1. Hadapilah Masalahmu!

Suatu hari keledai milik seorang petani jatuh ke dalam sumur. Hewan itu
menangis dengan memilukan selama berjam-jam sementara si petani
memikirkan apa yang harus dilakukannya.
Akhirnya, ia memutuskan bahwa hewan itu sudah tua dan sumur juga perlu
ditimbun (ditutup - karena berbahaya) jadi tidak berguna untuk menolong
si keledai. Dan ia mengajak tetangga-tetangganya untuk datang
membantunya. Mereka membawa sekop dan mulai menyekop tanah ke dalam
sumur.
Pada mulanya, ketika si keledai menyadari apa yang sedang terjadi, ia
menangis penuh kengerian. Setelah beberapa sekop tanah lagi dituangkan
ke dalam sumur, si petani melihat ke dalam sumur dan tercengang karena
apa yang dilihatnya.
Walaupun punggungnya terus ditimpa oleh bersekop-sekop tanah dan
kotoran, si keledai melakukan sesuatu yang menakjubkan. Ia
mengguncang-guncangkan badannya agar tanah yang menimpa punggungnya
turun ke bawah, lalu menaiki tanah itu.
Sementara tetangga-tetangga si petani terus menuangkan tanah kotor ke
atas punggung hewan itu, si keledai terus juga menguncangkan badannya
dan melangkah naik. Segera saja, semua orang terpesona ketika si keledai
meloncati tepi sumur dan melarikan diri!.
Kehidupan terus saja menuangkan tanah dan kotoran kepadamu, segala macam
tanah dan kotoran. Cara untuk keluar dari "sumur" (kesedihan, masalah,
kehampaan, beban) adalah dengan menguncangkan segala tanah dan kotoran
dari diri kita (pikiran dan hati kita) dan melangkah naik dari "sumur'"
dengan menggunakan hal-hal tersebut sebagai pijakan. Setiap masalah
adalah batu pijakan untuk melangkah maju/naik. Kita dapat keluar dari
"sumur" yang terdalam dengan terus berjuang, jangan pernah menyerah!.
"Kita hidup di hari ini. Entah ini waktu yang terbaik atau waktu yang
terburuk, inilah satu-satunya waktu yang kita miliki.


2. Cerita Petani

Alkisah jaman dahulu kala ada seorang petani miskin yang hidup dengan
seorang putera nya. Mereka hanya memiliki seekor kuda kurus yang
sehari-hari membantu mereka menggarap ladang mereka yang tidak seberapa.
Pada suatu hari, kuda pak tani satu-satu nya tersebut menghilang, lari
begitu saja dari kandang menuju hutan. 
Orang-orang di kampung yang mendengar berita itu berkata: "Wahai Pak
tani, sungguh malang nasibmu!". Pak tani hanya menjawab, "Malang atau
beruntung? Aku tidak tahu ." 

Keesokan hari nya, ternyata kuda pak Tani kembali ke kandangnya, dengan
membawa 100 kuda liar dari hutan. Segera ladang pak Tani yang tidak
seberapa luas dipenuhi oleh 100 ekor kuda jantan yang gagah perkasa.
Orang-orang dari kampung berbondong datang dan segera mengerumuni
"koleksi" kuda-kuda yang berharga mahal tersebut dengan kagum.
Pedagang-pedagang kuda segera menawar kuda-kuda tersebut dengan harga
tinggi, untuk dijinakkan dan dijual. Pak Tani pun menerima uang dalam
jumlah banyak, dan hanya menyisakan 1 kuda liar untuk berkebun membantu
kuda tua-nya. Orang-orang di kampung yang melihat peristiwa itu berkata:
"Wahai Pak tani, sungguh beruntung nasibmu!". Pak tani hanya menjawab,
"Malang atau beruntung? Aku tidak tahu ."


Keesokan hari nya, anak pak Tani pun dengan penuh semangat berusaha
menjinakan kuda baru nya. Namun, ternyata kuda tersebut terlalu kuat,
sehingga pemuda itu jatuh dan patah kaki nya. Orang-orang di kampung
yang melihat peristiwa itu berkata: "Wahai Pak tani, sungguh malang
nasibmu!". Pak tani hanya menjawab, "Malang atau beruntung? Aku tidak
tahu ."  
Pemuda itupun terbaring dengan kaki terbalut untuk menyembuhkan patah
kakinya. Perlu waktu lama hingga tulangnya yang patah akan baik kembali.
Keesokan harinya, datanglah Panglima Perang Raja ke desa itu. Dan
memerintahkan seluruh pemuda untuk bergabung menjadi pasukan raja untuk
bertempur melawan musuh di tempat yang jauh. Seluruh pemuda pun wajib
bergabung, kecuali yang sakit dan cacat. Anak pak Tani pun tidak harus
berperang karena dia cacat. 
Orang-orang di kampung berurai air mata melepas putra-putra nya
bertempur, dan berkata: "Wahai Pak tani, sungguh beruntung nasibmu!".
Pak tani hanya menjawab, "Malang atau beruntung? Aku tidak tahu ."  

Moral Kisah di atas, mengungkapkan suatu sikap yang sering disebut:
non-judgement. Sebagai manusia, kita memiliki keterbatasan untuk
memahami rangkaian kejadian yang diskenariokan oleh Sang PENCIPTA.
Apa-apa yang kita sebut hari ini sebagai "kesialan", barangkali di masa
depan baru ketahuan adalah jalan menuju "keberuntungan". Maka
orang-orang seperti Pak Tani di atas, berhenti untuk "menghakimi"
kejadian dengan label-label "beruntung", "sial", dan sebagainya. 
Karena, siapalah kita ini menghakimi kejadian yang kita sunguh tidak
tahu bagaimana hasil akhirnya nanti. Seorang karyawan yang dipecat
perusahaan nya, bisa jadi bukan suatu "kesialan", manakala ternyata
status job-less nya telah memecut dan membuka jalan bagi dirinya untuk
menjadi boss besar di perusahaan lain. 
Maka berhentilah menghakimi apa-apa yang terjadi hari ini, apapun
namanya.....yang selama ini kita sebut dengan "kesialan", "musibah "
dll, karena .. sungguh kita tidak tahu apa yang terjadi kemudian dibalik
peristiwa itu.




"Hadapi badai kehidupan sebesar apapun. Tuhan takkan lupa akan kemampuan
kita."

****

 

 

Sering mengeluh dan merasa diri ketiban sial?? sering memaki-maki atau
menyalahkan keadaan?? Sirik ama keberhasilan teman?? Atau malah
menganggap kesuksesan teman cuma didapatnya karena faktor luck? 

Mungkin selama ini, karakter kita gak ada bedanya dengan Donal Bebek!

Kayaknya kita harus belajar dari Si Untung! Kalo diperhatikan, rivalnya
Si Donal ini punya POSSITIVE ATTITUDE; yang menuntun dia bisa untung
terus. 

Di bawah ini ada artikel bagus yg menjelaskan kenapa kita harus byk
mencontoh si Untung, agar kita bisa terus menjadi PEMENANG. 

Rahasia si Untung




Kita semua pasti kenal tokoh si Untung di komik Donal Bebek. Berlawanan
dengan Donal yang selalu sial maka si Untung ini dikisahkan untung
terus. Ada saja keberuntungan yang selalu menghampiri tokoh bebek yang
di Amerika bernama asli Gladstone ini. Betapa enaknya hidup si Untung.
Pemalas, tidak pernah bekerja, tapi selalu lebih untung dari Donal. Jika
Untung dan Donal berjalan bersama, yang tiba-tiba menemukan sekeping
uang dijalan, pastilah itu si Untung. Jika Anda juga ingin selalu
beruntung seperti si Untung, dont worry, ternyata beruntung itu ada
ilmunya.

Professor Richard Wiseman dari University of Hertfordshire Inggris
mencoba meneliti hal-hal yang membedakan orang2 beruntung dengan yang
sial. Wiseman merekrut sekelompok orang yang merasa hidupnya selalu
untung, dan sekelompok lain yang hidupnya selalu sial. Memang kesannya
seperti main-main, bagaimana mungkin keberuntungan bisa diteliti. Namun
ternyata memang orang yang beruntung bertindak berbeda dengan mereka
yang sial.

Misalnya, dalam salah satu penelitian the Luck Project ini, Wiseman
memberikan tugas untuk menghitung berapa jumlah foto dalam koran yang
dibagikan kepada dua kelompok tadi. Orang2 dari kelompok sial memerlukan
waktu rata-rata 2 menit untuk menyelesaikan tugas ini. Sementara mereka
dari kelompok si Untung hanya perlu beberapa detik saja! Lho kok bisa?

Ya, karena sebelumnya pada halaman ke dua Wiseman telah meletakkan
tulisan yang tidak kecil berbunyi "berhenti menghitung sekarang! ada 43
gambar di koran ini". Kelompol sial melewatkan tulisan ini ketika asyik
menghitung gambar. Bahkan, lebih iseng lagi, di tengah2 koran, Wiseman
menaruh pesan lain yang bunyinya: "berhenti menghitung sekarang dan
bilang ke peneliti Anda menemukan ini, dan menangkan $250!" Lagi-lagi
kelompok sial melewatkan pesan tadi! Memang benar2 sial.

Singkatnya, dari penelitian yang diklaimnya "scientific" ini, Wiseman
menemukan 4 faktor yang membedakan mereka yang beruntung dari yang sial:

1. Sikap terhadap peluang.
Orang beruntung ternyata memang lebih terbuka terhadap peluang. Mereka
lebih peka terhadap adanya peluang, pandai menciptakan peluang, dan
bertindak ketika peluang datang. Bagaimana hal ini dimungkinkan?

Ternyata orang-orang yg beruntung memiliki sikap yang lebih rileks dan
terbuka terhadap pengalaman-pengalaman baru. Mereka lebih terbuka
terhadap interaksi dengan orang-orang yang baru dikenal, dan menciptakan
jaringan-jaringan sosial baru. Orang yang sial lebih tegang sehingga
tertutup terhadap kemungkinan- kemungkinan baru.

Sebagai contoh, ketika Barnett Helzberg seorang pemilik toko permata di
New York hendak menjual toko permatanya, tanpa disengaja sewaktu
berjalan di depan Plaza Hotel, dia mendengar seorang wanita memanggil
pria di sebelahnya: "Mr. Buffet!" Hanya kejadian sekilas yang mungkin
akan dilewatkan kebanyakan orang yang kurang beruntung. Tapi Helzber
berpikir lain. Ia berpikir jika pria di sebelahnya ternyata adalah
Warren Buffet, salah seorang investor terbesar di Amerika, maka dia
berpeluang menawarkan jaringan toko permatanya. Maka Helzberg segera
menyapa pria di sebelahnya, dan betul ternyata dia adalah Warren Buffet.
Perkenalan pun terjadi dan Helzberg yang sebelumnya sama sekali tidak
mengenal Warren Buffet, berhasil menawarkan bisnisnya secara langsung
kepada Buffet, face to face. Setahun kemudian Buffet setuju membeli
jaringan toko permata milik Helzberg. Betul-betul beruntung.

2. Menggunakan intuisi dalam membuat keputusan.
Orang yang beruntung ternyata lebih mengandalkan intuisi dari pada
logika. Keputusan-keputusan penting yang dilakukan oleh orang beruntung
ternyata sebagian besar dilakukan atas dasar bisikan "hati nurani"
(intuisi) daripada hasil otak-atik angka yang canggih. Angka-angka akan
sangat membantu tapi final decision umumnya dari "gut feeling".
Yang barangkali sulit bagi orang yang sial adalah, bisikan hati nurani
tadi akan sulit kita dengar jika otak kita pusing dengan penalaran yang
tak berkesudahan. Makanya orang beruntung umumnya memiliki metoda untuk
mempertajam intuisi mereka, misalnya melalui meditasi yang teratur. 
Pada kondisi mental yang tenang, dan pikiran yang jernih, intuisi akan
lebih mudah diakses. Dan makin sering digunakan, intuisi kita juga akan
semakin tajam. Banyak teman saya yang bertanya, "mendengarkan intuisi"
itu bagaimana?

Apakah tiba2 ada suara yang terdengar menyuruh kita melakukan sesuatu?
Wah, kalau pengalaman saya tidak seperti itu. Malah kalau tiba2
mendengar suara yg tidak ketahuan sumbernya, bisa2 saya jatuh pingsan.
Karena ini subyektif, mungkin saja ada orang yang beneran denger suara.

Tapi kalau pengalaman saya, sesungguhnya intuisi itu sering muncul dalam
erbagai bentuk, misalnya:




- Isyarat dari badan. Anda pasti sering mengalami. "Gue kok tiba2
deg-degan ya, mau dapet rejeki kali", semacam itu. Badan kita
sesungguhnya sering memberi isyarat2 tertentu yang harus Anda maknakan.
Misalnya Anda kok tiba2 meriang kalau mau dapet deal gede, ya diwaspadai
saja kalau tiba2 meriang lagi.




- Isyarat dari perasaan. Tiba-tiba saja Anda merasakan sesuatu yang lain
ketika sedang melihat atau melakukan sesuatu. Ini yang pernah saya
alami. Contohnya, waktu saya masih kuliah, saya suka merasa tiba-tiba
excited setiap kali melintasi kantor perusahaan tertentu. Beberapa tahun
kemudian aya ternyata bekerja di kantor tersebut. Ini masih terjadi
untuk beberapa hal lain.




3. Selalu berharap kebaikan akan datang.
Orang yang beruntung ternyata selalu ge-er terhadap kehidupan. Selalu
berprasangka baik bahwa kebaikan akan datang kepadanya. Dengan sikap
mental yang demikian, mereka lebih tahan terhadap ujian yang menimpa
mereka, dan akan lebih positif dalam berinteraksi dengan orang lain.
Coba saja Anda lakukan tes sendiri secara sederhana, tanya orang sukses
yang Anda kenal, bagaimana prospek bisnis ke depan. Pasti mereka akan
menceritakan optimisme dan harapan.

4. Mengubah hal yang buruk menjadi baik.
Orang-orang beruntung sangat pandai menghadapi situasi buruk dan
merubahnya menjadi kebaikan. Bagi mereka setiap situasi selalu ada sisi
baiknya. Dalam salah satu tes nya Prof Wiseman meminta peserta untuk
membayangkan sedang pergi ke bank dan tiba-tiba bank tersebut diserbu
kawanan perampok bersenjata. Dan peserta diminta mengutarakan reaksi
mereka. Reaksi orang dari kelompok sial umunya adalah: "wah sial bener
ada di tengah2 perampokan begitu". Sementara reaksi orang beruntung,
misalnya adalah: "untung saya ada disana, saya bisa menuliskan
pengalaman saya untuk media dan dapet duit".

Apapun situasinya orang yg beruntung pokoknya untung terus. Mereka
dengan cepat mampu beradaptasi dengan situasi buruk dan merubahnya
menjadi keberuntungan.

Sekolah Keberuntungan.
Bagi mereka yang kurang beruntung, Prof Wiseman bahkan membuka Luck 
School.

Latihan yang diberikan Wiseman untuk orang2 semacam itu adalah dengan
membuat "Luck Diary", buku harian keberuntungan. Setiap hari, peserta
harus mencatat hal-hal positif atau keberuntungan yang terjadi.

Mereka dilarang keras menuliskan kesialan mereka. Awalnya mungkin sulit,
tapi begitu mereka bisa menuliskan satu keberuntungan, besok-besoknya
akan semakin mudah dan semakin banyak keberuntungan yg mereka tuliskan.

Dan ketika mereka melihat beberapa hari kebelakang Lucky Diary mereka,
mereka semakin sadar betapa beruntungnya mereka. Dan sesuai prinsip "law
of attraction", semakin mereka memikirkan betapa mereka beruntung, maka
semakin banyak lagi lucky events yang datang pada hidup mereka.

Jadi, sesederhana itu rahasia si Untung. Ternyata semua orang juga bisa
beruntung. Termasuk termans semua.

Siap mulai menjadi si Untung?

 

 

Syalom,

Nico Labobar

________________________________

"This e-mail (including any attachments) is intended solely for the
addressee and could contain information that is confidential; If you are
not the intended recipient, you are hereby notified that any use,
disclosure, copying or dissemination of this e-mail and any attachment
is strictly prohibited and you should immediately delete it. This
message does not necessarily reflect the views of Bank Indonesia.
Although this e-mail has been checked for computer viruses, Bank
Indonesia accepts no liability for any damage caused by any virus and
any malicious code transmitted by this e-mail. Therefore, the recipient
should check again for the risk of viruses, malicious codes, etc as a
result of e-mail transmission through Internet" 

 

________________________________

** 



“This e-mail (including any attachments) is intended solely for the addressee 
and could contain information that is confidential; If you are not the intended 
recipient, you are hereby notified that any use, disclosure, copying or 
dissemination of this e-mail and any attachment is strictly prohibited and you 
should immediately delete it. This message does not necessarily reflect the 
views of Bank Indonesia. Although this e-mail has been checked for computer 
viruses, Bank Indonesia accepts no liability for any damage caused by any virus 
and any malicious code transmitted by this e-mail. Therefore, the recipient 
should check again for the risk of viruses, malicious codes, etc as a result of 
e-mail transmission through Internet”

Kirim email ke