) yang oleh Starbird sendiri
diakui, bahwa itu hanya suatu cerita fiksi belaka.
2.3. Gnostisisme
Gnostisisme
adalah suatu sistim intelektual dan spiritual yang tersebar luas dalam dunia
Eropa waktu itu. Banyak bentuknya,
tetapi kebanyakan dari pemikiran gnostik itu bersifat esoteris, artinya
pengetahuan yang sejati hanya terbuka bagi sejumlah kecil
orang saja dan mereka memandang dunia materi ini sebagai sesuatu yang jahat dan
negatif, termasuk tubuh manusia. Gnosis berarti
pengetahuan, Gnostisisme dapat dibandingkan dengan semacam kebatinan yang
berbau klenik. Aliran New Age sesungguhnya merupakan suatu bentuk gnostisisme
juga. Ada beberapa tulisan yang berasal dari abad
kedua sampai kelima yang merupakan perpaduan antara pemikiran gnostik dan
kristen, bahkan ada yang berbentuk seperti Injil, namun bukan Injil dan tidak
ada hubungannya dengan sabda dan perbuatan Yesus. Sumber-sumber tadi, demikian
pula orang-orang yang kemudian mendasarkan diri pada sumber-sumber tadi, sama
sekali tidak punya kredibilitas, tetapi justru itulah yang dipakai oleh Brown.
Salah satu pokok pernyataan yang berkali-kali dikemukankan Brown ialah, bahwa
karyanya itu bertujuan menemukan kembali sejarah yang hilang, sebab sejarah
yang sekarang ini, menurut dia, adalah sejarah yang ditulis dan dipalsukan oleh
para pemenang, yaitu kelompok Petrus. Dengan itu Brown, lewat tokoh-tokoh
fiktifnya, sesungguhnya mau menyatakan, bahwa seluruh sejarah kristiani,
dimulai dengan sejarah Yesus sendiri, sesungguhnya bukan lain daripada suatu
pemalsuan belaka, yang ditulis oleh orang-orang yang bertekad mau menghilangkan
"pesan asli" Yesus sendiri. Jadi menurut Brown apa yang tertulis
dalam Perjanjian Baru dan yang ditulis oleh orang-orang kristen abad-abad
pertama, sesungguhnya tidaklah benar, tidak seperti yang sesungguhnya
terjadi.Itulah yang menjadi inti permasalahannya dan itu merupakan suatu
tuduhan dan fitnahan yang serius sekali.
Brown mengklaim bahwa
Yesus menghendaki, agar gerakan yang mengikuti Dia merupakan suatu gerakan
kesadaran yang lebih besar akan "feminitas sakral". Brown mengatakan
pula, bahwa gerakan ini, dibawah pimpinan Maria Magdalena, berkembang sekali
dalam tiga abad pertama, sebelum akhirnya dihancurkan oleh Kaisar Constantinus.
Ini pernyataan Brown yang murahan. Tidak ada bukti sedikitpun tentang kebenaran
pernyataan tersebut. Peristiwa ini tidak pernah ada.
Bila kita menelusuri
novel itu (Da Vinci Code), kita akan menjumpai banyak pernyataan yang aneh-aneh
dan tidak benar, misalnya mulai dari geografi Paris sampai pada
biografi Leonardo da Vinci sendiri, semuanya tidak sesuai dengan kenyataan.
Kalau demikian
halnya jelaslah sudah, bahwa klaim-klaim buku itu semuanya tidak
berdasar dan karenanya seluruh buku itu tidak dapat dipercaya, alias
kebohongan belaka.
3. Beberapa
catatan tentang fakta historis
3.1. Pernikahan
Yesus dengan Maria Magdalena
Dalam buku
Brown itu digambarkan seolah-olah Yesus telah menikah dengan Maria Magdalena.
Dalam seluruh sejarah Gereja tidak pernah disebut tentang hal itu dan hal itu
samasekali tidak masuk akal. Sejak semula umat kristen (Gereja Katolik) telah
mengakui, bahwa Yesus dari Nazaret itu adalah Allah dan manusia sekaligus.
Untuk memberikan kesaksian itu tidak terbilang jumlah para martir yang
merelakan diri untuk mati dibunuh demi kesaksian itu, bukan dengan kepahitan,
tetapi dengan gembira. Dalam seluruh tradisi kristen tidak pernah sekalipun
disebut, bahwa Yesus itu pernah menikah, sebaliknya selalu diandaikan, bahwa
Dia hidup selibat demi Kerajaan Allah. Jadi pernyataan Brown dan beberapa
sumber modern, (semuanya bahwa Yesus menikah dengan Maria Magdalena adalah
kebohongan belaka).
3.2. Maria Magdalena
Maria Magdalena atau
juga yang biasa disebut Maria dari Magdala (sebuah kota kecil di
Palestina semasa Yesus) yang menjadi
tokoh utama dalam novel Brown, memang merupakan seorang tokoh yang juga disebut
dalam keempat Injil (12 ayat). Siapakah Maria Magdalena itu sesungguhnya? Dia
disebut sebagai Maria dari Magdala untuk membedakannya dari Maria-Maria
lainnya. Dalam keempat Injil dia ditampilkan sebagai saksi pertama kebangkitan
Kristus (Mat. 28:1-10; Mrk. 16:1-11; Luk. 24:1-12; Yoh. 20:1-18). Bahwa keempat
Injil menyebutnya sebagai saksi pertama kebangkitan Tuhan Yesus, itu berarti
suatu penghargaan yang besar dari Gereja terhadap Maria Magdalena, namun Gereja
tidak pernah menjadikannya seorang dewi. Semuanya itu menunjukkan dengan jelas,
bahwa Gereja, penyimpan Injil itu, yang dipimpin oleh Petrus, sangat menghargai
Maria Magdalena, sehingga jika benar, bahwa Petrus telah menyingkirkan dia,
pastilah namanya tidak akan disebut-sebut didalamnya, apalagi dengan
penghargaan yang begitu besar.
Menurut tradisi Gereja
Timur, setelah Pentakosta, Maria Magdalena menemani Bunda Maria dan Santo
Yohanes Rasul ke Efesus dan akhirnya wafat disana dan dimakamkan disana pula.
Pada pertengahan abad ke-8 peziarah Santo Willibald mengunjungi makamnya.
Menurut tradisi Perancis Maria Magdalena bersama dengan Martha dan Lazarus
pergi ke Provence, Perancis Selatan, dan mewartakan Injil
disana. Menurut tradisi itu pula pada akhir hidupnya dia berada disebuah gua,
La Sainte Baume. Namun dewasa ini ceritera tersebut dipertanyakan dan rupanya
semakin jelas, bahwa itu tidak benar.
Bagaimanapun juga Maria
Magdalena ini mendapat penghormatan besar didalam Gereja sejak semula, baik di
Barat maupun di Timur dan dia dipandang sebagai seorang Santa besar, namun
tidak pernah dipuja sebagai seorang dewi. Oleh karena itu jika Brown mengatakan
dia disingkirkan oleh Petrus, hal itu merupakan pernyataan yang tidak berdasar
samasekali alias bohong.
3.3. Leonardo da
Vinci
Nama pelukis
itu sesungguhnya Leonardo, lahir 1452, anak Piero da Vinci. Vinci adalah nama
sebuah kota yang terletak tidak
jauh dari Florence, atau Firenze sekarang ini.
Jadi da Vinci berarti dari Vinci, bukan nama keluarga. Dari sini saja
sudah ketahuan, bahwa
Brown sudah "ngawur". Kemudian lukisan Perjamuan Malam itu sendiri
adalah sebuah lukisan didinding ruang makan sebuah biara di Milano,
menggambarkan salah satu episode yang dilukiskan dalam Injil, yaitu cerita
tentang pemberitahuan, bahwa salah seorang dari mereka akan mengkhianati Yesus
(bdk. Yoh. 13:21-24). Oleh karena itu semua murid menjadi
tegang dan saling bicara satu sama lain. Petrus lalu berbisik kepada Yohanes
supaya bertanya siapa orangnya. Oleh karena itu dalam lukisan itu tidak
ditampilkan pialanya, melainkan ketegangan para murid.
3.4. Holy Grail
Asal usul
legenda itu tidak jelas, mungkin berasal dari legenda suku Kelt tentang cawan
berisi darah yang memberi hidup.
Tulisan pertama yang kita jumpai tentang Holy Grail itu ialah dalam puisi
Chretien de Troyes, yang hidup pada abad ke 12. apa yang
dimaksud dengan Grail itu juga berbeda-beda tafsirannya. Dalam salah satu
legenda digambarkan, bahwa Grail itu merupakan semacam cawan yang indah, yang
dihiasi permata, serta mampu memberikan makanan dan minuman yang tidak
terbatas. Itulah alat yang dipakai Yesus saat makan malam bersama
murid-murid-Nya dan juga cawan yang dipakai oleh Yesus untuk minum pada
kesempatan itu. Juga merupakan bejana yang dipakai Josef dari Arimatea
menampung darah Yesus yang menetes dari atas salib. Dalam legenda itu Grail
tadi dijaga oleh seorang wanita dan eksistensi Grail itulah yang menjadi alasan
dari sekian banyak petualangan untuk mencarinya. Grail itu merupakan campuran
antara dongeng rakyat, roman dan mitologi religius. Walaupun ada beberapa cawan
didunia ini yang katanya adalah cawan yang dipakai Yesus, namun Gereja
tidak pernah memasukkan dongeng tersebut dalam tradisinya.
3.5. Priory of Sion
Pertama-tama harus dikatakan, bahwa Priory of Sion itu sesungguhnya bukan
realitas sejarah seperti yang diandaikan Brown.
Dokumen yang disebut oleh Brown itu, lengkap dengan daftar para
grand-masternya, termasuk Victor Hugo dan tentu saja Leonardo da
Vinci, adalah dokumen palsu, yang diselundupkan kedalam Perpustakaan Nasional
Perancis, kemungkinan pada tahun 1950, oleh seorang yang bernama Pierre
Plantard, seorang anti-semit yang berusaha "membersihkan dan
memperbaharui" Perancis. Pada tahun 1950 Plantard mulai mengklaim, bahwa
ia adalah ahli waris pada tahta Kerajaan Perancis dari garis keturunan wangsa
Meroving. Ia membentuk sebuah kelompok yang menamakan diri "Priory of
Sion", menyelundupkan dokumen-dokumen palsu kedalam perpustakaan-perpustakaan
dan arsip-arsip Perancis dan mempropagandakan mitos tentang
garis keturunan rajani Yesus. Pada tahun 1970 salah satu sekutu Plantard
mengakui ikut membantu Plantard membuat dokumen-dokumen palsu itu, termasuk
daftar genealogy yang menggambarkan, bahwa Plantard adalah dari keturunan
Meroving dan dari Yesus sendiri, serta suatu daftar tentang grand-masters
Priory of Sion, seolah-olah umurnya sudah lebih dari sembilan abad. Kemudian
ternyata bahwa Plantard itu seorang penjahat dengan catatan kriminal sebagai
penipu dan hubungannya dengan kelompok anti semitik pasca perang. Penipuan
Plantard ini telah dibahas dalam beberapa buku berbahasa Perancis dan dalam
sebuah dokumentasi BBC tahun 1996. Jadi Priory of Sion sebagai kelompok yang
berumur seribu tahun yang didirikan untuk melindungi Holy Grail itu tidak
pernah ada. Kesimpulan yang dikutip Carl E. Olson - Sandra
Miesel dalam The Da Vinci Hoax jelas dan tegas : "Seluruh sejarah Priory
of Sion hanyalah kebohongan dan tipu muslihat yang meyakinkan. Sesungguhnya
organisasi ini tidak pernah ada" (hal 244).
3.6. Ksatria
Templar
Ksatria
Templar itu memang realitas historis. Mereka itu didirikan pada abad ke-11 di
Tanah Suci sesudah Perang Salib dengan
tugas pertama-tama untuk melindungi Tnah Suci. Mereka itu adalah orang-orang
yang mengucapkan kaul religius. Mereka berkembang menjadi kuasa sekali dalam
abad ke-13 dab ke-14 serta memiliki banyak kekayaan. Hal itu menimbulkan
kekuatiran dalam diri Raja Filip II dari Perancis dan sekaligus dia juga mengincar
harta kekayaan kelompok tersebut. Oleh karena itu pada tanggal 13 Oktober 1307
Raja Filip memerintahkan, agar semua ksatria Templar di Perancis ditahan dan
harta milik mereka dirampas. Jadi bukan Paus Clemens V yang membubarkannya,
seperti pernyataan Brown. Sebaliknya Paus Clemens marah, karena para ksatria
itu berada dibawah perlindungannya, namun dia tidak berdaya, karena waktu itu
dia berada di Avignon, bukan di Roma, dan dia sendiri
seolah-olah menjadi tawanan raja Perancis itu. Pembubaran itu hanya menyangkut
wilayah Perancis saja. Karena tekanan-tekanan hebat yang dilakukan pihak raja
terhadap dirinya, Paus menjadi tidak berdaya dan pada tanggal 22 Nopember tidak
dapat berbuat lain kecuali membiarkan penindasan terhadap para ksatria Templar tersebut.
Pada tahun 1312 saat Konsili Vienna, dibawah tekanan Raja Filip yang muncul
didepan tembok kota Paul,
"terpaksa" membubarkan untuk sementara" Ordo Templar tersebut
dan tidak mau mengatakan, bahwa Ordo itu bersalah. Apa para ksatria Templar itu
ada hubungannya dengan legenda tentang Grail? Hubungan itu baru ada sejak abad
ke 19, ketika minat terhadap kelompok-kelompok rahasia berkembang dengan
pernyataan-pernyataan yang aneh, tanpa dasar historis samasekali.
Kesimpulan
Buku Da Vinci Code itu
bukan hanya sekedar sebuah novel, melainkan sangat tendensius, yaitu ingin
menyebarkan suatu ajaran
sesat tentang kristianisme, bahkan tentang Yesus sendiri. Pada intinya itu
merupakan suatu penyangkalan terhadap iman kristen sendiri. Para pembaca yang
tidak memiliki iman yang teguh atau memiliki latar belakang tentang sejarah
Gereja atau sejarah umum Eropa, akan mudah terkecoh oleh klaim-klaim buku
tersebut yang bergaya ilmiah, tetapi yang sesungguhnya samasekali tidak punya
nilai ilmiah. Dalam kenyataannya buku tersebut paling sedikit telah
membingungkan banyak orang dan menggoyahkan iman cukup banyak orang kristen.
Bagi anda yang mampu membaca bahasa Inggris, sangat saya anjurkan membaca buku:
Amy Welborn, Decoding Da Vinci Code, terbitan Our Sunday Visitor, Huntington,
Indiana, 2004 yang memberikan sanggahan cukup mendetail tentang buku Dan Brown
tersebut dan menunjukkan kebohongannya.
Demikian pula saya anjurkan membaca buku: The Da Vinci Hoax. Tipuan Da Vinci.
Mengupas tuntas kebohongan The Da Vinci Code, karangan Carl E. Olson dan Sandra
Miesel, terbitan Dioma, Malang. Kedua buku tersebut
memberikan sanggahan yang meyakinkan dan cukup mendetail terhadap buku Da Vinci
Code itu. Sebaliknya buku Lie Chung Yen: Pengakuan Maria Magdalena, tidak dapat
saya anjurkan.
Direnungkan dalam terang
iman, memang zaman kita ini adalah zaman kekacauan, bukan hanya dalam
dunia, tetapi si iblis juga
berusaha menerobos masuk kedalam jajaran Gereja. Itulah bagian dari Rahasia
Ketiga Fatima yang disampaikan Bunda Maria kepada Lucia
Santos. Dengan pelbagai macam cara, iblis, melalui antek-anteknya berusaha
menyesatkan orang, bahkan mereka yang percaya kepada Yesus, supaya menjadi
bimbang dan goyah imannya.
Namun dalam iman kita yakin, bahwa jika
kita tetap berpegang pada iman, kita akan menang dan mengalahkan iblis itu.
"Inilah kemenangan yang mengalahkan dunia, yaitu iman kita." (1Yoh.
5:4). Namun untuk sementara itu, kita masih harus tetap berjuang dengan penuh
keyakinan akan kemenangan kita, sambil memberikan kesaksian tentang Yesus
Kristus dan mewartakan kabar gembira keselamatan dimana-mana, sebab kita tahu,
bahwa seperti disabdakan oleh Tuhan sendiri, Dia akan selalu mnyertai kita
sampai
akhir zaman:
"Dan ketahuilah,
Aku menyertai kamu senantiasa Sampai kepada akhir zaman" (Mat. 28:20)
Send
instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com
================================================
Sampai disini Tuhan menolong kita (1 Sam 7:12)
================================================
SPONSORED LINKS
YAHOO! GROUPS LINKS
|